dr. Edyana Roesli, SpA - Индекс потомака

Из пројекта Родовид

Особа:816431
Generation of a large tree takes a lot of resources of our web server. Anonymous users can only see 7 generations of ancestors and 7 - of descendants on the full tree to decrease server loading by search engines. If you wish to see a full tree without registration, add text ?showfulltree=yes directly to the end of URL of this page. Please, don't use direct link to a full tree anywhere else.
11/1 dr. Edyana Roesli, SpA [?]

2

21/2 <1+?> 1. R. dr Ratwini Roesli, SpTHT [Sumedang Larang]
Рођење: 2 септембар 1942, Bandung
32/2 <1+?> 2. R. dr Utami Roesli, SpA, Ibclc, Fabm [Sumedang Larang]
Рођење: 17 септембар 1945, Semarang
==dr Utami Roesli, Pejuang ASI yang Pernah Gagal Menyusui==


Rasanya tak ada yang meragukan kegigihan dr Utami Roesli, SpA, IBCLC, FABM dalam memperjuangkan hak-hak anak untuk mendapat Air Susu Ibu (ASI) ekslusif. Namun siapa sangka, sang pejuang ASI ini juga pernah gagal menyusui kedua anaknya.

Sebagai Ketua Sentra Laktasi Indonesia, wajar jika dr Utami yang lahir tepat sebulan setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia ini begitu getol mengampanyekan ASI. Baginya, anak manusia tidak sepantasnya diberi susu sapi yang merupakan bahan baku susu formula.

Tak jarang komentar-komentar kakak kandung seniman Harry Roesli (Alm) ini bikin gerah industri susu formula. Baginya bukan hanya bayi di bawah 2 tahun yang tidak butuh susu formula, anak-anak di usia selanjutnya juga lebih membutuhkan gizi seimbang daripada hanya susu saja.

"Untuk anak di atas 2 tahun boleh-boleh saja minum susu formula. Tapi tidak harus (minum susu formula) karena sebenarnya nutrisi di dalam susu formula juga bisa didapat dari makanan lain," ungkap dr Utami seperti yang pernah diberitakan detikHealth sebelumnya.

Ketika dunia persusuan dihebohkan oleh hasil riset Institut Pertanian Bogor (IPB) tentang susu berbakteri, dr Utami yang sehari-hari berpraktik di Klinik Lakstasi RS St Carolus Salemba juga tetap konsisten menyerukan bahwa susu formula tidak bisa menggantikan ASI.

Berkali-kali cucu dari sastrawan Marah Roesli,-- pengarang roman legendaris "Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai"--, ini menegaskan tidak ada satupun susu formula yang benar-benar steril dari cemaran bakteri. Menurutnya, di mana-mana susu tidak termasuk produk steril.

Karena selalu ada risiko pencemaran bakteri, dr Utami yang wajahnya selalu tampak awet muda sangat menentang pemberian susu formula pada bayi khususnya yang baru lahir. Seperti yang sering ia sampaikan, anak manusia seharusnya mendapat susu eksklusif dari ibunya dan bukan susu formula dari sapi.

"Memang ada beberapa ibu yang tidak bisa menyusui, tapi kebanyakan kendalanya hanya soal informasi. Jadi daripada mengumumkan merek bakteri yang terkontaminasi, lebih baik sebarkan informasi soal pentingnya ASI dan Inisiasi Menyusui Dini (IMD)," kata Dr Utami.

Berangkat dari kepeduliannya terhadap hak-hak bayi untuk mendapat ASI Eksklusif, dr Utami bersama sejumlah tokoh akhirnya mendirikan Sentra Laktasi Indonesia (Selasi) pada tahun 2003. Sejak saat itu, Selasi sudah beberapa kali menggelar pelatihan kenselor menyusui.

Садржај

dr Utami Pernah Gagal Menyusui

Meski getol mengampanyekan ASI eksklusif dan mengajarkan Inisiasi Menyusui Dini, dr Utami mengaku pernah gagal untuk menyusui. Bahkan tak cuma sekali, tetapi 2 anaknya tidak ada yang mendapatkan ASI secara ekslusif secara tuntas selama 2 tahun seperti yang ia ajarkan saat ini.

Disela-sela peresmian Klinik Laktasi di RS Puri Cinere, Depok oleh Menteri Kesehatan beberapa waktu yang lalu, dr Utami menceritakan sekelumit kisah kelam yang dialaminya saat membesarkan kedua anaknya. Diakuinya, kegagalan menyusui itu seperti dosa besar yang harus ditanggungnya seumur hidup.

"Saya akui saya pernah gagal. Dua kali melahirkan, ASI saya tidak keluar dan waktu itu sekitar tahun 1970-an, pengetahuan tentang ASI memang tidak ada sehingga saya tidak tahu bagaimana mengatasinya. Saya benar-benar malu dan merasa berdosa sekali. Makanya saya tidak ingin para ibu mengulangi kesalahan saya," ungkap dr Utami kepada wartawan di Depok, seperti ditulis Senin (15/8/2011).

Tak salah jika dr Utami menyebutnya sebagai dosa, karena tak lama kemudian ia mengaku telah mendapat ganjarannya. Gara-gara tidak menyusui anaknya dengan benar, dr Utami sempat didiagnosis kanker payudara meski akhirnya bisa sembuh tanpa harus operasi.

Beruntung bagi dr Utami, dosa itu tidak harus ditanggung oleh anak-anaknya yang akhirnya tumbuh menjadi orang sukses tanpa mengalami gangguan kesehatan. Salah seorang anaknya, Andi Syarief adalah seorang pengusaha yang menikahi mantan model Playboy asal Indonesia, Tiara Lestari dan dikaruniai 2 anak namun keduanya sudah bercerai.

BIODATA

Nama dr Utami Roesli, SpA, IBCLC, FABM

Tempat dan tanggal lahir Semarang, 17 September 1945

Nama Orangtua

Mayjen Purn Roeshan Roesli (ayah) dr Edyana Roesli, SpA (ibu)

Saudara kandung

dr Ratwini Roesli, SpTHT dr Rully MA Roesli, SpPD.KGH (ahli ginjal) Alm. Harry Roesli (musisi kontemporer)

Status

Menikah, dikaruniai 2 anak dan 3 cucu

Pendidikan

Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung (Lulus 1972) Pendidikan Spesialis Anak FK Unpad Bandung (Lulus 1980) Master Business Administration, University of the City of Manila, Filipina (Lulus 1994)

Pendidikan tambahan

Pendidikan neonatologi di Sint Raadbout Hospital, Nijmegen, Belanda tahun 1987 Sertifikasi konsultan laktasi dari International Board Certified Lactation Consultant (IBCLC) tahun 2001 dan disertifikasi ulang tahun 2006 Meraih gelar Fellow of Academic Breastfeeding Medicine (FABM) dari American Academic Breastfeeding Medicine tahun 2008

Penghargaan

Tanda Kehormatan Satya Lancana Karya 20 tahun dari Presiden RI Prof DR Ing BJ Habibie tahun 1999 Tanda penghargaan Bakti Karya Husada Tri Windu dari Menteri Kesehatan RI, Prof Dr FA Moeloek tahun 1999 Tanda Penghargaan Ksatria Bakti Husada ARUTALA dalam pembangunan nasional di bidang kesehatan dari Menteri Kesehatan RI, Dr Achmad Sujudi tahun 2001 Piagam Penghargaan atas peran serta aktif dalam menyukseskan penyelenggaraan Pekan ASI Se-dunia tahun 2006 dari Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan tahun 2006 Penghargaan sebagai tokoh yang konsisten dalam pengembangan program ASI eksklusif dari IDAI cabang DKI Jakarta tahun 2006 Tanda penghargaan Wahidin Sudirohusodo atas jasanya dalam pengembangan program ASI eksklusif dari IDI tahun 2006

Dilantik sebagai Duta IDI tahun 2007-2008.
43/2 <1+?> 4. R. Prof. Dr. Harry Roesli \Djauhar Zaharsyah Fachrudin Roesli [Sumedang Larang]
Рођење: 10 септембар 1951, Bandung
Смрт: 11 новембар 2004, Jakarta
Сахрана: Gunung Batu-Bogor
Harry Roesli yang memiliki nama lengkap Djauhar Zaharsyah Fachrudin Roesli, (lahir di Bandung, 10 September 1951 – meninggal di Jakarta, 11 Desember 2004 pada umur 53 tahun) adalah tokoh dikenal melahirkan budaya musik kontemporer yang berbeda, komunikatif dan konsisten memancarkan kritik sosial. Karya- karyanya konsisten memunculkan kritik sosial secara lugas dalam watak musik teater lenong. Harry berpenampilan khas, berkumis, bercambang, berjanggut lebat, berambut gondrong dan berpakaian serba hitam.

Harry Roesli yang berdarah Minangkabau ini, merupakan cucu pujangga besar Marah Roesli. Anak bungsu dari empat bersaudara, ayahnya bernama Mayjen (pur) Roeshan Roesli. Istri Harry Roesli bernama Kania Perdani Handiman dan dua anak kembarnya bernama Layala Khrisna Patria dan Lahami Khrisna Parana.



Садржај

Daftar isi

1 Kegiatan 2 Pendidikan 3 Karier 4 Karya 5 Pranala luar

Kegiatan

Pada awal 1970-an, namanya sudah mulai melambung. Saat membentuk kelompok musik Gang of Harry Roesli bersama Albert Warnerin, Indra Rivai dan Iwan A Rachman. Lima tahun kemudian (1975) kelompok musik ini bubar.

Di tengah kesibukannya bermain band, dia pun mendirikan kelompok teater Ken Arok, 1973. Setelah melakukan beberapa kali pementasan, antara lain, Opera Ken Arok di TIM Jakarta pada Agustus 1975, grup teater ini kemudian bubar, karena Harry mendapat beasiswa dari Ministerie Cultuur, Recreatie en Maatschapelijk Werk (CRM), belajar ke Rotterdam Conservatorium, Belanda.

Selama belajar di negeri kincir angin itu, Harry juga aktif bermain piano di restoran-restoran Indonesia dan main band dengan anak-anak keturunan Ambon di sana. Selain untuk menyalurkan talenta musiknya sekaligus untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya yang tidak mencukupi dari beasiswa.

Gelar Doktor Musik diraihnya pada tahun 1981, kemudian selain tetap berkreasi melahirkan karya-karya musik dan teater, juga aktif mengajar di Jurusan Seni Musik di beberapa perguruan tinggi seperti Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dan Universitas Pasundan Bandung.

Dia ini juga kerap membuat aransemen musik untuk teater, sinetron dan film, di antaranya untuk kelompok Teater Mandiri dan Teater Koma. Juga menjadi pembicara dalam seminar-seminar di berbagai kota di Indonesia dan luar negeri, serta aktif menulis di berbagai media, salah satunya sebagai kolumnis Kompas Minggu.

Selain itu juga membina para seniman jalanan dan kaum pemulung di Bandung lewat Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB) yang didirikannya. Rumahnya di Jl WR Supratman 57 Bandung dijadikan markas DKSB. Rumah inilah yang pada tahun 1998 menjadi pusat aktivitas relawan Suara Ibu Peduli di Bandung. Rumah ini ramai dengan kegiatan para seniman jalanan dan tempat berdiskusi para aktivis mahasiswa. Dimana kerap lahir karya-karya yang sarat kritik sosial dan bahkan bernuansa pemberontakan terhadap kekuasaan Orde Baru. Bersama DKSB dan Komite Mahasiswa Unpar, Harry Roesli mementaskan pemutaran perdana film dokumenter Tragedi Trisakti dan panggung seni dalam acara "Gelora Reformasi" di Universitas Parahyangan [1]. Dalam acara ini kembali dinyanyikan lagu Jangan Menangis Indonesia dari album LTO (Lima Tahun Oposisi), Musica Studio, 1978.

Setelah reformasi, saat pemerintahan BJ Habibie, salah satu karyanya yang dikemas 24 jam nonstop juga nyaris tidak bisa dipentaskan. Juga pada awal pemerintahan Megawati, dia sempat diperiksa Polda Metro Jaya gara-gara memelesetkan lagu wajib Garuda Pancasila.

Harry meninggal dunia hari Sabtu 11 Desember 2004, pukul 19.55 di RS Harapan Kita, Jakarta.

Pendidikan

Alumnus SMA Negeri 2 Bandung Jurusan Teknik Mesin ITB Bandung, sampai tingkat IV (1970-1975) Jurusan Komposisi LPKJ kini IKJ (1975-1977) Jurusan musik elektronik di Rotterdam Conservatorium, Negeri Belanda (1977-1981)

Karier

Pendiri dan pemain grup musik Gang of Harry Roesli bersama Albert Warnerin, Indra Rivai, dan Iwan A Rachman (1971-1975) Pendiri grup teater Ken Arok (1973-1977) Guru besar psikologi musik Universitas Pendidikan (UPI), Bandung dan Universitas Pasundan, Bandung Pimpinan Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB)

Karya

Philosophy Gang, album musik, 1971 Titik Api, album musik, 1976 Jika Hari Tak Berangin, album musik Tiga Bendera, album musik Gadis Plastik, album musik Daun album musik LTO, album musik Ken Arok, album musik Musik Rumah Sakit (1979 di Bandung dan 1980 di Jakarta) Asmat Dream single Cuaca Buruk album musik White Gold Parenthese Musik Sikat Gigi (1982 di Jakarta) DKSB album musik Si Cantik album musik Opera Ikan Asin Opera Kecoa Opera Tusuk gigi (1997 di Bandung)

Pranala luar

(Indonesia) Doktor Musik Kontemporer (Indonesia) Melacak Peninggalan Karya Harry Roesli, Sinar Harapan (Indonesia) Gelora Reformasi (Indonesia) Ken A Rock-nya Harry Roesli, Kompas (Indonesia) Selamat Jalan Harry Roesli

(Indonesia) Seratus Hari “Plus” Harry Roesli di Unpas, Pikiran Rakyat

3

51/3 <4+?> R. La Yala Khrisna Patria Roesli [Sumedang Larang]
62/3 <4+?> R. Lahami Khrisna Parana [Sumedang Larang]
73/3 <3> 1. R. Andi Syarief [Sumedang Larang]
84/3 <3> 2. R. Tiara Lestari [Sumedang Larang]

4

91/4 <8> Ψ 1. [Hamengku Buwono]
102/4 <8> Ψ 2. [Hamengku Buwono]
Джерельна довідка за населеним пунктом