Kyai Resoyuda - Индекс потомака

Из пројекта Родовид

Особа:762907
Generation of a large tree takes a lot of resources of our web server. Anonymous users can only see 7 generations of ancestors and 7 - of descendants on the full tree to decrease server loading by search engines. If you wish to see a full tree without registration, add text ?showfulltree=yes directly to the end of URL of this page. Please, don't use direct link to a full tree anywhere else.
11/1 <?> Kyai Resoyuda [Brawijaya]

2

21/2 <1> Ngabehi Hondoroko [Brawijaya]

3

31/3 <2> Mas Ayu Tejawati [Brawijaya]

4

41/4 <3+?> # Sri Sultan Hamengku Buwono I / Pangeran Mangkubumi (Raden Mas Sujana) [Amangkurat IV]
Рођење: 4 август 1717, Kartasura
Свадба: <1> Bendoro Mas Ayu Gandasari [?]
Свадба: <2> BRAy Srenggara [?]
Свадба: <3> Bendoro Radin Ayu Daya Asmara [?]
Свадба: <4> Bandara Raden Ayu Ratna Puryawati [?]
Свадба: <5> Bendoro Mas Ayu Turunsih [Brawijaya V]
Свадба: <6> Bendoro Mas Ayu Karnakawati [?]
Свадба: <7> Bendoro Mas Ayu Setiawati [?]
Свадба:
Свадба: <8> Kanjeng Ratu Ageng / KRK Kadipaten (Kanjeng Ratu Ageng Tegalrejo) [Abdul Kahir I] d. 17 октобар 1803
Свадба: <9> Bendoro Mas Ayu Citrakusumo [?]
Свадба: <10> Bendoro Mas Ayu Pakuwati [?]
Свадба: <11> Bendoro Mas Ayu Padmasari [?]
Свадба: <12> Bendoro Mas Ayu Sari [?]
Свадба: <13> Bendoro Mas Ayu Tisnawati [?]
Свадба: <14> Bendoro Mas Ayu Tandawati [?]
Свадба: <15> GKR Kencono [Mataram]
Свадба:
Свадба: <16> Bendoro Mas Ayu Asmorowati [Hamengku Buwono]
Свадба: <15!> GKR Kencono [Mataram] , <17> BR Tiarso [Mataram] , <18> BMAy Sawerdi [Mataram] , <2!> BRAy Srenggara [?] , <8!> Kanjeng Ratu Ageng / KRK Kadipaten (Kanjeng Ratu Ageng Tegalrejo) [Abdul Kahir I] d. 17 октобар 1803
Свадба: <19> Bendoro Mas Ayu Cindoko [?]
Свадба: <17!> BR Tiarso [Mataram]
Свадба: <20> Bendoro Mas Ayu Ratnawati [?]
Свадба: <18!> BMAy Sawerdi [Mataram]
Свадба: <21> Bendoro Mas Ayu Wilopo [?]
Свадба: <22> Bendoro Raden Ayu Jumanten [?]
Свадба: <23> Bendoro Mas Ayu Mindoko [?]
Титуле : април 1749, Yogyakarta
Смрт: 24 март 1792, Yogyakarta
Nama aslinya adalah Raden Mas Sujana yang setelah dewasa bergelar Pangeran Mangkubumi. Ia merupakan putra Amangkurat IV raja Kasunanan Kartasura yang lahir dari selir bernama Mas Ayu Tejawati pada tanggal 6 Agustus 1717.

Pada tahun 1740 terjadi pemberontakan orang-orang Cina di Batavia yang menyebar sampai ke seluruh Jawa. Pada mulanya, Pakubuwana II (kakak Mangkubumi) mendukung pemberontakan tersebut. Namun, ketika menyaksikan pihak VOC unggul, Pakubuwana II pun berubah pikiran.

Pada tahun 1742 istana Kartasura diserbu kaum pemberontak. Pakubuwana II terpaksa membangun istana baru di Surakarta, sedangkan pemberontakan tersebut akhirnya dapat ditumpas oleh VOC dan Cakraningrat IV dari Madura.

Sisa-sisa pemberontak yang dipimpin oleh Raden Mas Said (keponakan Pakubuwana II dan Mangkubumi) berhasil merebut tanah Sukowati. Pakubuwana II mengumumkan sayembara berhadiah tanah seluas 3.000 cacah untuk siapa saja yang berhasil merebut kembali Sukowati. Mangkubumi dengan berhasil mengusir Mas Said pada tahun 1746, namun ia dihalang-halangi Patih Pringgalaya yang menghasut raja supaya membatalkan perjanjian sayembara.

Datang pula Baron van Imhoff gubernur jenderal VOC yang makin memperkeruh suasana. Ia mendesak Pakubuwana II supaya menyewakan daerah pesisir kepada VOC seharga 20.000 real untuk melunasi hutang keraton terhadap Belanda. Hal ini ditentang Mangkubumi. Akibatnya, terjadilah pertengkaran di mana Baron van Imhoff menghina Mangkubumi di depan umum.

Mangkubumi yang sakit hati meninggalkan Surakarta pada bulan Mei 1746 dan menggabungkan diri dengan Mas Said sebagai pemberontak.Sebagai ikatan gabungan Mangkubumi mengawinkan Mas Said dengan puterinya yaitu Rara Inten atau Gusti Ratu Bendoro.
52/4 <3+?> # 16. Sultan Dandunmatengsari [Mataram]
Melakukan pemberontakan dan tidak berhasil
63/4 <3+?> 17. Gusti Raden Ayu Megatsari. [Mataram]
74/4 <3+?> 18. Gusti Raden Ayu Purubaya. [Mataram]
85/4 <3+?> 19. Gusti Raden Ayu Pakuningrat. di Sampang [Mataram]
96/4 <3+?> 20. Gusti Pangeran Hario Cokronegoro. [Mataram]
107/4 <3+?> 21. Gusti Pangeran Hario Silarong. [Mataram]
118/4 <3+?> 22. Gusti Pangeran Hario Prangwadono. [Mataram]
129/4 <3+?> 23. Gusti Raden Ayu Suryawinata. di Demak [Mataram]
1310/4 <3+?> 24. Gusti Pangeran Hario Panular. [Mataram]
1411/4 <3+?> 25. Gusti Pangeran Hario Mangkukusumo. [Mataram]
1512/4 <3+?> # 26. Gusti Raden Mas Jaka [Mataram]
Wafat usia muda
1613/4 <3+?> 27. Gusti Raden Ayu Sujonopuro. [Mataram]
1714/4 <3+?> 28. Gusti Pangeran Hario Dipawinoto. [Mataram]
1815/4 <3+?> 29. Gusti Raden Ayu Adipati Danureja I. [Mataram]

5

211/5 <4+8> # Kanjeng Sultan Hamengku Buwono II / Sultan Sepuh (Raden Mas Timur) [Hamengku Buwono]
Sri Sultan Hamengkubuwana II (lahir 7 Maret 1750 – meninggal 3 Januari 1828 pada umur 77 tahun) adalah raja Kesultanan Yogyakarta yang memerintah selama tiga periode, yaitu 1792 - 1810, 1811 - 1812, dan 1826 - 1828.[1] Pada pemerintahan yang kedua dan ketiga ia dikenal dengan julukan Sultan Sepuh.[2]

Daftar isi

   1 Riwayat Masa Muda
   2 Pemerintahan Periode Pertama
   3 Pemerintahan Periode Kedua
   4 Pemerintahan Periode Ketiga
   5 Referensi

Riwayat Masa Muda

Nama aslinya adalah Raden Mas Sundoro, putra Hamengkubuwana I, Ia dilahirkan tanggal 7 Maret 1750 saat ayahnya masih menjadi Pangeran Mangkubumi dan melakukan pemberontakan terhadap Surakarta dan VOC. Ketika kedaulatan Hamengkubuwana I mendapat pengakuan dalam perjanjian Giyanti 1755, Mas Sundoro juga ikut diakui sebagai Adipati Anom.

Pada tahun 1774 (atau tahun Jawa 1700) terjadi kegelisahan di kalangan Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta akibat mitos akhir abad, bahwa akan ada sebuah kerajaan yang runtuh. Dalam kesempatan itu, Mas Sundoro menulis kitab Serat Suryaraja yang berisi ramalan bahwa mitos akhir abad akan gugur karena Surakarta dan Yogyakarta akan bersatu di bawah pemerintahannya. Naskah tersebut sampai saat ini dikeramatkan sebagai salah satu pusaka Keraton Yogyakarta. Pemerintahan Periode Pertama

Mas Sundoro naik takhta Yogyakarta sebagai Hamengkubuwana II pada bulan Maret 1792. Ia merupakan raja yang penuh dengan cita-cita. Para pejabat senior yang tidak sesuai dengan kebijakan politiknya segera dipensiunkan dan diganti pejabat baru. Misalnya, Patih Danureja I diganti dengan cucunya, yang bergelar Danureja II. Keputusan ini kelak justru merugikannya, karena Danureja II setia kepada Belanda, berbeda dengan rajanya.

Hamengkubuwana II sendiri bersikap anti terhadap Belanda. Ia bahkan mengetahui kalau VOC sedang dalam keadaan bangkrut dan bobrok. Organisasi ini akhirnya dibubarkan oleh pemerintah negeri Belanda akhir tahun 1799.

Sejak tahun 1808 yang menjadi gubernur jenderal Hindia Belanda (pengganti gubernur jenderal VOC adalah Herman Daendels yang anti feodalisme. Ia menerapkan aturan baru tentang sikap yang seharusnya dilakukan raja-raja Jawa terhadap minister (istilah baru untuk residen). Hamengkubuwana II menolak mentah-mentah peraturan ini karena dianggap merendahkan derajatnya, sedangkan Pakubuwana IV menerima dengan taktik tersembunyi, yaitu harapan bahwa Belanda akan membantu Surakarta menaklukkan Yogyakarta.

Hamengkubuwana II juga bersitegang dengan Patih Danureja II yang dekat dengan Belanda. Ia memecat Danureja II dan menggantinya dengan Pangeran Natadiningrat putra Pangeran Natakusuma (saudara Hamengkubuwana II). Kemudian Hamengkubuwana II juga merestui pemberontakan besanya, yaitu Raden Rangga Prawiradirjo I bupati Madiun yang menentang penjajahan Belanda. Putera KPR Prawirodirjo I, Raden Ronggo Prawirosentiko Bupati Toenggoel menikah dengan puteri Hamengku Buwono II dari isteri ampeyannya BMA Yati.Raden Rangga Prawirodirjo I adalah juga paman Hamengku Buwono II. Ibu Hamengku Buwono II Kanjeng Ratu Tegalraya adalah adik KPR Prawirodirjo bapak mereka adalah Kyai Ageng Derpayuda.(Genealogy Keraton Yogya).

Belanda berhasil menumpas Raden Rangga dan melimpahkan beban tanggung jawab, misalnya biaya perang, kepada Hamengkubuwana II. Hal ini menyebabkan keributan antara kedua pihak. Pada bulan Desember 1810 Herman Daendels menyerbu Yogyakarta, menurunkan Hamengkubuwana II, dan menggantinya dengan Hamengkubuwana III, menangkap Natakusuma dan Natadiningrat, serta mengembalikan kedudukan Patih Danureja II. Pemerintahan Periode Kedua

Pada tahun 1811 pemerintahan Belanda atas Jawa dan Nusantara direbut oleh Inggris. Hal ini dimanfaatkan Hamengkubuwana II untuk kembali menjadi raja, dan menurunkan Hamengkubuwana III sebagai putra mahkota kembali.

Sikap Hamengkubuwana II terhadap Inggris sama buruknya dengan terhadap Belanda. Bahkan, ia berani bertengkar dengan Thomas Raffles sewaktu letnan gubernur Inggris tersebut mengunjungi Yogyakarta bulan Desember 1811.

Pakubuwana IV di Surakarta pura-pura mendukung Hamengkubuwana II agar berani memerangi Inggris. Surat-menyurat antara kedua raja ini terbongkar oleh Inggris. Maka, pada bulan Juni 1812 pasukan Inggris yang dibantu Mangkunegaran menyerbu Yogyakarta. Hamengkubuwana II dibuang ke pulau Penang, sedangkan Pakubuwana IV dirampas sebagian wilayahnya.

Hamengkubuwana III kembali diangkat sebagai raja Yogyakarta. Pangeran Natakusuma yang mendukung Inggris, oleh Thomas Raffles diangkat sebagai Pakualam I dan mendapat wilayah berdaulat bernama Pakualaman. Pemerintahan Periode Ketiga

Pada tahun 1825 terjadi pemberontakan Pangeran Diponegoro (putra Hamengkubuwana III) terhadap Belanda (yang kembali berkuasa sejak tahun 1816). Saat itu raja yang bertakhta di Yogyakarta adalah Hamengkubuwana V.

Pemberontakan Pangeran Diponegoro sangat mendapat dukungan dari rakyat. Pemerintah Hindia Belanda mencoba mengambil simpati rakyat dengan mendatangkan Hamengkubuwana II yang dulu dibuang Inggris. Hamengkubuwana II kembali bertakhta tahun 1826, sedangkan Hamengkubuwana V diturunkan oleh Belanda. Namun usaha ini tidak membuahkan hasil. Rakyat tetap saja menganggap Pangeran Diponegoro sebagai raja mereka.

Hamengkubuwana II yang sudah tua (dan dipanggil sebagai Sultan Sepuh) akhirnya meninggal dunia pada tanggal 3 Januari 1828. Pemerintahan kembali dipegang oleh cicitnya, yaitu Hamengkubuwana V.
272/5 <4+18> Bendoro Pangeran Haryo Demang Tanpo Nangkil [Hamengku Buwono]
Рођење: 1760
Свадба: <35> Raden Ayu Demang [Danurejo I]
Смрт: 1820
333/5 <4+16> Bendoro Pangeran Haryo Diposonto [Hamengku Buwono]
Рођење: 1762
194/5 <4+2> Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam I [Hb.1.11] ? (Kanjeng Pangeran Haryo Notokusumo) [Hamengku Buwono I]
Рођење: 21 март 1764, Yogyakarta
Титуле : 28 јануар 1812, Gusti Pangeran Adipati Paku Alam I [1812-1829]
565/5 <4+23> Bendoro Pangeran Haryo Dipowiyono I / Bendoro Pangeran Haryo Silarang [Hamengku Buwono I]
Рођење: 1765
Смрт: 1826
376/5 <4+14> Bendoro Pangeran Haryo Panular / Bendoro Raden Mas Hadiwijaya [Hamengku Buwono]
Рођење: 1771
Смрт: 30 јул 1826
447/5 <4+5> 1. BPH Mangkukusumo [Hamengku Buwono]
Рођење: 1772
428/5 <4+3> Bendoro Pangeran Haryo Hadikusumo II [Hamengku Buwono]
Рођење: 1774
Свадба: <36> Raden Ayu Hadikusumo [Notowijoyo]
239/5 <4> Kanjeng Pangeran Adipati Dipowijoyo I ? (Pangeran Muhamad Abubakar) [Hamengku Buwono]
Титуле : 1810проц, Yogyakarta, Pangeran Muhamad Abubakar
3010/5 <4+2> Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam I / Bendoro Pangeran Haryo Notokusuma (http://en.rodovid.org/wk/Person:26189) [Hamengku Buwono]
Титуле : 29 јун 1812, Dinobatkan menjadi KGPA Pakualam I, oleh Raffles
2011/5 <4> Kanjeng Raden Ayu Prabusengkono [Hamengku Buwono]
2212/5 <4> Kanjeng Pangeran Aryo Kusumoyudo [Hamengku Buwono]
2413/5 <4+15> Kangeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Hamengkunegoro [Hamengku Buwono]
2514/5 <4+17> Bendoro Pangeran Hangabehi [Hamengku Buwono] 2615/5 <4+17> Bendoro Raden Ayu Jayaningrat [Hamengku Buwono]
2816/5 <4> Bendoro Raden Ayu Danukusumo [Hamengku Buwono I]
2917/5 <4+2> BRAy Ronggo Mangundirjo [Hamengku Buwono]
3118/5 <4> Bendoro Raden Ayu Notoyudo [Hamengku Buwono]
3219/5 <4> Bendoro Raden Ayu Sosrodiningrat [Hb.1] [Hamengku Buwono]
3420/5 <4> Bendoro Raden Ayu Yudokusumo / http://en.rodovid.org/wk/Person:660066 [Hamengku Buwono]
3521/5 <4> Bendoro Raden Ayu Yudokusumo [Hamengku Buwono]
3622/5 <4+?> Bendoro Pangeran Haryo Hadikusumo I [Hamengku Buwono]
3823/5 <4> Bendoro Raden Ayu Yudokusumo II [Hamengku Buwono]
3924/5 <4> Bendoro Pangeran Haryo Mangunkusumo [Hamengku Buwono]
4025/5 <4> Bendoro Raden Ayu Danunegoro [Hamengku Buwono]
4126/5 <4> Bendoro Raden Ayu Joyowiryo [Hamengku Buwono]
4327/5 <4+15> Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Haryo Hamengkunegoro / Gusti Raden Mas Intu [Hamengku Buwono]
4528/5 <4> Bendoro Raden Ayu Pringgoloyo [Hamengku Buwono]
4629/5 <4+?> Bendoro Pangeran Haryo Balitar [Hamengku Buwono]
4730/5 <4> Bendoro Pangeran Haryo Diposono [Hamengku Buwono]
4831/5 <4> Bendoro Pangeran Haryo Danupoyo [Hamengku Buwono]
4932/5 <4> Bendoro Pangeran Haryo Sontokusumo [Hamengku Buwono]
5033/5 <4> Bendoro Pangeran Haryo Dipowiyono II [Hamengku Buwono]
5134/5 <4> Bendoro Raden Mas Suwardi [Hamengku Buwono]
5235/5 <4> Bendoro Raden Ayu Mangundirjo [Hamengku Buwono]
5336/5 <4> Bendoro Raden Ayu Purwodipuro [Hamengku Buwono]
5437/5 <4+9> BRAy Ronodiningrat [Hamengku Buwono]
5538/5 <4> Kanjeng Ratu Bandoro / Raden Ayu Inten [Hamengku Buwono I] 5739/5 <4> BRAy. Hayati/bojati Cakraatmaja [Cakraatmaja]
5840/5 <4+5> # Bendoro Raden Ayu Tumenggung Danunagoro [Hb.1.2] [Hamengku Buwono]
Adapun Raden Tumenggung Danunagara adalah anak dari Kanjeng Raden Hadipati Danureja I Patih Yogyakarta (Danureja I sebelumnya menjabat sebagai Bupati Banyumas IX dengan gelar Adipati Yudanegara III).

6

1411/6 <30> # Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam II [Pakualaman]
Рођење: Pakualan II 1829 - 1858
622/6 <21+31> # Sri Sultan Hamengku Buwono III / Gusti Raden Mas Surojo [Hamengku Buwono II]
Рођење: 20 фебруар 1769, Yogyakarta
Свадба: <39> # Bendoro Mas Ayu Medarsih [Ga.Hb.3.14] [?]
Свадба: <40> # Bendoro Raden Ayu Padmowati [Ga.Hb.3.13] [?]
Свадба: <41> # Bendoro Raden Ayu Panukmowati [Ga.Hb.3.5] [?]
Свадба: <42> # Bendoro Raden Ayu Surtikowati [Ga.Hb.3.4] [?]
Свадба: <43> Bendoro Raden Ayu Kalpikowati [Ga.Hb.3.3] [?]
Свадба: <44> Bendoro Mas Ayu Wido [Ga.Hb.3.12] [?]
Свадба: <45> # Bendoro Raden Ayu Doyopurnomo [Ga.Hb.3.8] [?]
Свадба: <46> Bendoro Raden Ayu Renggoasmoro [Ga.Hb.3.20] [?]
Свадба: <47> Bendoro Raden Ayu Hadiningsih [Ga.Hb.3.23] [?]
Свадба: <48> Bendoro Mas Ayu Sasmitoningsih [Ga.Hb.3.19] [?]
Свадба: <49> Gusti Kanjeng Ratu Wadhan [Gp.Hb.3.3] [?]
Свадба: <50> Bendoro Raden Ayu Puspowati [Ga.Hb.3.11] [?]
Свадба: <51> Gusti Kanjeng Ratu Hemas [Gp.Hb.3.1] [Prawirodirjo]
Свадба: <52> # Bendoro Raden Ayu Puspitolangen [Ga.Hb.3.2] [?]
Свадба: <53> # Bendoro Raden Ayu Mulyosari [Ga.Hb.3.16] [?]
Свадба: <149!> Gusti Kanjeng Ratu Kencono [Hb.1.?] / Gusti Kanjeng Ratu Hageng [Gp.Hb.3.1] [Hamengku Buwono I]
Свадба: <54> Bendoro Mas Ayu Mindarsih [Ga.Hb.3.9] [?]
Свадба: <146!> Bendoro Raden Ayu Hadiningdiah [Ga.Hb.3.22] / Bendoro Raden Ajeng Ratnadimurti [Hamengku Buwono I]
Свадба: <55> Bendoro Raden Ayu Murtiningsih [Ga.Hb.3.21] [?]
Свадба: <56> # Bendoro Mas Ayu Puspitaningsih [Ga.Hb.3.15] [?]
Свадба: <57> Bendoro Raden Ayu Mangkorowati [Ga.Hb.3.1] [Hamengku Buwono] b. 1770 d. 7 октобар 1852
Свадба: <58> # Bendoro Raden Ayu Puspitosari [Ga.Hb.3.17] [?]
Свадба: <59> # Bendoro Raden Ayu Dewaningrum [Ga.Hb.3.10] [?]
Свадба: <60> # Bendoro Mas Ayu Mulyaningsih [Ga.Hb.3.18] [?]
Свадба: <61> # Bendoro Raden Ayu Lesmonowati [Ga.Hb.3.7] [?]
Свадба: <62> # Bendoro Raden Ayu Kusumodiningrum [Ga.Hb.3.6] [?]
Титуле : 31 децембар 1808, Yogyakarta, Raja Putro Narendro Pangeran Adipati Anom Amangkunegoro (Pangeran Wali)
Титуле : од 12 јун 1812, Yogyakarta, Ngarsodalem Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono III
Смрт: 3 новембар 1814, Imogiri
1423/6 <28> Kanjeng Pangeran Adipati Danurejo II / Kanjeng Raden Tumenggung Mangkunegoro [Danurejo I]
Рођење: 1772
Свадба: <63> Bendoro Mas Ayu Pulungayun [?]
Титуле : 1799, Yogyakarta, Danurejo II
Професија : 1799, Yogyakarta, Patih Kesultanan Yogyakarta
Смрт: 1811
1134/6 <21+?> # Bendoro Raden Ayu Joyodilogo [Hb.2.54] [Hamengku Buwono II]
Рођење: 1775
Свадба: <64> Kasan (hasan) AL Munadi [Ba'abud] b. 1764 d. 1830
Смрт: 1797
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
705/6 <21+28> # Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Haryo Mangkudiningrat [Hb.2.11] [Hamengku Buwono II]
Рођење: 1778
Смрт: ~13 март 1824, Ambon
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
596/6 <19> # Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Paku Alam II / Pangeran Suryaningrat (Raden Tumenggung Notodiningrat) [Paku Alam I]
Рођење: 25 јун 1786, Yogyakarta
Свадба: <65> Widowati [Ga.Pa.2.4] [?]
Свадба: <66> Sariningdiah [Ga.Pa.2.2] [Gondhowiryo]
Свадба: <97!> # Gusti Kanjeng Ratu Ayu [Hb.2.37] Bendoro Raden Ayu Krama [Gp.Pa.2.1] [Hamengku Buwono II]
Свадба: <67> Resminingdiah [Ga.Pa.2.3] [?]
Свадба:
Свадба: <68> Muktionowati [Ga.Pa.2.1] [?]
Титуле : 1814, Yogyakarta, Pangeran Suryaningrat
Титуле : 1829, Yogyakarta, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Suryaningrat
Смрт: 23 јул 1858, Yogyakarta
1407/6 <29+?+?> Kanjeng Raden Adipati Haryo Ronggo Prawirodirdja III ? (Adipati Maospati Madiun ke III) [Kerajaan Bima]
Свадба: <80!> # Gusti Bendoro Raden Ayu Maduretno [Hb.2.22] ? (Gusti Kanjeng Ratu Prawirodirdja III) [Hamengku Buwono]
Титуле : од 1799, Bupati Madiun Ke 16 di : Maospati
Смрт: 17 децембар 1810, Banyu Sumurup-Imogiri dipindahkan ke Giripurno-Gn Bancak-Magetan pada 1957
1478/6 <42+36> Raden Panji Prawirokusumo [Hamengku Buwono I]
Свадба: <115!> # Bendoro Raden Ayu Prawirokusumo [Hb.2.56] [Hamengku Buwono II]
Број брака: 29 јун 1813, Yogyakarta
1449/6 <25> Ψ Raden Mas Wangsakusumo / Raden Panji Wangsakusumo [Raden Panji Wangsakusumo]
Смрт: 30 јул 1826
9010/6 <21+25> # Bendoro Pangeran Haryo Joyokusumo [Hb.2.30] ? (Bendoro Pangeran Hangabehi) [Hamengku Buwono II]
Смрт: 30 септембар 1829, Imogiri, Yogyakarta
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
6011/6 <20> Raden Ajeng Prabuwinarko [Hamengku Buwono]
6112/6 <21+30> # 6. BPH Dipawiyana [Hamengku Buwono]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study

BPH Dipawiyana adalah anak dari Seri Sultan Hamengku Buwono. Sejarah Hamengku Buwono II: Sri Sultan Hamengkubuwana II (lahir 7 Maret 1750 – meninggal 3 Januari 1828 pada umur 77 tahun) adalah raja Kesultanan Yogyakarta yang memerintah selama tiga periode, yaitu 1792 - 1810, 1811 - 1812, dan 1826 - 1828.[1] Pada pemerintahan yang kedua dan ketiga ia dikenal dengan julukan Sultan Sepuh.

Riwayat Masa Muda

Nama aslinya adalah Raden Mas Sundoro, putra Hamengkubuwana I, Ia dilahirkan tanggal 7 Maret 1750 saat ayahnya masih menjadi Pangeran Mangkubumi dan melakukan pemberontakan terhadap Surakarta dan VOC. Ketika kedaulatan Hamengkubuwana I mendapat pengakuan dalam perjanjian Giyanti 1755, Mas Sundoro juga ikut diakui sebagai Adipati Anom.

Pada tahun 1774 (atau tahun Jawa 1700) terjadi kegelisahan di kalangan Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta akibat mitos akhir abad, bahwa akan ada sebuah kerajaan yang runtuh. Dalam kesempatan itu, Mas Sundoro menulis kitab Serat Suryaraja yang berisi ramalan bahwa mitos akhir abad akan gugur karena Surakarta dan Yogyakarta akan bersatu di bawah pemerintahannya. Naskah tersebut sampai saat ini dikeramatkan sebagai salah satu pusaka Keraton Yogyakarta.

Pemerintahan Periode Pertama

Mas Sundoro naik takhta Yogyakarta sebagai Hamengkubuwana II pada bulan Maret 1792. Ia merupakan raja yang penuh dengan cita-cita. Para pejabat senior yang tidak sesuai dengan kebijakan politiknya segera dipensiunkan dan diganti pejabat baru. Misalnya, Patih Danureja I diganti dengan cucunya, yang bergelar Danureja II. Keputusan ini kelak justru merugikannya, karena Danureja II setia kepada Belanda, berbeda dengan rajanya.

Hamengkubuwana II sendiri bersikap anti terhadap Belanda. Ia bahkan mengetahui kalau VOC sedang dalam keadaan bangkrut dan bobrok. Organisasi ini akhirnya dibubarkan oleh pemerintah negeri Belanda akhir tahun 1799.

Sejak tahun 1808 yang menjadi gubernur jenderal Hindia Belanda (pengganti gubernur jenderal VOC adalah Herman Daendels yang anti feodalisme. Ia menerapkan aturan baru tentang sikap yang seharusnya dilakukan raja-raja Jawa terhadap minister (istilah baru untuk residen). Hamengkubuwana II menolak mentah-mentah peraturan ini karena dianggap merendahkan derajatnya, sedangkan Pakubuwana IV menerima dengan taktik tersembunyi, yaitu harapan bahwa Belanda akan membantu Surakarta menaklukkan Yogyakarta.

Hamengkubuwana II juga bersitegang dengan Patih Danureja II yang dekat dengan Belanda. Ia memecat Danureja II dan menggantinya dengan Pangeran Natadiningrat putra Pangeran Natakusuma (saudara Hamengkubuwana II). Kemudian Hamengkubuwana II juga merestui pemberontakan besanya, yaitu Raden Rangga Prawiradirjo I bupati Madiun yang menentang penjajahan Belanda. Putera KPR Prawirodirjo I, Raden Ronggo Prawirosentiko Bupati Toenggoel menikah dengan puteri Hamengku Buwono II dari isteri ampeyannya BMA Yati.Raden Rangga Prawirodirjo I adalah juga paman Hamengku Buwono II. Ibu Hamengku Buwono II Kanjeng Ratu Tegalraya adalah adik KPR Prawirodirjo bapak mereka adalah Kyai Ageng Derpayuda.(Genealogy Keraton Yogya).

Belanda berhasil menumpas Raden Rangga dan melimpahkan beban tanggung jawab, misalnya biaya perang, kepada Hamengkubuwana II. Hal ini menyebabkan keributan antara kedua pihak. Pada bulan Desember 1810 Herman Daendels menyerbu Yogyakarta, menurunkan Hamengkubuwana II, dan menggantinya dengan Hamengkubuwana III, menangkap Natakusuma dan Natadiningrat, serta mengembalikan kedudukan Patih Danureja II. [sunting] Pemerintahan Periode Kedua

Pada tahun 1811 pemerintahan Belanda atas Jawa dan Nusantara direbut oleh Inggris. Hal ini dimanfaatkan Hamengkubuwana II untuk kembali menjadi raja, dan menurunkan Hamengkubuwana III sebagai putra mahkota kembali.

Sikap Hamengkubuwana II terhadap Inggris sama buruknya dengan terhadap Belanda. Bahkan, ia berani bertengkar dengan Thomas Raffles sewaktu letnan gubernur Inggris tersebut mengunjungi Yogyakarta bulan Desember 1811.

Pakubuwana IV di Surakarta pura-pura mendukung Hamengkubuwana II agar berani memerangi Inggris. Surat-menyurat antara kedua raja ini terbongkar oleh Inggris. Maka, pada bulan Juni 1812 pasukan Inggris yang dibantu Mangkunegaran menyerbu Yogyakarta. Hamengkubuwana II dibuang ke pulau Penang, sedangkan Pakubuwana IV dirampas sebagian wilayahnya.

Hamengkubuwana III kembali diangkat sebagai raja Yogyakarta. Pangeran Natakusuma yang mendukung Inggris, oleh Thomas Raffles diangkat sebagai Pakualam I dan mendapat wilayah berdaulat bernama Pakualaman. [sunting] Pemerintahan Periode Ketiga

Pada tahun 1825 terjadi pemberontakan Pangeran Diponegoro (putra Hamengkubuwana III) terhadap Belanda (yang kembali berkuasa sejak tahun 1816). Saat itu raja yang bertakhta di Yogyakarta adalah Hamengkubuwana V.

Pemberontakan Pangeran Diponegoro sangat mendapat dukungan dari rakyat. Pemerintah Hindia Belanda mencoba mengambil simpati rakyat dengan mendatangkan Hamengkubuwana II yang dulu dibuang Inggris. Hamengkubuwana II kembali bertakhta tahun 1826, sedangkan Hamengkubuwana V diturunkan oleh Belanda. Namun usaha ini tidak membuahkan hasil. Rakyat tetap saja menganggap Pangeran Diponegoro sebagai raja mereka.

Hamengkubuwana II yang sudah tua (dan dipanggil sebagai Sultan Sepuh) akhirnya meninggal dunia pada tanggal 3 Januari 1828. Pemerintahan kembali dipegang oleh cicitnya, yaitu Hamengkubuwana V.
6313/6 <21+?> # Bendoro Raden Ayu Gusti Wiryonegoro [Hb.2.1] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
6414/6 <21+?> # Bendoro Raden Ayu Sindurejo [Hb.2.2] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
6515/6 <21+?+34> # Bendoro Raden Ayu Pringgodiningrat [Hb.2.3] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
6616/6 <21+30> # Bendoro Raden Ayu Jayaningrat [Hb.2.4] [Hamengku Buwono]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
6717/6 <21+?> # Bendoro Raden Ayu Wiryowinoto [Hb.2.7] [Hamengku Buwono]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
6818/6 <21+31> # Gusti Kanjeng Ratu Bendara [Hb.2.8] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
6919/6 <21+?> # Bendoro Pangeran Haryo Murdaningrat [Hb.2.9] / Pangeran Seda Lengkong [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
7120/6 <21+?> # Bendoro Raden Ayu Jayengrono [Hb.2.12] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
7221/6 <21+30> # Bendoro Pangeran Haryo Wiromenggolo [Hb.2.13] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
7322/6 <21+31> # Gusti Kanjeng Ratu Hangger Krama [Hb.2.14] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
7423/6 <21+?> Bendoro Raden Ayu Kartodipuro [Hb.2.15] [Hamengku Buwono II]
7524/6 <21+?> # Bendoro Pangeran Haryo Singasari [Hb.2.16] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
7625/6 <21+?> # Bendoro Raden Ayu Yudoprawiro [Hb.2.17] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
7726/6 <21+31> # Gusti Pangeran Haryo Mangkubumi [Hb.2.18] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
7827/6 <21+?> # Bendoro Raden Ayu Ronggo Prawirosantiko [Hb.2.19] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
7928/6 <21+30> # Bendoro Raden Ayu Prawirodiningrat I [Hb.2.20] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
8029/6 <21+31> # Gusti Bendoro Raden Ayu Maduretno [Hb.2.22] ? (Gusti Kanjeng Ratu Prawirodirdja III) [Hamengku Buwono]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
8130/6 <21+?> # Gusti Raden Ayu Prawirodiningrat II [Hb.2.22] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
8231/6 <21+32> # Bendoro Raden Ayu Sosrowijoyo [Hb.2.23] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
8332/6 <21+?> # Bendoro Raden Ayu Bahusentono [Hb.2.24] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
8433/6 <21+?> # Bendoro Raden Ayu Prawiroyudo [Hb.2.25] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
8534/6 <21+26> # Bendoro Pangeran Haryo Pamot [Hb.2.10] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
8635/6 <21+33> # Bendoro Pangeran Haryo Hadiwinoto [Hb.2.26] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
8736/6 <21+32> # Bendoro Pangeran Haryo Silarong [Hb.2.27] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
8837/6 <21+33> # Bendoro Pangeran Haryo Hadiwinoto II [Hb.2.28] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
8938/6 <21+32> # Bendoro Raden Ayu Murtodiningrat [Hb.2.29] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
9139/6 <21+27> # Bendoro Raden Ayu Ngabdani [Hb.2.31] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
9240/6 <21+27> # Bendoro Raden Ayu Nitinegoro [Hb.2.32] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
9341/6 <21+?> # Bendoro Raden Ayu Cokrodiwiryo [Hb.2.33] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
9442/6 <21+32> # Bendoro Pangeran Haryo Notopuro [Hb.2.34] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
9543/6 <21+33> # Bendoro Raden Ayu Sosronegoro [Hb.2.35] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
9644/6 <21+?> # Bendoro Raden Ayu Sindunegoro [Hb.2.36] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
9745/6 <21+?> # Gusti Kanjeng Ratu Ayu [Hb.2.37] Bendoro Raden Ayu Krama [Gp.Pa.2.1] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
9846/6 <21+?> # Bendoro Raden Mas Sudaryo [Hb.2.38] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
9947/6 <21+?> # Bendoro Raden Ayu Kartodiwiryo [Hb.2.39] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
10048/6 <21+?> # Bendoro Raden Ayu Yudipuro [Hb.2.40] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
10149/6 <21+33> # Bendoro Raden Ayu Prawirodiningrat II [Hb.2.41] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
10250/6 <21+?> # Bendoro Raden Ayu Sosronegori II [Hb.2.42] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
10351/6 <21+?> # Bendoro Raden Ayu Mangkuyudo [Hb.2.43] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
10452/6 <21+?> # Bendoro Pangeran Haryo Dipowijoyo [Hb.2.44] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
10553/6 <21+25> # Bendoro Pangeran Haryo Hadiwijoyo [Hb.2.45] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
10654/6 <21+33> # Bendoro Raden Ayu Tomoprawiro [Hb.2.46] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
10755/6 <21+33> # Bendoro Raden Ayu Notoyudo [Hb.2.47] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
10856/6 <21+?> # Bendoro Pangeran Haryo Notoboyo [Hb.2.48] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
10957/6 <21+?> # Bendoro Raden Ayu Notowijoyo [Hb.2.49] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
11058/6 <21+?> # Bendoro Pangeran Haryo Juminah [Hb.2.50] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
11159/6 <21+?> # Bendoro Pangeran Haryo Riokusumo [Hb.2.51] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
11260/6 <21+?> # Gusti Kanjeng Ratu Anom Purwonegoro [Hb.2.52] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
11461/6 <21+?> # Bendoro Raden Ayu Kasanmunadi [Hb.2.55] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
11562/6 <21+26> # Bendoro Raden Ayu Prawirokusumo [Hb.2.56] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
11663/6 <21+33> # Bendoro Pangeran Haryo Purbowinoto [Hb.2.57] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
11764/6 <21+?> # Gusti Kanjeng Ratu Timur [Hb.2.58] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
11865/6 <21+?> # Gusti Raden Ajeng Sudarmi [Hb.2.59] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
11966/6 <21+?> # Bendoro Raden Ayu Notorejo [Hb.2.60] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
12067/6 <21+?> # Bendoro Pangeran Haryo Bintoro [Hb.2.61] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
12168/6 <21+?> # Bendoro Raden Ayu Sosrohatmojo [Hb.2.62] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
12269/6 <21+?> # Bendoro Raden Ayu Reksokusumo [Hb.2.63] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study Menikah dengan Bupati Imogiri(?)
12370/6 <21+?> # Bendoro Raden Ayu Prawiroloyo [Hb.2.64] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
12471/6 <21+?> # Bendoro Raden Ayu Sosrodipuro [Hb.2.65] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
12572/6 <21+?> # Bendoro Pangeran Haryo Puger [Hb.2.66] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
12673/6 <21+?> # Bendoro Raden Ayu Sosrodipuro II [Hb.2.67] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
12774/6 <21+?> # Bendoro Raden Ayu Mulyodiwiryo [Hb.2.68] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
12875/6 <21+?> # Bendoro Raden Ayu Projodiningrat [Hb.2.69] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
12976/6 <21+?> # Bendoro Raden Ayu Martodiningrat II [Hb.2.70] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
13077/6 <21+?> # Bendoro Raden Ayu Pringgodirjo [Hb.2.71] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
13178/6 <21+?> # Bendoro Pangeran Haryo Joyokusumo II [Hb.2.72] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
13279/6 <21+?> # Bendoro Pangeran Haryo Hadiwijoyo II [Hb.2.73] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
13380/6 <21+?> # 73. B.R.Ay. Notonegoro ( BRAy. Sawunggaling ) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
13481/6 <21+?> # Gusti Kanjeng Ratu Sasi [Hb.2.75] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
13582/6 <21+24> # Bendoro Pangeran Haryo Hadinegoro [Hb.2.76] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
13683/6 <21+?> # Bendoro Raden Ayu Padmowinoto [Hb.2.77] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
13784/6 <21+29> # Bendoro Pangeran Haryo Pujokusumo [Hb.2.78] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
13885/6 <21+29> # Bendoro Raden Ayu Martonegoro [Hb.2.79] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
13986/6 <21+29> # Bendoro Pangeran Haryo Timur [Hb.2.80] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
14387/6 <19> Kanjeng Pangeran Adipati Danurejo III / Pangeran Natadiningrat [Hamengku Buwono]
14588/6 <27+35> Kanjeng Raden Tumenggung Martonegoro [Hamengku Buwono I] 14689/6 <37> Bendoro Raden Ayu Hadiningdiah [Ga.Hb.3.22] / Bendoro Raden Ajeng Ratnadimurti [Hamengku Buwono I]
Свадба: <62!> # Sri Sultan Hamengku Buwono III / Gusti Raden Mas Surojo [Hamengku Buwono II] b. 20 фебруар 1769 d. 3 новембар 1814
14890/6 <57+?> Raden Mas Sutawijaya [Cakraatmaja]
14991/6 <32> Gusti Kanjeng Ratu Kencono [Hb.1.?] / Gusti Kanjeng Ratu Hageng [Gp.Hb.3.1] [Hamengku Buwono I]
Свадба: <62!> # Sri Sultan Hamengku Buwono III / Gusti Raden Mas Surojo [Hamengku Buwono II] b. 20 фебруар 1769 d. 3 новембар 1814

7

1671/7 <62+61> # Bendoro Raden Ayu Mangkuwijoyo [Hb.3.7] / Bendoro Raden Ayu Prabuningrat [Hamengku Buwono III]
Hilal Achmar Official Link
1702/7 <62+59> # Bendoro Raden Ayu Sosrodiningrat [Hb.3.21] [Hamengku Buwono III]
Official From Hilal Achmar.
1833/7 <141> Kgpaa Paku Alam III [Pakualam]
Рођење: 3. Paku Alam III (1858 - 1864)
2034/7 <148> 1. RM. Dayun Sentradrana/Ky Abdurrahim [Cakraatmaja]
Рођење: di Banjarnegara
2045/7 <148> 2. RM. Mentradana [Cakraatmaja]
Рођење: di Merden
2056/7 <148> 3. RM. Jiwa Yuda [Cakraatmaja]
Рођење: di Merden
2067/7 <148> 4. RAy. Nyai Jiwa Menggala [Cakraatmaja]
Рођење: di Gumelem
2078/7 <148> 5. Nyai RAy. Angga Menggala [Cakraatmaja]
Рођење: di Gumelem
2089/7 <148+?> 6. RM. Wira Seca [Cakraatmaja]
Рођење: di Batur
15010/7 <62+57> # Bendoro Pangeran Haryo Diponegoro [Hb.3.1] Bendoro Raden Mas Ontowirya [Antawirya] (Pangeran Ngabdulkamit) [Hamengku Buwono III]
Рођење: 11 новембар 1785, Yogyakarta
Свадба: <71> # 3. RA. Retnodewati [Kyai di Wilayah Selatan Jogjakarta]
Свадба: <72> Raden Ayu Citrowati Sosrodirjo [Raden Ronggo]
Свадба: <73> # Raden Ayu Retnoningsih (Raden Ayu Melik) [Raden Tumenggung Sumoprawiro] b. 1810 d. 1885
Свадба: <74> # 8. Raden Ayu Retnaningrum [Dipawiyana II]
Свадба: <159!> # Bendoro Raden Ayu Ontowiryo / Raden Ayu Maduretno [Prawiradirja III] b. 1798проц d. 28 фебруар 1827
Свадба: <75> # Raden Ayu Retno Madubrongto [Ga.Hb.3.1.1] [Kyai Gedhe Dadapan - Tempel Sleman]
Титуле : 3 септембар 1805, Yogyakarta, Bendoron Raden Mas Ontowiryo (Carey,Peter, Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro, 2014, pp.17)
Свадба: <76> # Raden Ayu Supadmi [Ga.Hb.3.1.2] (Raden Ayu Retnokusumo) [Notowijoyo III] , Yogyakarta
Свадба: <77> # 7. Raden Ayu Retnokumulo [Kasongan] , Kasongan
Смрт: 8 јануар 1855, Makassar, Sulawesi Selatan
16211/7 <62+52> # Bendoro Pangeran Haryo Hadinegoro [Hb.3.2] / Bendoro Pangeran Haryo Suryengalogo [Hamengku Buwono III]
Official Link
15912/7 <80+140!> # Bendoro Raden Ayu Ontowiryo / Raden Ayu Maduretno [Prawiradirja III]
Рођење: 1798проц, Yogyakarta
Свадба: <150!> # Bendoro Pangeran Haryo Diponegoro [Hb.3.1] Bendoro Raden Mas Ontowirya [Antawirya] (Pangeran Ngabdulkamit) [Hamengku Buwono III] b. 11 новембар 1785 d. 8 јануар 1855
Титуле : 18 фебруар 1825, Ratu Kedaton
Смрт: 28 фебруар 1827
19313/7 <70+?> # 1. Kanjeng Raden Tumenggung Mangkuwijoyo / Pangeran Adipati Mangkudiningrat II [Hamengku Buwono]
Edited by : R.E. Suhendar Diponegoro[1]
  • Granted the principality of Kalibawang in fief 28th April 1831. Exiled to Ambon in December 1831. m. (div. 1817) Bandara Radin Ayu Mangku Vijaya (m. second, Colonel Gusti Pangeran Adipati Prabhu ning Rat), daughter of H.H. Sampeyan Dalam ingkang Sinuhun Kanjeng Sri Sultan Amangku Buwana III Senapati ing Alaga Ngah 'Abdu'l-Rahman Saiyid ud-din Panatagama Khalifatu'llah ingkang Yumeneng Kaping, Sultan of Yogyakarta, by his wife, Ratu Kinchana/Ratu Ibu, daughter of Radin Temenggong Pangeran Sasra di-ning Rat I, Bupati of Jipang-Rajegwesi.
19514/7 <70> # 2. Pangeran Arya Tjakraningrat [Hamengku Buwono]
Рођење: 1801
Edited by : R.E. Suhendar Diponegoro[1]
  • Lahir dari Ibu selir (Junior Wife), turut dibuang ke Ambon dan wafat di Ambon pada tanggal 13 Maret 1824 dimakamkan di Pemakaman Raja2 Imogiri, Bantul, Yogyakarta
19615/7 <70> # 3. Raden Mangku Wilaya / Radin Marta Atmaya / Pangeran Arya Suriya Mataram [Hamengku Buwono]
Рођење: 1802
Смрт: 1825
Edited by : R.E. Suhendar Diponegoro[1]
  • Lahir dari Ibu selir (Junior Wife), turut dibuang ke Ambon dan wafat di Ambon pada tanggal 13 Maret 1824 dimakamkan di Pemakaman Raja2 Imogiri, Bantul, Yogyakarta
19716/7 <70> # 4. Radin Sasra Atmaja / Pangeran Arya Pakuningrat [Hamengku Buwono]
Рођење: 1803
Смрт: од 1825

Edited by : Edited by : R.E. Suhendar Diponegoro[1]

  • Lahir dari Ibu Selir (Junior Wife), meninggal di Kapal Laut pada saat Perang Jawa 1825-1830.
19817/7 <70+?> # 5. Colonel Radin Mas Papak /Radin Temenggong Mangkundirja [Hamengku Buwono]
Рођење: 1804
Титуле : 1831, Prins Kalibawang
Смрт: 1853, Kalibawang
Edited by : Edited by : R.E. Suhendar Diponegoro[1]
  • Colonel Radin Mas Papak/Radin Temenggong Mangkundirja (cre. 1814)/Pangeran Adipati Natapraya (cre. 1825), Prince of Kalibawang. b. 1804 (s/o Radin Ayu Jaya Kusuma). Succeeded his brother as prince of Kalibawang 1831. He d. at Kalibawang, November 1853.
19918/7 <70+?> # 6. Pangeran Arya Papak [Hamengku Buwono]
Рођење: 1804
Edited by :


  • Lahir dari Ibu Selir (Junior Wife), (Bandara Pangeran Arya Mangku di-ning Rat/Kanjeng Gusti Pangeran Adipati I. b. 1778 (s/o Ratu Mas). Exiled to Penang 1812-1815, Batavis 1815-1817 and Ambon 1817-1824. Became an ascetic and assumed the name of Panji Angon Asmara. m. (first) Radin Ayu Jaya Kusuma, daughter of Pangeran Serang, by his wife, Radin Ayu Serang. m. (second) a selir or junior wife. He d. at Ambon, 13th March 1824 (bur. Imagiri)
15119/7 <149+62!> # Sri Sultan Hamengku Buwono IV [Hb.3.18] (Gusti Raden Mas Ibnu Jarot) [Hamengku Buwono III]
Nama aslinya adalah Gusti Raden Mas Ibnu Jarot, putra kedelapan belas Hamengkubuwana III yang lahir dari permaisuri Gusti Kangjeng Ratu Kencono tanggal 3 April 1804. Ia naik tahta menggantikan ayahnya pada usia sepuluh tahun, yaitu tahun 1814. Karena usianya masih sangat muda, Paku Alam I ditunjuk sebagai wali pemerintahannya.

Pada pemerintahan Hamengkubuwono IV, kekuasaan Patih Danurejo IV semakin merajalela. Ia menempatkan saudara-saudaranya menduduki jabatan-jabatan penting di keraton. Keluarga Danurejan ini terkenal tunduk pada Belanda. Mereka juga mendukung pelaksanaan sistem Sewa Tanah untuk swasta, yang hasilnya justru merugikan rakyat kecil.

Pada tanggal 20 Januari 1820 Paku Alam I meletakkan jabatan sebagai wali raja. Pemerintahan mandiri Hamengkubuwono IV itu hanya berjalan dua tahun karena ia tiba-tiba meninggal dunia pada tanggal 6 Desember 1823 saat sedang bertamasya. Oleh karena itu, Hamengkubuwono IV pun mendapat gelar anumerta Sinuhun Jarot, Seda Besiyar.

Kematian Hamengkubuwono IV yang serba mendadak ini menimbulkan desas-desus bahwa ia tewas diracun ketika sedang bertamasya. Putra mahkota yang belum genap berusia tiga tahun diangkat sebagai raja, bergelar Hamengkubuwono V.
20020/7 <70+?> # 7. Pangeran Arya Pakuningprang [Hamengku Buwono]
Рођење: 1805
Свадба: <93> Raden Ayu Jaya Kusuma [Serang]
Edited by :
  • Lahir dari Ibu Selir RA. Mangkudiningrat pada tahun 1805. (Bandara Pangeran Arya Mangku di-ning Rat/Kanjeng Gusti Pangeran Adipati I. b. 1778 (s/o Ratu Mas). Exiled to Penang 1812-1815, Batavis 1815-1817 and Ambon 1817-1824. Became an ascetic and assumed the name of Panji Angon Asmara. m. (first) Radin Ayu Jaya Kusuma, daughter of Pangeran Serang, by his wife, Radin Ayu Serang. m. (second) a selir or junior wife. He d. at Ambon, 13th March 1824 (bur. Imagiri).
18621/7 <140> Raden Ali Basa Abdul Musthofa Sentot Prawiradirdja / Sentot Ali Basah [Sentot Ali Basa]
Рођење: 1808проц
Свадба: <289!> Raden Ayu Sentotprawirodirjo [Hb.3.2.12] [Hamengku Buwono III]
Смрт: 1855проц, Bengkulu
15322/7 <59> Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Paku Alam III [Pa.2.12] Gusti Raden Mas Haryo Suryo Sastraningrat (Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Suryo Sasraningrat) [Paku Alam II]
Рођење: 20 децембар 1827, Yogyakarta
Свадба: <216!> Bendoro Raden Ayu Suryo Sastraningrat [Hamengku Buwono II]
Титуле : 19 децембар 1858, Yogyakarta
Смрт: 17 октобар 1864, Yogyakarta
22423/7 <90> Raden Mas Joyokusumo [Hb.2.30.1] [Hamengku Buwono II]
Свадба: <241!> # 8. R.A Joyokusumo [Hamengku Buwono]
Смрт: 30 септембар 1829, Senggir
15424/7 <59+67> Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam V [Pa.2.14] Kanjeng Pangeran Haryo Suryodilogo (Bendoro Raden Mas Haryo Notowilogo) [Paku Alam II]
Рођење: 23 јун 1833, Yogyakarta
Свадба: <94> Bendoro Raden Ayu Suryodilogo [Pa.1.8.2] [Paku Alam I]
Титуле : 1878, Yogyakarta, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario (KGPAA) Prabu Suryodilogo
Смрт: 6 новембар 1900, Kulon Progo
18825/7 <59> # Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam IV / Raden Mas Nataningrat [Pakualaman]
Рођење: 25 октобар 1840, Yogyakarta
Свадба: <95> # Gusti Kanjeng Ratu Ayu [Hb.6.10] [Hamengku Buwono VI]
Титуле : 1864, Yogyakarta, Prabu Paku Alam IV [1864-1878]
Смрт: 24 децембар 1878, Yogyakarta
16026/7 <69> R. M. T. A. A. Djojodiningrat / Raden Mas Djojoprono [Hamengku Buwono II]
Свадба: <96> Putri Dari K. P. A. Ng. Djojokoesoemo [?]
Титуле : од 1845, Bantul, Yogyakarta
15227/7 <59> Gusti Raden Mas Haryo Nataningprang [Pa.2.8] [Paku Alam II]
Смрт: 1857
15528/7 <60> Raden Ayu Prawirosetiko [Prawirosetiko]
15629/7 <61> # R. Ay. Pangulu Kamaludiningrat [Hamengku Buwono]
Official Link. Adm: Hilal Achmar.

SILSILAH KETURUNAN (1&2) SISILAH PANCER KEDIRI (1) Sisilah uri-uri leluhur puniko kaserat/revisi dening :

1. R. Fatah Sultan Akbar I Bintoro Demak 2. R. Trenggono Sultan Akbar III Bintoro Demak 3. Sultan Mu'min (Sultan Prawoto) Demak 4. Panembahan Wirasmoro (Pangeran Sumende)Sumare ing Setono Gedong Kediri (Jl. Raya Dhoho Kediri kilen stasiun Kediri Kota) 5. R. Djalu Pangeran Demang Kediri I 6. Pangeran Demang Kediri II. Sumare ing Badal Nambangan / Ngrembang - Ngadiluwih - Kediri Peputro : 1. Kyai Ageng Abd. Djabar Tjorekan (Sumare ing Ngelam Suroboyo) 2. Kyai Ageng abd. Adim (Sumare ing Brodat/Kertosono) 3. Kyai Ageng Abd. Mursad (Sumare ing Tukun) 4. Kyai Ageng Abd. Rochim Ngliman 5. Kyai Ageng Abd. Salim / Adipati Kemten Sedo ing Pasuruan (Sumare ing Kundjonmanis)

Kyai Abd. Djabar Tjorekan dipun labuh dening Goverment walandi, wonten pelabuhan Kediri mentas ing dukuh Ngelam, dedukuh wonten ngriku kasebat Kyai Ageng Ngelam Suroboyo.Peputro : 1. Kyai Supanjeng Suroboyo 2. Kyai bagong Suroboyo

Kyai Ageng Abd. Brodat Kagungan putro ing Tapan Maduro : 1. R. Ayu Pangeran Tjokroningrat Madura 2. Kyai Tambak Agung Lemah Putro Suroboyo : Peputro : 1. Kanjeng Penghulu Kamaludiningrat (ing Godong Mataram) 2. Kyai Ag. Abd. Djabar (Kamludin) ing Kediri I 3. Kyai Im Sapingi ing Kediri II 4. Kyai Moh. Sapingi / Kamaludin ing Kediri III : Kagungan putro garwo Sepuh (RA. SEDAH MERAH) : (Sumare ing Kilen Pasar Paing Kediri / Ngajengipun Pondok Pesantren Assidiqiayh Jamsaren Kediri). Peputro : 1. R Ng. Bukori / kyai Bendungan Brebeg. 2. R. Ng. Abd. Basar Penghulu Sragen. 3. R. Rekso Ngulomo Penghulu Kediri. 4. R. Rekso Prodjo Djakso Kediri. 5. R. Rekso Seputro Naib Papar. 6. R. Nganten Kustiyah (Garwo Abd. Djalal) Naib Djambean. 7. R. Soemoredjo Mantri Negoro Kediri. 8. R. Ng. Burnadi Djuru Serat Srambi Kediri (masjid alun-alun / Kodya Kediri ). Kagungan putro saking garwo Keter  : 9. R. Kyai Mustaman Blitar. 10. R. Im. Sapingi Naib Papar. Kagungan putro saking garwo Enem : 11. R. Ng. Sumahun / Moh. Edris, Penghulu Kediri. 12. R. Ng. Djemblung / R. Ng. Djoko, Naib Kediri I. 13. R.Eoro Bonyok / R. Ng. Burnadi, Naib Kediri II. Kagungan putro saking garwo Klagenan : 14. R. Ismangil Ketib/Kotib Senoman Kediri 15. R. Ng. Adpar Ketib/Kotib Djojar Kediri

SISILAH PANCER KEDIRI (2) 1. R. Fatah Sulatan Akbar Bintoro Demak I 2. R. Trenggono Sultan Akbar Bintoro Demak III 3. Sultan Mu'min (sultan Prawoto) Demak 4. Panembahan Wirasmoro / Pangeran Sumense (sumare ing Setono Gedong Kediri) 5. R. Djalu Pangeran Demang Kediri I 6. Pangeran Demang Kediri II, ing Ngrembang sumare ing Badal Nambangan. 7. Kyai Ag. Abd. Adim Brodat

Silsilah Pancer 1 : Silsilah Pancer 2 : 1. Kyai Ag Kabul 1. Kyai Ag. Tambak Agung 2. Kyai Ag. Muslim 2. Kyai Ag. Kamaludiningrat ing Godong 3. Kyai Sarkum 3. Kyai Abd. Djabar Kamludin ing Kediri 4. Kyai Alwi 4. Kyai Imam Sapingi 5. Kyai Abd Rosid 5. Kyai Djojo Ngulomo 6. Kyai Abd. Djoned 6. Kyai Im Mustaram 7. Ag. Sribanun 7. Kyai Moh. Mansur 8. H. Abd. Fakih 8. H. Abd. Fakih Naib Kras

SISILAH PANCER Syech Maulono Magribi. 1. Syech Maulono Magribi 2. Kyai Ag. Tarub II 3. Sripah Asijah kagarwo >< R. Bondan Kejawan (putro Brawidjojo Darmarwulan Modjopahit) 4. Kyai Ag. Getas Pandowo (Kahuripan Purwodadi) 5. Kyai Ag. Selo, Purwodadi 6. Kyai Tani (sumare ing kilen Masdjid Nglawean Solo) 7. Kyai Ag. Penembahan 8. Panembahan Senopati Sutowidjojo Ratu Mataram I / Danang 9. Sultan Agung Tjakrakusumo(Prabu Mangkurat Agung Kertosuro, sumare ing Tegalarum) 10. R. Aj. Klenting Wungu kagarwo >< Ki. Djogosworo 11. R. Aj. Tumenggung Hodjowongso 12. R. Aj. Djosodipuro Koliwon Banyak 13. R. Aj. Tumenggung SEDAH MERAH kagarwo >< Penghulu Kediri 14. R. Aj. Djembluk (Kustijah kagarwo >< R P. Abd Djalal / Im. Subroto, Naib Ngadiluwih) 15. R. Ng. Abd Djoned Penghulu Kediri 16. R. Ng. Sribanun kagarwo >< Moh Mansur, Naib Kras 17. H. Abd. Fakih Naib Kras.

SILSILAH KETURUNAN (2) 1. R. Patah

2. R. Trenggono III

3. Sultan Muknin (Sunan Prawoto)

4. Penembahan Wirasmoro (Pangeran Sumende)

5. R. Djalu Pangeran Demang Kediri I

6. Pangeran Demang Kediri II (Sumare ing Badal Kediri)

7. Kyai Ageng Abd. Adim (Sumare ing Brodat Kertosono)

8. Kyai Tambak Agung Lemah Putro Suroboyo

9. Kanjeng Penghulu Kamaludiningrat (Penghulu Godong Mataram)

10.Kyai Ageng bd. Djabar (Kamaludin), Penghulu Kediri I

11.Kyai Imam Sapingi Penghulu Kediri II

12.Kyai Moh. Supingi (Kamludin), Penghulu Kediri III >< Nyai SEDAH MERAH (Sumare ing Kediri Ngajengipun Pondok Assidiqqiah Jamsaren Kediri, kilen pasar Paing Kediri)

13.R. Aj. Kustiah >< Abd. Jalal, Naib Jambean

14.R. Hadiwidjojo (Sumare ing Ngadiluwih)

15.R. Kodrat Samadikoen (Sumare ing Bendo Pare Kediri)

16.R. Tri Priyo Nugroho

17.R. Syehha Agem Manumayasya....

Sayyidah RA. Nyai Imanadi Kebumen ( Garwa II ), ibni

Sayyidah RA. Kamaludiningrat ( Pengulu Kraton Jogjakarta ), ibni

Sayyid BPA Dipowiyono, ibni

Sayyid RM. Sundoro / Hamengku Buwana II, ibni

Sayyid RM. Sujono / Pangeran Mangkubumi / Hamengku Buwana I...

Nyi jawahir peputra ; 1.Ali Mustafa peputra ; 1. Sastra 2. H. Muhson 3. Imam Pura 4. Sarbini 5. Dalail 6. Munirah 7. Nyai Madmarja

2.SanMunawar ( Lurah Pesucen ) 3.Nyi Basar Kahfi 4.Nyi Sanmustafa 5.Ali Muntaha peputra ; 1. Muhsin 2. Muhson 3. Muhsonah 4. Munsarip 5. Munisah 6. Mutnginah

6.Mustahal 7.Abdul Anwar ( Siwedi Kutowinangun ) 8.Marjuned ( Banjarnegara ) 9.Nyi Madmurja ( Kenteng Karangsari Kutowinangun ) 10.Nyi Badariyah ( Nyi H. Nawawi ) peputra ; 1. Nyai Carik jetis 2. Nyai Ahmad 3. Nyai Badriyah 4. Haji Masyhud 5. Nyai Trafas 6. Maklum

11.Nyi Ramadipura ( Buluspesantren ) 12.Nyi Satirah 13.Badarudin peputra ; 1. Nyi Ali Tsani Kauman ( Garwa I ) peputra ; 1. Siti Khalimah Kauman peputra ; 1. Mutoharoh

2. Chafsoh Pekalongan peputra ; 1. Arifin Pekalongan

2. Makmun Kauman peputra ; 1. Rokhimah Tasikmalaya peputra ;

2. Kharisoh Rantewringin peputra ; 1. Nurul Kauman 2. Retno Rantewringin 3. Beni 3. Khotmah Tasikmalaya peputra ;

4. Halimah Tasikmalaya peputra ;

5. Honimah Kebumen peputra ; 1. R. Muh. Rafi Ananda / Tuti Khusniati Al Maki 2. Aila Rezannia / Poedjo Raharjo 6. Soimah Kauman peputra ; 1. Arif Hidayat 2. Titin Rahayuningsih 3. Teguh Priyatno 4. Nur Fatmawati 5. Diyah Kurniasari

3. Nyi Maklum Kauman

H. Ahmad peputra ; 1.Ibunipun Nyi. H. Ali 2.Nyi Mangku 3.Madnur 4.Toyib

KH. Ali Awal bin Moh. Alwi kaliyan Garwa I peputra ;

1.Nyi Abdul Manan I ( Sepuh )Kemangguan Alian 2.Kyai Ismail Karanganyar Kebumen 3.Nyi Abdul manan II Kemangguan Alian 4.Nyi Zaenudin Pekeyongan 5.Nyi Hanan Plumbon peputra ; 1. Pengulu Ridwan/ Rilwan peputra ; 1. Rughoyah / Makmun Kauman 2. Rofqoniyah / Kyai Matori Jatisari peputra ; 1. KH. Sayyid R. Salim Al Mator peputra ; 1. Tobagus Muslihudin Aziz 2. Hikmatul Hasanah 3. Maksumah Kurniawati 4. Musyafa Firman Iswahyudi 5. Retno Auliyatussangadah 6. Eta Fatmawati Auliyatul Ummah

2. Songidah peputra ;

3. Sangadatun Diniyah peputra ;

4. Kyai Khumsosi Al Matori peputra ; 1. Siti Khulasoh 2. Siti Fatimah 3. Lukman Zein 4. Anis Siti Karimah 5. Siti Khomsiati 6. Anas Mufadhol

5. H. Makmuri peputra ;

6. Muslim peputra ;

3. Sanusi Prembun peputra ; 1. Sol 2. Salamah Balingasal Prembun

4. Sugeng peputra ;

5. Dulkodir peputra ;

6.Kyai Tohir Kedungtawon Kutowinangun peputra ;

Kyai Kosim Kedungtawon Kutowinangun peputra ;

KH. Ali Awal kaliyan Garwa II peputra ; 1.KH. Abdullah Ibrahim Kauman ( Pengulu Landrat terakhir ) peputra ; 1. Siti Khotijah / Zaenal Kauman 2. Siti hajatiyah / Mbah Jamaksari Somalangu 3. Ashariyah / Mustofa Banjarnegara 4. Umi Kulsum / Sumbono 5. Maimunah / Ali Siroj ( Purworejo ) 6. Mariyah / Sumbono 7. Hasim 8. Maryatini / Masngudin 9. Johariyah / kagarwa Sururudin, lajeng kagarwa dening Kyai Jamaksari Somalangu 10. Sri Kartini

2.Moh. Soleh peputra ; 1. Yusuf Soleh 2. Taslimah / Daqir Pekeyongan 3. Slamet Soleh 4. Musngidah / Masngud Prembun peputra ; 1. Dalail 5. Makmunah / Tahrir 6.Asyiah / Ngalimun Prembun

3.Siti Khalimah Wanasara / Abdullah sepuh peputra ; 1. Aminah Wanasara peputra ; 1. Muhtar

2. Mutiah Krakal peputra ; 1. Roh

4.H. Ali Tsani Kauman peputra ; Garwa I 1. Siti Khalimah Kauman peputra ; 1. Mutoharoh 2. Chafsoh Pekalongan peputra ; 1. Arifin Pekalongan

Garwa II ( Sayyidah Isti Sangadah binti Sayyid Muh. Fadil bin Sayyid Muh. Zein Solotiang bin Sayyid Muh. Alim Bulus Purworejo ) 1.Mahmud Ali Kauman peputra ; 1. Arif Mustofa

2.Isti Chamidah peputra ; 1. M. Sudjangi 2. Sugeng Assyamsi 3. Abdul Rozak 4. Lukman Hakim 5. Abdus Somad 6. M. Mahfud 7. M. Murtadlo

5.Abdul Wahab peputra ; 1. Moh Alwi Tejasari Kawedusan peputra ; 1. Ikhsan Alwi

2. Syamsi / Isti Chamidah

Khoul KH. Imanadi dipun wontenaken saben tanggal 14 Ruwah wonten ing serambi Masjid Pesucen Wonosari.

Wasana sinigeg semanten kemawon riwayat saha silsilahipun KH. Imanadi. Mugi – mugi handadosaken pepenget saha tuladhanipun khusus dhateng pra dharahipun, dhateng pra kathah umumipun. Amin

Kebumen, 06 Februari 2009

Sayyid R. Muh. Rafi Ananda

Wasana sinigeg samanten kemawon riwayat saha silsilahipun KH. Imanadi. Mugi – mugi handadosaken pepenget saha tuladhanipun khusus dhateng pra dharahipun, dhateng pra kathah umumipun. Amin

Pustaka Perdhikan Buku alit punika kaparingan asma PUStaka perdhikan. Dipun anggit dinten Jumat Kliwon, 11 Safar 1430 H/ taun JE 1942 utawi 06 Februari 2009 dening Sayyid R. Muh. Rafi Ananda kanti ngempalaken riwayat saha silsilah saking pra turunipun Suwargi KH. Imanadi ugi kanti penyelidikan awujud sumber – sumber kawontenan ing sejarah. Riwayat kakempalaken saking panjenenganipun ; 1.KH. Sayyid R. Salim Al Mator Jatisari 2.R. Sudjangi Kauman

Buku kacetak kanti sederhana supados saged dipun waos dening pra putra wayahipun KH. Imanadi ingkang mbetahaken. Kagem Pra putra wayang ingkang dereng kaserat wonteng ing mriki kersaha nyerat piyambak – piyambak lan kahaturaken dhateng Sayyid R. Muh. Rafi Ananda wonten alamat Jalan Garuda 13 Kebumen Jawa – Tengah. Wasan buku pustaka Perdhikan punika sageda manfangati kagem kita sami. Amin. Kebumen, jumat kliwon, 06 Februari 2009

Sayyid R. Muh. Rafi Ananda Basaiban

Kebumen, Jumat Kliwon, 06 Februari 2009

Sayyid R. Muh. Rafi Ananda ,,,
15730/7 <62+54> # Bendoro Raden Ayu Mangunnegoro [Hb.3.10] [Hamengku Buwono III]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
15831/7 <142+63> # Kanjeng Pangeran Adipati Danurejo IV / Kanjeng Raden Tumenggung Gondokusumo (Kanjeng Pangeran Haryo Juru) [Danurejo]
16132/7 <62+59> # Bendoro Raden Ayu Sosrowinoto [Hb.3.11] / Bendoro Raden Ayu Wiryodipuro [Hamengku Buwono III]
Hilal Achmar Official Link
16333/7 <62+43> Bendoro Pangeran Haryo Purwodiningrat [Hb.3.3] [Hamengku Buwono III]
16434/7 <62+42> Bendoro Raden Ayu Danukusumo [Hb.3.4] / Bendoro Raden Ayu Danuhadiningrat [Hamengku Buwono III] 16535/7 <62+41> # Bendoro Raden Ayu Wiryokusumo [Hb.3.5] / Bendoro Raden Ayu Purwonegoro [Hamengku Buwono III]
Hilal Achmar Official Link
16636/7 <62+62> # Bendoro Raden Ayu Kertonadi [Hb.3.6] [Hamengku Buwono III]
Hilal Achmar Official Link
16837/7 <62+45> # Bendoro Pangeran Haryo Hadisuryo I [Hb.3.8] [Hamengku Buwono III]
Hilal Achmar Official Link
16938/7 <62+50> # Bendoro Raden Ayu Prawirohatmojo [Hb.3.12] [Hamengku Buwono III]
Official From Hilal Achmar.
17139/7 <62+50> # Bendoro Pangeran Haryo Hadi Suryo [Hb.3.13] [Hamengku Buwono III]
Official Link Adm: Hilal Achmar.
17240/7 <62+44> Bendoro Pangeran Haryo Suryowijoyo [Hb.3.14] [Hamengku Buwono III]
17341/7 <62+40> # Bendoro Raden Ayu Sosronegoro [Hb.3.15] / Bendoro Raden Ayu Notowijoyo [Hamengku Buwono III]
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
17442/7 <62+39> # Bendoro Raden Ayu Mangundrono [Hb.3.16] [Hamengku Buwono III]
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
17543/7 <62+39> # Bendoro Pangeran Haryo Suryodipuro [Hb.3.17] / Bendoro Pangeran Haryo Notobroto [Hamengku Buwono III]
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
17644/7 <62+39> # Bendoro Raden Ayu Bahusentono [Hb.3.24] [Hamengku Buwono III]
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
17745/7 <62+56> # Bendoro Raden Ayu Mangundirjo [Hb.3.19] / Bendoro Raden Ayu Joyodipuro [Hamengku Buwono III]
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
17846/7 <62+53> # Bendoro Raden Ayu Notodiningrat [Hb.3.20] [Hamengku Buwono III]
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
17947/7 <62+53> # Bendoro Pangeran Haryo Hadinegoro [Hb.3.25] / Bendoro Pangeran Haryo Abubakar [Hamengku Buwono III]
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
18048/7 <62+58> # Bendoro Raden Ayu Kusumodipuro [Hb.3.22] [Hamengku Buwono III]
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
18149/7 <62+60> # Bendoro Raden Ayu Joyosudargo [Hb.3.23] [Hamengku Buwono III]
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
18250/7 <62+60> # Bendoro Pangeran Haryo Teposono [Hb.3.28] [Hamengku Buwono III]
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
18451/7 <59> Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Suryoningrat I [Pa.2.1] Gusti Pangeran Haryo Suryoputro [Paku Alam II]
18552/7 <59> Gusti Pangeran Haryo Suryaningrat [Paku Alam II]
18753/7 <135> # Gusti Kanjeng Ratu Kencono II [Gp.Hb.7.3] [Hamengku Buwono II]
Свадба: <110> # Sri Sultan Hamengku Buwono VII [Hb.6.1] (Raden Mas Murtejo) [Hamengku Buwono VI] b. 4 фебруар 1839 d. 30 децембар 1921
18954/7 <140> Raden Abdul Kamil Alibasyah [Raden Ronggo] 19055/7 <142> Raden Tumenggung Mertonegoro / Jayapermadi [Danurejo II]
19156/7 <142> # Gusti Kanjeng Ratu Kencono [Gp.Hb.4.1] / Gusti Kanjeng Ratu Agung (Gusti Kanjeng Ratu Hageng) [Danurejo II]
19257/7 <143> Kanjeng Pangeran Adipati Danurejo IV / Kanjeng Pangeran Joko Hadiyosodiningrat [Danurejo III]
19458/7 <112+69> Gusti Kanjeng Ratu Kencono [Hb.2.52.2] / Bendoro Raden Ajeng Suradina [Gp.Hb.5.1] [Hamengku Buwono II] 20159/7 <113> 1. RM. Ibrahim Ba'abud Madiokusumo / RM. Haryo Madiokusumo [Ba'abud]
20260/7 <113> 2. RM. Puspodipuro [Ba'abud]
20961/7 <69> 2. R. M. T. A. A. Ronodiningrat [Hamengku Buwono]
21062/7 <62+48> Bendoro Pangeran Haryo Suryodipuro II [Hb.3.26] [Hamengku Buwono III]
21163/7 <62+46> Bendoro Pangeran Haryo Suryadi [Hb.3.27] [Hamengku Buwono III]
21264/7 <62+55> Bendoro Raden Ayu Sosrodipuro [Hb.3.29] [Hamengku Buwono III] 21365/7 <62+48> Bendoro Raden Ayu Dipowiyono [Hb.3.30] [Hamengku Buwono III] 21466/7 <146+62!> Bendoro Raden Ayu Sosrowinoto II [Hb.3.31] [Hamengku Buwono III] 21567/7 <62+47> Bendoro Raden Ayu Ronowinoto [Hb.3.32] [Hamengku Buwono III] 21668/7 <125> Bendoro Raden Ayu Suryo Sastraningrat [Hamengku Buwono II] 21769/7 <59+68> Bendoro Raden Ayu Sosromijoyo [Pa.2.10] [Paku Alam II]
21870/7 <59+65> Bendoro Raden Ayu Sosrodigdoyo [Pa.2.16] [Paku Alam II] 21971/7 <59+65> Bendoro Raden Ayu Sosrosudirjo [Pa.2.15] [Paku Alam II] 22072/7 <59+67> Bendoro Raden Ayu Notoasmoro [Pa.2.13] [Paku Alam II] 22173/7 <59> Gusti Raden Ayu Harjowinoto [Pa.2.9] [Paku Alam II] 22274/7 <97+59!> Gusti Raden Ayu Ronggo Prawirodiningrat [Pa.2.2] [Paku Alam II] 22375/7 <120> Bendoro Raden Ayu Sastroningprang [Hb.2.61.1] [Hamengku Buwono II]

8

2451/8 <150+77> # 12. RA. Hangreni Mangunjaya [Hamengku Buwono]
Рођење: Sementara menunggu persetujuan putranya diputus : 848551
== R.A Hangreni Mangunjaya ==


Untuk menghindari lahirnya pemberontak-pemberontak baru keturunan Pangeran Diponegoro, pihak keraton menikahkan puteri-puteri Pangeran Diponegoro dengan pejabat-pejabat yang netral atau dengan pejabat yang pro Belanda. Untuk itu mereka dinikahkan dengan pejabat-pejabat di wilayah kekuasaan trah Danurejan yaitu di tanah kedu dan Bagelen. Trah Danurejan adalah trah yang terbukti setia kepada Belanda walaupun ada juga beberapa yang justru menjadi tulang punggung perjuangan Pangeran Diponegoro.

Radeng Ngabehi Mangunjaya suami R.A Hangreni adalah seorang wedono di wilayah Bagelen Barat yang dikuasai oleh Bupati Cokronegoro. Strategi Belanda dan kraton seolah berhasil dengan cara ini, tetapi kelak generasi-generasi penerus R.A Hangreni berjuang melawan penjajah melalui perjuangan agama setelah era perang Diponegoro berakhir.
2562/8 <183> Kgpaa Pakua Alam IV [Pakualam]
Рођење: 4. Paku Alam IV (1864 - 1878)
2693/8 <201> 5. RA. Said Husein [Ba'abud]
Рођење: Anak Kembar Pertama
2704/8 <201> 6. RA. Sosrokusumo [Ba'abud]
Рођење: Anak Kembar Ke 2
2725/8 <203> 1. RM. Kyai Gede Gumelem Kaliajir [Cakraatmaja]
Рођење: di Gumelem - Kaliajir
2326/8 <150+75> # 1. RM. Muhammad Ngarip (Diponegoro Anom) (Pangeran Abdul Majid) [Hamengku Buwono]
Рођење: 1803
== Raden Mas Muhammad Ngarip/Raden Antawirya II / Diponegoro Anom/Diponegoro II/Kanjeng Pangeran Haryo Diponegoro II /Pangeran Abdul Majid. ==


Lahir pada tahun 1803. Dilihat dari tahun kelahirannya maka dapat dipastikan sebagai anak dari ibu Raden Ayu Madubrongto. Ketika perang Diponegoro dimulai dia telah berusia 22 tahun dan selalu setia menjadi pembela ayahnya. Sebagai putera tertua dan memiliki kesamaan pandangan dengan ayahnya maka dia dengan ikhlas mengangkat senjata mendampingi ayahnya. Nama bayinya adalah Raden Mas Muhammad Ngarip, dan kelak nama itu dia gunakan lagi ketika berada di wilayah sumenep dengan sedikit perubahan yaitu Raden Mas Mantri Muhammad Ngarip. Nama ini dia gunakan selama dalam pembuangan di Sumenep Madura. Dialah yang menulis buku Babad Diponegoro Suryongalam. Ketika menginjak dewasa dan ayahnya telah menggunakan nama Diponegoro, dia mendapatkan gelar nama yang sama yaitu Ontowiryo II dan selanjutnya menggunakan nama Diponegoro II atau Diponegoro Anom ketika ayahnya diangkat oleh rakyat menjadi Sultan Abdul Hamid. Nama tersebut diberikan sendiri oleh Pangeran Diponegoro sebagai tanda bahwa putera kesangannya inilah kelak yang akan melanjutkan cita-citanya. Memang dia hanya dari isteri samping, tetapi keindahan budi pekerti ibunya membuat Pangeran Diponegoro sangat menyayangi anak sulungnya ini. Melihat usianya yang sudah mencapai 22 tahun pada saat perang Diponegoro dimulai, maka dapat dipastikan bahwa pada saat itu beliau sudah memiliki isteri dan memiliki beberapa anak. Kelak keturunan beliau yang lahir dan besar di tanah Jawa inilah yang akan menjadi generasi penerusnya sebagai pengganggu ketenteraman penjajah. Sejak awal peperangan, Diponegoro Anom diserahi untuk menjaga dan melawan penjajah di wilayah Bagelen ke Barat bersama beberapa orang pilihan Pangeran Diponegoro di antaranya Tumenggung Danupoyo. Taktik perang yang digunakan sama dengan ayahnya yaitu bergerilya dan berpindah-pindah. Area perjuangan Pangeran Diponegoro Anom ini mencapai wilayah Barat Banyumas, Temanggung dan Parakan. Di medan perang Diponegoro Anom ini sering bekerja sama dengan Pamannya Sentot Prawirodirjo dan adik tirinya Raden Mas Singlon atau Raden Mas Sodewo. Setelah menjalani pembuangan di Sumenep tahun 1834 lalu dibuang ke Ambon 1853.

Sebenarnya Pangeran Diponegoro berharap agar ibu dan anak-anaknya bisa bergabung dengannya di pembuangan, tetapi hal itu secara halus ditolak oleh Belanda dan sebagai gantinya Van den Bosch menijinkan anak-anaknya kembali ke Tegalrejo. Bahkan anak Pangeran Dipokusumo dan Pangeran Diponingrat diijinkan tinggal di dalam kraton. Selanjutnya Belanda melalui Kapten Roeps juga memenuhi permintaan Pangeran Diponegoro untuk membagikan pusaka warisan pada anak-anaknya yang terdiri dari keris dan tombak.
2337/8 <150+75> # 2. RM. Dipoatmaja RM. Dipokusuma (Pangeran Abdul Azis) [Hamengku Buwono]
Рођење: 1805
== R.M Dipoatmaja /R.M Dipokusumo /Pangeran Abdul Aziz (1805) ==


Adalah putera ke dua Pangeran Diponegoro yang lahir dari ibu Retno Madubrongto. Dia sudah cukup dewasa ketika perang dimulai, sehingga tidak menutup kemungkinan, dia meninggalkan anak dan isteri ketika menjalani pembuangan di Ambon. Semasa perang, RM. Dipoatmojo banyak bergerak di wilayah Pacitan dan Madiun. Peperangan dipimpin oleh Bupati Mas Tumenggung Joyokariyo, Mas Tumenggung Jimat dan Ahmad Aris, akan tetapi akhir Agustus 1825 daerah Pacitan berhasil dikuasai Belanda. Bupati Joyokariyo di pecat, sedang Tumenggung Jimat dan Ahmad Aris ditangkap yang nasibnya tidak diketahui. Sebagai bupati baru, diangkatlah oleh Belanda Mas Tumenggung Somodiwiryo, akan tetapi tidak lama bertahta sebab 9 Oktober 1825 diserbu oleh pasukan Madiun yang dipimpin oleh Raden Mas Dipoatmojo dan berhasil membunuh bupati baru tersebut. Namun akhirnya awal Desember 1825 seluruh pasukan Madiun di Pacitan berhasil dipecah belah oleh Belanda, hingga Pacitan sepenuhnya di kuasai Belanda.

Pada akhir perang Diponegoro, Raden Mas Dipoatmojo berada di Surakarta bersama keluarga kakek buyutnya dari garis ibu setelah pada tanggal 8 Januari 1830 tertangkap oleh pasukan Belanda lalu dibuang ke Ambon 1840.
2348/8 <150+76> # 3. Raden Suryaatmaja/Diponingrat ? [Hamengku Buwono]
Рођење: 1807проц
Raden Suryaatmaja / Diponingrat/ Pangeran Adipati Anom/Raden Mas Sudiro Kromo/Kanjeng Pangeran Adipati Diponegoro (1807).

Dilihat dari gelar yang digunakan yaitu Pangeran Adipati Anom bisa dipastikan bahwa dia adalah anak dari ibu Raden Ayu Retnokusumo yang sebelumnya bernama Raden Ajeng Supadmi (Diperkuat dengan adanya catatan dari Peter F Carey dam The Power Of Prophecy) . Pangeran Diponegoro menikah untuk yang kedua kalinya atas perintah dari ayahnya. Perintah ini secara langsung mempunyai arti bahwa Raden Ayu Retnokusumo adalah isteri utama atau isteri permaisuri yang direstui oleh kerajaan. Kemudian Raden Ayu Retnokusumolah yang mendampingi Pangeran Diponegoro dalam menghadiri acara-acara resmi di kerajaan. Ketika mengikuti jejak ayahnya di medan perang Suryaatmaja diangkat menjadi putra mahkota dengan gelar Pangeran Adipati Anom. Namun karena Belanda tidak mengakui keabsahan gelar Sultan yang disandang Pangeran Diponegoro maka nama itu dirubah oleh penjajah dengan nama Diponingrat. Menjalani pembuangan ke Ambon 1840.

Dalam catatan sejarah, Pangeran Adipati Anom Diponingrat pernah menikah dengan anak perempuan Raden Tumenggung Mertawijaya atau Raden Tumenggung Danukusumo II salah seorang senopati Pangeran Diponegoro di wilayah Remo Banyumas. Telah disebutkan sebelumnya bahwa Danukusumo II adalah dari trah Danurejan yang ikut bergabung dalam barisan perjuangan Pangeran Diponegoro
2779/8 <150+76> Kanjeng Pangeran Adipati Diponingrat [Hb.3.1.1] [Hamengku Buwono III]
Рођење: 1808, Yogyakarta
Смрт: 1856
23710/8 <150+75> # Pangeran Diponegoro II / Raden Mas Mantri Muhammad Ngarip [Hb.3.1.5] Raden Mas Ontowiryo II (Pangeran Abdul Majid) [Diponegoro]
Рођење: 1810
Титуле : 1825, Yogyakarta, Pangeran Diponegoro II
Титуле : 1830, Raden Mas Mantri Muhammad Ngarip
== Raden Mas Muhammad Ngarip/Raden Antawirya II / Diponegoro Anom/Diponegoro II/Kanjeng Pangeran Haryo Diponegoro II /Pangeran Abdul Majid. ==


Lahir pada tahun 1803. Dilihat dari tahun kelahirannya maka dapat dipastikan sebagai anak dari ibu Raden Ayu Madubrongto. Ketika perang Diponegoro dimulai dia telah berusia 22 tahun dan selalu setia menjadi pembela ayahnya. Sebagai putera tertua dan memiliki kesamaan pandangan dengan ayahnya maka dia dengan ikhlas mengangkat senjata mendampingi ayahnya. Nama bayinya adalah Raden Mas Muhammad Ngarip, dan kelak nama itu dia gunakan lagi ketika berada di wilayah sumenep dengan sedikit perubahan yaitu Raden Mas Mantri Muhammad Ngarip. Nama ini dia gunakan selama dalam pembuangan di Sumenep Madura. Dialah yang menulis buku Babad Diponegoro Suryongalam. Ketika menginjak dewasa dan ayahnya telah menggunakan nama Diponegoro, dia mendapatkan gelar nama yang sama yaitu Ontowiryo II dan selanjutnya menggunakan nama Diponegoro II atau Diponegoro Anom ketika ayahnya diangkat oleh rakyat menjadi Sultan Abdul Hamid. Nama tersebut diberikan sendiri oleh Pangeran Diponegoro sebagai tanda bahwa putera kesangannya inilah kelak yang akan melanjutkan cita-citanya. Memang dia hanya dari isteri samping, tetapi keindahan budi pekerti ibunya membuat Pangeran Diponegoro sangat menyayangi anak sulungnya ini. Melihat usianya yang sudah mencapai 22 tahun pada saat perang Diponegoro dimulai, maka dapat dipastikan bahwa pada saat itu beliau sudah memiliki isteri dan memiliki beberapa anak. Kelak keturunan beliau yang lahir dan besar di tanah Jawa inilah yang akan menjadi generasi penerusnya sebagai pengganggu ketenteraman penjajah. Sejak awal peperangan, Diponegoro Anom diserahi untuk menjaga dan melawan penjajah di wilayah Bagelen ke Barat bersama beberapa orang pilihan Pangeran Diponegoro di antaranya Tumenggung Danupoyo. Taktik perang yang digunakan sama dengan ayahnya yaitu bergerilya dan berpindah-pindah. Area perjuangan Pangeran Diponegoro Anom ini mencapai wilayah Barat Banyumas, Temanggung dan Parakan. Di medan perang Diponegoro Anom ini sering bekerja sama dengan Pamannya Sentot Prawirodirjo dan adik tirinya Raden Mas Singlon atau Raden Mas Sodewo. Setelah menjalani pembuangan di Sumenep tahun 1834 lalu dibuang ke Ambon 1853.

Sebenarnya Pangeran Diponegoro berharap agar ibu dan anak-anaknya bisa bergabung dengannya di pembuangan, tetapi hal itu secara halus ditolak oleh Belanda dan sebagai gantinya Van den Bosch menijinkan anak-anaknya kembali ke Tegalrejo. Bahkan anak Pangeran Dipokusumo dan Pangeran Diponingrat diijinkan tinggal di dalam kraton. Selanjutnya Belanda melalui Kapten Roeps juga memenuhi permintaan Pangeran Diponegoro untuk membagikan pusaka warisan pada anak-anaknya yang terdiri dari keris dan tombak.
RM. JONET DIPOMENGGOLO putra Pangeran Diponegoro, foto: Ilustrasi
RM. JONET DIPOMENGGOLO putra Pangeran Diponegoro, foto: Ilustrasi
23811/8 <150+159!> # 5. RM. Djonet Dipomenggolo [Hamengku Buwono]
Рођење: 1815, Solo
Смрт: 1837, Yogyakarta, dimakamkan di Bogor (Versi 'Peter Carey')
Смрт: 1885, Bogor, dimakamkan di Bogor (Versi Keluarga)
== RIWAYAT HIDUP ==

PANGERAN DJONET / RM. JUNAT / RM. JEMET (Oleh : Ki Roni Sodewo)

Pangeran Djonet Dipomenggolo

Ketika ayahnya menyatakan diri sebagai penentang penjajah dan terusir dari Puri Tegalrejo, Raden Mas Joned baru berumur sepuluh tahun. Dia ikut rombongan pengungsi bersama keluarga besarnya ke Goa Selarong setelah Puri Tegalrejo digempur oleh pasukan Belanda. Dia sudah bisa merasakan bagaimana susahnya hidup dalam pengungsian dan hanya tinggal di dalam Goa bersama ibu dan saudara-saudaranya. Usianya masih terhitung anak-anak ketika dia lari mengikuti rombongan para penghuni Puri Tegalrejo dan para penghuni kampung sekitar puri. Terkadang sebuah tangan kokoh menyambarnya dan meletakkannya dalam gendongan sambil berlari mendorong gerobak dimana ibu dan bibinya menumpang menyatu dengan perbekalan seadanya. Orang itu tak lain adalah Sentot Prawiro Dirjo pamannya sendiri. Umur Raden Mas Joned sekitar 15 tahun ketika melihat ayahnya ditangkap oleh Belanda. Dia menyaksikan sendiri bagaimana ayahnya tetap tegar menghadapi semuanya. Raden Mas Joned tidak kuasa menitikkan air mata ketika melihat ayahnya digiring dimasukkan ke dalam kereta yang membawanya ke pengasingan. Marah dan dendam, itulah yang ada di dalam benak Raden Mas Joned. Jiwa mudanya sangat terguncang dan itulah yang membuat Raden Mas Joned selalu melakukan perlawanan dimanapun dia melihat orang Belanda. Raden Mas Joned berusaha membebaskan ayahnya dengan cara mengejar ke Ungaran, lalu ke Semarang. Dia berhasil menyusup ke dalam kapal pembawa Pangeran Diponegoro tetapi ketahuan dan Raden Mas Joned menceburkan diri ke laut. Dia tidak putus asa karenanya. Raden Mas joned lalu mengejar Pangeran Diponegoro melalui darat bersama beberapa orang pengikutnya menuju Batavia. Sesampainya di Batavia, Pangeran Joned berusaha mendekati tempat penyekapan Pangeran Diponegoro, tetapi sayang, mata-mata mengatakan bahwa Pangeran Diponegoro telah dipindahkan menggunakan kapal ke arah Timur. Dengan perbekalan seadanya disertai dengan pengikut-pengikut setianya, Raden Mas Joned berangkat ke arah Timur melewati jalan darat sambil menebarkan petaka bagi siapapun yang mencoba menghalanginya. Tahun 1837 Raden Mas Joned terbunuh dalam sebuah kerusuhan yang dibuatnya di Jogja. Atas kehendak keluarga, jenasah beliau disembunyikan dan dimakamkan di Bogor. Ibu Raden Mas Joned yaitu Raden Ayu Maduretno adalah kakak Sentot Prawirodirjo yang ikut bergabung dalam barisan Pangeran Diponegoro. Ketika Pangeran Diponegoro diangkat menjadi sultan di Dekso, Raden Ayu Maduretno diangkat menjadi permaisuri. Pada tahun 1828 beliau wafat karena sakit dan dimakamkan di Imogiri.


Садржај

PANGERAN DJONET DIPOMENGGOLO / RM. JUNAT / RM. JEMET

Oleh :R. Endang Suhendar Diponegoro

PANGERAN DJONET atau Raden Mas Djonet Dipomenggolo, adalah putera pertama Pangeran Diponegoro yang lahir pada tahun 1815 1) di Yogyakarta dari Ibu kandung yang bernama R.A. Maduretno alias R.A. Ontowiryo alias R.A. Diponegoro yakni isteri kelima Pangeran Diponegoro putri ketiga Raden Rangga Prawiradirjo III dengan Kanjeng Ratu Kedaton Maduretno Krama (putri HB II), jadi saudara seayah dengan Sentot Prawirodirjo, tetapi lain ibu. Pangeran Djonet memiliki adik kandung bernama Pangeran Roub/Pangeran Raab/Pangeran Raib, yang pada tahun 1840 berhasil dibuang Belanda ke Ambon dan meninggal disana. Ketika Pangeran Diponegoro dinobatkan sebagai Sultan Abdulhamid, RA. Maduretno diangkat sebagai permaisuri bergelar Kanjeng Ratu Kedaton l pada 18 Pebruari 1828 (walaupun saat itu Belanda berikut Kerajaan yang lain tidak mengakuinya). Pada saat itu Raden Mas Djonet Dipomenggolo masih berumur 13 tahun.


Image:Kraton3.jpg  SILSILAH KELUARGA (Dari Pancer Bapak)
0. KANJENG SUNAN PRABU AMANGKURAT AGUNG  
1. KANJENG SUSUHUNAN PAKUBUANA I    
2. KANJENG PRABU AMANGKURAT IV    
3. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING I ING NGAYOGYAKARTA   
4. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING II ING NGAYOGYAKARTA    
5. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING III ING NGAYOGYAKARTA    
6. BPH. DIPANEGARA    
7. RM. DJONET DIPAMENGGALA
  
 - Tercatat Di Tepas Darah Dalem -
Image:Kraton3.jpg  SILSILAH KELUARGA (Dari Pancer Ibu)

#0. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING II ING NGAYOGYAKARTA
#1. KRK. MADURETNO KRAMA (Putri ke 22 HB-II <menikah dengan> RADEN RANGGA PRAWIRADIRDJA III 
#2. BRAy. MADURETNO/RA. Ontowiryo/RA. Diponegoro
#3. RM. DJONET DIPAMENGGALA
 
 - Tercatat Di Tepas Darah Dalem -

PANGERAN DJONET PADA MASA PERJUANGAN PANGERAN DIPONEGORO (Tahun 1825-1830)

Sejak usia 10 tahun Pangeran Djonet bersama 2 saudaranya yaitu Pangeran Roub dan Pangeran Diponegoro Anom selalu mendampingi/selalu diajak ayahnya dalam setiap perundingan penting dengan Belanda. Mengingat usianya yang relatif muda tidak banyak yang dilakukan Pangeran Djonet muda, akan tetapi selama 5 tahun Pangeran Djonet berada, melihat dan menyaksikan langsung (veni, vedi veci) sejarah yang sedang terjadi di tanah air melalui perjuangan orang tuanya yaitu Pangeran Diponegoro beserta panglima Sentot Prawiradirja dan Pangeran-pangeran juga para Kyai. Di medan perang Pangeran Djoned menyaksikan bagaimana prajuritnya terbunuh...bagaimana mendapatkan kemenangan...bagaimana mengatur siasat perang, semua ini merupakan pengalaman dan pembelajaran yang berharga bagi pembentukan kepribadian Pangeran Djoned yang notabene calon penerus ayahnya.

Belanda mengerahkan seluruh kekuatannya. Pemberontakan Paderi di Sumatera Barat, untuk sementara dibiarkan. Sekitar 200 benteng telah dibangun untuk mengurangi mobilitas pasukan Diponegoro. Perlahan langkah tersebut membawa hasil. Dua orang panglima penting Diponegoro tertangkap. Kyai Mojo tertangkap di Klaten pada 5 Nopember 1828. Sentot Alibasyah, dalam posisi terkepung, menyerah di Yogya Selatan pada 24 Oktober 1829.

Diponegoro lalu menyetujui tawaran damai Belanda. Tanggal 28 Maret 1830, Diponegoro disertai lima orang lainnya ( Raden Mas Jonet, Diponegoro Anom, Raden Basah Martonegoro, Raden Mas Roub dan Kyai Badaruddin) datang ke kantor Residen Kedu di Magelang untuk berunding dengan Jenderal De Kock. Mereka disambut dengan upacara militer Belanda. Dalam perundingan itu, Diponegoro menuntut agar mendapat "kebebasan untuk mendirikan negara sendiri yang merdeka bersendikan agama Islam." De Kock melaksanakan tipu muslihatnya. Sesaat setelah perundingan itu, Diponegoro dan pengikutnya dibawa ke Semarang dan terus ke Betawi. Pada 3 Mei 1830, ia diasingkan ke Manado, dan kemudian dipindahkan lagi ke Ujungpandang (tahun 1834) sampai meninggal. Di tahanannya, di Benteng Ujungpandang, Diponegoro menulis "Babad Diponegoro" sebanyak 4 jilid dengan tebal 1357 halaman.


PANGERAN DJONED PADA SAAT PENGASINGAN AYAHNYA KE SULAWESI (Tahun 1830)

Menurut cerita salah satu keturunan ke 6 Pangeran Djonet yang tinggal di sekitar makam yaitu R. Ustad ABDUL WAFA (keturunan dari Raden Mas SAHID ANKRIH, anak ke 5 Pangeran Djonet) adalah sebagai berikut : Sewaktu beliau dibuang ke Makassar, beliau ikut namun sewaktu Kapal/Perahu di lautan beliau menceburkan diri bersama pengikutnya melarikan diri ke Batavia. Setelah beberapa lama menetap di Batavia, lalu beliau pindah ke Bogor, berjuang bersama pasukannya yang akhirnya menetap di Kebon Kelapa Cibeureum sampai akhir hayatnya.” (sesuai yang tertera dalam Papan Wisata Ziarah dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bogor).

Situs Pangeran Djonet Dipomenggolo

Situs Makam Pangeran Djonet Dipomenggolo, Alamat : Pesantren Dipamenggala Al-Khasanan, Jl. Raden Kosasih, Kp. Kebon Kelapa-Kelurahan Cikaret-Bogor Selatan

Cerita lain, versi keturunan yang tinggal di sekitar makam : “ Pangeran Djonet tinggal dan menetap pertama kali di pinggiran kota Bogor (± 4 s.d 7 km dari Istana Belanda) di kampung Jabaru (Jawa Baru), setelah mempunyai 5 orang putra dan 2 orang putri semakin banyaklah keturunan Pangeran Djonet di kampong Jabaru tersebut, akhirnya membuka kampong baru lagi dengan nama kampong Dukuh Jawa, sampai akhirnya wafat pada usia 70 tahunan dan dimakamkan di kampong Kebon Kelapa (sekarang Jalan Raden Kosasih), Cikaret, Bogor Selatan tidak jauh dari kampong tempat beliau menetap ”.


Sedangkan cerita dari salah satu anggota IKPD (Ikatan Keluarga Pangeran Diponegoro) yaitu Ki Roni Sodewo (keturunan dari Trah RM. SODEWO / Bagus SINGLON) adalah sebagai berikut :

"Pangeran Diponegoro menikah setidaknya dengan 2 orang Trah Raden Ronggo. 1. Citrowati adalah Anak Tumenggung Ronggoprawirosentiko (Anak Ronggo I) yang melahirkan RM. Singlon 2. R.A. Maduretno Puteri Ronggo III dengan isteri Kanjeng Ratu Kedathon Maduretno Krama Anak HB II. R.A Maduretno dikenal juga dengan sebutan RA ontowiryo atau RA. Diponegoro. Dari pernikahan ini lahirlah RM. Joned thn 1815 yang meninggal tahun 1837 dalam peperangan melawan Belanda.”


PANGERAN DJONET DI BATAVIA (Tahun 1830-1831)

Setelah lolos dari proses pengasingan ke Pulau Sulawesi sesuai cerita sebelumnya, Pangeran Djonet muda yang baru berusia 15 tahun (1815-1830) dibantu pengikutnya yang berjumlah lebih dari 1 orang untuk mencari tempat persembunyian sementara di daerah Batavia. Sebagai kelompok asing yang berkeliaran di Batavia yang notabene sebagai pusat kegiatan colonial pada masa itu tentunya baik Pangeran Djonet maupun pengikutnya yang asli Yogyakarta mencari sanak saudara, kerabat maupun tetangga yang sedaerah. Akhirnya dengan wawasan sejarah yang dimiliki sang Pangeran Muda diputuskan untuk mencari daerah Matraman (saat itu umur daerah Matraman sudah mencapai 208 tahun sejak penyerbuan Kerajaan Mataram ke Batavia).

Di Matraman, pengikut Pangeran Djonet terlebih dahulu mencari tokoh-tokoh setempat yang dianggap mengetahui asal-usul Matraman dan akhirnya memperkenalkan diri kepada mereka tentang keberadaan Pangeran Mataram (tidak menyebutkan nama/menggunakan nama alias) dan menceriterakan secara umum kondisi kejadian saat itu. Diluar perkiraan sang Pangeran, mereka menerima dengan amat terbuka sambil disertai perasaan haru, bangga dan rindu akan kampong halaman akhirnya berkat bantuan dan perlindungan masyarakat Matraman pada saat itu Pangeran Djonet beserta pengikutnya menetap di Batavia (Matraman) lebih kurang selama 2 tahun.

Selama menetap di Matraman dalam rangka mempertahankan diri dari kejaran tentara Belanda, Pangeran Djonet membentuk pasukan (semacam pengawal Raja) dengan merekrut pemuda-pemuda yang mayoritas keturunan prajurit Kerajaan Mataram walaupun ada juga dari etnis lain yang juga bergabung dengan suka rela (di komplek pemakaman Pangeran Djonet di Bogor dimakamkan juga komandan pasukan pengawal yang berasal dari Banten). Komunikasi keberadaan Pangeran Djonet di Batavia dengan pihak Keraton Yogyakarta (lebih kurang 19 orang Pangeran/turunan Sultan yang mendukung Pangeran Diponegoro) dilakukan melalui media kurir/mata-mata/telik sandi yang masing-masing bergerak menuju titik yang ditentukan (rendesvouz), dari Keratonlah Pangeran Djonet mendapatkan bantuan logistik yang diperlukan dalam membentuk pasukan pengawal.

Tahun 1832 Pangeran Djonet genap berusia 17 tahun, usia yang cukup dewasa bagi seorang keturunan Sultan untuk segera memulai hidup berumah tangga. Maka pada tahun 1832 Pangeran Djonet mempersunting Putri Kapitein keturunan Tionghoa dari Marga Tan yang bernama BUN NIOH kemudian berganti nama menjadi NYI MAS AYU FATMAH (tidak ada literature yang menyebutkan dimana proses pertemuannya). Kalau mengacu kepada usia Nabi Muhammad SAW menikah, usia tersebut masih terlalu muda, akan tetapi karena kondisi saat itu sedang dalam proses bersembunyi ataupun penyamaran (incognito) ditambah lagi kebiasan Raja-raja Kasultanan Yogyakarta anak lelaki tertua menikah pada saat usia menginjak dewasa. Setelah berumah tangga Pangeran Djonet pindah ke pinggiran Kota Bogor, akan tetapi komunikasi dengan masyarakat Matraman tetap terjalin dengan sangat baik, dan sering mengahdiri acara-acara keagamaan yang diadakan di Masjid Jami Mataram.

Berdirinya Masjid Jami Matraman memang tak lepas dari aktivitas bekas pasukan Sultan Agung Mataram yang menetap di Batavia. Nama wilayah Matraman pun disinyalir karena dahulunya merupakan tempat perkumpulan bekas pasukan Mataram. Untuk menjalankan aktivitas keagamaan bekas pasukan Mataram mendirikan sebuah Masjid di kawasan tersebut. Masjid yang didirikan pada tahun 1837 diberi nama Masjid Jami Mataram yang artinya Masjid yang digunakan para abdi dalem Keraton Mataram. Selain itu, pemberian nama tersebut dimaksudkan untuk menandakan bahwa masjid itu didirikan oleh para bekas pasukan Mataram. Keaslian Masjid Jami Matraman masih terlihat dari bagian depan gedung masjid yang belum pernah direnovasi. Pada jaman dahulu masjid itu merupakan masjid paling bagus di kawasan tersebut, dengan perpaduan gaya arsitektur masjid dari Timur Tengah dan India. Jika dilihat dari depan akan nampak bangunan seperti benteng dan pada dinding tembok mimbarnya dipenuhi dengan tulisan kaligrafi serta terlihat pula bentuk kubah bundar. Pada tahun 1837, masjid itu diresmikan oleh Pangeran Jonet (ahli waris Pangeran Diponegoro).


PANGERAN DJONET DI BOGOR (Tahun 1832 - 1885)

Tempat Tinggal Di Bogor

Pangeran Djonet pindah dari pelariannya di Batavia ke daerah pinggiran kota Bogor sekitar tahun 1832. Bersama pengikutnya keturunan bekas tentara kerajaan Mataram di Batavia (Daerah Matraman – Jakarta Timur), Pangeran Djonet membuka perkampungan baru yang akhirnya dikenal dengan nama Kampung JABARU, kependekan dari Jawa Baru.

Sarana transportasi darat yang umum pada masa itu kebanyakan menggunakan Kuda tunggang, kereta kuda, sepeda, sedikit kereta api dan mobil. Pangeran Djonet seperti halnya bangsawan di Keraton Yogyakarta tentunya sangat terlatih menggunakan kuda tunggang, oleh karenanya di sekitar kampong Jabaru, disuatu tempat yang berbentuk Pasir (nama lain dari Bukit) Pangeran Djonet dan para pengikutnya biasa menambatkan kuda-kudanya (kemungkinan besar, dipasir inilah dibangun Istal).


Melihat cerita di atas, dan mempelajari Silsilah yang ada serta mencermati keberadaan RM. Djonet pada masa perjuangan Pangeran Diponegoro setelah saya lakukan analisis dengan seksama dengan mengacu kepada artikel dan buku-buku diperoleh berbagai macam kemungkinan sebagai berikut :

1. Sri Sultan Hamengkubuwono II atau Raden Mas Sundoro diangkat menjadi Sultan pada bulan 24 Maret 1792 pada usia 42 tahun
   menggantikan ayahnya Sri Sultan Hamengkubuwono I yang wafat pada tanggal yang sama. Pada bulan Desember 1810 Herman Daendels
   menyerbu Yogyakarta, dan menurunkan Hamengkubuwana II, kemudian menggantinya dengan Hamengkubuwana III. Pada tahun 1811
   pemerintahan Belanda atas Jawa dan Nusantara direbut oleh Inggris, hal ini dimanfaatkan Hamengkubuwana II untuk kembali
   menjadi raja, dan menurunkan Hamengkubuwana III sebagai putra mahkota kembali. Pada bulan Juni 1812 pasukan Inggris yang
   dibantu Mangkunegaran menyerbu Yogyakarta, Hamengkubuwana II dibuang ke pulau Penang, sedangkan Pakubuwana IV dirampas
   sebagian wilayahnya. Hamengkubuwana III kembali diangkat sebagai raja Yogyakarta. Pada tahun 1825 terjadi pemberontakan
   Pangeran Diponegoro (putra Hamengkubuwana III) terhadap Belanda (yang kembali berkuasa sejak tahun 1816). Saat itu raja yang
   bertakhta di Yogyakarta adalah Hamengkubuwana V. Pemberontakan Pangeran Diponegoro sangat mendapat dukungan dari rakyat.
   Pemerintah Hindia Belanda mencoba mengambil simpati rakyat dengan mendatangkan Hamengkubuwana II yang dulu dibuang Inggris.
   Hamengkubuwana II kembali bertakhta tahun 1826, sedangkan Hamengkubuwana V diturunkan oleh Belanda. Namun usaha ini tidak
   membuahkan hasil. Rakyat tetap saja menganggap Pangeran Diponegoro sebagai raja mereka. 
   Hamengkubuwana II yang sudah tua (dan dipanggil sebagai Sultan Sepuh) akhirnya meninggal dunia pada tanggal 3 Januari 1828.
   Pemerintahan kembali dipegang oleh cicitnya, yaitu Hamengkubuwana V. 
2. Pada tahun 1823, Hamengkubuwono  IV dibunuh oleh seorang agen Belanda. Putra mahkota yang masih berusia 3(4) tahun diangkat
   menjadi Hamengkubuwono V. Sebuah dewan perwalian yang terdiri atas Ibu Suri, Nenek Suri, P. Mangkubumi, P. Diponegoro dan
   Danurejo IV dibentuk, dimana Patih Danurejo IV sepenuhnya mengendalikan Pemerintahan Kasultanan Yoyakarta dibawah pengaruh
   Belanda. Pangeran Diponegoro tidak menyetujui sistim perwalian bentukan Belanda tersebut karena hanya akan menguntungkan
   pihak Belanda. Dampak dari ketidak-harmonisan tersebut pada tahun 1825 Pangeran Diponegoro dibantu sebagian besar Pangeran
   mengadakan Perlawanan terhadap Belanda, yang pada akhirnya pada tahun 1826 Hamengkobowono II bertahta kembali untuk yang
   ke 3 kalinya, serta menurunkan Hamengkubuwono V.
3. Pada saat Hamengkubuwono II wafat pada tanggal 3 Januari 1828, tahta kerajaan diteruskan kembali oleh Hamengkubuwono V
   tentunya masih dengan model perwalian yang sama, akhirnya pada 18 Pebruari 1828 atas dukungan mayoritas rakyat dan para
   Pangeran yang lain Pangeran Diponegoro diangkat  sebagai Hamengkubuwono V dengan gelar “Pangeran Abdulhamid” menggantikan
   tahta kakeknya yang direbut kembali oleh Hamengkubuwono V, yang mana sistim perwalian bentukan Belanda tersebut dianggap
   menyalahi aturan, akan tetapi pengangkatan Pangeran Diponegoro sebagai Sultan tidak diakui oleh Pemerintah Belanda dan
   Kerajaan-kerajaan yang lain, akhirnya Kesultanan Yogyakarta tetap diteruskan oleh Hamengkubuwono V. 
4. RM. Djonet adalah putra sulung dari pasangan Pangeran Diponegoro dengan RA. Maduretno yang lahir pada tahun 1815 M. Ketika
   Diponegoro berusia 42 tahun, beliau dinobatkan sebagai Sultan Abdulhamid, RA. Maduretno diangkat sebagai permaisuri bergelar
   Kanjeng Ratu Kedaton l  pada tanggal 18 Pebruari 1828, pada saat itu RM. Djonet berumur 13 tahun.
5. Sejarah Pangeran Djonet menurut cerita kutipan dari buku karangan Peter Carey menyebutkan bahwa Pangeran Djonet dibunuh oleh
   Belanda dalam sebuah peperangan pada tahun 1837. Cerita tersebut dapat beralasan :
   1. Dalam artikel : “Jejak Sultan Agung Mataram di Masjid Jami Matraman”  disebutkan bahwa Masjid Jami Mataram dibangun dan
      diresmikan pada tahun 1837 oleh Pangeran Jonet (ahli waris Pangeran Diponegoro). Pada tahun 1837 Masjid Jami tersebut
      tergolong bangunan mewah arsitktur bangunannya menyerupai Taj Mahal, sehingga menjadi pusat perhatian Belanda. Informasi
      peresmian Masjid tersebut oleh keturunan langsung Pangeran Diponegoro sampai melalui mata-mata Belanda yang pada akhirnya
      Belanda melakukan penyergapan (kemungkinan dikediaman Pangeran Djonet di kampung Jabaru (Jawa Baru), di daerah Selatan
      Bogor. Dalam penyergapan tersebut akhirnya terjadi peperangan antara tentara Belanda dengan Pangeran Djonet dan
      pengikutnya. Di lain pihak, pada tahun yang sama 1837 Pangeran Djonet sudah berumah tangga dan mempunyai anak 7 ( 5 laki
      -laki dan 2 perempuan ).
   2. Mungkin saja data yang diperoleh Peter Carey sumbernya berasal dari pihak Belanda atau referensi lain yang ada di Inggris,
      dimana baik Belanda maupun Inggris membukukan sejarah pemberontakan Pangeran Diponegoro dan pengikutnya lebih mengutamakan
      keberhasilannya semata, sehingga Pangeran Diponegoro dan keluarganya berikut pengikutnya dianggap “BAD GUY” yang sudah
      dikalahkan (dibunuh) sedangkan pihak Belanda maupun Inggris sebagai “GOOD GUY” yang patut mendapatkan penghargaan.
6. Pangeran Djonet menetap di Batavia mulai tahun 1830, pada saat beliau berumur 15 tahun. Kalau mengacu kepada cerita versi
   “makam” (di Cikaret, Bogor), Pangeran Djonet termasuk dalam kelompok yang akan dibuang ke Makassar yang akhirnya dapat
   melarikan diri dan menetap di Batavia. Dimana pangeran Djonet tinggal di Batavia?, sampai tahun berapa tinggal di Batavia?,
   kapan pindah ke Bogor? Tahun berapa menikah?, Siapa isterinya? Berapa orang istrinya? Berapa orang putra-putrinya? dimana
   tinggalnya di Bogor? Jawabannya adalah :
   1. Di Batavia pangeran Djonet tinggal di perkampungan mantan prajurit Mataram  (Sultan Agung Mataram menyerang VOC di
      Batavia pada April 1628 - Mei 1629). Pada tahun 1837 perkampungan tersebut sudah berubah nama menjadi kampung MATRAMAN
      karena sudah  berusia 218 tahun. Di Matraman inilah Pangeran Djonet menetap dan mendapatkan perlindungan dari keterunan
      tentara Mataram, sampai usia beliau mencapai 17-22 tahun.
   2. Pangeran Djonet pindah ke Bogor antara tahun 1832-1837, dimana pada usia tersebutlah menikah dengan puteri Kapitein
      keturunan Tionghoa dari Marga TAN yang bernama BOEN NIOH kemudin bermualaf dengan nama NYI MAS AYU FATMAH. Mengenai jumlah
      isterinya dapat diperkirakan sebagai berikut : apabila mengacu kepada buku Peter Carey pangeran Djonet terbunuh pada saat
      usia perkawinan 5 tahun (1837) dengan jumlah putra-putri 7 orang, berarti pangeran Djonet beristri minimal 2 orang,
      sedangkan kalau mengacu versi makam, Pangeran Djonet meninggal di usia 70 tahunan meninggalkan seorang isteri, 7 orang
      anak.
   3. Di Bogor Pangeran Djonet tinggal di pinggiran Kota ± 5 km dari Istana Belanda. Disana beliau dibantu para pengikutnya
      keturunan Mataram yang ada di Batavia membuka perkampungan baru yang pada akhirnya dikenal dengan sebutan Kampung JABARU
      kepanjangan dari Kampung Jawa Baru. Di kampung Jabaru inilah pangeran Djonet membentuk pasukan dan beranak-pinak. Kuda-kuda
      pangeran Djonet dan pasukannya ditambatkan di Istal Kuda didaerah pasir (bukit) yang pada akhirnya daerah tersebut dikenal
      dengan nama Kampung Pasir Kuda (kampung diatas bukit yang banyak Kuda). Dari Kampung Jabaru keturunan Pangeran Djonet
      meluas dan membuka perkampungan baru di sebelah Timurnya yang juga dikenal dengan nama Kampung Dukuh Jawa.
   4. Menurut kesaksian keturunan Pangeran Djonet generasi ke 5 Rd.Hj. SITI MARIAM (IIH) &
      Rd.Hj. SITI JUARIAH (UWE), pada saat ayahnya RM.H. RANA MENGGALA 
      (generasi 4) meninggal sekitar tahun 1970an, ada prajurit utusan Kraton Yogyakarta membawa peti berukir yang berisi
      antara lain uang. Pada saat itu keturunan Pangeran Djonet sampai generasi ke 5 belum banyak yang mengetahui asal-
      usul yang mengarah kepada Pangeran Diponegoro. Hal ini dapat diartikan bahwa, pihak Kraton Yogyakarta mengetahui
      keberadaan Pangeran Djonet di Bogor dan ada kemungkinan sebetulnya pada saat Pangeran Djonet tinggal pertama di 
      Bogor pun sudah ada komunikasi rahasia antara telik sandi kraton Yogyakarta dengan pasukan Pangeran Djonet di Bogor
      (mengapa masih rahasia, mengingat di kalangan kerabat Pangeran Diponegoro di Yogyakarta pada saat itu disinyalir masih
      banyak yang pro-kolonial) . Sejauh ini diantara keturunan 7 anak Pangeran Djonet, sampai dengan generasi kelima (lahir
      1930an-1950an) silsilah keluarga yang lebih rinci tentang keturunan Pangeran Djonet masih memerlukan verifikasi dan
      penyempurnaan,wallahu alam bi sawab.  

http://peanutnute.multiply.com/reviews/item/27?&show_interstitial=1&u=%2Freviews%2Fitem


SILSILAH KELUARGA BESAR KETURUNAN RM. DJONET DIPAMENGGALA

Putra-putri

No. Nama Tempat/Lahir
1. RM. NGABEHI DIPAMENGGALA Jabaru, C-1833
2. RM. HARJO DIPOMENGGOLO Jabaru, C-1834
3. RM. HARJO DIPOTJOKRO / PANGERAN GRINGSING I Jabaru, C-1835
4. RM. HARJO ABDUL MANAP Jabaru, C-1836
5. RM. KH. SAHID ANGKRIH Jabaru, C-1835
6. NYI MAS RAy. UKIN Jabaru, C-1836
7. NYI MAS RAy. OKAH Jabaru, C-1837

Cucu

  1. 1.1. RM.KH. USMAN BAKHSAN (Lebak pasar, C-1854)
  2. 2.1. RM.H. BRODJOMENGGOLO
  3. 2.2. RAy.Hj. GONDOMIRAH
  4. 2.3. RM.H. ABAS
  5. 2.4. RM.H. ABDULRACHMAN ADIMENGGOLO
  6. 2.5. RM.H. MUHAMMAD HASAN
  7. 3.1. RM. HARJO DIPOTJOKRO HADIMENGGOLO / P.GRINGSING II
  8. 4.1. RM.H. EDOJ
  9. 4.2. RM.H. SAYYID YUDOMENGGOLO
  10. 4.3. NYI RAy.Hj. SARODJA
  11. 4.4. NYI RAy.Hj. AMANUNG
  12. 5.1. RM. ASMINI
  13. 5.2. RM. IDRIS
  14. 5.3. RM. ONDUNG

Buyut / Cicit

  1. 1.1.1. RM.H. RANA MENGGALA (Lebakpasar, C-1877)
  2. 1.1.2. RM.H. ABDULGHANI MENGGALA (Lebakpasar, C-1878)
  3. 1.1.3. RM.H. MUHAMMAD HASYIR (AHMAD, C-1879)
  4. 1.1.4. RAy.Hj. ITI (Gg Wahir-Empang, C-1880
  5. 2.1.1. RM.H. WONGSOMENGGOLO (Ciomas)
  6. 2.1.2. RM.H. SOEROMENGGOLO (Ciomas)
  7. 2.1.3. RM.H. ADIMENGGOLO (Ciomas)
  8. 2.1.4. RAy.Hj.UNAN (Loji)
  9. 2.2.1. RM.H. IBRAHIM\RM. ABD.ROCHMAN WIRADIMENGGOLO\RM. WIRADINEGARA
  10. 2.2.2. NYI RAy.Hj. ASMAYA
  11. 2.2.3. NYI RAy.Hj. ENTING AISYAH
  12. 2.2.4. NYI RAy.Hj. SITI FATIMAH
  13. 2.2.5. NYI RAy.Hj. ANTAMIRAH
  14. 2.2.6. RM. TJANDRANINGRAT\RM. ARIO MAD SURODHININGRAT
  15. 2.2.7. RM. YAHYA GONDONINGRAT
  16. 2.2.8. RM. INDRIS TIRTODIRDJO/RM. IDRUS TIRTODIRDJO
  17. 2.2.9. NYI RAy.Hj. RAJAMIRAH/RAy.Hj. MIRAH
  18. 2.3.1. RM.H. ARDJA
  19. 2.3.2. RM.H. SUMINTA (MALIK)
  20. 2.3.3. RAy.Hj. PATIMAH <menikah dgn> DJUARSA (Ayahnya Mayjen. ISHAK DJUARSA)
  21. 2.3.4. RAy.Hj. FATMAH <menikah dgn> 1.1.1. RM.H. RANA MENGGALA Cucu RM. NGABEHI DIPOMENGGOLO
  22. 2.3.5. RM.H. YACUB
  23. 2.3.6. RAy.Hj. SITI MARIJAM (Loji)
  24. 2.4.1. RAy.Hj. SUKIYAMAH
  25. 3.1.1. RM. HARJO DIPOHADIKUSUMO / P. GRINGSING III
  26. 4.1.1. RM.H. SINTOMENGGOLO
  27. 4.2.1. RM.H. SADIRI GONDOMENGGOLO
  28. 4.3.1. RM.H. SUMAWIDJAJA
  29. 4.3.2. NYI RAy.Hj. DANANG
  30. 4.3.3. NYI RAy.Hj. ANOK
  31. 4.3.4. NYI RAy.Hj. ENGKO
  32. 4.3.5. NYI RAy.Hj. TOJO (Ibu Bandung)
  33. 5.1.1. RM.H. ASMININ
  34. 5.1.2. RM.H. MALI
  35. 5.1.3. RM.H. MINAU
  36. 5.1.4. RM.H. IKING
  37. 5.1.5. RAy.Hj. UMI

Canggah
  1. 1.1.1.1. R.H. RAIS
  2. 1.1.1.2. R.Hj. ECIN
  3. 1.1.1.3. R.Hj. HALIMAH
  4. 1.1.1.4. R.Hj. SITI KHODIJAH
  5. 1.1.1.5. R.Hj. SITI MUKMINAH
  6. 1.1.1.6. R.Hj. SITI JUARIAH (Uwa UWE, Sempur)
  7. 1.1.1.7. R.H. MAHBUB
  8. 1.1.1.8. R.Hj. SITI MAEMUNAH
  9. 1.1.1.9. R.Hj. SITI MARIAM (Ibu KARIM/Uwa IIH, Gg. Menteng)
  10. 1.1.1.10. R.IYAN RIDWAN
  11. 1.1.2.1. R.H. YASIN (C-1910
  12. 1.1.2.2. R.MASDIR. JAYAKUSUMAH (Jaya, C-1911)
  13. 1.1.2.3. R.H. ALI
  14. 1.1.2.4. R.H. ABDUL MANAN (Adung)
  15. 1.1.2.5. R.Hj. SUPIAH (Siti)
  16. 1.1.2.6. R.Hj. ENCUNG
  17. 1.1.2.7. R.MASDIR KARTANINGRAT (Tata)
  18. 1.1.2.8. R.MASDIR KURNAEN (Aeng)
  19. 1.1.2.9. R.MASDIR MOCHAMAD ARIEF
  20. 1.1.2.10. R.MASDIR SUMANTRI (Ati)
  21. 1.1.2.11. R.MASDIR EMAN SULAEMAN
  22. 2.1.1.1. R.H. SOLEH SURODIMENGGOLO (Ciomas)
  23. 2.1.1.2. R.H. UMAR SURIODIRDJO (Ciomas)
  24. 2.1.1.3. R.H. MUSA SUMODIRDJO Ciomas)
  25. 2.1.1.4. R.H. EMBIH SASTRODIRDJO
  26. 2.1.2.1. R.H. ICAN SUROMENGGOLO (Ciomas)
  27. 2.1.2.2. NYI. R. AMOE (Ciomas)
  28. 2.1.2.3. R.H. ARJOMENGGOLO (Ciomas)
  29. 2.1.3.1. R.H. MOH. SYAFEI (Ciomas)
  30. 2.1.3.2. R.H. JAMSARI ADIMENGGOLO (Ciomas)
  31. 2.1.4.1. NYI Rd.Hj. ENUNG (Loji)
  32. 2.2.1.1. R.H. KURAESIN
  33. 2.2.1.2. R.H. ADJID MANGKUWIJAYA
  34. 2.2.1.3. R.H. MUH. ISA (Ciomas)
  35. 2.2.6.1. R.H. PANJI
  36. 2.2.6.2. R.H. PANDU
  37. 2.2.6.3. R.H. HASAN
  38. 2.2.6.4. R.H. KURAESIN
  39. 2.2.7.1. NYI Rd. Hj. RATNA KANCANA (Ciomas) <menikah dengan> Ir. H. MARAH ROESLI (Pujangga Nasional
  40. 2.2.8.1. R.H. ACO UMAR
  41. 2.2.9.1. Rd.H. YASIN WINATADIREDJA (Enceng)
  42. 2.2.9.2. NYI Rd.Hj. SITI RAHMAT (Titi)
  43. 2.2.9.3. Rd.H. TATANG MUCHTAR (Ciluar)
  44. 2.2.9.4. NYI Rd. ICHA AISYAH (Di Belanda sejak 1935)
  45. 2.3.6.1. Drs.H.R. MANSYUR
  46. 2.3.6.2. H.R. SANUSI (Gunung Batu)
  47. 2.3.6.3. Drs.H.R. ENTJEP WAHAB (Jakarta)
  48. 3.1.1.1. R. DR. HARTO PURWOWASONO DIPONEGORO / P. GRINGSING IV (Magetan)
  49. 4.1.1.1. NYI Rd. HJ. S. AISYAH
  50. 4.1.1.2. NYI Rd. HJ. INA
  51. 4.1.1.3. NYI Rd. HJ. SITI
  52. 4.1.1.4. Rd. H. MARANA
  53. 4.1.1.5. NYI Rd. HJ. ARISAH
  54. 4.1.1.6. Rd. H. BARNAS SINTOMENGGOLO
  55. 4.1.1.7. NYI Rd. HJ. UTI
  56. 4.1.1.8. NYI Rd. HJ. UTA
  57. 4.1.1.9. NYI Rd. HJ. HATIMAH
  58. 4.1.1.10.Rd. H. SIDIQ SINTOMENGGOLO
  59. 4.2.1.1. Rd. H. KARTA
  60. 4.2.1.2. NYI Rd. HJ. JUHA
  61. 4.2.1.3. Rd. H. DARMA
  62. 4.2.1.4. Rd. H. DARNA
  63. 4.3.1.1. R.H. ENTUNA PARTAWIJAYA
  64. 4.3.2.1. R.H. PRAWIRA SOMANTRI
  65. 5.1.1.1. R. ABDUL LATIF
  66. 5.1.1.2. R. ARMANI
  67. 5.1.1.3. NYI Rd. JENAB
  68. 5.1.1.4. R. MURNAS
  69. 5.1.1.5. R. ABDURROHIM
  70. 5.1.1.6. R. ABDURROHMAN

SILSILAH RINCI

#1. RM. NGABEHI DIPAMENGGALA (C-1833)   
    1.1. RM.KH. USMAN BAKHSAN (Lebakpasar, C-1854)
         1.1.1. RM.H. RANA MENGGALA (Lebakpasar, C-1877)
                1.1.1.1.  R.H. RAIS
                1.1.1.2.  R.Hj. ECIN
                1.1.1.3.  R.Hj. HALIMAH
                1.1.1.4.  R.Hj. SITI KHODIJAH
                1.1.1.5.  R.Hj. SITI MUKMINAH
                1.1.1.6.  R.Hj. SITI JUARIAH (Uwa UWE, Sempur)
                1.1.1.7.  R.H. MAHBUB
                1.1.1.8.  R.Hj. SITI MAEMUNAH
                1.1.1.9.  R.Hj. SITI MARIAM (Ibu KARIM/Uwa IIH, Gg. Menteng)
                1.1.1.10. R.IYAN RIDWAN
         1.1.2. RM.H. ABDULGHANI MENGGALA (Lebakpasar, C-1878)
                1.1.2.1.  R.H. YASIN (C-1910
                          1.1.2.1.1. R. ENDUS
                          1.1.2.1.2. R. SALMAH (Encal)
                                     1.1.2.1.2.1.  R. HARUN AL-RASYID
                          1.1.2.1.3. R. SUHANDA (Kang AA)
                          1.1.2.1.4. R. ARSYAD (Kang OO)
                          1.1.2.1.5. R. SUKARNA (Kang UU)
                                     1.1.2.1.5.1.  R. ENEN
                                     1.1.2.1.5.2.  R. DIDING
                                     1.1.2.1.5.3.  R. ENTIN
                          1.1.2.1.6. R. SUKARNI (Kang Ani)
                                     1.1.2.1.6.1.  R. SUKANTA
                          1.1.2.1.7. R. MUTHOLIB (Toto)
                                     1.1.2.1.7.1.  R. DEDI NURTHOLIB (Nunuy)  
                                     1.1.2.1.7.1.  R. IIS  
                                     1.1.2.1.7.1.  R. DEDE  
                1.1.2.2.  R.MASDIR. JAYAKUSUMAH (Jaya, C-1911)
                          1.1.2.2.1.  R. JATNIKA JAYAKUSUMAH (Enjat)
                                      1.1.2.2.1.1. R. EDI WAHYUDI
                                                   1.1.2.2.1.1.1.  R. YUDHA
                                                   1.1.2.2.1.1.2.  R. ENENG
                                                   1.1.2.2.1.1.3.  R. TATI
                                                   1.1.2.2.1.1.4.  Rb. MOCH HAPI 
                          1.1.2.2.2.  R. LUKMAN JAYAKUSUMAH (Maman)
                          1.1.2.2.3.  R. NYIMAS TUTI TRISNAWATI JAYAKUSUMAH (Enis)
                                      1.1.2.2.3.1. R. PEPEN RUSPENDI DIPONEGORO
                                                   1.1.2.2.2.1.1.  Rb. YANA RUBIYANA DIPONEGORO
                                                   1.1.2.2.2.1.2.  Rb. AGUSTANJAYA DIPONEGORO
                                                   1.1.2.2.2.1.3.  Rr. NURWINA SEPTI DIPONEGORO
                                                   1.1.2.2.2.1.4.  Rr. RIZKI MELINA DIPONEGORO
                                      1.1.2.2.3.2. R. ENDANG SUHENDAR DIPONEGORO
                                                   1.1.2.2.2.2.1.  Rr. INESIA VIOLINA DIPONEGORO
                                                   1.1.2.2.2.2.2.  Rb. M. HARPA RAMADHAN DIPONEGORO
                                                   1.1.2.2.2.2.3.  Rb. M. GITAR RAMADHAN DIPONEGORO
                                      1.1.2.2.3.3. R. SUPRIATINI DIPONEGORO (Tintin)
                                                   1.1.2.2.2.3.1.  R. EKA SANDRA DIPONEGORO
                                                   1.1.2.2.2.3.2.  R. AIDA NANDARA DIPONEGORO
                                      1.1.2.2.3.4. R. LILIH SURYYA DIPONEGORO
                                                   1.1.2.2.2.4.1.  Rb. RANDY ADITYANA DIPONEGORO
                                                   1.1.2.2.2.4.2.  Rr. ALIN NURGIANTY DIPONEGORO
                                                   1.1.2.2.2.4.3.  Rr. DITA TRIJAYANTI DIPONEGORO
                                                   1.1.2.2.2.4.4.  Rb. IVAN WIRANATA DIPONEGORO
                                      1.1.2.2.3.5. R. MARYATI DIPONEGORO
                                                   1.1.2.2.2.5.1.  Rb. NIKI ADRIAN PURNAMA DIPONEGORO
                                                   1.1.2.2.2.5.2.  Rr. RANTI DWILESTARI DIPONEGORO
                                                   1.1.2.2.2.5.3.  Rb. JODI TRIADI DIPONEGORO
                                                   1.1.2.2.2.5.4.  Rr. GITA SEPTIA PERMATA DIPONEGORO
                                                   1.1.2.2.2.5.5.  Rr. VERDA FAUZIYAH RACHMAN DIPONEGORO
                                      1.1.2.2.3.6. R. DENI SUPRAMANA DIPONEGORO(Wafat 2012)
                          1.1.2.2.4.  R.H. SURYA KUSUMAH (Cecep)
                                      1.1.2.2.4.1. R. Hedi Hadiwinata 
                                                   1.1.2.2.4.1.1.  Rr. Anisa Nurditasari  
                                                   1.1.2.2.4.1.2.  Rb. Muhammad Arditya Hadiwinata
                                      1.1.2.2.4.2. R. Henny Handayani
                                                   1.1.2.2.4.1.1.  Rr. Afifah Rachmalia
                                                   1.1.2.2.4.1.2.  Rr. Nabila RAchmani
                                                   1.1.2.2.4.1.3.  Rb. M. Rizki Asidiq
                                      1.1.2.2.4.3. R. Adi Karyadi
                                                   1.1.2.2.4.1.1.  Rb. Moh. Raghit Putra Karyadi
                                                   1.1.2.2.4.1.2.  Rb. Moh. Rehan Putra Karyadi
                          1.1.2.2.5.  R. HARJA SUTISNA JAYAKUSUMAH (Entis)
                                      1.1.2.2.5.1. R. Toto
                                                   1.1.2.2.5.1.1.  Putra Toto ke 1
                                                   1.1.2.2.5.1.2.  Putra Toto ke 2
                                      1.1.2.2.5.2. R. Yayat
                                                   1.1.2.2.5.2.1.  Putra Yayat ke 1
                                                   1.1.2.2.5.2.2.  Putra Yayat ke 2
                                      1.1.2.2.5.3. R. Tina herlina (Nina)
                                                   1.1.2.2.5.3.1.  Putra Nina ke 1
                                                   1.1.2.2.5.3.2.  Putra Nina ke 2
                                      1.1.2.2.5.4. R. Kurnia
                                                   1.1.2.2.5.4.1.  Putra Kurnia ke 1
                                                   1.1.2.2.5.4.2.  Putra kurnia ke 2
                                      1.1.2.2.5.5. R. Hira
                          1.1.2.2.6.  R. MUSLIHAT JAYAKUSUMAH (Emung)
                                      1.1.2.2.6.1. R. Bambang Meirano
                                                   1.1.2.2.6.1.1.  Rb. M. Arul 
                                                   1.1.2.2.6.1.2.  Rr. Luthfiah (Lulut)
                                      1.1.2.2.6.2. R. Irwan Junarsa
                                      1.1.2.2.6.3. R. Nur Endah Noviani (Nuri)
                                                   1.1.2.2.6.3.1.  Rb. Sihabuddin
                                                   1.1.2.2.6.3.2.  Rb. Fachri
                          1.1.2.2.7.  R. MULYADI JAYAKUSUMAH (Yadi)
                                      1.1.2.2.7.1. R. Dian Mardiana
                                                   1.1.2.2.7.1.1.  Rr. Sifa
                                                   1.1.2.2.7.1.2.  Rb. Defa
                                      1.1.2.2.7.2. R. Fitria Yulianti
                                                   1.1.2.2.7.2.1.  Rr. Dea
                                                   1.1.2.2.7.2.2.  Rb. Yofa
                                                   1.1.2.2.7.2.3.  Rr. Deean Coco
                                      1.1.2.2.7.3. R. Mulya Saputra
                                                   1.1.2.2.7.3.1.  Rb. Axel Alvito Meola
                          1.1.2.2.8.  R. DODY SUYATNA JAYAKUSUMAH (Dodot/Dody)
                                      1.1.2.2.8.1. R. Irene Anggraeni
                                                   1.1.2.2.8.1.1.  Rb. Daffa Adillah
                                                   1.1.2.2.8.1.2.  Rr. Syahla Dheandra Zahran
                                                   1.1.2.2.8.1.3.  Rr. Alma Hiraku Pramuditha
                                      1.1.2.2.8.2. R. Rangga Permana Kusumah (Angga)
                                                   1.1.2.2.8.2.1.  Putra Angga Ke 1
                          1.1.2.2.9.  R. RIDWAN JAYAKUSUMAH (Wawang)
                                      1.1.2.2.9.1. R. Bahraini Riza
                                                   1.1.2.2.9.1.1. Rr. Bahraini Putri
                                                   1.1.2.2.9.1.2. Rb. Bahraini putra
                                      1.1.2.2.9.2. R. Budhi Nusantara
                                                   1.1.2.2.9.2.1. Rb. Budhi Putra
                                                   1.1.2.2.9.2.2. Budhi Putra ke 2
                                      1.1.2.2.9.3. R. Bella Kusnandar
                                                   1.1.2.2.9.3.1. Rb. Nizar Maulana
                                                   1.1.2.2.9.3.2. Rb. Aqeela
                                                   1.1.2.2.9.3.3. Rr. Bella Putri
                                      1.1.2.2.9.4. R. Rina Kusmawati
                                                   1.1.2.2.9.4.1. Putra ke 1 Rina
                                                   1.1.2.2.9.4.2. Putra ke 2 Rina
                          1.1.2.2.10. R. RAFIUDIN JAYAKUSUMAH (Dingding, tidak berputra)
                          1.1.2.2.11. R. SUDRAJAT JAYAKUSUMAH (Jajat)
                                      1.1.2.2.11.1. Rr. Rina Oktaviani
                                      1.1.2.2.11.2. Rr. Debi Aprianti
                                      1.1.2.2.11.3. Rb. Heri (tidak berputra)
                                      1.1.2.2.11.4. R. Hari Sephandri (AO)    
                                                    1.1.2.2.11.3.1. Putra Ari ke 1
                1.1.2.3.  R.H. ALI
                          1.1.2.3.1.  R.H. JUMENA
                1.1.2.4.  R.H. ABDUL MANAN (Adung)
                          1.1.2.4.1.  R. SASTRA (Caca)
                          1.1.2.4.2.  R. ENOH
                          1.1.2.4.3.  R.H DIDIH
                          1.1.2.4.4.  R. CICIH
                          1.1.2.4.5.  R. SUPARTI
                                      1.1.2.4.5.1. Kang Eddy
                                      1.1.2.4.5.2. R.Pepen Supendi
                                      1.1.2.4.5.3. R.Neni
                                      1.1.2.4.5.4. R.Yeti 
                1.1.2.5.  R.Hj. SUPIAH (Siti)
                          1.1.2.5.1.  R. DJAKA
                                      1.1.2.5.1.1. R. Abdul Kadir (Oding)
                          1.1.2.5.2.  R. ANONG KRAMAATMAJA <menikah dengan> MA. SALMUN RAKYADIKARIA (Pujangga Sunda, asal Banten)
                                      1.1.2.5.2.1. R. Jatayu Wiyati Salmun (Uyu)
                                                   1.1.2.5.2.1.1. R. Riefa Sayyidina
                                                   1.1.2.5.2.1.2. R. Yutimma Dewiaty
                                      1.1.2.5.2.2. R. Yeti
                                      1.1.2.5.2.3. R. Parti
                                      1.1.2.5.2.4. R. Iwan
                                      1.1.2.5.2.5. R. Aas
                                      1.1.2.5.2.6. R. Neni
                                      1.1.2.5.2.7. R. Hedi
                                      1.1.2.5.2.8. R. Ented
                          1.1.2.5.3.  R.Hj. HALIMAH (Emah)
                          1.1.2.5.4.  R.Hj. EMPIN (Rapi'ah)
                          1.1.2.5.5.  R.H. DJAJUSMAN (Jayus)
                          1.1.2.5.6.  R. SOLEH
                1.1.2.6.  R.Hj. ENCUNG
                          1.1.2.6.1.  R. NANI (Eneng)
                1.1.2.7.  R.MASDIR KARTANINGRAT (Tata)
                          1.1.2.7.1.  R.Hj. NUNUNG NURJUARIAH
                          1.1.2.7.2.  R.Hj. NINIH NURJANAH
                          1.1.2.7.3.  R. YAYAH
                          1.1.2.7.4.  R. ENDANG
                          1.1.2.7.5.  R. ODIN
                1.1.2.8.  R.MASDIR KURNAEN (Aeng)
                          1.1.2.8.1.  R.Hj. KURNIATI (Iis) <menikah dengan> DR.Ir.H. FACHRUDDIN (Rektor UNHAS)
                          1.1.2.8.2.  R. KASWATI (Kotih)
                1.1.2.9.  R.MASDIR MOCHAMAD ARIEF
                          1.1.2.9.1.  R. MEMET SAPUTRA (Ahmad)
                          1.1.2.9.2.  R. YEYET RUSMIATI
                1.1.2.10. R.MASDIR SUMANTRI (Ati)
                          1.1.2.10.1. R. HEDI SUMARDI
                          1.1.2.10.2. R. EMBED SUHARLI
                          1.1.2.10.3. R. SOPIAH (Iyong)
                1.1.2.11. R.MASDIR EMAN SULAEMAN
                          1.1.2.11.1. R. HAYATI (Titi)
         1.1.3. RM.H. MUHAMMAD HASYIR (AHMAD, C-1879)
         1.1.4. RAy.Hj. ITI (Gg Wahir-Empang, C-1880
#2. RM. HARJO DIPOMENGGOLO (C-1834)   
    2.1. RM.H. BRODJOMENGGOLO
         2.1.1. RM.H. WONGSOMENGGOLO (Ciomas)
                2.1.1.1. R.H. SOLEH SURODIMENGGOLO (Ciomas) 
                2.1.1.2. R.H. UMAR SURIODIRDJO (Ciomas) 
                2.1.1.3. R.H. MUSA SUMODIRDJO Ciomas) 
                2.1.1.4. R.H. EMBIH SASTRODIRDJO 
         2.1.2. RM.H. SOEROMENGGOLO (Ciomas)
                2.1.2.1. R.H. ICAN SUROMENGGOLO (Ciomas) 
                2.1.2.2. NYI. R. AMOE (Ciomas) 
                2.1.2.3. R.H. ARJOMENGGOLO (Ciomas) 
         2.1.3. RM.H. ADIMENGGOLO (Ciomas)
                2.1.3.1. R.H. MOH. SYAFEI (Ciomas) 
                2.1.3.2. R.H. JAMSARI ADIMENGGOLO (Ciomas) 
         2.1.4. RAy.Hj.UNAN (Loji)
                2.1.4.1. NYI Rd.Hj. ENUNG (Loji) 
    2.2. RAy.Hj. GONDOMIRAH <menikah dgn> Rd. SURYADIMENGGALA (Tumenggung Ket. Sumedang)
         2.2.1. RM.H. IBRAHIM\RM. ABD.ROCHMAN WIRADIMENGGOLO\RM. WIRADINEGARA 
                2.2.1.1. R.H. KURAESIN 
                2.2.1.2. R.H. ADJID MANGKUWIJAYA 
                2.2.1.3. R.H. MUH. ISA (Ciomas) 
         2.2.2. NYI RAy.Hj. ASMAYA
         2.2.3. NYI RAy.Hj. ENTING AISYAH
         2.2.4. NYI RAy.Hj. SITI FATIMAH
         2.2.5. NYI RAy.Hj. ANTAMIRAH
         2.2.6. RM. TJANDRANINGRAT\RM. ARIO MAD SURODHININGRAT
                2.2.6.1. R.H. PANJI 
                2.2.6.2. R.H. PANDU 
                2.2.6.3. R.H. HASAN 
                2.2.6.4. R.H. KURAESIN 
         2.2.7. RM. YAHYA GONDONINGRAT
                2.2.7.1. NYI Rd. Hj. RATNA KANCANA (Ciomas) <menikah dengan> Dr. H. MARAH ROESLI (Pujangga Nasional 
         2.2.8. RM. INDRIS TIRTODIRDJO/RM. IDRUS TIRTODIRDJO
                2.2.8.1. R.H. ACO UMAR 
         2.2.9. NYI RAy.Hj. RAJAMIRAH/RAy.Hj. MIRAH
                2.2.9.1. Rd.H. YASIN WINATADIREDJA (Enceng) 
                2.2.9.2. NYI Rd.Hj. SITI RAHMAT (Titi) 
                2.2.9.3. Rd.H. TATANG MUCHTAR (Ciluar) 
                2.2.9.4. NYI Rd. ICHA AISYAH (Di Belanda sejak 1935) 
    2.3. RM.H. ABAS(Penghulu Ciomas) <menikah dgn> PUTRI PERTAMA DAENG DJARBI (Putra ke 2 Raja Gowa)
         2.3.1. RM.H. ARDJA
         2.3.2. RM.H. SUMINTA (MALIK)
         2.3.3. RAy.Hj. PATIMAH <menikah dgn> DJUARSA (Ayahnya Mayjen. ISHAK DJUARSA)
         2.3.4. RAy.Hj. FATMAH <menikah dgn> 1.1.1. RM.H. RANA MENGGALA Cucu RM. NGABEHI DIPOMENGGOLO 
         2.3.5. RM.H. YACUB
         2.3.6. RAy.Hj. SITI MARIJAM (Loji)
                2.3.6.1. Drs.H.R. MANSYUR
                2.3.6.2. H.R. SANUSI (Gunung Batu)
                2.3.6.3. Drs.H.R. ENTJEP WAHAB (Jakarta) 
    2.4. RM.H. ABDULRACHMAN ADIMENGGOLO (Camat Ciomas)
         2.4.1. RAy.Hj. SUKIYAMAH
    2.5. RM.H. MUHAMMAD HASAN     
#3. RM. HARJO DIPOTJOKRO / PANGERAN GRINGSING I
    3.1. RM. HARJO DIPOTJOKRO HADIMENGGOLO / P.GRINGSING II
         3.1.1. RM. HARJO DIPOHADIKUSUMO / P. GRINGSING III
                3.1.1.1. R. DR. HARTO PURWOWASONO DIPONEGORO / P. GRINGSING IV
#4. RM. HARJO ABDUL MANAP
    4.1. RM.H. EDOJ
         4.1.1. RM.H. SINTOMENGGOLO
                4.1.1.1. NYI Rd. HJ. S. AISYAH
                4.1.1.2. NYI Rd. HJ. INA
                4.1.1.3. NYI Rd. HJ. SITI
                4.1.1.4. Rd. H. MARANA                 
                4.1.1.5. NYI Rd. HJ. ARISAH
                4.1.1.6. Rd. H. BARNAS SINTOMENGGOLO
                4.1.1.7. NYI Rd. HJ. UTI
                4.1.1.8. NYI Rd. HJ. UTA
                4.1.1.9. NYI Rd. HJ. HATIMAH
                4.1.1.10. Rd. H. SIDIQ SINTOMENGGOLO
    4.2. RM.H. SAYYID YUDOMENGGOLO
                4.2.1.1. Rd. H. KARTA 
                4.2.1.2. NYI Rd. HJ. JUHA 
                4.2.1.3. Rd. H. DARMA 
                4.2.1.4. Rd. H. DARNA 
         4.2.1. RM.H. SADIRI GONDOMENGGOLO
    4.3. NYI RAy.Hj. SARODJA 
         4.3.1. RM.H. SUMAWIDJAJA
                4.3.1.1. R.H. ENTUNA PARTAWIJAYA
         4.3.2. NYI RAy.Hj. DANANG
                4.3.2.1. R.H. PRAWIRA SOMANTRI
         4.3.3. NYI RAy.Hj. ANOK
         4.3.4. NYI RAy.Hj. ENGKO
         4.3.5. NYI RAy.Hj. TOJO (Ibu Bandung)
    4.4. NYI RAy.Hj. AMANUNG
#5. RM. KH. SAHID ANGKRIH
    5.1. RM. ASMINI
         5.1.1. RM.H. ASMININ
                5.1.1.1. R. ABDUL LATIF
                         5.1.1.1.1. R. KOMARUDIN
                5.1.1.2. R. ARMANI
                         5.1.1.2.1. R. AL. KH. DARMA
                5.1.1.3. NYI Rd. JENAB
                5.1.1.4. R. MURNAS
                5.1.1.5. R. ABDURROHIM
                5.1.1.6. R. ABDURROHMAN
         5.1.2. RM.H. MALI
         5.1.3. RM.H. MINAU
         5.1.4. RM.H. IKING
         5.1.5. RAy.Hj. UMI
    5.2. RM. IDRIS
    5.3. RM. ONDUNG 
#6. NYI MAS RAy. UKIN 
#7. NYI MAS RAy. OKAH 

- Tercatat Di Tepas Darah Dalem -
23912/8 <150+159!> # 6. RM. Roub /rm. Raab (Pangeran Hasan) [Hamengku Buwono]
Рођење: 1816, Solo
== Raden Mas Roub/Raib/Raab/Pangeran Hasan 1816 ==


Adalah adik kandung Raden Mas Joned. Usianya sekitar sembilan tahun ketika mengikuti ayahnya dalam medan perang. Bersama kakaknya dia ikut merasakan bagaimana kehidupan dalam pengungsian. Raden Mas Roub selalu mengikuti perjalanan ayahnya dalam medan perang. Selain karena putera dari isteri permaisuri kedua, Pangeran Diponegoro menyiapkan Raden Mas Roub agar kelak sebagai seorang pemimpin agama.

Sampai di sini dapat dijelaskan bahwa ada 4 (empat) putera Pangeran Diponegoro yang dibuang ke Ambon. Pada buku The Power of Prophecy tulisan Peter F Carey halaman 746 dijelaskan bahwa pada akhir tahun 1848 Pangeran Diponegoro menanyakan kepada gubernur jenderal di Makassar perihal tiga anaknya yaitu Pangeran Dipokusumo, Raden Mas Raib serta Pangeran Diponingrat yang diberitakan mengalami sakit tekanan jiwa. Pangeran Diponegoro juga menanyakan anaknya yang tertua yang mengalami pembuangan di Sumenep pada tahun 1834 setelah memberontak di Kedu, dan belum pernah berkirim kabar.
22513/8 <191+151!> # Sri Sultan Hamengku Buwono V / Gusti Raden Mas Gathot Menol [Hb.4.6] (Pangeran Mangkubumi) [Hamengku Buwono IV]
Nama asli Sri Sultan Hamengkubuwana V adalah Raden Mas Gathot Menol, putra Hamengkubuwana IV yang lahir pada tanggal 24 januari 1820. Sewaktu dewasa ia bergelar Pangeran Mangkubumi. Ia juga pernah mendapat pangkat Letnan Kolonel tahun 1839 dan Kolonel tahun 1847 dari pemerintah Hindia Belanda. Melihat tahun pemerintahannya dimulai tahun 1823 sedang lahirnya adalah tahun 1820 maka Sultan Hamengku Buwono V waktu permulaan bertahta berumur 3 (dua) tahun.

Hamengkubuwana V sendiri mendekatkan hubungan Keraton Yogyakarta dengan pemerintahan Hindia-Belanda yang berada di bawah Kerajaan Belanda, untuk melakukan taktik perang pasif, dimana ia menginginkan perlawanan tanpa pertumpahan darah. Sri Sultan Hamengkubuwana V mengharapkan dengan dekatnya pihak keraton Yogyakarta dengan pemerintahan Belanda akan ada kerjasama yang saling menguntungkan antara pihak keraton dan Belanda, sehingga kesejahteraan dan keamanan rakyat Yogyakarta dapat terpelihara.

Kebijakan Hamengkubuwana V tersebut ditanggapi dengan tentangan oleh beberapa kanjeng abdi dalem dan adik Sultan HB V sendiri, yaitu Raden Mas mustojo (nantinya Hamengkubuwana VI). Mereka menganggap tindakan Sultan HB V adalah tindakan yang mempermalukan Keraton Yogyakarta sebagai pengecut, sehingga dukungan terhadap Sultan Hamengkubuwana V pun berkurang dan banyak yang memihak adik sultan untuk menggantikan Sultan dengan Raden mas mustojo Keadaan semakin menguntungkan Raden Mas mustojo setelah ia berhasil mempersunting putri Kesultanan Brunai dan menjalin ikatan persaudaraan dengan Kesultanan Brunai. Kekuasaan Sultan Hamengkubuwana V semakin terpojok setelah timbul konflik di dalam tubuh keraton yang melibatkan istri ke-5 Sultan sendiri, Kanjeng Mas Hemawati. Sri Sultan Hamengkubuwana V hanya mendapatkan dukungan dari rakyat yang merasakan pemerintahan yang aman dan tenteram selama masa pemerintahannya.

Sri Sultan Hamengkubuwana V wafat pada tahun 1855 dalam sebuah peristiwa yang hanya sedikit diketahui orang, peristiwa itu dikenal dengan wereng saketi tresno ("wafat oleh yang dicinta"), Sri Sultan meninggal setelah ditikam oleh istri ke-5-nya, yaitu Kanjeng Mas Hemawati, yang sampai sekarang tidak diketahui apa penyebab istrinya berani membunuh Sri Sultan suaminya.

Tidak lama setelah Sultan Hamengkubuwana V meninggal, tiga bulan kemudian permaisuri Sri Sultan Hamengkubuwana V pun meninggal setelah jatuh sakit semenjak suaminya meninggal dan sultan digantikan oleh adiknya raden mas Mustojo.
22614/8 <191+151!> # Sri Sultan Hamengku Buwono VI / Gusti Raden Mas Mustojo [Hb.4.12] [Hamengku Buwono IV]
26815/8 <201> 4. RM. Haryo Madyowijoyo / Muhammad Irfan Ba'abud Madyowijoyo [Ba'abud]
Рођење: 1827
Смрт: 1902
24616/8 <150+73> # 13. RM. Kindar/Pangeran Abdurrahman [Hamengku Buwono]
Рођење: 1832
23117/8 <162> # Gusti Kanjeng Ratu Sekar Kedhaton [Hb.3.2.22] / Bendoro Raden Ayu Andaliya [Gp.Hb.5.2] [Hamengku Buwono III]
Рођење: 1834
Свадба: <225!> # Sri Sultan Hamengku Buwono V / Gusti Raden Mas Gathot Menol [Hb.4.6] (Pangeran Mangkubumi) [Hamengku Buwono IV] b. 24 јануар 1820 d. 5 јун 1855, Yogyakarta
Смрт: 25 мај 1919, Mahakeret, Manado
24718/8 <150+73> # 14. RM. Sarkuma [Hamengku Buwono]
Рођење: 1834
Смрт: 1849
24819/8 <150+73> # 15. R.M Mutawaridin/Pangeran Abdurrahim [Hamengku Buwono]
Рођење: 1835
24920/8 <150+73> # 16. R.A Putri Munadima/R.A Setiokusumo [Hamengku Buwono]
Рођење: 1836
25021/8 <150+73> # 17. R.M Dulkabli/Pangeran Abdulgani [Hamengku Buwono]
Рођење: 1836
25122/8 <150+73> # 18. R.M Rajab/Abdulrajab/Pangeran Abdulrajak [Hamengku Buwono]
Рођење: > 1836
25223/8 <150+73> # 19. R.M Ramaji/Pangeran Abdulgafur [Hamengku Buwono]
Рођење: > 1836
22724/8 <154> Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam VI / Kanjeng Gusti Pangeran Notokusumo [Pakualaman]
Рођење: 9 април 1856
Титуле : 11 април 1901, Yogyakarta
Смрт: 9 јун 1902, Kulon Progo
22825/8 <155> Raden Ayu Prawirosedarno [Hamengku Buwono]
22926/8 <156> # R. Pangulu Kamaludiningrat [Hamengku Buwono]
Official Link. Adm: Ir H Hilal Achmar.

Sebagai pecahan kerajaan Islam Mataram, Keraton Yogyakarta mempunyai abdi dalem (pegawai) yang khusus mengurusi soal keagamaan. Pegawai khusus keagamaan ini disebut pegawai kepenguluan. Oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I, para pegawai kepenguluan diberi tempat khusus, yakni dekat Masjid Agung Kesultanan.

Kepenguluan berfungsi sebagai lembaga yang mengurusi keagamaan sekaligus berfungsi semacam Dewan Daerah. Kepenguluan dipimpin oleh seorang dengan jabatan penghulu. Semua petugas di bawah pimpinan penghulu ini sering disebut sebagai abdi dalem putihan, yakni orang-orang yang ahli dalam agama. Khusus masalah kemasjidan, tetap dibawah koordinasi penghulu dengan dibantu oleh ketib (khatib) yang terdiri dari sembilan. Semua khatib berfungsi sederajat, sebagai imam shalat dan pengajar agama kecuali khatib anom, jabatan wakil penghulu yang berfungsi menggantikan jabatan penghulu suatu saat bila penghulu wafat.

Oleh pihak Kraton, para abdi dalem Kepenguluan ini diberi tanah `gaduhan'. Semacam tanah tinggal dinas yang berlokasi di dekat Masjid Agung. Oleh Kraton, tanah perkampungan para abdi dalem putihan dan para pegawai keagamaan didekat masjid inilah yang kemudian dijuluki dengan sebutan pakauman, diambil dari kata Qoimuddin (orang yang menjalankan agama). Belakangan, nama pakauman lebih dikenal dengan sebutan Kauman.

Para khatib itu kemudian mendirikan pusat kegiatan pendidikan keagamaan bernama langgar (mushola). Setiap khatib memiliki satu langgar. Langgar para khatib inilah yang menyelenggarakan berbagai bentuk keagamaan seperti pengajian.
23027/8 <157+97> Raden Ayu Gondokusumo [Hb.3.10.2] / Raden Ayu Surodiningrat [Hamengku Buwono III]
23528/8 <160+96> R. M. T. A. Tjokroadisoerjo [?]
23629/8 <156> # R. Ay. Imanadi [Hamengku Buwono]
Official Link. Adm: Ir H Hilal Achmar Suaminya bernama KH Imanadi
24030/8 <150+71> # 7. RA. Impun/R.A. Basah Mertonegoro [Hamengku Buwono]
== R.A Impun/R.A. Basah Mertonegoro ==

Raden Ayu Impun adalah puteri Pangeran Diponegoro dengan Raden Ayu Retnodewati. Ketika perang Diponegoro mulai pecah, Raden Ayu Impun dinikahkan dengan kakak Sentot Prawiro Dirjo yang bernama Raden Abdul Kamil Alibasyah yang juga merupakan pejuang Pangeran Diponegoro yang bertugas bergerilya di wilayah Barat Sungai Progo. Raden Abdul Kamil Alibasyah kemudian diberikan gelar Notodirjo dan diberikan kedudukan setingkat tumenggung dan biasa dipanggil raden Basah.

Setelah Raden Abdul Kamil tewas dalam peperangan, kemudian dinikahi oleh Tumenggung Mertonegoro atau Jayapermadi anak laki-laki tertua Patih Danurejo II sehingga terkenal dengan nama Raden Ayu Basah Mertonegoro.
24131/8 <150+76> # 8. R.A Joyokusumo [Hamengku Buwono]
== R.A. Joyokusumo ==


Nama sebenarnya tidak diketahui dan tidak pernah tersurat dalam Babad Diponegoro. R.M.Joyokusumo adalah anak Raden Ngabehi Joyokusumo, paman Pangeran Diponegoro. Raden Ngabehi Joyokusumo adalah salah satu pengatur strategi perang. Baik Raden Ngabehi Joyokusumo maupun Raden Mas Joyokusumo tewas di tangan Belanda pada pertempuran di tepi sungai Bogowonto di dusun Sengir.

Atas permintaan Pangeran Diponegoro melalui surat yang ditulis bulan Mei 1830 di Batavia, R.A Joyokusumo dinikahkan dengan Basah Gondokusumo, adik Basah Mertonegoro. Surat tersebut ditujukan kepada Diponegoro Anom. Dalam surat tersebut Pangeran Diponegoro menyarankan apabila ada masalah agar mengadu pada Kapten Johan Jacob Roeps. Dalam surat tersebut Pangeran Diponegoro menuliskan bahwa dia menaruh kepercayaan besar pada kapten Roeps berkaitan dengan nasib anak-anaknya.
24232/8 <150+71> # 9. RA. Munteng/R.A Gusti/RA. Siti Fadilah/Nyai Musa [Hamengku Buwono]
== R.A Munteng/R.A Gusti/RA. Siti Fadilah/Nyai Musa ==


Dalam sebuah penyergapan Belanda di Kreteg daerah Kedu Utara Ibu Pangeran Diponegoro tertangkap bersama RA. Gusti. Mereka terpisah dari rombongan ketika perang di Bagelen. Kedunya lalu diserahkan ke Kasultanan Yogyakarta dan menjalani kehidupan di kraton. Dalam perjalanan terpisah dari rombongan itu mereka mendapat bantuan dari Kyai Setrodrono ayah Kyai Musa seorang ulama di wilayah Merden yang masih keturunan dari keluarga besar Danurejan.
24333/8 <150+77> # 10. RA. Herjuminten [Hamengku Buwono]
24434/8 <150+77> # 11. RA. Herjumerot [Hamengku Buwono]
25335/8 <150+73> # Raden Ayu Mangkukusumo II [Hb.3.1.2] [Hamengku Buwono III]
25436/8 <150+74> # Raden Ayu Padmodipuro [Hb.3.1.4] [Hamengku Buwono III]
25537/8 <150+73> # Raden Ayu Poncokusumo [Hb.3.1.8] [Hamengku Buwono III]
25738/8 <153> Kanjeng Pangeran Haryo Suryaningrat [Pakualaman]
25839/8 <154> Kanjeng Gusti Pangeran Notodirojo [Pakualaman]
25940/8 <154> Kanjeng Pangeran Adipati Anom Kusumoyudo [Pakualaman]
26041/8 <172> Kanjeng Raden Tumenggung Purwodiningrat [Hb.3.14.3] [Hamengku Buwono III]
26142/8 <187+110> # Gusti Kanjeng Ratu Hemas [Hb.7.1.61] [Hamengku Buwono VII]
26243/8 <186> Gusti Kanjeng Ratu Kencana [Gp.Hb.7.1] [Sentot Alibasa] 26344/8 <187+110> Gusti Kanjeng Ratu Chondrokirono II [Hb.7.54] [Hamengku Buwono VII] 26445/8 <182> Raden Mas Prawirodeksono [Hb.3.28.11] / Raden Bagus Notodeksono I [Hamengku Buwono III]
26546/8 <201+?> 1. RM. Haryo Wongsodipuro [Ba'abud]
26647/8 <201> 2. RA. Ali Alatas [Ba'abud]
26748/8 <201> 3. RM. Haryo Kusumoatmojo [Ba'abud]
27149/8 <202+?> Mas Ayu Loano [Ba'abud]
27350/8 <203> 2. RM. Kyai Muh. Idris [Cakraatmaja]
27451/8 <203> 3. Nyi RAy. Abas [Cakraatmaja]
27552/8 <203> 4. RM. Kyai Muhammad Musa [Cakraatmaja] 27653/8 <160> RA. Djojoatmojo [Hamengku Buwono]
27854/8 <162> Raden Ayu Glenter [Hb.3.2.1] [Hamengku Buwono III]
27955/8 <162> Raden Mas Santog [Hb.3.2.2] [Hamengku Buwono III]
28056/8 <162> Raden Mas Suryonegoro [Hb.3.2.3] [Hamengku Buwono III]
28157/8 <162> Raden Ayu Bahusosro [Hb.3.2.4] [Hamengku Buwono III]
28258/8 <162> Raden Ayu Basah Prawirokusumo [Hb.3.2.5] [Hamengku Buwono III]
28359/8 <162> Raden Ayu Diponegoro [Hb.3.2.6] [Hamengku Buwono III]
28460/8 <162> Kanjeng Pangeran Haryo Basah Abdul Fatah Kusumonegoro [Hb.3.2.7] [Hamengku Buwono III]
28561/8 <162> Raden Ayu Pusponegoro [Hb.3.2.8] [Hamengku Buwono III]
28662/8 <162> Raden Mas Rio Suryotaruno [Hb.3.2.9] [Hamengku Buwono III]
28763/8 <162> Raden Mas Lurah [Hb.3.2.10] [Hamengku Buwono III]
28864/8 <162> Raden Mas Rio Suryoatmojo [Hb.3.2.11] [Hamengku Buwono III]
28965/8 <162> Raden Ayu Sentotprawirodirjo [Hb.3.2.12] [Hamengku Buwono III] 29066/8 <162> Kanjeng Raden Tumenggung Kusumonegoro [Hb.3.2.13] [Hamengku Buwono III]
29167/8 <162> Raden Ajeng Berek [Hb.3.2.14] [Hamengku Buwono III]
29268/8 <162> Raden Mas Rio Kusumowijoyo [Hb.3.2.15] [Hamengku Buwono III]
29369/8 <162> Raden Ayu Glentok [Hb.3.2.16] [Hamengku Buwono III]
29470/8 <162> Raden Ayu Menik [Hb.3.2.17] [Hamengku Buwono III]
29571/8 <162> Raden Ayu Jogoharjo [Hb.3.2.18] [Hamengku Buwono III]
29672/8 <162> Raden Ayu Sabit [Hb.3.2.19] [Hamengku Buwono III]
29773/8 <162> Raden Mas Danuwiryo [Hb.3.2.20] [Hamengku Buwono III]
29874/8 <162> Raden Mas Tumenggung Kusumodiningrat [Hb.3.2.21] [Hamengku Buwono III]
29975/8 <162> Raden Mas Puspoasmoro [Hb.3.2.23] [Hamengku Buwono III]
30076/8 <162> Raden Ayu Projodirjo [Hb.3.2.24] [Hamengku Buwono III]
30177/8 <162> Raden Ayu Kusumodipuro [Hb.3.2.25] [Hamengku Buwono III]
30278/8 <162> Raden Mas Kusumodirejo [Hb.3.2.26] [Hamengku Buwono III]
30379/8 <162> Raden Ayu Mangunatmojo [Hb.3.2.27] [Hamengku Buwono III]
30480/8 <162> Raden Mas Joyosaputro [Hb.3.2.28] [Hamengku Buwono III]
30581/8 <162> Raden Mas Kusumodipuro [Hb.3.2.29] [Hamengku Buwono III]
30682/8 <162> Raden Mas Suro [Hb.3.2.30] [Hamengku Buwono III]
30783/8 <151+86> Bendoro Pangeran Haryo Suryonegoro [Hb.4.17] [Hamengku Buwono IV]
30884/8 <191+151!> Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Hanom Hamengkunegoro [Hb.4.1] [Hamengku Buwono IV]
30985/8 <151+92> Bendoro Raden Mas Tritrustho [Hb.4.2] [Hamengku Buwono IV]
31086/8 <151+92> # Bendoro Raden Mas (No Name) [Hb.4.3] [Hamengku Buwono IV]
31187/8 <151+92> # Bendoro Raden Mas (No Name) [Hb.4.4] [Hamengku Buwono IV]
31288/8 <151+90> Bendoro Raden Ayu Danurejo [Hb.4.8] [Hamengku Buwono IV] 31389/8 <163> Kanjeng Pangeran Haryo Suryobronto [Hb.3.3.1] [Hamengku Buwono III]
31490/8 <163> Raden Ayu Dipokusumo [Hb.3.3.2] [Hamengku Buwono III]
31591/8 <163> Kanjeng Raden Tumenggung Poncokusumo [Hb.3.3.3] [Hamengku Buwono III]
31692/8 <163> Raden Mas Darsono [Hb.3.3.4] [Hamengku Buwono III]
31793/8 <163> Raden Ayu Danukusumo [Hb.3.3.5] [Hamengku Buwono III]
31894/8 <163> Raden Rio Purwokusumo [Hb.3.3.6] [Hamengku Buwono III]
31995/8 <163> Raden Ayu Notoatmojo [Hb.3.3.7] [Hamengku Buwono III]
32096/8 <164+99> Raden Ayu Rio Danukusumo [Hb.3.4.1] [Hamengku Buwono III]
32197/8 <164+99> Raden Ayu Resosentono [Hb.3.4.2] [Hamengku Buwono III]
32298/8 <164+99> Raden Ayu Adipati Danurejo [Hb.3.4.3] [Hamengku Buwono III] 32399/8 <164+99> Raden Ayu Reksonegoro [Hb.3.4.4] [Hamengku Buwono III]
324100/8 <164+99> Raden Mas Mertowijoyo [Hb.3.4.5] [Hamengku Buwono III]
325101/8 <164+99> Raden Mas Hakekat [Hb.3.4.6] [Hamengku Buwono III]
326102/8 <158+322!> Raden Ayu Suryoprawiro [Hb.3.4.3.1] [Hamengku Buwono III / Danurejo IV]
327103/8 <158+322!> Raden Mas Karmeni [Hb.3.4.3.2] [Hamengku Buwono III / Danurejo IV]
328104/8 <158+322!> Raden Mas Suleman [Hb.3.4.3.3] [Hamengku Buwono III / Danurejo IV]
329105/8 <158+322!> Raden Ajeng Parkis [Hb.3.4.3.4] [Hamengku Buwono III / Danurejo IV]
330106/8 <158+322!> Raden Ayu Mertonegoro [Hb.3.4.3.5] [Hamengku Buwono III / Danurejo IV]
331107/8 <158+322!> Raden Ayu Dipokusumo [Hb.3.4.3.6] [Hamengku Buwono III / Danurejo IV]
332108/8 <165+100> Raden Lurah Ronowinoto [Hb.3.5.1] [Hamengku Buwono III]
333109/8 <165+100> Raden Ayu Somonegoro [Hb.3.5.2] [Hamengku Buwono III]
334110/8 <165+100> Raden Ayu Joyoprayitno [Hb.3.5.3] [Hamengku Buwono III]
335111/8 <165+100> Raden Ayu Pekih Brahum [Hb.3.5.5] [Hamengku Buwono III]
336112/8 <165+100> Raden Ayu Prawirodilogo [Hb.3.5.6] [Hamengku Buwono III]
337113/8 <168> Raden Lurah Mangkudiprojo [Hb.3.8.1] [Hamengku Buwono III]
338114/8 <157+97> Raden Ayu Cokrodiwiryo [Hb.3.10.1] [Hamengku Buwono III]
339115/8 <157+97> Raden Ayu Atmokusumo [Hb.3.10.3] [Hamengku Buwono III]
340116/8 <157+97> Raden Mas Mangunnegoro [Hb.3.10.4] [Hamengku Buwono III]
341117/8 <169+102> Raden Ayu Riyokusumo [Hb.3.12.1] [Hamengku Buwono III]
342118/8 <169+102> Raden Ayu Rio Prawiroatmojo [Hb.3.12.2] [Hamengku Buwono III]
343119/8 <171> Raden Ayu Sosrokusumo [Hb.3.13.1] [Hamengku Buwono III]
344120/8 <171> Raden Mas Puspohadisosro [Hb.3.13.2] [Hamengku Buwono III]
345121/8 <172> Raden Ayu Sindunegoro [Hb.3.14.1] [Hamengku Buwono III]
346122/8 <172> Raden Ayu Mangkuwinoto [Hb.3.14.2] [Hamengku Buwono III]
347123/8 <172> Kanjeng Raden Tumenggung Sosromenduro [Hb.3.14.4] [Hamengku Buwono III]
348124/8 <172> Raden Bagus Mangkurejo [Hb.3.14.5] [Hamengku Buwono III]
349125/8 <172> Raden Ayu Danudimejo [Hb.3.14.6] [Hamengku Buwono III]
350126/8 <172> Raden Lurah Kertoatmojo [Hb.3.14.7] [Hamengku Buwono III]
351127/8 <173+103> Raden Ayu Sindudiprojo [Hb.3.15.1] [Hamengku Buwono III]
352128/8 <173+103> Raden Mas Notowijoyo [Hb.3.15.2] [Hamengku Buwono III]
353129/8 <175> Raden Ayu Gondowedoyo [Hb.3.17.1] [Hamengku Buwono III]
354130/8 <175> Raden Rio Notoatmojo [Hb.3.17.2] [Hamengku Buwono III]
355131/8 <175> Raden Ayu Manyar [Hb.3.17.3] [Hamengku Buwono III]
356132/8 <178+107> Raden Ayu Suryonegoro [Hb.3.20.1] [Hamengku Buwono III]
357133/8 <178+107> Raden Rio Joyowinoto [Hb.3.20.2] [Hamengku Buwono III]
358134/8 <178+107> Raden Mas Atmowinoto [Hb.3.20.3] [Hamengku Buwono III]
359135/8 <178+107> Raden Mas Yudowinoto [Hb.3.20.4] [Hamengku Buwono III]
360136/8 <180> Raden Lurah Sumodipuro [Hb.3.22.1] [Hamengku Buwono III]
361137/8 <180+108> Raden Bagus Sumoatmojo [Hb.3.22.2] [Hamengku Buwono III]
362138/8 <212+111> Raden Mas Ambiyo [Hb.3.29.1] [Hamengku Buwono III]
363139/8 <212+111> Raden Mas Koci [Hb.3.29.2] [Hamengku Buwono III]
364140/8 <213+112> Raden Lurah Mangkupermadi [Hb.3.30.1] [Hamengku Buwono III]
365141/8 <214+113> Raden Ayu Tirtoatmojo [Hb.3.31.1] [Hamengku Buwono III]
366142/8 <214+113> Raden Ayu Somodimejo [Hb.3.31.2] [Hamengku Buwono III]
367143/8 <214+113> Raden Ayu Joyowirono [Hb.3.31.3] [Hamengku Buwono III]
368144/8 <214+113> Raden Mas Kadiran [Hb.3.31.4] [Hamengku Buwono III]
369145/8 <215+114> Kanjeng Raden Tumenggung Wiryokusumo [Hb.3.32.1] [Hamengku Buwono III]
370146/8 <215+114> Raden Ayu Brojoatmojo [Hb.3.32.2] [Hamengku Buwono III]
371147/8 <215+114> Raden Ngabehi Dipowedono [Hb.3.32.3] [Hamengku Buwono III]
372148/8 <215+114> Raden Panji Sutomenggolo [Hb.3.32.4] [Hamengku Buwono III]
373149/8 <215+114> Raden Bagus Prawiroatmojo [Hb.3.32.5] [Hamengku Buwono III]
374150/8 <177+106> Raden Ayu Sosrowinoto [Hb.3.19.1] [Hamengku Buwono III]
375151/8 <177+106> Raden Bagus Mangunsuro Wibowo [Hb.3.19.2] [Hamengku Buwono III]
376152/8 <177+106> Bendoro Raden Ayu Susilowaty [Hb.3.19.3] [Hamengku Buwono III]
377153/8 <151+92> Bendoro Raden Mas Sunadi [Hb.4.7] [Hamengku Buwono IV]
378154/8 <151+89> Bendoro Raden Ayu Nitinegoro [Hb.4.9] [Hamengku Buwono IV] 379155/8 <151+84> Bendoro Pangeran Haryo Suryodinigrat [Hb.4.10] / Bendoro Pangeran Hangabehi [Hamengku Buwono IV]
380156/8 <151+88> Bendoro Raden Ayu Mutoinah [Hb.4.15] [Hamengku Buwono IV]
381157/8 <151+90> Bendoro Raden Mas Samadikun [Hb.4.18] [Hamengku Buwono IV]
382158/8 <151+86> Bendoro Pangeran Haryo Maloyokusumo [Hb.4.17] [Hamengku Buwono IV]
383159/8 <151+86> Bendoro Raden Mas Pringadi [Hb.4.16] [Hamengku Buwono IV]
384160/8 <151+88> Bendoro Raden Ayu Jayaningrat [Hb.4.11] [Hamengku Buwono IV] 385161/8 <151+91> Bendoro Raden Ayu Gusti Maduretno [Hb.4.5] [Hamengku Buwono IV] 386162/8 <191+151!> Gusti Kanjeng Ratu Sekar Kedhaton [Hb.4.14] [Hamengku Buwono IV]
387163/8 <179> Raden Ayu Mangun Broto [Hb.3.25.1] [Hamengku Buwono III]
388164/8 <179> Raden Ayu Joyopertomo [Hb.3.25.2] [Hamengku Buwono III]
389165/8 <179> Raden Rio Prawirodiningrat [Hb.3.25.3] [Hamengku Buwono III]
390166/8 <179> Raden Mas Ngusman [Hb.3.25.4] [Hamengku Buwono III]
391167/8 <179> Raden Ayu Brotoprawiro [Hb.3.25.5] [Hamengku Buwono III]
392168/8 <179> Raden Ayu Brotoatmojo [Hb.3.25.6] [Hamengku Buwono III]
393169/8 <179> Raden Ayu Riyokusumo [Hb.3.25.7] [Hamengku Buwono III]
394170/8 <179> Raden Mas Salim [[Hb.3.25.8] [Hamengku Buwono III]
395171/8 <179> Raden Ayu Suratinah [Hb.3.25.9] [Hamengku Buwono III]
396172/8 <179> Raden Mas Surojo [Hb.3.25.10] [Hamengku Buwono III]
397173/8 <179> Raden Ajeng Surati [Hb.3.25.11] [Hamengku Buwono III]
398174/8 <179> Raden Ajeng Satinah [Hb.3.25.12] [Hamengku Buwono III]
399175/8 <179> Raden Mas Salikin [Hb.3.25.13] [Hamengku Buwono III]
400176/8 <179> Raden Ajeng Asiyah [Hb.3.25.14] [Hamengku Buwono III]
401177/8 <179> Raden Ajeng Satijah [Hb.3.25.15] [Hamengku Buwono III]
402178/8 <210> Raden Rio Purwodipuro [Hb.3.26.1] [Hamengku Buwono III]
403179/8 <210> Raden Ayu Mangkudilogo [Hb.3.26.2] [Hamengku Buwono III]
404180/8 <210> Raden Mas Setap [Hb.3.26.3] [Hamengku Buwono III]
405181/8 <210> Raden Mas Karjan [Hb.3.26.4] [Hamengku Buwono III]
406182/8 <210> Raden Ayu Murtejaningrum [Hb.3.26.5] [Hamengku Buwono III]
407183/8 <210> Raden Mas Agung [Hb.3.26.6] [Hamengku Buwono III]
408184/8 <211> Raden Rio Suryadi [Hb.3.27.1] [Hamengku Buwono III]
409185/8 <211> Raden Ayu Prawiroatmojo [Hb.3.27.2] [Hamengku Buwono III]
410186/8 <211> Raden Ayu Suronegoro [Hb.3.27.3] [Hamengku Buwono III]
411187/8 <211> Raden Ayu Honggowongso [Hb.3.27.4] [Hamengku Buwono III]
412188/8 <211> Raden Ayu Kusumowinoto [Hb.3.27.5] [Hamengku Buwono III]
413189/8 <211> Raden Ayu Sastrowijoyo [Hb.3.27.6] [Hamengku Buwono III]
414190/8 <211> Raden Ayu Notohamiprojo [Hb.3.27.7] [Hamengku Buwono III]
415191/8 <211> Raden Ajeng Saparinah [Hb.3.27.8] [Hamengku Buwono III]
416192/8 <182> Raden Ayu Danupernoto [Hb.3.28.1] [Hamengku Buwono III]
417193/8 <182> Raden Ayu Puspodirojo [Hb.3.28.2] [Hamengku Buwono III]
418194/8 <182> Raden Ayu Pusposenjoyo [Hb.3.28.3] [Hamengku Buwono III]
419195/8 <182> Raden Ayu Tirtodimejo [Hb.3.28.4] [Hamengku Buwono III]
420196/8 <182> Raden Ayu Joyowinoto [Hb.3.28.5] [Hamengku Buwono III]
421197/8 <182> Raden Ayu Prawirowecono [Hb.3.28.6] [Hamengku Buwono III]
422198/8 <182> Raden Mas Pusporejuno [Hb.3.28.7] / Raden Rio Notobroto [Hamengku Buwono III]
423199/8 <182> Raden Ayu Mangunprawiro [Hb.3.28.8] [Hamengku Buwono III]
424200/8 <182> Raden Mas Notodilogo [Hb.3.28.9] [Hamengku Buwono III]
425201/8 <182> Raden Ayu Resowirono [Hb.3.28.10] [Hamengku Buwono III]
426202/8 <182> Raden Mas Kusumodilogo [Hb.3.28.12] [Hamengku Buwono III]
427203/8 <182> Raden Mas Sumarjo [Hb.3.28.13] / Raden Bagus Mangundigdo [Hamengku Buwono III]
428204/8 <182> Raden Ajeng Saparinah [Hb.3.28.14] [Hamengku Buwono III]
429205/8 <182> Raden Mas Murtijan [Hb.3.28.15] / Raden Mas Mukri [Hamengku Buwono III]
430206/8 <182> Raden Ajeng Soblem [Hb.3.28.16] [Hamengku Buwono III]
431207/8 <182> Raden Ajeng Katijah [Hb.3.28.17] [Hamengku Buwono III]
432208/8 <151+85> Bendoron Raden Ayu Suryoatmojo [Hb.4.13] [Hamengku Buwono IV]
433209/8 <187+110> # Gusti Kanjeng Ratu Timur [Hb.7.65] [Hamengku Buwono VII]
434210/8 <187+110> Gusti Kanjeng Ratu Bendoro I [Hb.7.22] [Hamengku Buwono VII] 435211/8 <158+312!> Raden Ayu Suryoprawiro [Hb,4.8.1] [Hamengku Buwono IV]
436212/8 <158+312!> Raden Mas Karmeni [Hb.4.8.2] [Hamengku Buwono IV]