Kyai Resoyuda - Индекс потомака

Из пројекта Родовид

Особа:762907
Generation of a large tree takes a lot of resources of our web server. Anonymous users can only see 7 generations of ancestors and 7 - of descendants on the full tree to decrease server loading by search engines. If you wish to see a full tree without registration, add text ?showfulltree=yes directly to the end of URL of this page. Please, don't use direct link to a full tree anywhere else.
11/1 <?> Kyai Resoyuda [Brawijaya]

2

21/2 <1> Ngabehi Hondoroko [Brawijaya]

3

31/3 <2> Mas Ayu Tejawati [Brawijaya]

4

41/4 <3+?> # Sri Sultan Hamengku Buwono I / Pangeran Mangkubumi (Raden Mas Sujana) [Amangkurat IV]
Рођење: 4 август 1717, Kartasura
Свадба: <1> Bendoro Mas Ayu Gandasari [?]
Свадба: <2> BRAy Srenggara [?]
Свадба: <3> Bendoro Radin Ayu Daya Asmara [?]
Свадба: <4> Bandara Raden Ayu Ratna Puryawati [?]
Свадба: <5> Bendoro Mas Ayu Turunsi [?]
Свадба: <6> Bendoro Mas Ayu Karnakawati [?]
Свадба: <7> Bendoro Mas Ayu Setiawati [?]
Свадба:
Свадба: <8> 2. RA. Beruk / KRK Kadipaten / KRK Ageng / KRKTegalraya [Mataram]
Свадба: <9> Bendoro Mas Ayu Citrakusumo [?]
Свадба: <10> Bendoro Mas Ayu Pakuwati [?]
Свадба: <11> Bendoro Mas Ayu Padmasari [?]
Свадба: <12> Bendoro Mas Ayu Sari [?]
Свадба: <13> Bendoro Mas Ayu Tisnawati [?]
Свадба: <14> Bendoro Mas Ayu Tandawati [?]
Свадба: <15> GKR Kencono [Mataram]
Свадба:
Свадба: <16> Bendoro Mas Ayu Asmorowati [Hamengku Buwono]
Свадба: <15!> GKR Kencono [Mataram] , <17> BR Tiarso [Mataram] , <18> BMAy Sawerdi [Mataram] , <2!> BRAy Srenggara [?] , <8!> 2. RA. Beruk / KRK Kadipaten / KRK Ageng / KRKTegalraya [Mataram]
Свадба: <19> Bendoro Mas Ayu Cindoko [?]
Свадба: <17!> BR Tiarso [Mataram]
Свадба: <20> Bendoro Mas Ayu Ratnawati [?]
Свадба: <18!> BMAy Sawerdi [Mataram]
Свадба: <21> Bendoro Mas Ayu Wilopo [?]
Свадба: <22> Bendoro Raden Ayu Jumanten [?]
Свадба: <23> Bendoro Mas Ayu Mindoko [?]
Титуле : април 1755, Yogyakarta
Смрт: 24 март 1792, Yogyakarta
Nama aslinya adalah Raden Mas Sujana yang setelah dewasa bergelar Pangeran Mangkubumi. Ia merupakan putra Amangkurat IV raja Kasunanan Kartasura yang lahir dari selir bernama Mas Ayu Tejawati pada tanggal 6 Agustus 1717.

Pada tahun 1740 terjadi pemberontakan orang-orang Cina di Batavia yang menyebar sampai ke seluruh Jawa. Pada mulanya, Pakubuwana II (kakak Mangkubumi) mendukung pemberontakan tersebut. Namun, ketika menyaksikan pihak VOC unggul, Pakubuwana II pun berubah pikiran.

Pada tahun 1742 istana Kartasura diserbu kaum pemberontak. Pakubuwana II terpaksa membangun istana baru di Surakarta, sedangkan pemberontakan tersebut akhirnya dapat ditumpas oleh VOC dan Cakraningrat IV dari Madura.

Sisa-sisa pemberontak yang dipimpin oleh Raden Mas Said (keponakan Pakubuwana II dan Mangkubumi) berhasil merebut tanah Sukowati. Pakubuwana II mengumumkan sayembara berhadiah tanah seluas 3.000 cacah untuk siapa saja yang berhasil merebut kembali Sukowati. Mangkubumi dengan berhasil mengusir Mas Said pada tahun 1746, namun ia dihalang-halangi Patih Pringgalaya yang menghasut raja supaya membatalkan perjanjian sayembara.

Datang pula Baron van Imhoff gubernur jenderal VOC yang makin memperkeruh suasana. Ia mendesak Pakubuwana II supaya menyewakan daerah pesisir kepada VOC seharga 20.000 real untuk melunasi hutang keraton terhadap Belanda. Hal ini ditentang Mangkubumi. Akibatnya, terjadilah pertengkaran di mana Baron van Imhoff menghina Mangkubumi di depan umum.

Mangkubumi yang sakit hati meninggalkan Surakarta pada bulan Mei 1746 dan menggabungkan diri dengan Mas Said sebagai pemberontak.Sebagai ikatan gabungan Mangkubumi mengawinkan Mas Said dengan puterinya yaitu Rara Inten atau Gusti Ratu Bendoro.
52/4 <3+?> # 16. Sultan Dandunmatengsari [Mataram]
Melakukan pemberontakan dan tidak berhasil
63/4 <3+?> 17. Gusti Raden Ayu Megatsari. [Mataram]
74/4 <3+?> 18. Gusti Raden Ayu Purubaya. [Mataram]
85/4 <3+?> 19. Gusti Raden Ayu Pakuningrat. di Sampang [Mataram]
96/4 <3+?> 20. Gusti Pangeran Hario Cokronegoro. [Mataram]
107/4 <3+?> 21. Gusti Pangeran Hario Silarong. [Mataram]
118/4 <3+?> 22. Gusti Pangeran Hario Prangwadono. [Mataram]
129/4 <3+?> 23. Gusti Raden Ayu Suryawinata. di Demak [Mataram]
1310/4 <3+?> 24. Gusti Pangeran Hario Panular. [Mataram]
1411/4 <3+?> 25. Gusti Pangeran Hario Mangkukusumo. [Mataram]
1512/4 <3+?> # 26. Gusti Raden Mas Jaka [Mataram]
Wafat usia muda
1613/4 <3+?> 27. Gusti Raden Ayu Sujonopuro. [Mataram]
1714/4 <3+?> 28. Gusti Pangeran Hario Dipawinoto. [Mataram]
1815/4 <3+?> 29. Gusti Raden Ayu Adipati Danureja I. [Mataram]

5

201/5 <4+8> # Kanjeng Sultan Hamengku Buwono II [Hamengku Buwono]
Official Link Adm: Ir. H. Hilal Aachmar Lineage Study

Kanjeng Sultan Hamengku Buwono II mempuyai 80 anak. Hamengkubuwono II (7 Maret 1750 – 2 Januari 1828) atau terkenal pula dengan nama lainnya Sultan Sepuh. Dikenal sebagai penentang kekuasaan Belanda, antara lain menentang gubernur jendral Daendels dan Raffles, sultan menentang aturan protokoler baru ciptaan Daendels mengenai alat kebesaran Residen Belanda, pada saat menghadap sultan misalnya hanya menggunakan payung dan tak perlu membuka topi, perselisihan antara Hamengkubuwana II dengan susuhunan surakarta tentang batas daerah kekuasaan juga mengakibatkan Daendels memaksa Hamengkubuwono II turun takhta pada tahun 1810 dan untuk selanjutnya bertahta secara terputus-putus hingga tahun 1828 yaitu akhir 1811 ketika Inggris menginjakkan kaki di jawa (Indonesia) sampai pertengahan 1812 ketika tentara Inggris menyerbu keraton Yogyakarta dan 1826 untuk meredam perlawanan Diponegoro sampai 1828. Hamengkubuwono III, Hamengkubuwono IV dan Hamengkubuwono V sempat bertahta saat masa hidupnya Sri Sultan Hamengku Buwono II.

Saat menjdi putra mahota beliau mengusulkan untuk dibangun benteng ktraton untuk menahan seragan tentara inggris. Tahun 1812 Raffles menyerbu Yogyakarta dan menangkap Sultan Sepuh yang kemudian diasingkan di Pulau Pinang kemudian dipindah ke Ambon. (nug: dari berbagai sumber. Referensi: www.wikipedia.com).

Dari HB II ini, keturunannya sekarang banyak tersebar di kota-kota besar di Jawa, seperti Yogyakarta, sebagai tanah leluhur, Jakarta, Semarang, Bandung, Surabaya, Malang dan juga sampai di Banyuwangi yang dapat ditelusuri.

A. Pengantar Sultan Hamengku Buwono (HB) II adalah raja di Kesultanan Yogyakarta yang memerintah antara tahun 1792 dan 1828. Ada dua fenomena menarik dari pribadi sultan pada saat berkuasa. Pertama adalah masa pemerintahannya yang ditandai dengan pergolakan politik yang belum pernah terjadi di Jawa pada periode sebelumnya. Pada periode tersebut, Jawa menjadi bagian dari perubahan besar yang berlangsung sebagaikonsekuensi konstelasi politik di Eropa. Hal ini ditandai dengan terjadinya perubahan empat kali rezim kolonial dalam kurun waktu kurang dari setengah abad, yaitu dari VOC, Prancis, Inggris dan Belanda. Perubahan rezim yang juga menimbulkan pergantian kebijakan kolonial ini mengakibatkan terjadinya instabilitas politik dari penguasa kolonial khususnya tindakan pemerintah kolonial terhadap raja-raja pribumi. Kondisi ini meningkatkan eskalasi konflik yang cukup tajam antara penguasa kolonial dan penguasa Jawa. Fenomena kedua adalah pribadi Sultan Hamengku Buwono II yang cukup kontroversial. Sejauh ini berbagai sumber data yang ditinggalkan oleh para penguasa kolonial memuat laporan dan gambaran negatif terhadap raja Jawa ini. Sultan HB II digambarkan sebagai seorang raja yang keras kepala, tidak mengenal kompromi, kejam termasuk terhadap kerabatnya sendiri, dan tidak bisa dipercaya. Informasi yang terkandung di dalam data kolonial tersebut masih mendominasi historiografi baik yang ditulis oleh sejarawan asing maupun sejarawan lokal. Hal ini menimbulkan daya tarik tersendiri sebagai bahan kajian dalam penelitian sejarah khususnya yang menempatkan para tokoh atau penguasa pribumi sebagai fokusnya. Kredibilitas informasi yang dimuat dalam data kolonial tentang Sultan HB II perlu dikritisi terutama lewat studi komparasi dengan sumber-sumber yang diperoleh dari naskah lokal yang sezaman (Jawa). Dari hasil perbandingan tersebut dapat diketahui bagaimana pribadi Sultan HB II yang sebenarnya dan peristiwa penting apa yang terjadi selama masa pemerintahannya. Di samping itu juga bisa diungkapkan karya apa yang diwariskannya dan motivasi apa yang mendasarinya B. Sebelum Menjadi Raja Sultan HB II dilahirkan pada hari Sabtu Legi tanggal 7 Maret 1750 di lereng gunung Sindoro, daerah Kedu Utara. Ketika lahir, Sultan HB II diberi nama Raden Mas (RM) Sundoro. Nama ini diberikan sesuai dengan nama tempat kelahirannya yang berada di lereng gunung Sindoro. RM Sundoro adalah putra Pangeran Mangkubumi, yang kemudian menjadi raja pertama di Kesultanan yogyakarta pada tahun 1755 dengan gelar Sultan Hamengku Buwono I.1 Meskipun berstatus sebagai putra raja, masa kecil RM Sundoro tidak dialaminya dengan penuh fasilitas dan kebahagiaan layaknya seorang pangeran. Pada saat dilahirkan, ayahnya sedang bergerilya untuk melawan VOC dan Kerajaan Mataram, di bawah Sunan Paku Buwono III. Medan perang Mangkubumi yang terbentang dari Kedu di utara sampai pesisir selatan dan dari Banyumas di barat hingga Madiun di timur membuat RM Sundoro hampir tidak pernah bertemu dengan ayahnya. Sejak lahir hingga usia lima tahun, RM Sundoro diasuh oleh ibunya, Kanjeng Ratu Kadipaten,permaisuri kedua Pangeran Mangkubumi. Ketika perjuangan Mangkubumi berakhir dengan ditandatanganinya Perjanjian Giyanti tanggal 13 Pebruari 1755, Kerajaan Mataram dibagi menjadi dua (palihan nagari). Sebagian kerajaan ini tetap dikuasai oleh Sunan Paku Buwono III yang bertahta di Surakarta, dan sebagian lagi diperintah oleh Mangkubumi yang menjadi raja baru. Kerajaan yang baru diberi nama Kesultanan Yogyakarta dan Pangeran Mangkubumi diangkat sebagai raja pertama yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I.2 Setelah peristiwa palihan nagari ini, Sultan HB I membangun kompleks kraton baru di Yogyakarta dan membawa seluruh keluarganya ke kraton, termasuk GKR Kadipaten bersama putranya RM Sundoro. Sejak saat itu, RM Sundoro mulai tinggal di kraton dengan status sebagai seorang putra raja. Kecintaan dan kepercayaan Sultan HB I terhadap RM Sundoro mulai tampak sejak mereka tinggal bersama. Ini terbukti dengan keinginan Sultan HB I menunjuk RM Sundoro sebagai putra mahkota pada saat ia dikhitan pada tahun 1758. Sultan HB I mengetahui sifat putranya yang memiliki kekerasan jiwa sebagai akibat dari pengalaman hidupnya di wilayah pengungsian. Pengalaman hidup inilah yang membentuk watak RM Sundoro yang kelak dianggap sebagai pribadi yang keras dan tegas dalam pengambilan keputusan. Meskipun ada beberapa orang calon lain, khususnya dari permaisuri pertama GKR Kencono yang berputra dua orang, Sultan HB I tetap memilih RM Sundoro sebagai putra mahkota. Keyakinan ini semakin kuat ketika dua putra dari GKR Kencono dianggap tidak memenuhi syarat sebagai putra mahkota.3 Setelah Sundoro mulai tumbuh dewasa, Sultan HB I mulai berpikir tentang calon pendamping hidup RM Sundoro khususnya yang akan memperoleh status sebagai permaisuri. Sebagai seorang putra raja, RM Sundoro hendaknya berdampingan dengan seorang wanita yang juga keturunan raja. Untuk itu Sultan HB I berniat menjodohkan putranya dengan putri Sunan PB III. Ketika RM Sundoro berkunjung ke kraton Surakarta, tahun 1763 dan 1765, Sundoro disambut langsung oleh Sunan PB III. Harapan yang ada dari kedua orang raja Jawa itu adalah bahwa dengan ikatan perkawinan ini, ketegangan politik yang selama ini terjadi antara Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta akan berkurang. Akan tetapi, usaha tersebut gagal akibat adanya campur tangan Pangeran Adipati Mangkunegoro I yang juga menginginkan putri yang sama. Akibatnya RM Sundoro tidak berhasil mempersunting putri PB III. Kejadian ini membuat hubungan kedua raja Jawa ini menjadi renggang. Faktor lain yang memicu ketegangan antara Kesultanan Yogyakarta dan Kesunanan Surakarta adalah sengketa perbatasan daerah. Sesuai kesepakatan dalam Perjanjian Giyanti, pembagian daerah antarkedua kerajaan itu tidak didasarkan pada batas-batas alam melainkan didasarkan atas elit setempat yang berkuasa. Pembagian wilayah ditentukan oleh adanya ikatan kekerabatan dan hubungan darat antara setiap penguasa daerah dan masing-masing raja. Akibatnya, pembagian wilayah milik Kesultanan Yogyakarta dan Kesunanan Surakarta tidak ditentukan oleh batas yang jelas tetapi letaknya tumpang tindih. Hal ini sering mengakibatkan terjadinya konflik horizontal di kalangan masyarakat bawah yang memicu konflik vertikal antarsesama penguasa daerah. Proses ini berlangsung hampir dua puluh tahun lamanya dan baru berakhir dengan perjanjian yang difasilitasi oleh Gubernur VOC van den Burgh tanggal 26 April 1774 di Semarang. Dalam perjanjian ini batas wilayah masing-masing raja Jawa dipertegas dan diatur kembali dengan tujuan agar konflik tersebut tidak terjadi lagi.4 RM Sundoro mulai menyadari bahwa baik dalam Perjanjian Giyanti tahun 1755 maupun Perjanjian Semarang tahun 1774, kekuasaan dan wilayah raja-raja Jawa semakin sempit. Sebaliknya, wilayah VOC menjadi semakin luas. Perluasan wilayah dan kekuasaan VOC ini berlangsung seiring dengan meningkatnya intervensi VOC dalam kehidupan kraton raja-raja Jawa. Dengan adanya pembagian wilayah baru, VOC memperoleh kesempatan semakin besar untuk melakukan eksploitasi ekonomi yang berbentuk pemborongan sumber-sumber pendapatan raja-raja Jawa seperti tol, pasar, sarang burung, penambangan perahu, pelabuhan laut dan penjualan candu.5 Tekanan ekonomi dan politik VOC semakin intensif ketika kondisi fisik raja-raja Jawa baik Sultan HB I maupun Sunan PB III semakin merosot setelah tahun 1780. Hal tersebut menumbuhkan kebencian RM Sundoro kepada VOC khususnya dan orang asing pada umumnya. Sultan HB I menyadari hal ini dan mengetahui bahwa RM Sundoro adalah putra yang diharapkan mampu mempertahankan kewibawaan dan menjaga keutuhan wilayah Kesultanan Yogyakarta dari ancaman dan rongrongan pihak asing. Pandangan ini memperkuat tekad Sultan HB I untuk mengukuhkan status Sundoro

(4 John F. Snelleman, Encyclopaedie van Nederlandsch Indie, vierde deel (‘s Gravenhage, 1905, Martinus Nijhoff), hal.584.)

(5 Yang dimaksudkan sebagai tol adalah sejumlah uang yang harus dibayar oleh orang yang akan melewati wilayah atau jembatan tertentu. Tol ini biasanya diborongkan kepada pihak ketiga.

sebagai putra mahkota. Meskipun ada penentangan dari para pejabat VOC yang sudah menyadari sikapnya, Sultan HB I tetap menjadikan RM Sundoro sebagai calon pewaris tahta pada tahun 1785. Dengan statusnya yang baru, RM Sundoro memiliki wewenang yang lebih besar. Hampir semua tindakan yang berhubungan dengan Kesultanan Yogyakarta disetujui oleh ayahnya. Setelah diangkat menjadi putra mahkota, langkah pertama yang diambilnya adalah melindungi kraton Yogyakarta terhadap ancaman VOC. Ia menyadari bahwa ancaman VOC semakin besar dengan pembangunan benteng Rustenburg oleh Komisaris Nicolaas Harstink pada tahun 1765, yang sebagian materialnya dibebankan kepada Sultan HB I. Ia berusaha mencegah agar benteng Rustenburg tidak terwujud. Dengan segala upaya ia berhasil menghambat pembangunan benteng itu. Akibatnya, hingga tahun 1785, bangunan benteng itu belum juga selesai.6 Ketika Johannes Siberg datang ke kraton Yogyakarta dalam acara pelantikan RM Sundoro sebagai putra mahkota, Siberg mengingatkan kepada Sultan HB I tentang kewajibannya membantu pembangunan benteng itu. Desakan Siberg membuat RM Sundoro menghentikan aktivitasnya. Meskipun setelah peristiwa itu pembangunan benteng dapat diselesaikan, RM Sundoro tidak menghentikan aktivitasnya melawan VOC. Ia meminta izin ayahnya untuk memperkuat pertahanan kraton Yogyakarta sebagai perimbangan kekuatan menghadapi benteng VOC yang berada di depan kraton. Setelah memperoleh izin dari ayahnya, RM Sundoro memerintahkan pembangunan tembok baluwarti yang mengelilingi alun-alun baik utara maupun selatan kraton Yogyakarta. Di bagian depan bangunan ini diperkuat dengan pemasangan 13 buah meriam. Senjata ini diarahkan ke depan menghadap benteng Rustenburg. Pembangunan yang dimulai pada tahun 1785 itu terus berlangsung hingga RM Sundoro naik tahta menjadi Sultan HB II. C. Kebijakan Politik dan Konflik Pada saat yang hampir bersamaan dengan memuncaknya ketegangan antara Kesultanan Yogyakarta dan VOC pada akhir tahun 1780-an, di Surakarta terjadi pergantian tahta. Sunan PB III wafat pada tanggal 26 September 1788. Tiga hari kemudian putra mahkota RM. Subadyo diangkat menjadi Sunan PB IV. Sifat-sifat Sunan PB IV yang juga diketahui anti-Belanda telah mengalihkan perhatian Jan Greeve sebagai Gubernur Pantai Timur Laut Jawa (Noord-ootkust) dan Andries Hartsink sebagai Komisaris Kraton Jawa dari Yogyakarta ke Surakarta. Hal ini dilakukan setelah terbongkarnya rencana konspirasi Sunan PB IV (6 ANRI, surat Siberg kepada Sultan HB I tanggal 10 Pebruari 1785, bundel Semarang )

dengan para penasehat santrinya untuk membunuh orang-orang Belanda di Kesunanan Surakarta pada bulan September 1790. Peristiwa tersebut tidak hanya mengakibatkan pengawasan yang semakin ketat terhadap Kesunanan Surakarta, tetapi juga memulihkan hubungan baik antara Kesultanan Yogyakarta dan Mangkunegaran. Membaiknya hubungan antara Kesultanan Yogyakarta dan Mangkunegaran ini disebabkan oleh permintaan bantuan VOC kepada mereka untuk menghadapi Sunan PB IV. Bersama-sama dengan VOC keduanya menemukan kesempatan untuk saling bekerja sama.7 Kondisi seperti ini tidak berlangsung lama. Sunan PB IV bersedia menghentikan rencananya dan menyerahkan tujuh orang santri penasehatnya kepada Hartsink bulan Oktober 1790. Ketenangan di kraton Jawa kembali terusik, ketika Sultan HB I wafat pada tanggal 24 Maret 1792. Perhatian para pejabat VOC kembali beralih ke Yogyakarta. Sesuai tradisi dan kesepakatan yang dibuat dengan VOC, Gubernur Pantai Timur Laut Jawa Pieter Gerard van Overstraten 8 mengukuhkan RM Sundoro dan melantiknya sebagai Sultan Hamengku Buwono II pada tanggal 2 April 1792. Sejak itu masa pemerintahan Sultan HB II dimulai. Selama masa pemerintahannya, sifatnya yang antikolonial semakin jelas. Sultan HB II menyadari bahwa orang-orang Belanda merupakan ancaman utama terhadap keutuhan wilayah dan kewibawaan raja-raja Jawa khususnya di Kesultanan Yogyakarta. Berbeda dengan Sunan PB IV yang berambisi untuk memulihkan kekuasaan ayahnya sebagai raja Mataram, Sultan HB II tidak berpikir untuk mengembalikan wilayah Kerajaan Mataram lama di bawah satu pemerintahan. Sebaliknya, tujuan utama Sultan HB II adalah menjadikan Kesultanan Yogyakarta sebagai suatu kerajaan Jawa yang besar, berwibawa dan disegani oleh para penguasa lain termasuk oleh orang-orang Eropa. Harapan Sultan HB II adalah Kesultanan Yogyakarta menjadi penegak dan pendukung utama tradisi budaya dan kekuasaan Jawa. Bertolak dari konsep ini, Sultan HB II bertekad untuk menolak semua intervensi Belanda yang mengakibatkan merosotnya kewibawaan raja Jawa dan berkurangnya wilayah kekuasaan raja-raja Jawa.9 Konflik terbuka pertama terjadi antara Sultan HB II dan VOC. Peristiwa ini berlangsung tidak lama setelah pelantikannya. Gubernur van Overstraten meminta kepada Sultan HB II agar dalam setiap acara pertemuan dengan sultan, kursinya disejajarkan dan diletakkan di sebelah kanan kursi sultan. HB II beranggapan bahwa ia harus menghormati orang yang duduk di samping kanannya pada forum resmi di depan semua kerabat dan rakyatnya. Sultan HB II dengan tegas menolak tuntutan Overstraten itu. Karena tidak berhasil memaksakan kehendaknya, Overstraten melaporkan hal itu ke Batavia. Sebaliknya pemerintah VOC di Batavia yang sedang berada dalam kondisi kesulitan keuangan dan menghadapi blokade Inggris bermaksud mencegah insiden yang bisa menimbulkan konflik dengan raja-raja Jawa. Gubernur Jenderal Arnold Alting melarang Van Overstraten bertindak lebih jauh. Sampai ia diganti oleh J.R. Baron van Reede tot de Parkeler pada tanggal 31 Oktober 1796, tuntutan itu tidak pernah dikabulkan oleh Sultan HB II. Utusan Belanda tetap diperlakukan seperti seorang utusan para penguasa taklukan di depan Sultan HB II.10 Parkeler yang mengetahui diri Sultan HB II dari van Overstraten bertindak hati-hati. Pertemuan politik pertama dengan sultan ini terjadi pada bulan Agustus 1799 ketika Parkeler menghadiri acara pemakaman Patih Danurejo I. Menurut perjanjian tahun 1743, raja Mataram wajib meminta pertimbangan VOC sebelum menunjuk seseorang menjadi patih. Sultan HB II berusaha menghindari hal itu dengan alasan bahwa Kesultanan Yogyakarta bukan Kerajaan Mataram dan (http://id.rodovid.org/skins/common/images/button_media.png)Sultan berhak mengangkat patihnya sendiri.11 Parkeler bertindak hati-hati dan lebih banyak menggunakan jalur diplomatik untuk mencegah ketegangan dengan Sultan. Melalui perundingan dan pembicaraan yang dilakukan, akhirnya Parkeler berhasil membujuk Sultan HB II untuk memperbaharui perjanjian itu. Pada bulan September 1799 Sultan HB II bersedia menandatangani perjanjian baru dengan Parkeler yang memuat pengangkatan patih baru. Setelah perjanjian ini disahkan, Sultan HB II mengangkat Tumenggung Mangkunegoro, cucu Patih Danurejo I, yang bergelar Patih Danurejo II. Pada saat yang bersamaan Sunan PB IV juga menandatangani perjanjian yang intinya menghindari konflik terbuka ketika terjadi ketegangan dengan Kesultanan Yogyakarta dan meminta VOC untuk menengahinya.

12 7 ANRI, surat Sultan HB I kepada Mangkunegoro tanggal 24 September 1790, bundel Solo. 8 Gubernur Pantai Timur Laut Jawa (Noord-Oost-Kust)diserahterimakan dari Jan Greeve kepada penggantinya P.Gerard van Overstraten pada tanggal 1 September 1791 (lihat GP. Rouffaer.”Vorstenlanden” dalam John F Snelleman. 1905. Encyclopaedie van Nederlandsch Indie,vierde deel, ’s Gravenhage, hal. 587—653. 9 ANRI, Memorie van Residen J.G. van den Berg in Jogjacarta 1799-1803, bundel Yogyakarta. 10 Anonim, “Overzicht van de voornaamste gebeurtenissen in het Djocjocartasche-Rijk, sedert deszelf stichting (1755) tot aan Het einde van het Engelsche tusschen-bestuur in 1815”, dalam TNI, III deel, 1844, hal. 129 11 Perjanjian tanggal 11-13 November 1743, pasal 3 dan 4, yang dibuat antara G.W. Baron van Imhoff dan Sunan Paku Buwono II di Mataram, dimuat dalam “Corpus Diplomaticum Neerlando Indicum’, BKI jilid 96, tahun 1938, hal. 361-362 12 ANRI, contract met Sultanaat Jogjakarta over het jaar 1799, dalam bundel Hooge Regeerings.

1. Sri Paduka Kanjeng Sultan Hamengku Buwono II (Sultan Sepoeh)

Sultan Sepoeh adalah putra ke 3 dari Sultan Hamengku Buwono I (lahir tahun 1750), dalam sejarah perjuangan Bangsa memang terkenal sebagai salah seorang Sultan yang berani melawan Belanda. Beliau memerintah Kasultanan Yogyakarta mulai tahun 1792 dan kemudian ditangkap oleh Daendels pada tahun 1810. Pada 1811 dikembalikan ke tahta Ngayogyakarta, tetapi baru satu tahun, 1812 Sri Sultan Sepoeh ditangkap dan dibuang ke Pulau Pinang oleh Raffles, bahkan kemudian dipindahkan ke Ternate selama 14 tahun. Pada tahun 1826 dikembalikan ke Jawa dan diangkat lagi dengan suatu upacara besar – besaran di Istana Bogor, namun hal ini sebenarnya hanya siasat Belanda agar Sultan Sepoeh mau menghentikan pemberontakan Pangeran Diponegoro (kemenakannya = Putra SPKS HB III), namun beliau tidak bersedia. Sri paduka kanjeng Sultan Hamengku Buwono akhirnya wafat pada tahun 1828 dalam usia 78 tahun dan disemayamkan di Makam Agung Pasargede (Kota Gede)

2. Kanjeng Pangeran Ario Moerdaningrat

Beliau adalah putra ke 9 dari Eyang Sultan Sepoeh (SPKS HB II). Pada waktu SPKS HB IV seda tahun 1822, putra mahkota beliau Sultan menol masih berusia 3 tahun; oleh karena itu dibentuk DEWAN MANGKUBUMI, yang terdiri dari : Neneknya : Kanjeng Ratu Ageng Ibundanya : Kanjeng Ratu Kencana K.P.A Mangkubumi (putra ke 8 Sultan Sepoeh) K.P.A Diponegoro (putra dari SPKS HB III) Pada waktu itu Kumpeni Belanda kurang menghormati pada tata cara adat Kasultanan dan bertindak kejam kepada Rakyat, sehingga membuat marah Pangeran Diponegoro dan menyatakan perang melawan Belanda. Setelah Pangeran Diponegoro mengangkat senjata melawan Belanda KPA MAngkubumi juga ikut dan menjadi Penasehat Agung K.P.A Diponegoro, kemudian Dewan Mangkubumi (pada bulan Oktober 1825) diserahkan kepada : K.P.A Moerdaningrat (putra ke 9 Sultan Sepoeh), dan K.P.A Panular. Dalam sejarah diceritakan bahwa Belanda sangat kewalahan melawan Pasukan Pangeran Diponegoro yang didukung oleh Rakyat yang gagah berani dan melakukan perang gerilya secara cerdik. Beliau juga dibantu oleh Pangeran Ngabei Jayakusuma, Kiyai Mojo dan Alibasah Sentot Prawirodirjo. Suatu ketika Jendral Van Geen membawa Pasukan 1000 orang kemudian menyandera K.P.A Moerdaningrat dan K.P.A Panular digunakan sebagai tameng waktu menyerbu Markas Besar (MB) Pangeran Diponegoro. Namun hal ini sudah diketahui oleh Beliau sehingga usaha Kumpeni gagal. Naas bagi pasukan Belanda karena waktu kembali ke Yogyakarta disanggong oleh Pasukan Diponegoro di sebuah jurang dekat sungai Krasak (Lengkong) dan mengalami kekalahan yang sangat memalukan bagi pihak Belanda. Di pertempuran Lengkong ini K.P.A Moeredaningrat (dan K.P.A Panular) gugur di medan bhakti (Juli 1826), kemudian disarekan di Pesarean Lengkong.

3. R.M.A.A Djojodiningrat

Beliau adalah putra ke 4 dari Eyang K.P.A Moerdaningrat, dengan nama kecil : R.M Abdoel Djalil. Semasa kecilnya diajak menemani kakeknya Sultan Sepoeh (HB II) waktu dibuang ke Ternate selama 14 tahun. Pada jaman perang Diponegoro R.M Abdoel Djalil turut secara aktif berjuang, bahkan dijadikan ajudan pribadi Pangeran Diponegoro (Liaison Officer); sering diutus sebagai penghubung antara MB dan Para Komandan Operasional di Lapangan (menyampaikan perintah atau laporan). Pada waktu Pangeran Diponegoro kemudian ditipu dan ditangkap Belanda, R.M Abdoel Djalil langsung menghilang dan masuk ke Pesantren Brangkal (Gombong) mengaku sebagai Santri Ngabdoeldjalil. Namun akhirnya diketahui oleh mata – mata Belanda dan diambil kembalikan ke Kasultanan untuk diberi pendidikan indoktrinasi mengenai Loyalitas ala Barat. Selesai p[endidikan ditipkan kepada Raden Adipati Tjokronegoro (Bupati Poerworejo) agar tidak berhubungan langsung dengan rakyat. Selang beberapa waktu R.M Abdoel Djalil diberi pekerjaan mengikat, sebagai anggota Landraad di Poerworejo dan berganti nama : R.M Djojoprono. Setelah berapa lama diangkat menjadi Fiscaal (Jaksa), kemudian karena kecakapannya diangkat menjadi Bupati Ngroma Jatinegara pada tahun 1844, dengan gelar : Raden Mas Ario Adipati (R.M.A.A Djojodiningrat). Pada waktu diangkat beliau minta agar menguasai juga daerah Bagelen Selatan sehingga seperti berpangkat Residen; Belanda terpaksa mengabulkannya karena memang daerah Bagelen belum terkonsolidasi (Residen Belanda hanya sebagai penasehat saja). Dari Kraton Yogyakarta beliau mendapat anugerah tertinggi berupa Songsong Gilap (menurut hierarki Kraton seharusnya Songsong Gilap hanya dimiliki oleh seorang Pangeran dengan sebutan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati). Berhubung alam sekitar Ngroma tidak memenuhi selera estetika, maka beliau membangun ibukota Kabupaten baru yang ditanganinya sendiri selama 4 tahun dan diberi nama KarangAnyar, yang di-inaugurasi tahun 1848. Sewaktu pensiun tahun 1864 beliau ikut putra sulungnya R.M.T.A Tjokrohadisoeryo yang mengikuti jejak ayahnya sebagai Bupati Ledok dengan ibukota Wonosobo. R.M.A.A Djojodiningrat menetap di Sepoeran kurang lebih 10 km dari ibukota; setelah wafat beliau dimakamkan di makan keluarga “Candi Wulan” Wonosobo. (http://ikdonline.wordpress.com/history/) Foto Kanjeng Sultan Hamengku Buwono II (Sumber: http://jogjakini.wordpress.com/2007/11/30/sri-sultan-hb-ii/)

BERSAMBUNG
242/5 <4+18> Bendoro Pangeran Haryo Demang Tanpo Nangkil [Hamengku Buwono]
Рођење: 1760
Свадба: <54> Raden Ayu Demang [Danurejo I]
Смрт: 1820
303/5 <4+16> Bendoro Pangeran Haryo Diposonto [Hamengku Buwono]
Рођење: 1762
194/5 <4+2> Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam I / Kanjeng Pangeran Haryo Notokusumo [p.I.11] [Hamengku Buwono I]
Рођење: 21 март 1764, Yogyakarta
Титуле : 28 јануар 1812, Gusti Pangeran Adipati Paku Alam I [1812-1829]
535/5 <4+23> Bendoro Pangeran Haryo Dipowiyono I / Bendoro Pangeran Haryo Silarang [Hamengku Buwono I]
Рођење: 1765
Смрт: 1826
346/5 <4+14> Bendoro Pangeran Haryo Panular / Bendoro Raden Mas Hadiwijaya [Hamengku Buwono]
Рођење: 1771
Смрт: 30 јул 1826
417/5 <4+5> Bendoro Pangeran Haryo Mangkukusumo [Hamengku Buwono]
Рођење: 1772
398/5 <4+3> Bendoro Pangeran Haryo Hadikusumo II [Hamengku Buwono]
Рођење: 1774
Свадба: <55> Raden Ayu Hadikusumo [Notowijoyo]
279/5 <4+2> Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam I / Bendoro Pangeran Haryo Notokusuma (http://en.rodovid.org/wk/Person:26189) [Hamengku Buwono]
Титуле : 29 јун 1812, Dinobatkan menjadi KGPA Pakualam I, oleh Raffles
2110/5 <4+15> Kangeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Hamengkunegoro [Hamengku Buwono]
2211/5 <4+17> Bendoro Pangeran Hangabehi [Hamengku Buwono] 2312/5 <4+17> Bendoro Raden Ayu Jayaningrat [Hamengku Buwono]
2513/5 <4> Bendoro Raden Ayu Danukusumo [Hamengku Buwono I]
2614/5 <4+2> BRAy Ronggo Mangundirjo [Hamengku Buwono]
2815/5 <4> Bendoro Raden Ayu Notoyudo [Hamengku Buwono]
2916/5 <4> Bendoro Raden Ayu Sosrodiningrat [Hb.1] [Hamengku Buwono]
3117/5 <4> Bendoro Raden Ayu Yudokusumo / http://en.rodovid.org/wk/Person:660066 [Hamengku Buwono]
3218/5 <4> Bendoro Raden Ayu Yudokusumo [Hamengku Buwono]
3319/5 <4> Bendoro Pangeran Haryo Hadikusumo I [Hamengku Buwono]
3520/5 <4> Bendoro Raden Ayu Yudokusumo II [Hamengku Buwono]
3621/5 <4> Bendoro Pangeran Haryo Mangunkusumo [Hamengku Buwono]
3722/5 <4> Bendoro Raden Ayu Danunegoro [Hamengku Buwono]
3823/5 <4> Bendoro Raden Ayu Joyowiryo [Hamengku Buwono]
4024/5 <4+15> Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Haryo Hamengkunegoro / Gusti Raden Mas Intu [Hamengku Buwono]
4225/5 <4> Bendoro Raden Ayu Pringgoloyo [Hamengku Buwono]
4326/5 <4> Bendoro Pangeran Haryo Balitar [Hamengku Buwono]
4427/5 <4> Bendoro Pangeran Haryo Diposono [Hamengku Buwono]
4528/5 <4> Bendoro Pangeran Haryo Danupoyo [Hamengku Buwono]
4629/5 <4> Bendoro Pangeran Haryo Sontokusumo [Hamengku Buwono]
4730/5 <4> Bendoro Pangeran Haryo Dipowiyono II [Hamengku Buwono]
4831/5 <4> Bendoro Raden Mas Suwardi [Hamengku Buwono]
4932/5 <4> Bendoro Raden Ayu Mangundirjo [Hamengku Buwono]
5033/5 <4> Bendoro Raden Ayu Purwodipuro [Hamengku Buwono]
5134/5 <4+9> BRAy Ronodiningrat [Hamengku Buwono]
5235/5 <4> Kanjeng Ratu Bandoro / Raden Ayu Inten [Hamengku Buwono I] 5436/5 <4> BRAy. Hayati/bojati Cakraatmaja [Cakraatmaja]

6

1361/6 <27> Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam II [Pakualaman]
Рођење: Pakualan II 1829 - 1858
572/6 <20+24> # Sri Sultan Hamengku Buwono III / Gusti Raden Mas Surojo [Hamengku Buwono II]
Рођење: 20 фебруар 1769, Yogyakarta
Свадба: <58> # Bendoro Mas Ayu Medarsih [Ga.Hb.3.14] [?]
Свадба: <59> # Bendoro Raden Ayu Padmowati [Ga.Hb.3.13] [?]
Свадба: <60> # Bendoro Raden Ayu Panukmowati [Ga.Hb.3.5] [?]
Свадба: <61> # Bendoro Raden Ayu Surtikowati [Ga.Hb.3.4] [?]
Свадба: <62> Bendoro Raden Ayu Kalpikowati [Ga.Hb.3.3] [?]
Свадба: <63> Bendoro Mas Ayu Wido [Ga.Hb.3.12] [?]
Свадба: <64> # Bendoro Raden Ayu Doyopurnomo [Ga.Hb.3.8] [?]
Свадба: <65> Bendoro Raden Ayu Renggoasmoro [Ga.Hb.3.20] [?]
Свадба: <66> Bendoro Raden Ayu Hadiningsih [Ga.Hb.3.23] [?]
Свадба: <67> Bendoro Mas Ayu Sasmitoningsih [Ga.Hb.3.19] [?]
Свадба: <68> Gusti Kanjeng Ratu Wadhan [Gp.Hb.3.3] [?]
Свадба: <69> Bendoro Raden Ayu Puspowati [Ga.Hb.3.11] [?]
Свадба: <70> Gusti Kanjeng Ratu Hemas [Gp.Hb.3.1] [Prawirodirjo]
Свадба: <71> # Bendoro Raden Ayu Puspitolangen [Ga.Hb.3.2] [?]
Свадба: <72> # Bendoro Mas Ayu Puspitaningsih [Ga.Hb.3.15] [?]
Свадба: <144!> Gusti Kanjeng Ratu Kencono [Hb.1] / Gusti Kanjeng Ratu Hageng [Gp.Hb.3.1] [Hamengku Buwono I]
Свадба: <73> Bendoro Mas Ayu Mindarsih [Ga.Hb.3.9] [?]
Свадба: <141!> Bendoro Raden Ayu Hadiningdiah [Ga.Hb.3.22] / Bendoro Raden Ajeng Ratnadimurti [Hamengku Buwono I]
Свадба: <74> Bendoro Raden Ayu Murtiningsih [Ga.Hb.3.21] [?]
Свадба: <75> # Bendoro Raden Ayu Mulyosari [Ga.Hb.3.16] [?]
Свадба: <76> Bendoro Raden Ayu Mangkorowati [Ga.Hb.3.1] [Hamengku Buwono]
Свадба: <77> # Bendoro Raden Ayu Puspitosari [Ga.Hb.3.17] [?]
Свадба: <78> # Bendoro Raden Ayu Dewaningrum [Ga.Hb.3.10] [?]
Свадба: <79> # Bendoro Mas Ayu Mulyaningsih [Ga.Hb.3.18] [?]
Свадба: <80> # Bendoro Raden Ayu Kusumodiningrum [Ga.Hb.3.6] [?]
Свадба: <81> # Bendoro Raden Ayu Lesmonowati [Ga.Hb.3.7] [?]
Титуле : од 12 јун 1812, Yogyakarta, Ngarsodalem Sameyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono III
Смрт: 3 новембар 1814, Imogiri
1083/6 <20+35> # 53. B.R.Ay. Samparwadi /B.R.Ay. Kasan Al-Munadi [Hamengku Buwono II]
Рођење: 1775
Свадба: <82> Kasan (hasan) AL Munadi [Ba'abud] b. 1764 d. 1830
Смрт: 1797
Perkwinan : Tahun 1789
654/6 <20+25> # Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Haryo Mangkudiningrat [Hb.2.11] [Hamengku Buwono II]
Рођење: 1778
Смрт: ~13 март 1824, Ambon
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
555/6 <19> Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Paku Alam II / Raden Tumenggung Notodiningrat [Paku Alam I]
Рођење: 25 јун 1786, Yogyakarta
Свадба: <137!> Gusti Kanjeng Ratu Ayu [Pa.II.37] / Gusti Kanjeng Ratu Ayu Krama [Hamengku Buwono II]
Титуле : 1814, Yogyakarta, Pangeran Suryaningrat
Титуле : 1829, Yogyakarta, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Suryaningrat
Смрт: 23 јул 1858, Yogyakarta
1356/6 <26+?> Raden Rangga Prawiradirdja III [Kerajaan Bima]
Титуле : од 1799, Bupati Madiun Ke 16 di : Maospati
Смрт: 17 децембар 1810, Banyu Sumurup-Imogiri dipindahkan ke Giripurno-Gn Bancak-Magetan pada 1957
1427/6 <39+55> Raden Panji Prawirokusumo [Hamengku Buwono I]
Свадба: <110!> # 55. B.R.Ay. Prawirokusumo [Hamengku Buwono II]
Број брака: 29 јун 1813, Yogyakarta
1398/6 <22> Ψ Raden Mas Wangsakusumo / Raden Panji Wangsakusumo [Raden Panji Wangsakusumo]
Смрт: 30 јул 1826
569/6 <20+27> # 6. BPH Dipawiyana [Hamengku Buwono]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study

BPH Dipawiyana adalah anak dari Seri Sultan Hamengku Buwono. Sejarah Hamengku Buwono II: Sri Sultan Hamengkubuwana II (lahir 7 Maret 1750 – meninggal 3 Januari 1828 pada umur 77 tahun) adalah raja Kesultanan Yogyakarta yang memerintah selama tiga periode, yaitu 1792 - 1810, 1811 - 1812, dan 1826 - 1828.[1] Pada pemerintahan yang kedua dan ketiga ia dikenal dengan julukan Sultan Sepuh.

Riwayat Masa Muda

Nama aslinya adalah Raden Mas Sundoro, putra Hamengkubuwana I, Ia dilahirkan tanggal 7 Maret 1750 saat ayahnya masih menjadi Pangeran Mangkubumi dan melakukan pemberontakan terhadap Surakarta dan VOC. Ketika kedaulatan Hamengkubuwana I mendapat pengakuan dalam perjanjian Giyanti 1755, Mas Sundoro juga ikut diakui sebagai Adipati Anom.

Pada tahun 1774 (atau tahun Jawa 1700) terjadi kegelisahan di kalangan Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta akibat mitos akhir abad, bahwa akan ada sebuah kerajaan yang runtuh. Dalam kesempatan itu, Mas Sundoro menulis kitab Serat Suryaraja yang berisi ramalan bahwa mitos akhir abad akan gugur karena Surakarta dan Yogyakarta akan bersatu di bawah pemerintahannya. Naskah tersebut sampai saat ini dikeramatkan sebagai salah satu pusaka Keraton Yogyakarta.

Pemerintahan Periode Pertama

Mas Sundoro naik takhta Yogyakarta sebagai Hamengkubuwana II pada bulan Maret 1792. Ia merupakan raja yang penuh dengan cita-cita. Para pejabat senior yang tidak sesuai dengan kebijakan politiknya segera dipensiunkan dan diganti pejabat baru. Misalnya, Patih Danureja I diganti dengan cucunya, yang bergelar Danureja II. Keputusan ini kelak justru merugikannya, karena Danureja II setia kepada Belanda, berbeda dengan rajanya.

Hamengkubuwana II sendiri bersikap anti terhadap Belanda. Ia bahkan mengetahui kalau VOC sedang dalam keadaan bangkrut dan bobrok. Organisasi ini akhirnya dibubarkan oleh pemerintah negeri Belanda akhir tahun 1799.

Sejak tahun 1808 yang menjadi gubernur jenderal Hindia Belanda (pengganti gubernur jenderal VOC adalah Herman Daendels yang anti feodalisme. Ia menerapkan aturan baru tentang sikap yang seharusnya dilakukan raja-raja Jawa terhadap minister (istilah baru untuk residen). Hamengkubuwana II menolak mentah-mentah peraturan ini karena dianggap merendahkan derajatnya, sedangkan Pakubuwana IV menerima dengan taktik tersembunyi, yaitu harapan bahwa Belanda akan membantu Surakarta menaklukkan Yogyakarta.

Hamengkubuwana II juga bersitegang dengan Patih Danureja II yang dekat dengan Belanda. Ia memecat Danureja II dan menggantinya dengan Pangeran Natadiningrat putra Pangeran Natakusuma (saudara Hamengkubuwana II). Kemudian Hamengkubuwana II juga merestui pemberontakan besanya, yaitu Raden Rangga Prawiradirjo I bupati Madiun yang menentang penjajahan Belanda. Putera KPR Prawirodirjo I, Raden Ronggo Prawirosentiko Bupati Toenggoel menikah dengan puteri Hamengku Buwono II dari isteri ampeyannya BMA Yati.Raden Rangga Prawirodirjo I adalah juga paman Hamengku Buwono II. Ibu Hamengku Buwono II Kanjeng Ratu Tegalraya adalah adik KPR Prawirodirjo bapak mereka adalah Kyai Ageng Derpayuda.(Genealogy Keraton Yogya).

Belanda berhasil menumpas Raden Rangga dan melimpahkan beban tanggung jawab, misalnya biaya perang, kepada Hamengkubuwana II. Hal ini menyebabkan keributan antara kedua pihak. Pada bulan Desember 1810 Herman Daendels menyerbu Yogyakarta, menurunkan Hamengkubuwana II, dan menggantinya dengan Hamengkubuwana III, menangkap Natakusuma dan Natadiningrat, serta mengembalikan kedudukan Patih Danureja II. [sunting] Pemerintahan Periode Kedua

Pada tahun 1811 pemerintahan Belanda atas Jawa dan Nusantara direbut oleh Inggris. Hal ini dimanfaatkan Hamengkubuwana II untuk kembali menjadi raja, dan menurunkan Hamengkubuwana III sebagai putra mahkota kembali.

Sikap Hamengkubuwana II terhadap Inggris sama buruknya dengan terhadap Belanda. Bahkan, ia berani bertengkar dengan Thomas Raffles sewaktu letnan gubernur Inggris tersebut mengunjungi Yogyakarta bulan Desember 1811.

Pakubuwana IV di Surakarta pura-pura mendukung Hamengkubuwana II agar berani memerangi Inggris. Surat-menyurat antara kedua raja ini terbongkar oleh Inggris. Maka, pada bulan Juni 1812 pasukan Inggris yang dibantu Mangkunegaran menyerbu Yogyakarta. Hamengkubuwana II dibuang ke pulau Penang, sedangkan Pakubuwana IV dirampas sebagian wilayahnya.

Hamengkubuwana III kembali diangkat sebagai raja Yogyakarta. Pangeran Natakusuma yang mendukung Inggris, oleh Thomas Raffles diangkat sebagai Pakualam I dan mendapat wilayah berdaulat bernama Pakualaman. [sunting] Pemerintahan Periode Ketiga

Pada tahun 1825 terjadi pemberontakan Pangeran Diponegoro (putra Hamengkubuwana III) terhadap Belanda (yang kembali berkuasa sejak tahun 1816). Saat itu raja yang bertakhta di Yogyakarta adalah Hamengkubuwana V.

Pemberontakan Pangeran Diponegoro sangat mendapat dukungan dari rakyat. Pemerintah Hindia Belanda mencoba mengambil simpati rakyat dengan mendatangkan Hamengkubuwana II yang dulu dibuang Inggris. Hamengkubuwana II kembali bertakhta tahun 1826, sedangkan Hamengkubuwana V diturunkan oleh Belanda. Namun usaha ini tidak membuahkan hasil. Rakyat tetap saja menganggap Pangeran Diponegoro sebagai raja mereka.

Hamengkubuwana II yang sudah tua (dan dipanggil sebagai Sultan Sepuh) akhirnya meninggal dunia pada tanggal 3 Januari 1828. Pemerintahan kembali dipegang oleh cicitnya, yaitu Hamengkubuwana V.
5810/6 <20+34> # 1. B.R.Ay. Gusti Wiryonegoro [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
5911/6 <20+32> # 2. B.R.Ay. Sindurejo [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
6012/6 <20+34> # 3. B.R.Ay. Pringgodiningrat [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
6113/6 <20+27> # 4. B.R.Ay. Jayaningrat [Hamengku Buwono]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
6214/6 <20+36> # 7. Bendoro Raden Ayu Wiryowinoto [Hamengku Buwono]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
6315/6 <20+24> # 8. GKR Bendara [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
6416/6 <20+34> # Bendoro Pangeran Haryo Murdaningrat [Hb.2.9] / Pangeran Seda Lengkong [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
6617/6 <20+32> # 12. B.R.Ay. Jayengrono [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
6718/6 <20+27> # 13. BPH Wiromenggolo [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
6819/6 <20+24> # 14. GKR Hangger Krama [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
6920/6 <20+36> 15. B.R.Ay. Kartodipuro [Hamengku Buwono II]
7021/6 <20+38> # 16. Bendoro Pangeran Haryo Singasari [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
7122/6 <20+36> # 17. B.R.Ay. Yudoprawiro [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
7223/6 <20+24> # 18. GPH Mangkubumi / GK. Panembahan Mangkurat [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
7324/6 <20+39> # 19. Bendoro Raden Ayu Ronggo Prawirosantiko [p.II.19] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
7425/6 <20+27> # 20. B.R.Ay. Prawirodiningrat I [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
7526/6 <20+24> # 22. GKR Maduretno (gkr. Prawiradirdja Iii) [Hamengku Buwono]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
7627/6 <20+38> # 21. G.R.Ay. Prawirodiningrat II [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
7728/6 <20+28> # 23. B.R.Ay. Sosrowijoyo [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
7829/6 <20+39> # 24. B.R.Ay. Bahusentono [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
7930/6 <20+39> # 25. B.R.Ay. Prawiroyudo [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
8031/6 <20+37> # 10. Bendoro Pangeran Haryo Pamot [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
8132/6 <20+29> # 26. BPH Hadiwinoto [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
8233/6 <20+28> # 27. BPH Silarong [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
8334/6 <20+29> # 28. BPH Sutowijoyo (bph Hadiwinoto WI H.r.v) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
8435/6 <20+28> # 29. B.R.Ay. Murtodiningrat I [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
8536/6 <20+30> # 30. BPH Joyokusumo I ( BP Hangabehi ) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
8637/6 <20+31> # 31. B.R.Ay. Ngabdani Ing Bayat [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
8738/6 <20+31> # 32. B.R.Ay. Nitinegoro [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
8839/6 <20+32> # 33. B.R.Ay. Cokrodiwiryo/Condrodiwiryo (Kromodiwiryo) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
8940/6 <20+28> # 34. BPH Senokusumo (Notopuro) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
9041/6 <20+29> # 35. B.R.Ay. Sosronegoro I [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
9142/6 <20+33> # 36. B.R.Ay. Sosrowinoto I (Sindunegoro) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
9243/6 <20+26> # Gusti Kanjeng Ratu Ayu Krama [Pa.II.37] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
9344/6 <20+26> # 38. GRM Sudaryo [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
9445/6 <20+33> # 39. B.R.Ay. Prawiriwinoto (Yudodipuro/Kartodiwiryo) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
9546/6 <20+34> # 40. B.R.Ay. Prawirodiningrat II (Yudipuro) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
9647/6 <20+29> # 41. B.R.Ay. Sosronegoro II [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
9748/6 <20+33> # 42. BPH Dipowijoyo [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
9849/6 <20+40> # 43. Bendoro Raden Ayu Mangkuyudo [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
9950/6 <20+35> # 44. BPH Hadiwijoyo [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
10051/6 <20+30> # 45. BAy. Tomoprawiro [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
10152/6 <20+29> # 46. B.R.Ay. Notoyudo (Notowijoyo) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
10253/6 <20+29> # 47. BPH Notoboyo [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
10354/6 <20+41> # 48. BRAy. Yudowijayo (Notoyudo) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
10455/6 <20+42> # 49. BPH Teposono (bph Juminah) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
10556/6 <20+43> # 50. BRAy / BPH Singosekar (Riyakusumo) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
10657/6 <20+26> # 51. GKR Anom [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
10758/6 <20+26> # Gusti Kanjeng Ratu Anom Purwonegoro [Hb.2.52] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
10959/6 <20+42> 54. B.R.Ay. Secadirja ( BRAy. Wirjawilaga / BRAy. Jayadilaga ) [Hamengku Buwono II]
11060/6 <20+37> # 55. B.R.Ay. Prawirokusumo [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
11161/6 <20+29> # 56. BPH Notodipuro (Purbowinoto) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
11262/6 <20+26> # 57. GKR Timur [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
11363/6 <20+26> # 58. G.R.Aj. Sudarminah [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
11464/6 <20+35> # 59. B.R.Ay. Notorejo [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
11565/6 <20+44> # 60. BPH Purwokusumo (gph Sosroatmojo) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
11666/6 <20+45> # 61. B.R.Ay. Jayengsantro (BRAy Sosrohatmojo) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
11767/6 <20+44> # 62. B.R.Ay. Reksokusumo [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study Menikah dengan Bupati Imogiri(?)
11868/6 <20+44> # 63. B.R.Ay. Prawiroloyo (BRAy. Mangunprawoto) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
11969/6 <20+45> # 64. B.R.Ay. Sosrodipuro I [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
12070/6 <20+46> # 65. BRAy . Martosono (bph Puger) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
12171/6 <20+45> # 66. B.R.Ay. Sosrodipuro II [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
12272/6 <20+46> # 67. B.R.Ay. Puspadiningrat (BRAy. Mulyodiwiryo) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
12373/6 <20+47> # 68. B.R.Ay. Projodiningrat [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
12474/6 <20+48> # 69. B.R.Ay. Notonegoro (BRAy. Martodiningrat II) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
12575/6 <20+49> # 70. B.R.Ay. Jojodirjo (BRAy. Pringgodirjo) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
12676/6 <20+50> # 71. BPH Mangjudipuro (bph Purwodipuro/BPH Joyokusumo II) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
12777/6 <20+51> # 72. BPH Wijil ( BPH Hadiwijoyo II ) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
12878/6 <20+48> # 73. B.R.Ay. Notonegoro ( BRAy. Sawunggaling ) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
12979/6 <20+26> # 74. GKR Sasi [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
13080/6 <20+52> # Bendoro Pangeran Haryo Hadinegoro [Hb.2.76] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
13181/6 <20+50> # 76. B.R.Ay. Martokusumo ( BRAy. Poncodiryo / BRAy. Padmowinoto ) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
13282/6 <20+53> # 77. BPH Timur ( BPH Pujokusumo ) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
13383/6 <20+53> # 78. B.R.Ay. Dewi ( BRAy. Martonegoro ) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
13484/6 <20+53> # 79. BPH Timur [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
13785/6 <20> Gusti Kanjeng Ratu Ayu [Pa.II.37] / Gusti Kanjeng Ratu Ayu Krama [Hamengku Buwono II] 13886/6 <27> Kanjeng Pangeran Adipati Danurejo III / Pangeran Natadiningrat [Hamengku Buwono]
14087/6 <24+54> Kanjeng Raden Tumenggung Martonegoro [Hamengku Buwono I] 14188/6 <34> Bendoro Raden Ayu Hadiningdiah [Ga.Hb.3.22] / Bendoro Raden Ajeng Ratnadimurti [Hamengku Buwono I]
Свадба: <57!> # Sri Sultan Hamengku Buwono III / Gusti Raden Mas Surojo [Hamengku Buwono II] b. 20 фебруар 1769 d. 3 новембар 1814
14389/6 <54+?> Raden Mas Sutawijaya [Cakraatmaja]
14490/6 <29> Gusti Kanjeng Ratu Kencono [Hb.1] / Gusti Kanjeng Ratu Hageng [Gp.Hb.3.1] [Hamengku Buwono I]
Свадба: <57!> # Sri Sultan Hamengku Buwono III / Gusti Raden Mas Surojo [Hamengku Buwono II] b. 20 фебруар 1769 d. 3 новембар 1814

7

1601/7 <57+81> # Bendoro Raden Ayu Mangkuwijoyo [Hb.3.7] / Bendoro Raden Ayu Prabuningrat [Hamengku Buwono III]
Hilal Achmar Official Link
1632/7 <57+78> # Bendoro Raden Ayu Sosrodiningrat [Hb.3.21] [Hamengku Buwono III]
Official From Hilal Achmar.
1763/7 <136> Kgpaa Paku Alam III [Pakualam]
Рођење: 3. Paku Alam III (1858 - 1864)
1944/7 <143> 1. RM. Dayun Sentradrana/Ky Abdurrahim [Cakraatmaja]
Рођење: di Banjarnegara
1955/7 <143> 2. RM. Mentradana [Cakraatmaja]
Рођење: di Merden
1966/7 <143> 3. RM. Jiwa Yuda [Cakraatmaja]
Рођење: di Merden
1977/7 <143> 4. RAy. Nyai Jiwa Menggala [Cakraatmaja]
Рођење: di Gumelem
1988/7 <143> 5. Nyai RAy. Angga Menggala [Cakraatmaja]
Рођење: di Gumelem
1999/7 <143+?> 6. RM. Wira Seca [Cakraatmaja]
Рођење: di Batur
14510/7 <57+76> # Bendoro Pangeran Haryo Diponegoro [Hb.3.1] / Bendoro Raden Mas Ontowirya [Antawirya] [Hamengku Buwono III]
15211/7 <135+75!> # 5. RA. Maduretno / RA. Diponegoro (BRA Ontowiryo) [Hamengku Buwono]
Рођење: 1798проц, Yogyakarta
Свадба: <145!> # Bendoro Pangeran Haryo Diponegoro [Hb.3.1] / Bendoro Raden Mas Ontowirya [Antawirya] [Hamengku Buwono III] b. 11 новембар 1785 d. 8 јануар 1855
Титуле : 18 фебруар 1828, Tegalrejo
Смрт: 28 фебруар 1828, Yogyakarta
== 5. RA. Maduretno / RA. Diponegoro / BRA. Ontowiryo ==

Setelah geger Madiun reda di tahun 1814 untuk yang ke lima kalinya Pangeran Diponegoro menikah dengan R.A. Maduretno, putri Raden Rangga Prawiradirjo III dengan Ratu Maduretno (putri HB II), jadi R.A Maduretno saudara seayah dengan Sentot Prawirodirjo, tetapi lain ibu. Tahun 1826 ketika Pangeran Diponegoro diangkat menjadi Sultan di Dekso, R.A Maduretno diangkat menjadi permaisuri. Namun karena sakit beliau meninggal pada tahun 1828. Dari pernikahan ini lahirlah Raden Mas Joned pada tahun 1815 Dan Raden Mas Roub tahun 1816 . Raden Ayu Maduretno juga dikenal dengan Raden Ayu Ontowiryo atau Raden Ayu Diponegoro. Ketika menikah dengan R. A Maduretno, isteri pertama dan keempat sudah meninggal, sedangkan isteri kedua lebih senang tinggal diistana sehingga terjadilah hubungan yang tidak harmonis antara P. Diponegoro dengan RA. Retnokusumo.

Hubungan Pangeran Diponegoro dengan keluarga besar Raden Ronggo semakin ditingkatkan untuk menambah kekuatan dan kedudukan kasultanan Jogja di mata penjajah.
18412/7 <65+?> # 1. Kanjeng Raden Tumenggung Mangkuwijoyo / Pangeran Adipati Mangkudiningrat II [Hamengku Buwono]
Edited by : R.E. Suhendar Diponegoro[1]
  • Granted the principality of Kalibawang in fief 28th April 1831. Exiled to Ambon in December 1831. m. (div. 1817) Bandara Radin Ayu Mangku Vijaya (m. second, Colonel Gusti Pangeran Adipati Prabhu ning Rat), daughter of H.H. Sampeyan Dalam ingkang Sinuhun Kanjeng Sri Sultan Amangku Buwana III Senapati ing Alaga Ngah 'Abdu'l-Rahman Saiyid ud-din Panatagama Khalifatu'llah ingkang Yumeneng Kaping, Sultan of Yogyakarta, by his wife, Ratu Kinchana/Ratu Ibu, daughter of Radin Temenggong Pangeran Sasra di-ning Rat I, Bupati of Jipang-Rajegwesi.
18613/7 <65> # 2. Pangeran Arya Tjakraningrat [Hamengku Buwono]
Рођење: 1801
Edited by : R.E. Suhendar Diponegoro[1]
  • Lahir dari Ibu selir (Junior Wife), turut dibuang ke Ambon dan wafat di Ambon pada tanggal 13 Maret 1824 dimakamkan di Pemakaman Raja2 Imogiri, Bantul, Yogyakarta
18714/7 <65> # 3. Raden Mangku Wilaya / Radin Marta Atmaya / Pangeran Arya Suriya Mataram [Hamengku Buwono]
Рођење: 1802
Смрт: 1825
Edited by : R.E. Suhendar Diponegoro[1]
  • Lahir dari Ibu selir (Junior Wife), turut dibuang ke Ambon dan wafat di Ambon pada tanggal 13 Maret 1824 dimakamkan di Pemakaman Raja2 Imogiri, Bantul, Yogyakarta
18815/7 <65> # 4. Radin Sasra Atmaja / Pangeran Arya Pakuningrat [Hamengku Buwono]
Рођење: 1803
Смрт: од 1825

Edited by : Edited by : R.E. Suhendar Diponegoro[1]

  • Lahir dari Ibu Selir (Junior Wife), meninggal di Kapal Laut pada saat Perang Jawa 1825-1830.
18916/7 <65+?> # 5. Colonel Radin Mas Papak /Radin Temenggong Mangkundirja [Hamengku Buwono]
Рођење: 1804
Титуле : 1831, Prins Kalibawang
Смрт: 1853, Kalibawang
Edited by : Edited by : R.E. Suhendar Diponegoro[1]
  • Colonel Radin Mas Papak/Radin Temenggong Mangkundirja (cre. 1814)/Pangeran Adipati Natapraya (cre. 1825), Prince of Kalibawang. b. 1804 (s/o Radin Ayu Jaya Kusuma). Succeeded his brother as prince of Kalibawang 1831. He d. at Kalibawang, November 1853.
19017/7 <65+?> # 6. Pangeran Arya Papak [Hamengku Buwono]
Рођење: 1804
Edited by :


  • Lahir dari Ibu Selir (Junior Wife), (Bandara Pangeran Arya Mangku di-ning Rat/Kanjeng Gusti Pangeran Adipati I. b. 1778 (s/o Ratu Mas). Exiled to Penang 1812-1815, Batavis 1815-1817 and Ambon 1817-1824. Became an ascetic and assumed the name of Panji Angon Asmara. m. (first) Radin Ayu Jaya Kusuma, daughter of Pangeran Serang, by his wife, Radin Ayu Serang. m. (second) a selir or junior wife. He d. at Ambon, 13th March 1824 (bur. Imagiri)
14618/7 <144+57!> # Sri Sultan Hamengku Buwono IV / Gusti Raden Mas Ibnu Jarot [Hb.3.1] [Hamengku Buwono III]
19119/7 <65+?> # 7. Pangeran Arya Pakuningprang [Hamengku Buwono]
Рођење: 1805
Edited by :
  • Lahir dari Ibu Selir RA. Mangkudiningrat pada tahun 1805. (Bandara Pangeran Arya Mangku di-ning Rat/Kanjeng Gusti Pangeran Adipati I. b. 1778 (s/o Ratu Mas). Exiled to Penang 1812-1815, Batavis 1815-1817 and Ambon 1817-1824. Became an ascetic and assumed the name of Panji Angon Asmara. m. (first) Radin Ayu Jaya Kusuma, daughter of Pangeran Serang, by his wife, Radin Ayu Serang. m. (second) a selir or junior wife. He d. at Ambon, 13th March 1824 (bur. Imagiri).
14820/7 <55+137!> Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Paku Alam III / Gusti Pangeran Haryo Sastraningrat (Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Surya Sasraningrat) [Pakualaman]
Рођење: 20 децембар 1827, Yogyakarta
Титуле : 19 децембар 1858, Yogyakarta
Смрт: 17 октобар 1864, Yogyakarta
14921/7 <55> Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam V / Kanjeng Pangeran Haryo Suryodilogo [Pakualaman]
Рођење: 23 јун 1833, Yogyakarta
Титуле : 1878, Yogyakarta, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario (KGPAA) Prabu Suryodilogo
Смрт: 6 новембар 1900, Kulon Progo
18122/7 <55+137!> # Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam IV / Raden Mas Nataningrat [Pakualaman]
Рођење: 25 октобар 1840, Yogyakarta
Свадба: <102> # Gusti Kanjeng Ratu Ayu [Hb.6.10] [Hamengku Buwono VI]
Титуле : 1864, Yogyakarta, Prabu Paku Alam IV [1864-1878]
Смрт: 24 децембар 1878, Yogyakarta
15323/7 <64> R. M. T. A. A. Djojodiningrat / Raden Mas Djojoprono [Hamengku Buwono II]
Свадба: <103> Putri Dari K. P. A. Ng. Djojokoesoemo [?]
Титуле : од 1845, Bantul, Yogyakarta
14724/7 <55> Gusti Pangeran Haryo Nataningprang [Pakualaman]
Смрт: 1857
15025/7 <56> # R. Ay. Pangulu Kamaludiningrat [Hamengku Buwono]
Official Link. Adm: Hilal Achmar.

SILSILAH KETURUNAN (1&2) SISILAH PANCER KEDIRI (1) Sisilah uri-uri leluhur puniko kaserat/revisi dening :

1. R. Fatah Sultan Akbar I Bintoro Demak 2. R. Trenggono Sultan Akbar III Bintoro Demak 3. Sultan Mu'min (Sultan Prawoto) Demak 4. Panembahan Wirasmoro (Pangeran Sumende)Sumare ing Setono Gedong Kediri (Jl. Raya Dhoho Kediri kilen stasiun Kediri Kota) 5. R. Djalu Pangeran Demang Kediri I 6. Pangeran Demang Kediri II. Sumare ing Badal Nambangan / Ngrembang - Ngadiluwih - Kediri Peputro : 1. Kyai Ageng Abd. Djabar Tjorekan (Sumare ing Ngelam Suroboyo) 2. Kyai Ageng abd. Adim (Sumare ing Brodat/Kertosono) 3. Kyai Ageng Abd. Mursad (Sumare ing Tukun) 4. Kyai Ageng Abd. Rochim Ngliman 5. Kyai Ageng Abd. Salim / Adipati Kemten Sedo ing Pasuruan (Sumare ing Kundjonmanis)

Kyai Abd. Djabar Tjorekan dipun labuh dening Goverment walandi, wonten pelabuhan Kediri mentas ing dukuh Ngelam, dedukuh wonten ngriku kasebat Kyai Ageng Ngelam Suroboyo.Peputro : 1. Kyai Supanjeng Suroboyo 2. Kyai bagong Suroboyo

Kyai Ageng Abd. Brodat Kagungan putro ing Tapan Maduro : 1. R. Ayu Pangeran Tjokroningrat Madura 2. Kyai Tambak Agung Lemah Putro Suroboyo : Peputro : 1. Kanjeng Penghulu Kamaludiningrat (ing Godong Mataram) 2. Kyai Ag. Abd. Djabar (Kamludin) ing Kediri I 3. Kyai Im Sapingi ing Kediri II 4. Kyai Moh. Sapingi / Kamaludin ing Kediri III : Kagungan putro garwo Sepuh (RA. SEDAH MERAH) : (Sumare ing Kilen Pasar Paing Kediri / Ngajengipun Pondok Pesantren Assidiqiayh Jamsaren Kediri). Peputro : 1. R Ng. Bukori / kyai Bendungan Brebeg. 2. R. Ng. Abd. Basar Penghulu Sragen. 3. R. Rekso Ngulomo Penghulu Kediri. 4. R. Rekso Prodjo Djakso Kediri. 5. R. Rekso Seputro Naib Papar. 6. R. Nganten Kustiyah (Garwo Abd. Djalal) Naib Djambean. 7. R. Soemoredjo Mantri Negoro Kediri. 8. R. Ng. Burnadi Djuru Serat Srambi Kediri (masjid alun-alun / Kodya Kediri ). Kagungan putro saking garwo Keter  : 9. R. Kyai Mustaman Blitar. 10. R. Im. Sapingi Naib Papar. Kagungan putro saking garwo Enem : 11. R. Ng. Sumahun / Moh. Edris, Penghulu Kediri. 12. R. Ng. Djemblung / R. Ng. Djoko, Naib Kediri I. 13. R.Eoro Bonyok / R. Ng. Burnadi, Naib Kediri II. Kagungan putro saking garwo Klagenan : 14. R. Ismangil Ketib/Kotib Senoman Kediri 15. R. Ng. Adpar Ketib/Kotib Djojar Kediri

SISILAH PANCER KEDIRI (2) 1. R. Fatah Sulatan Akbar Bintoro Demak I 2. R. Trenggono Sultan Akbar Bintoro Demak III 3. Sultan Mu'min (sultan Prawoto) Demak 4. Panembahan Wirasmoro / Pangeran Sumense (sumare ing Setono Gedong Kediri) 5. R. Djalu Pangeran Demang Kediri I 6. Pangeran Demang Kediri II, ing Ngrembang sumare ing Badal Nambangan. 7. Kyai Ag. Abd. Adim Brodat

Silsilah Pancer 1 : Silsilah Pancer 2 : 1. Kyai Ag Kabul 1. Kyai Ag. Tambak Agung 2. Kyai Ag. Muslim 2. Kyai Ag. Kamaludiningrat ing Godong 3. Kyai Sarkum 3. Kyai Abd. Djabar Kamludin ing Kediri 4. Kyai Alwi 4. Kyai Imam Sapingi 5. Kyai Abd Rosid 5. Kyai Djojo Ngulomo 6. Kyai Abd. Djoned 6. Kyai Im Mustaram 7. Ag. Sribanun 7. Kyai Moh. Mansur 8. H. Abd. Fakih 8. H. Abd. Fakih Naib Kras

SISILAH PANCER Syech Maulono Magribi. 1. Syech Maulono Magribi 2. Kyai Ag. Tarub II 3. Sripah Asijah kagarwo >< R. Bondan Kejawan (putro Brawidjojo Darmarwulan Modjopahit) 4. Kyai Ag. Getas Pandowo (Kahuripan Purwodadi) 5. Kyai Ag. Selo, Purwodadi 6. Kyai Tani (sumare ing kilen Masdjid Nglawean Solo) 7. Kyai Ag. Penembahan 8. Panembahan Senopati Sutowidjojo Ratu Mataram I / Danang 9. Sultan Agung Tjakrakusumo(Prabu Mangkurat Agung Kertosuro, sumare ing Tegalarum) 10. R. Aj. Klenting Wungu kagarwo >< Ki. Djogosworo 11. R. Aj. Tumenggung Hodjowongso 12. R. Aj. Djosodipuro Koliwon Banyak 13. R. Aj. Tumenggung SEDAH MERAH kagarwo >< Penghulu Kediri 14. R. Aj. Djembluk (Kustijah kagarwo >< R P. Abd Djalal / Im. Subroto, Naib Ngadiluwih) 15. R. Ng. Abd Djoned Penghulu Kediri 16. R. Ng. Sribanun kagarwo >< Moh Mansur, Naib Kras 17. H. Abd. Fakih Naib Kras.

SILSILAH KETURUNAN (2) 1. R. Patah

2. R. Trenggono III

3. Sultan Muknin (Sunan Prawoto)

4. Penembahan Wirasmoro (Pangeran Sumende)

5. R. Djalu Pangeran Demang Kediri I

6. Pangeran Demang Kediri II (Sumare ing Badal Kediri)

7. Kyai Ageng Abd. Adim (Sumare ing Brodat Kertosono)

8. Kyai Tambak Agung Lemah Putro Suroboyo

9. Kanjeng Penghulu Kamaludiningrat (Penghulu Godong Mataram)

10.Kyai Ageng bd. Djabar (Kamaludin), Penghulu Kediri I

11.Kyai Imam Sapingi Penghulu Kediri II

12.Kyai Moh. Supingi (Kamludin), Penghulu Kediri III >< Nyai SEDAH MERAH (Sumare ing Kediri Ngajengipun Pondok Assidiqqiah Jamsaren Kediri, kilen pasar Paing Kediri)

13.R. Aj. Kustiah >< Abd. Jalal, Naib Jambean

14.R. Hadiwidjojo (Sumare ing Ngadiluwih)

15.R. Kodrat Samadikoen (Sumare ing Bendo Pare Kediri)

16.R. Tri Priyo Nugroho

17.R. Syehha Agem Manumayasya....

Sayyidah RA. Nyai Imanadi Kebumen ( Garwa II ), ibni

Sayyidah RA. Kamaludiningrat ( Pengulu Kraton Jogjakarta ), ibni

Sayyid BPA Dipowiyono, ibni

Sayyid RM. Sundoro / Hamengku Buwana II, ibni

Sayyid RM. Sujono / Pangeran Mangkubumi / Hamengku Buwana I...

Nyi jawahir peputra ; 1.Ali Mustafa peputra ; 1. Sastra 2. H. Muhson 3. Imam Pura 4. Sarbini 5. Dalail 6. Munirah 7. Nyai Madmarja

2.SanMunawar ( Lurah Pesucen ) 3.Nyi Basar Kahfi 4.Nyi Sanmustafa 5.Ali Muntaha peputra ; 1. Muhsin 2. Muhson 3. Muhsonah 4. Munsarip 5. Munisah 6. Mutnginah

6.Mustahal 7.Abdul Anwar ( Siwedi Kutowinangun ) 8.Marjuned ( Banjarnegara ) 9.Nyi Madmurja ( Kenteng Karangsari Kutowinangun ) 10.Nyi Badariyah ( Nyi H. Nawawi ) peputra ; 1. Nyai Carik jetis 2. Nyai Ahmad 3. Nyai Badriyah 4. Haji Masyhud 5. Nyai Trafas 6. Maklum

11.Nyi Ramadipura ( Buluspesantren ) 12.Nyi Satirah 13.Badarudin peputra ; 1. Nyi Ali Tsani Kauman ( Garwa I ) peputra ; 1. Siti Khalimah Kauman peputra ; 1. Mutoharoh

2. Chafsoh Pekalongan peputra ; 1. Arifin Pekalongan

2. Makmun Kauman peputra ; 1. Rokhimah Tasikmalaya peputra ;

2. Kharisoh Rantewringin peputra ; 1. Nurul Kauman 2. Retno Rantewringin 3. Beni 3. Khotmah Tasikmalaya peputra ;

4. Halimah Tasikmalaya peputra ;

5. Honimah Kebumen peputra ; 1. R. Muh. Rafi Ananda / Tuti Khusniati Al Maki 2. Aila Rezannia / Poedjo Raharjo 6. Soimah Kauman peputra ; 1. Arif Hidayat 2. Titin Rahayuningsih 3. Teguh Priyatno 4. Nur Fatmawati 5. Diyah Kurniasari

3. Nyi Maklum Kauman

H. Ahmad peputra ; 1.Ibunipun Nyi. H. Ali 2.Nyi Mangku 3.Madnur 4.Toyib

KH. Ali Awal bin Moh. Alwi kaliyan Garwa I peputra ;

1.Nyi Abdul Manan I ( Sepuh )Kemangguan Alian 2.Kyai Ismail Karanganyar Kebumen 3.Nyi Abdul manan II Kemangguan Alian 4.Nyi Zaenudin Pekeyongan 5.Nyi Hanan Plumbon peputra ; 1. Pengulu Ridwan/ Rilwan peputra ; 1. Rughoyah / Makmun Kauman 2. Rofqoniyah / Kyai Matori Jatisari peputra ; 1. KH. Sayyid R. Salim Al Mator peputra ; 1. Tobagus Muslihudin Aziz 2. Hikmatul Hasanah 3. Maksumah Kurniawati 4. Musyafa Firman Iswahyudi 5. Retno Auliyatussangadah 6. Eta Fatmawati Auliyatul Ummah

2. Songidah peputra ;

3. Sangadatun Diniyah peputra ;

4. Kyai Khumsosi Al Matori peputra ; 1. Siti Khulasoh 2. Siti Fatimah 3. Lukman Zein 4. Anis Siti Karimah 5. Siti Khomsiati 6. Anas Mufadhol

5. H. Makmuri peputra ;

6. Muslim peputra ;

3. Sanusi Prembun peputra ; 1. Sol 2. Salamah Balingasal Prembun

4. Sugeng peputra ;

5. Dulkodir peputra ;

6.Kyai Tohir Kedungtawon Kutowinangun peputra ;

Kyai Kosim Kedungtawon Kutowinangun peputra ;

KH. Ali Awal kaliyan Garwa II peputra ; 1.KH. Abdullah Ibrahim Kauman ( Pengulu Landrat terakhir ) peputra ; 1. Siti Khotijah / Zaenal Kauman 2. Siti hajatiyah / Mbah Jamaksari Somalangu 3. Ashariyah / Mustofa Banjarnegara 4. Umi Kulsum / Sumbono 5. Maimunah / Ali Siroj ( Purworejo ) 6. Mariyah / Sumbono 7. Hasim 8. Maryatini / Masngudin 9. Johariyah / kagarwa Sururudin, lajeng kagarwa dening Kyai Jamaksari Somalangu 10. Sri Kartini

2.Moh. Soleh peputra ; 1. Yusuf Soleh 2. Taslimah / Daqir Pekeyongan 3. Slamet Soleh 4. Musngidah / Masngud Prembun peputra ; 1. Dalail 5. Makmunah / Tahrir 6.Asyiah / Ngalimun Prembun

3.Siti Khalimah Wanasara / Abdullah sepuh peputra ; 1. Aminah Wanasara peputra ; 1. Muhtar

2. Mutiah Krakal peputra ; 1. Roh

4.H. Ali Tsani Kauman peputra ; Garwa I 1. Siti Khalimah Kauman peputra ; 1. Mutoharoh 2. Chafsoh Pekalongan peputra ; 1. Arifin Pekalongan

Garwa II ( Sayyidah Isti Sangadah binti Sayyid Muh. Fadil bin Sayyid Muh. Zein Solotiang bin Sayyid Muh. Alim Bulus Purworejo ) 1.Mahmud Ali Kauman peputra ; 1. Arif Mustofa

2.Isti Chamidah peputra ; 1. M. Sudjangi 2. Sugeng Assyamsi 3. Abdul Rozak 4. Lukman Hakim 5. Abdus Somad 6. M. Mahfud 7. M. Murtadlo

5.Abdul Wahab peputra ; 1. Moh Alwi Tejasari Kawedusan peputra ; 1. Ikhsan Alwi

2. Syamsi / Isti Chamidah

Khoul KH. Imanadi dipun wontenaken saben tanggal 14 Ruwah wonten ing serambi Masjid Pesucen Wonosari.

Wasana sinigeg semanten kemawon riwayat saha silsilahipun KH. Imanadi. Mugi – mugi handadosaken pepenget saha tuladhanipun khusus dhateng pra dharahipun, dhateng pra kathah umumipun. Amin

Kebumen, 06 Februari 2009

Sayyid R. Muh. Rafi Ananda

Wasana sinigeg samanten kemawon riwayat saha silsilahipun KH. Imanadi. Mugi – mugi handadosaken pepenget saha tuladhanipun khusus dhateng pra dharahipun, dhateng pra kathah umumipun. Amin

Pustaka Perdhikan Buku alit punika kaparingan asma PUStaka perdhikan. Dipun anggit dinten Jumat Kliwon, 11 Safar 1430 H/ taun JE 1942 utawi 06 Februari 2009 dening Sayyid R. Muh. Rafi Ananda kanti ngempalaken riwayat saha silsilah saking pra turunipun Suwargi KH. Imanadi ugi kanti penyelidikan awujud sumber – sumber kawontenan ing sejarah. Riwayat kakempalaken saking panjenenganipun ; 1.KH. Sayyid R. Salim Al Mator Jatisari 2.R. Sudjangi Kauman

Buku kacetak kanti sederhana supados saged dipun waos dening pra putra wayahipun KH. Imanadi ingkang mbetahaken. Kagem Pra putra wayang ingkang dereng kaserat wonteng ing mriki kersaha nyerat piyambak – piyambak lan kahaturaken dhateng Sayyid R. Muh. Rafi Ananda wonten alamat Jalan Garuda 13 Kebumen Jawa – Tengah. Wasan buku pustaka Perdhikan punika sageda manfangati kagem kita sami. Amin. Kebumen, jumat kliwon, 06 Februari 2009

Sayyid R. Muh. Rafi Ananda Basaiban

Kebumen, Jumat Kliwon, 06 Februari 2009

Sayyid R. Muh. Rafi Ananda ,,,
15126/7 <57+73> # Bendoro Raden Ayu Mangunnegoro [Hb.3.10] [Hamengku Buwono III]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
15427/7 <57+78> # Bendoro Raden Ayu Sosrowinoto [Hb.3.11] / Bendoro Raden Ayu Wiryodipuro [Hamengku Buwono III]
Hilal Achmar Official Link
15528/7 <57+71> # Bendoro Pangeran Haryo Hadinegoro [Hb.3.2] / Bendoro Pangeran Haryo Suryaningalogo [Hamengku Buwono III]
Official Link
15629/7 <57+62> Bendoro Pangeran Haryo Purwodiningrat [Hb.3.3] [Hamengku Buwono III]
15730/7 <57+61> Bendoro Raden Ayu Danukusumo [Hb.3.4] / Bendoro Raden Ayu Danuhadiningrat [Hamengku Buwono III] 15831/7 <57+60> # Bendoro Raden Ayu Wiryokusumo [Hb.3.5] / Bendoro Raden Ayu Purwonegoro [Hamengku Buwono III]
Hilal Achmar Official Link
15932/7 <57+80> # Bendoro Raden Ayu Kertonadi [Hb.3.6] [Hamengku Buwono III]
Hilal Achmar Official Link
16133/7 <57+64> # Bendoro Pangeran Haryo Hadisuryo I [Hb.3.8] [Hamengku Buwono III]
Hilal Achmar Official Link
16234/7 <57+69> # Bendoro Raden Ayu Prawirohatmojo [Hb.3.12] [Hamengku Buwono III]
Official From Hilal Achmar.
16435/7 <57+69> # Bendoro Pangeran Haryo Hadi Suryo [Hb.3.13] [Hamengku Buwono III]
Official Link Adm: Hilal Achmar.
16536/7 <57+63> Bendoro Pangeran Haryo Suryowijoyo [Hb.3.14] [Hamengku Buwono III]
16637/7 <57+59> # Bendoro Raden Ayu Sosronegoro [Hb.3.15] / Bendoro Raden Ayu Notowijoyo [Hamengku Buwono III]
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
16738/7 <57+58> # Bendoro Raden Ayu Mangundrono [Hb.3.16] [Hamengku Buwono III]
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
16839/7 <57+58> # Bendoro Pangeran Haryo Suryodipuro [Hb.3.17] / Bendoro Pangeran Haryo Notobroto [Hamengku Buwono III]
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
16940/7 <57+58> # Bendoro Raden Ayu Bahusentono [Hb.3.24] [Hamengku Buwono III]
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
17041/7 <57+72> # Bendoro Raden Ayu Mangundirjo [Hb.3.19] / Bendoro Raden Ayu Joyodipuro [Hamengku Buwono III]
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
17142/7 <57+75> # Bendoro Raden Ayu Notodiningrat [Hb.3.20] [Hamengku Buwono III]
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
17243/7 <57+75> # Bendoro Pangeran Haryo Hadinegoro [Hb.3.25] / Bendoro Pangeran Haryo Abubakar [Hamengku Buwono III]
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
17344/7 <57+77> # Bendoro Raden Ayu Kusumodipuro [Hb.3.22] [Hamengku Buwono III]
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
17445/7 <57+79> # Bendoro Raden Ayu Joyosudargo [Hb.3.23] [Hamengku Buwono III]
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
17546/7 <57+79> # Bendoro Pangeran Haryo Teposono [Hb.3.28] [Hamengku Buwono III]
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
17747/7 <55> Gusti Pangeran Haryo Suryoputro [Pakualaman]
17848/7 <55> Gusti Pangeran Haryo Suryaningrat [Pakualaman]
17949/7 <135+?> Raden Ali Basa Abdul Musthofa Sentot Prawiradirdja / Sentot Ali Basa [Sentot Ali Basa] 18050/7 <130> Gusti Kanjeng Ratu Kencono II [Gp.Hb.7.3] [Hamengku Buwono II]
Свадба: <123> # Sri Sultan Hamengku Buwono VII / Raden Mas Murtejo [Hb.6.1] [Hamengku Buwono VI] b. 4 фебруар 1839 d. 30 децембар 1931
18251/7 <135> Raden Abdul Kamil Alibasyah [Raden Ronggo] 18352/7 <138> Kanjeng Pangeran Adipati Danurejo IV / Kanjeng Pangeran Joko Hadiyosodiningrat [Danurejo III]
18553/7 <107+83> Gusti Kanjeng Ratu Kencono [Hb.2.52.2] / Bendoro Raden Ajeng Suradina [Gp.Hb.5.1] [Hamengku Buwono II] 19254/7 <108> 1. RM. Ibrahim Ba'abud Madiokusumo / RM. Haryo Madiokusumo [Ba'abud]
19355/7 <108> 2. RM. Puspodipuro [Ba'abud]
20056/7 <64> 2. R. M. T. A. A. Ronodiningrat [Hamengku Buwono]
20157/7 <57+67> Bendoro Pangeran Haryo Suryodipuro II [Hb.3.26] [Hamengku Buwono III]
20258/7 <57+65> Bendoro Pangeran Haryo Suryadi [Hb.3.27] [Hamengku Buwono III]
20359/7 <57+74> Bendoro Raden Ayu Sosrodipuro [Hb.3.29] [Hamengku Buwono III] 20460/7 <57+67> Bendoro Raden Ayu Dipowiyono [Hb.3.30] [Hamengku Buwono III] 20561/7 <57+141!> Bendoro Raden Ayu Sosrowinoto II [Hb.3.31] [Hamengku Buwono III] 20662/7 <57+66> Bendoro Raden Ayu Ronowinoto [Hb.3.32] [Hamengku Buwono III]

8

2261/8 <145+88> # 12. RA. Hangreni Mangunjaya [Hamengku Buwono]
Рођење: Sementara menunggu persetujuan putranya diputus : 848551
== R.A Hangreni Mangunjaya ==


Untuk menghindari lahirnya pemberontak-pemberontak baru keturunan Pangeran Diponegoro, pihak keraton menikahkan puteri-puteri Pangeran Diponegoro dengan pejabat-pejabat yang netral atau dengan pejabat yang pro Belanda. Untuk itu mereka dinikahkan dengan pejabat-pejabat di wilayah kekuasaan trah Danurejan yaitu di tanah kedu dan Bagelen. Trah Danurejan adalah trah yang terbukti setia kepada Belanda walaupun ada juga beberapa yang justru menjadi tulang punggung perjuangan Pangeran Diponegoro.

Radeng Ngabehi Mangunjaya suami R.A Hangreni adalah seorang wedono di wilayah Bagelen Barat yang dikuasai oleh Bupati Cokronegoro. Strategi Belanda dan kraton seolah berhasil dengan cara ini, tetapi kelak generasi-generasi penerus R.A Hangreni berjuang melawan penjajah melalui perjuangan agama setelah era perang Diponegoro berakhir.
2372/8 <176> Kgpaa Pakua Alam IV [Pakualam]
Рођење: 4. Paku Alam IV (1864 - 1878)
2493/8 <192> 5. RA. Said Husein [Ba'abud]
Рођење: Anak Kembar Pertama
2504/8 <192> 6. RA. Sosrokusumo [Ba'abud]
Рођење: Anak Kembar Ke 2
2525/8 <194> 1. RM. Kyai Gede Gumelem Kaliajir [Cakraatmaja]
Рођење: di Gumelem - Kaliajir
2136/8 <145+91> # 1. RM. Muhammad Ngarip (Diponegoro Anom) (Pangeran Abdul Majid) [Hamengku Buwono]
Рођење: 1803
== Raden Mas Muhammad Ngarip/Raden Antawirya II / Diponegoro Anom/Diponegoro II/Kanjeng Pangeran Haryo Diponegoro II /Pangeran Abdul Majid. ==


Lahir pada tahun 1803. Dilihat dari tahun kelahirannya maka dapat dipastikan sebagai anak dari ibu Raden Ayu Madubrongto. Ketika perang Diponegoro dimulai dia telah berusia 22 tahun dan selalu setia menjadi pembela ayahnya. Sebagai putera tertua dan memiliki kesamaan pandangan dengan ayahnya maka dia dengan ikhlas mengangkat senjata mendampingi ayahnya. Nama bayinya adalah Raden Mas Muhammad Ngarip, dan kelak nama itu dia gunakan lagi ketika berada di wilayah sumenep dengan sedikit perubahan yaitu Raden Mas Mantri Muhammad Ngarip. Nama ini dia gunakan selama dalam pembuangan di Sumenep Madura. Dialah yang menulis buku Babad Diponegoro Suryongalam. Ketika menginjak dewasa dan ayahnya telah menggunakan nama Diponegoro, dia mendapatkan gelar nama yang sama yaitu Ontowiryo II dan selanjutnya menggunakan nama Diponegoro II atau Diponegoro Anom ketika ayahnya diangkat oleh rakyat menjadi Sultan Abdul Hamid. Nama tersebut diberikan sendiri oleh Pangeran Diponegoro sebagai tanda bahwa putera kesangannya inilah kelak yang akan melanjutkan cita-citanya. Memang dia hanya dari isteri samping, tetapi keindahan budi pekerti ibunya membuat Pangeran Diponegoro sangat menyayangi anak sulungnya ini. Melihat usianya yang sudah mencapai 22 tahun pada saat perang Diponegoro dimulai, maka dapat dipastikan bahwa pada saat itu beliau sudah memiliki isteri dan memiliki beberapa anak. Kelak keturunan beliau yang lahir dan besar di tanah Jawa inilah yang akan menjadi generasi penerusnya sebagai pengganggu ketenteraman penjajah. Sejak awal peperangan, Diponegoro Anom diserahi untuk menjaga dan melawan penjajah di wilayah Bagelen ke Barat bersama beberapa orang pilihan Pangeran Diponegoro di antaranya Tumenggung Danupoyo. Taktik perang yang digunakan sama dengan ayahnya yaitu bergerilya dan berpindah-pindah. Area perjuangan Pangeran Diponegoro Anom ini mencapai wilayah Barat Banyumas, Temanggung dan Parakan. Di medan perang Diponegoro Anom ini sering bekerja sama dengan Pamannya Sentot Prawirodirjo dan adik tirinya Raden Mas Singlon atau Raden Mas Sodewo. Setelah menjalani pembuangan di Sumenep tahun 1834 lalu dibuang ke Ambon 1853.

Sebenarnya Pangeran Diponegoro berharap agar ibu dan anak-anaknya bisa bergabung dengannya di pembuangan, tetapi hal itu secara halus ditolak oleh Belanda dan sebagai gantinya Van den Bosch menijinkan anak-anaknya kembali ke Tegalrejo. Bahkan anak Pangeran Dipokusumo dan Pangeran Diponingrat diijinkan tinggal di dalam kraton. Selanjutnya Belanda melalui Kapten Roeps juga memenuhi permintaan Pangeran Diponegoro untuk membagikan pusaka warisan pada anak-anaknya yang terdiri dari keris dan tombak.
2147/8 <145+91> # 2. RM. Dipoatmaja RM. Dipokusuma (Pangeran Abdul Azis) [Hamengku Buwono]
Рођење: 1805
== R.M Dipoatmaja /R.M Dipokusumo /Pangeran Abdul Aziz (1805) ==


Adalah putera ke dua Pangeran Diponegoro yang lahir dari ibu Retno Madubrongto. Dia sudah cukup dewasa ketika perang dimulai, sehingga tidak menutup kemungkinan, dia meninggalkan anak dan isteri ketika menjalani pembuangan di Ambon. Semasa perang, RM. Dipoatmojo banyak bergerak di wilayah Pacitan dan Madiun. Peperangan dipimpin oleh Bupati Mas Tumenggung Joyokariyo, Mas Tumenggung Jimat dan Ahmad Aris, akan tetapi akhir Agustus 1825 daerah Pacitan berhasil dikuasai Belanda. Bupati Joyokariyo di pecat, sedang Tumenggung Jimat dan Ahmad Aris ditangkap yang nasibnya tidak diketahui. Sebagai bupati baru, diangkatlah oleh Belanda Mas Tumenggung Somodiwiryo, akan tetapi tidak lama bertahta sebab 9 Oktober 1825 diserbu oleh pasukan Madiun yang dipimpin oleh Raden Mas Dipoatmojo dan berhasil membunuh bupati baru tersebut. Namun akhirnya awal Desember 1825 seluruh pasukan Madiun di Pacitan berhasil dipecah belah oleh Belanda, hingga Pacitan sepenuhnya di kuasai Belanda.

Pada akhir perang Diponegoro, Raden Mas Dipoatmojo berada di Surakarta bersama keluarga kakek buyutnya dari garis ibu setelah pada tanggal 8 Januari 1830 tertangkap oleh pasukan Belanda lalu dibuang ke Ambon 1840.
2158/8 <145+90> # 3. Raden Suryaatmaja/Diponingrat ? [Hamengku Buwono]
Рођење: 1807проц
Raden Suryaatmaja / Diponingrat/ Pangeran Adipati Anom/Raden Mas Sudiro Kromo/Kanjeng Pangeran Adipati Diponegoro (1807).

Dilihat dari gelar yang digunakan yaitu Pangeran Adipati Anom bisa dipastikan bahwa dia adalah anak dari ibu Raden Ayu Retnokusumo yang sebelumnya bernama Raden Ajeng Supadmi (Diperkuat dengan adanya catatan dari Peter F Carey dam The Power Of Prophecy) . Pangeran Diponegoro menikah untuk yang kedua kalinya atas perintah dari ayahnya. Perintah ini secara langsung mempunyai arti bahwa Raden Ayu Retnokusumo adalah isteri utama atau isteri permaisuri yang direstui oleh kerajaan. Kemudian Raden Ayu Retnokusumolah yang mendampingi Pangeran Diponegoro dalam menghadiri acara-acara resmi di kerajaan. Ketika mengikuti jejak ayahnya di medan perang Suryaatmaja diangkat menjadi putra mahkota dengan gelar Pangeran Adipati Anom. Namun karena Belanda tidak mengakui keabsahan gelar Sultan yang disandang Pangeran Diponegoro maka nama itu dirubah oleh penjajah dengan nama Diponingrat. Menjalani pembuangan ke Ambon 1840.

Dalam catatan sejarah, Pangeran Adipati Anom Diponingrat pernah menikah dengan anak perempuan Raden Tumenggung Mertawijaya atau Raden Tumenggung Danukusumo II salah seorang senopati Pangeran Diponegoro di wilayah Remo Banyumas. Telah disebutkan sebelumnya bahwa Danukusumo II adalah dari trah Danurejan yang ikut bergabung dalam barisan perjuangan Pangeran Diponegoro
2189/8 <145+85> # 4. R.M Sodewo/ R.M.Singlon/ /KI Sodewo/Pangeran Alip ? (Demang Notodirjo) [Hamengku Buwono]
Рођење: 1810
== Pangeran Alip / R.M.Singlon/ R.M Sodewo / Ki Sodewo/Demang Notodirjo ==

Awal tahun 1810 Pangeran Diponegoro melakukan perjalanan ke wilayah Madiun atas pesan almarhum nenek buyutnya yaitu Ratu Ageng untuk selalu menjalin hubungan tali silaturahim. Di sanalah Pangeran Diponegoro menikah dengan Raden Ayu Citrowati. Belum sempat diperkenalkan dengan keluarga di Jogja, Raden Ayu Citrowati meninggal dalam kerusuhan di Madiun setelah dia melahirkan putera Pangeran Diponegoro. Bayi tersebut kemudian dibawa oleh sahabat Pangeran Diponegoro yang bernama Tembi menyusul ke tempat Pangeran Diponegoro bertapa di gua Cerme sekitar Bantul. Menurut Ki Tembi bayi tersebut telah diberi nama Alip. Pada saat itu tidak mungkin Pangeran Diponegoro membawa bayi tersebut pulang ke Tegalrejo karena tidak ada pengasuh di sana karena isteri tertuanya juga tengah mengasuh bayi, begitu juga dengan isteri ketiganya. Sedangakn isteri keduanya yang dari trah ningrat memiliki tabiat yang kurang berkenan di hati Pengeran Diponegoro dan lebih banyak tinggal di istana. Atas permintaan Pangeran Diponegoro anak tersebut dititipkan kepada Ki Tembi untuk diasuh dan dibesarkan. Agar tidak diketahui oleh siapa-siapa Ki Tembi disuruh memberi nama singlon. Singlon artinya samaran atau sembunyi (hiden). Bayi yang baru beberapa minggu lahir dan ditinggal mati oleh ibunya ini perlu disembuyikan karena Pangeran Diponegoro mempunyai firasat bahwa anak tersebut kelak akan menjadi musuh besar Belanda, maka perlu disembuyikan. Perintah kepada Ki Tembi adalah : ”Jenengono singlon ben ora konangan Londo (berilah nama samaran agar tidak ketahuan Belanda)” sehingga dia disebut Raden Mas Singlon. Jadi nama Singlon sendiri sebenarnya bukan nama resmi, tetapi nama panggilan. Bisa jadi ini karena kesalahpahaman Ki Tembi ketika diberi perintah oleh Pangeran Diponegoro agar memberi nama singlon yang maksudnya adalah nama samaran tetapi singlon malah dijadikan nama panggilan sehingga jadilah nama Raden Mas Singlon atau Bagus Singlon. Sebutan Sodewo diberikan oleh Pangeran Diponegoro karena Raden Mas Singlon berperang laksono dewo atau bagaikan dewa. Jadi Sodewo adalah singkatan dari kata laksono dewo. Gelar Raden Mas ditanggalkan oleh Ki Sodewo dalam penyamaran dan lebih banyak dipanggil Ki (panggilan untuk laki-laki yang dihormati), agar gerak-geriknya tidak diawasi oleh Belanda. Di wilayah Banyumas nama R.M Singlon atau Ki Sodewo juga tidak dikenal masyarakat, tetapi di sana lebih dikenal dengan sebutan Notodirjo. Nama Notodirjo pernah dipakai oleh Raden Abdul Kamil Alibasah yaitu kakak Sentot Prawirodirjo. Raden Abdul Kamil Alibasah atau Tumenggung Notodirjo adalah suami pertama Raden Ayu Impun puteri Pangeran Diponegoro. Setelah Raden Basah Abdul Kamil gugur dalam pertempuran, Raden Ayu Basah dinikahi oleh Tumenggung Mertonegoro yang kemudian bergelar Raden Basah Abdul Kamil II dan biasa disebut dengan Basah Mertonegoro, sehingga nama puteri Pangeran Diponegoro ini sering dikenal dengan nama Raden Ayu Basah Mertonegoro. Nama Notodirjo sendiri lalu digunakan oleh R.M Singlon sekaligus menggantikan Notodirjo sebelumnya dalam peperangan.

Raden Mas Singlon meninggal dalam peperangan sekitar tahun 1860, setelah dijebak oleh saudara seperguruannya Ki Wrekso Sosrobahu. Kepala Ki Sodewo di penggal dan dibawa ke sebuah bukit di Kaliagung sedangkan tubuhnya di hanyutkan di sungai Serang. Sehari kemudian tubuhnya di temukan oleh seorang pedagang dan di makamkan di sebelah barat pasar Wates. Kini kepala dan jasad tubuh Ki Sodewo telah disatukan dan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum di Sideman, Wates Kulon Progo. Tubuhnya menyatu dalam kedamaian dengan bumi yang dibelanya sampai mati. Tubuhnya menyatu dengan bumi menoreh, sebuah tempat di mana ayahnya pernah dilantik sebagai seorang sultan oleh pengikutnya. Tubuhnya larut dan di bumi para pahlawan di Bumi Menoreh, Kulon Progo.
RM. JONET DIPOMENGGOLO putra Pangeran Diponegoro, foto: Ilustrasi
RM. JONET DIPOMENGGOLO putra Pangeran Diponegoro, foto: Ilustrasi
21910/8 <145+86> # Kanjeng Pangeran Haryo Dipokusumo [Hb.3.1.3] / Raden Mas Dipoatmaja [Hamengku Buwono III]
Рођење: 1815
Смрт: 1837, Yogyakarta, dimakamkan di Bogor (Versi 'Peter Carey')
Смрт: 1885, Bogor, dimakamkan di Bogor (Versi Keluarga)
== R.M Dipoatmaja /R.M Dipokusumo /Pangeran Abdul Aziz (1805) ==


Adalah putera ke dua Pangeran Diponegoro yang lahir dari ibu Retno Madubrongto. Dia sudah cukup dewasa ketika perang dimulai, sehingga tidak menutup kemungkinan, dia meninggalkan anak dan isteri ketika menjalani pembuangan di Ambon. Semasa perang, RM. Dipoatmojo banyak bergerak di wilayah Pacitan dan Madiun. Peperangan dipimpin oleh Bupati Mas Tumenggung Joyokariyo, Mas Tumenggung Jimat dan Ahmad Aris, akan tetapi akhir Agustus 1825 daerah Pacitan berhasil dikuasai Belanda. Bupati Joyokariyo di pecat, sedang Tumenggung Jimat dan Ahmad Aris ditangkap yang nasibnya tidak diketahui. Sebagai bupati baru, diangkatlah oleh Belanda Mas Tumenggung Somodiwiryo, akan tetapi tidak lama bertahta sebab 9 Oktober 1825 diserbu oleh pasukan Madiun yang dipimpin oleh Raden Mas Dipoatmojo dan berhasil membunuh bupati baru tersebut. Namun akhirnya awal Desember 1825 seluruh pasukan Madiun di Pacitan berhasil dipecah belah oleh Belanda, hingga Pacitan sepenuhnya di kuasai Belanda.

Pada akhir perang Diponegoro, Raden Mas Dipoatmojo berada di Surakarta bersama keluarga kakek buyutnya dari garis ibu setelah pada tanggal 8 Januari 1830 tertangkap oleh pasukan Belanda lalu dibuang ke Ambon 1840.
22011/8 <145+152!> # 6. RM. Roub /rm. Raab (Pangeran Hasan) [Hamengku Buwono]
Рођење: 1816, Solo
== Raden Mas Roub/Raib/Raab/Pangeran Hasan 1816 ==


Adalah adik kandung Raden Mas Joned. Usianya sekitar sembilan tahun ketika mengikuti ayahnya dalam medan perang. Bersama kakaknya dia ikut merasakan bagaimana kehidupan dalam pengungsian. Raden Mas Roub selalu mengikuti perjalanan ayahnya dalam medan perang. Selain karena putera dari isteri permaisuri kedua, Pangeran Diponegoro menyiapkan Raden Mas Roub agar kelak sebagai seorang pemimpin agama.

Sampai di sini dapat dijelaskan bahwa ada 4 (empat) putera Pangeran Diponegoro yang dibuang ke Ambon. Pada buku The Power of Prophecy tulisan Peter F Carey halaman 746 dijelaskan bahwa pada akhir tahun 1848 Pangeran Diponegoro menanyakan kepada gubernur jenderal di Makassar perihal tiga anaknya yaitu Pangeran Dipokusumo, Raden Mas Raib serta Pangeran Diponingrat yang diberitakan mengalami sakit tekanan jiwa. Pangeran Diponegoro juga menanyakan anaknya yang tertua yang mengalami pembuangan di Sumenep pada tahun 1834 setelah memberontak di Kedu, dan belum pernah berkirim kabar.
20712/8 <146+100> # Sri Sultan Hamengku Buwono V / Gusti Raden Mas Gathot Menol [Hb.4.6] (Pangeran Mangkubumi) [Hamengku Buwono IV]
Nama asli Sri Sultan Hamengkubuwana V adalah Raden Mas Gathot Menol, putra Hamengkubuwana IV yang lahir pada tanggal 24 januari 1820. Sewaktu dewasa ia bergelar Pangeran Mangkubumi. Ia juga pernah mendapat pangkat Letnan Kolonel tahun 1839 dan Kolonel tahun 1847 dari pemerintah Hindia Belanda. Melihat tahun pemerintahannya dimulai tahun 1823 sedang lahirnya adalah tahun 1820 maka Sultan Hamengku Buwono V waktu permulaan bertahta berumur 3 (dua) tahun.

Hamengkubuwana V sendiri mendekatkan hubungan Keraton Yogyakarta dengan pemerintahan Hindia-Belanda yang berada di bawah Kerajaan Belanda, untuk melakukan taktik perang pasif, dimana ia menginginkan perlawanan tanpa pertumpahan darah. Sri Sultan Hamengkubuwana V mengharapkan dengan dekatnya pihak keraton Yogyakarta dengan pemerintahan Belanda akan ada kerjasama yang saling menguntungkan antara pihak keraton dan Belanda, sehingga kesejahteraan dan keamanan rakyat Yogyakarta dapat terpelihara.

Kebijakan Hamengkubuwana V tersebut ditanggapi dengan tentangan oleh beberapa kanjeng abdi dalem dan adik Sultan HB V sendiri, yaitu Raden Mas mustojo (nantinya Hamengkubuwana VI). Mereka menganggap tindakan Sultan HB V adalah tindakan yang mempermalukan Keraton Yogyakarta sebagai pengecut, sehingga dukungan terhadap Sultan Hamengkubuwana V pun berkurang dan banyak yang memihak adik sultan untuk menggantikan Sultan dengan Raden mas mustojo Keadaan semakin menguntungkan Raden Mas mustojo setelah ia berhasil mempersunting putri Kesultanan Brunai dan menjalin ikatan persaudaraan dengan Kesultanan Brunai. Kekuasaan Sultan Hamengkubuwana V semakin terpojok setelah timbul konflik di dalam tubuh keraton yang melibatkan istri ke-5 Sultan sendiri, Kanjeng Mas Hemawati. Sri Sultan Hamengkubuwana V hanya mendapatkan dukungan dari rakyat yang merasakan pemerintahan yang aman dan tenteram selama masa pemerintahannya.

Sri Sultan Hamengkubuwana V wafat pada tahun 1855 dalam sebuah peristiwa yang hanya sedikit diketahui orang, peristiwa itu dikenal dengan wereng saketi tresno ("wafat oleh yang dicinta"), Sri Sultan meninggal setelah ditikam oleh istri ke-5-nya, yaitu Kanjeng Mas Hemawati, yang sampai sekarang tidak diketahui apa penyebab istrinya berani membunuh Sri Sultan suaminya.

Tidak lama setelah Sultan Hamengkubuwana V meninggal, tiga bulan kemudian permaisuri Sri Sultan Hamengkubuwana V pun meninggal setelah jatuh sakit semenjak suaminya meninggal dan sultan digantikan oleh adiknya raden mas Mustojo.
20813/8 <146+100> # Sri Sultan Hamengku Buwono VI / Gusti Raden Mas Mustojo [Hb.4.12] [Hamengku Buwono IV]
24814/8 <192> 4. RM. Haryo Madyowijoyo / Muhammad Irfan Ba'abud Madyowijoyo [Ba'abud]
Рођење: 1827
Смрт: 1902
22715/8 <145+86> # 13. RM. Kindar/Pangeran Abdurrahman [Hamengku Buwono]
Рођење: 1832
21216/8 <155> # Gusti Kanjeng Ratu Sekar Kedhaton [Hb.3.2.22] / Bendoro Raden Ayu Andaliya [Gp.Hb.5.2] [Hamengku Buwono III]
22817/8 <145+86> # 14. RM. Sarkuma [Hamengku Buwono]
Рођење: 1834
Смрт: 1849
22918/8 <145+86> # 15. R.M Mutawaridin/Pangeran Abdurrahim [Hamengku Buwono]
Рођење: 1835
23019/8 <145+86> # 16. R.A Putri Munadima/R.A Setiokusumo [Hamengku Buwono]
Рођење: 1836
23120/8 <145+86> # 17. R.M Dulkabli/Pangeran Abdulgani [Hamengku Buwono]
Рођење: 1836
23221/8 <145+86> # 18. R.M Rajab/Abdulrajab/Pangeran Abdulrajak [Hamengku Buwono]
Рођење: > 1836
23322/8 <145+86> # 19. R.M Ramaji/Pangeran Abdulgafur [Hamengku Buwono]
Рођење: > 1836
20923/8 <149> Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam VI / Kanjeng Gusti Pangeran Notokusumo [Pakualaman]
Рођење: 9 април 1856
Титуле : 11 април 1901, Yogyakarta
Смрт: 9 јун 1902, Kulon Progo
21024/8 <150> # R. Pangulu Kamaludiningrat [Hamengku Buwono]
Official Link. Adm: Ir H Hilal Achmar.

Sebagai pecahan kerajaan Islam Mataram, Keraton Yogyakarta mempunyai abdi dalem (pegawai) yang khusus mengurusi soal keagamaan. Pegawai khusus keagamaan ini disebut pegawai kepenguluan. Oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I, para pegawai kepenguluan diberi tempat khusus, yakni dekat Masjid Agung Kesultanan.

Kepenguluan berfungsi sebagai lembaga yang mengurusi keagamaan sekaligus berfungsi semacam Dewan Daerah. Kepenguluan dipimpin oleh seorang dengan jabatan penghulu. Semua petugas di bawah pimpinan penghulu ini sering disebut sebagai abdi dalem putihan, yakni orang-orang yang ahli dalam agama. Khusus masalah kemasjidan, tetap dibawah koordinasi penghulu dengan dibantu oleh ketib (khatib) yang terdiri dari sembilan. Semua khatib berfungsi sederajat, sebagai imam shalat dan pengajar agama kecuali khatib anom, jabatan wakil penghulu yang berfungsi menggantikan jabatan penghulu suatu saat bila penghulu wafat.

Oleh pihak Kraton, para abdi dalem Kepenguluan ini diberi tanah `gaduhan'. Semacam tanah tinggal dinas yang berlokasi di dekat Masjid Agung. Oleh Kraton, tanah perkampungan para abdi dalem putihan dan para pegawai keagamaan didekat masjid inilah yang kemudian dijuluki dengan sebutan pakauman, diambil dari kata Qoimuddin (orang yang menjalankan agama). Belakangan, nama pakauman lebih dikenal dengan sebutan Kauman.

Para khatib itu kemudian mendirikan pusat kegiatan pendidikan keagamaan bernama langgar (mushola). Setiap khatib memiliki satu langgar. Langgar para khatib inilah yang menyelenggarakan berbagai bentuk keagamaan seperti pengajian.
21125/8 <151+104> Raden Ayu Gondokusumo [Hb.3.10.2] / Raden Ayu Surodiningrat [Hamengku Buwono III]
21626/8 <153+103> R. M. T. A. Tjokroadisoerjo [?]
21727/8 <150> # R. Ay. Imanadi [Hamengku Buwono]
Official Link. Adm: Ir H Hilal Achmar Suaminya bernama KH Imanadi
22128/8 <145+89> # 7. RA. Impun/R.A. Basah Mertonegoro [Hamengku Buwono]
== R.A Impun/R.A. Basah Mertonegoro ==

Raden Ayu Impun adalah puteri Pangeran Diponegoro dengan Raden Ayu Retnodewati. Ketika perang Diponegoro mulai pecah, Raden Ayu Impun dinikahkan dengan kakak Sentot Prawiro Dirjo yang bernama Raden Abdul Kamil Alibasyah yang juga merupakan pejuang Pangeran Diponegoro yang bertugas bergerilya di wilayah Barat Sungai Progo. Raden Abdul Kamil Alibasyah kemudian diberikan gelar Notodirjo dan diberikan kedudukan setingkat tumenggung dan biasa dipanggil raden Basah.

Setelah Raden Abdul Kamil tewas dalam peperangan, kemudian dinikahi oleh Tumenggung Mertonegoro atau Jayapermadi anak laki-laki tertua Patih Danurejo II sehingga terkenal dengan nama Raden Ayu Basah Mertonegoro.
22229/8 <145+90> # 8. R.A Joyokusumo [Hamengku Buwono]
== R.A. Joyokusumo ==


Nama sebenarnya tidak diketahui dan tidak pernah tersurat dalam Babad Diponegoro. R.M.Joyokusumo adalah anak Raden Ngabehi Joyokusumo, paman Pangeran Diponegoro. Raden Ngabehi Joyokusumo adalah salah satu pengatur strategi perang. Baik Raden Ngabehi Joyokusumo maupun Raden Mas Joyokusumo tewas di tangan Belanda pada pertempuran di tepi sungai Bogowonto di dusun Sengir.

Atas permintaan Pangeran Diponegoro melalui surat yang ditulis bulan Mei 1830 di Batavia, R.A Joyokusumo dinikahkan dengan Basah Gondokusumo, adik Basah Mertonegoro. Surat tersebut ditujukan kepada Diponegoro Anom. Dalam surat tersebut Pangeran Diponegoro menyarankan apabila ada masalah agar mengadu pada Kapten Johan Jacob Roeps. Dalam surat tersebut Pangeran Diponegoro menuliskan bahwa dia menaruh kepercayaan besar pada kapten Roeps berkaitan dengan nasib anak-anaknya.
22330/8 <145+89> # 9. RA. Munteng/R.A Gusti/RA. Siti Fadilah/Nyai Musa [Hamengku Buwono]
== R.A Munteng/R.A Gusti/RA. Siti Fadilah/Nyai Musa ==


Dalam sebuah penyergapan Belanda di Kreteg daerah Kedu Utara Ibu Pangeran Diponegoro tertangkap bersama RA. Gusti. Mereka terpisah dari rombongan ketika perang di Bagelen. Kedunya lalu diserahkan ke Kasultanan Yogyakarta dan menjalani kehidupan di kraton. Dalam perjalanan terpisah dari rombongan itu mereka mendapat bantuan dari Kyai Setrodrono ayah Kyai Musa seorang ulama di wilayah Merden yang masih keturunan dari keluarga besar Danurejan.
22431/8 <145+88> # 10. RA. Herjuminten [Hamengku Buwono]
22532/8 <145+88> # 11. RA. Herjumerot [Hamengku Buwono]
23433/8 <145+86> # Raden Ayu Mangkukusumo II [Hb.3.1.2] [Hamengku Buwono III]
23534/8 <145+87> # Raden Ayu Padmodipuro [Hb.3.1.4] [Hamengku Buwono III]
23635/8 <145+86> # Raden Ayu Poncokusumo [Hb.3.1.8] [Hamengku Buwono III]
23836/8 <148> Kanjeng Pangeran Haryo Suryaningrat [Pakualaman]
23937/8 <149> Kanjeng Gusti Pangeran Notodirojo [Pakualaman]
24038/8 <149> Kanjeng Pangeran Adipati Anom Kusumoyudo [Pakualaman]
24139/8 <165> Kanjeng Raden Tumenggung Purwodiningrat [Hb.3.14.3] [Hamengku Buwono III] 24240/8 <179> Gusti Kanjeng Ratu Kencana [Gp.Hb.7.1] [Sentot Alibasa] 24341/8 <180+123> Gusti Kanjeng Ratu Chondrokirono II [Hamengku Buwono VII] 24442/8 <175> Raden Mas Prawirodeksono [Hb.3.28.11] / Raden Bagus Notodeksono I [Hamengku Buwono III]
24543/8 <192+?> 1. RM. Haryo Wongsodipuro [Ba'abud]
24644/8 <192> 2. RA. Ali Alatas [Ba'abud]
24745/8 <192> 3. RM. Haryo Kusumoatmojo [Ba'abud]
25146/8 <193+?> Mas Ayu Loano [Ba'abud]
25347/8 <194> 2. RM. Kyai Muh. Idris [Cakraatmaja]
25448/8 <194> 3. Nyi RAy. Abas [Cakraatmaja]
25549/8 <194> 4. RM. Kyai Muhammad Musa [Cakraatmaja] 25650/8 <153> RA. Djojoatmojo [Hamengku Buwono]
25751/8 <145+86> Kanjeng Pangeran Adipati Dipaningrat [Hb.3.1.1] [Hamengku Buwono III]
25852/8 <145+86> Kanjeng Pangeran Haryo Diponegoro I [Hb.3.1.5] [Hamengku Buwono III]
25953/8 <155> Raden Ayu Glenter [Hb.3.2.1] [Hamengku Buwono III]
26054/8 <155> Raden Mas Santog [Hb.3.2.2] [Hamengku Buwono III]
26155/8 <155> Raden Mas Suryonegoro [Hb.3.2.3] [Hamengku Buwono III]
26256/8 <155> Raden Ayu Bahusosro [Hb.3.2.4] [Hamengku Buwono III]
26357/8 <155> Raden Ayu Basah Prawirokusumo [Hb.3.2.5] [Hamengku Buwono III]
26458/8 <155> Raden Ayu Diponegoro [Hb.3.2.6] [Hamengku Buwono III]
26559/8 <155> Kanjeng Pangeran Haryo Basah Abdul Fatah Kusumonegoro [Hb.3.2.7] [Hamengku Buwono III]
26660/8 <155> Raden Ayu Pusponegoro [Hb.3.2.8] [Hamengku Buwono III]
26761/8 <155> Raden Mas Rio Suryotaruno [Hb.3.2.9] [Hamengku Buwono III]
26862/8 <155> Raden Mas Lurah [Hb.3.2.10] [Hamengku Buwono III]
26963/8 <155> Raden Mas Rio Suryoatmojo [Hb.3.2.11] [Hamengku Buwono III]
27064/8 <155> Raden Ayu Sentotprawirodirjo [Hb.3.2.12] [Hamengku Buwono III] 27165/8 <155> Kanjeng Raden Tumenggung Kusumonegoro [Hb.3.2.13] [Hamengku Buwono III]
27266/8 <155> Raden Ajeng Berek [Hb.3.2.14] [Hamengku Buwono III]
27367/8 <155> Raden Mas Rio Kusumowijoyo [Hb.3.2.15] [Hamengku Buwono III]
27468/8 <155> Raden Ayu Glentok [Hb.3.2.16] [Hamengku Buwono III]
27569/8 <155> Raden Ayu Menik [Hb.3.2.17] [Hamengku Buwono III]
27670/8 <155> Raden Ayu Jogoharjo [Hb.3.2.18] [Hamengku Buwono III]
27771/8 <155> Raden Ayu Sabit [Hb.3.2.19] [Hamengku Buwono III]
27872/8 <155> Raden Mas Danuwiryo [Hb.3.2.20] [Hamengku Buwono III]
27973/8 <155> Raden Mas Tumenggung Kusumodiningrat [Hb.3.2.21] [Hamengku Buwono III]
28074/8 <155> Raden Mas Puspoasmoro [Hb.3.2.23] [Hamengku Buwono III]
28175/8 <155> Raden Ayu Projodirjo [Hb.3.2.24] [Hamengku Buwono III]
28276/8 <155> Raden Ayu Kusumodipuro [Hb.3.2.25] [Hamengku Buwono III]
28377/8 <155> Raden Mas Kusumodirejo [Hb.3.2.26] [Hamengku Buwono III]
28478/8 <155> Raden Ayu Mangunatmojo [Hb.3.2.27] [Hamengku Buwono III]
28579/8 <155> Raden Mas Joyosaputro [Hb.3.2.28] [Hamengku Buwono III]
28680/8 <155> Raden Mas Kusumodipuro [Hb.3.2.29] [Hamengku Buwono III]
28781/8 <155> Raden Mas Suro [Hb.3.2.30] [Hamengku Buwono III]
28882/8 <146+94> Bendoro Pangeran Haryo Suryonegoro [Hb.4.17] [Hamengku Buwono IV]
28983/8 <146+100> Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Hanom Hamengkunegoro [Hb.4.1] [Hamengku Buwono IV]
29084/8 <146+101> Bendoro Raden Mas Tritrustho [Hb.4.2] [Hamengku Buwono IV]
29185/8 <146+101> # Bendoro Raden Mas (No Name) [Hb.4.3] [Hamengku Buwono IV]
29286/8 <146+101> # Bendoro Raden Mas (No Name) [Hb.4.4] [Hamengku Buwono IV]
29387/8 <146+98> Bendoro Raden Ayu Danurejo [Hb.4.8] [Hamengku Buwono IV] 29488/8 <156> Kanjeng Pangeran Haryo Suryobronto [Hb.3.3.1] [Hamengku Buwono III]
29589/8 <156> Raden Ayu Dipokusumo [Hb.3.3.2] [Hamengku Buwono III]
29690/8 <156> Kanjeng Raden Tumenggung Poncokusumo [Hb.3.3.3] [Hamengku Buwono III]
29791/8 <156> Raden Mas Darsono [Hb.3.3.4] [Hamengku Buwono III]
29892/8 <156> Raden Ayu Danukusumo [Hb.3.3.5] [Hamengku Buwono III]
29993/8 <156> Raden Rio Purwokusumo [Hb.3.3.6] [Hamengku Buwono III]
30094/8 <156> Raden Ayu Notoatmojo [Hb.3.3.7] [Hamengku Buwono III]
30195/8 <157+112> Raden Ayu Rio Danukusumo [Hb.3.4.1] [Hamengku Buwono III]
30296/8 <157+112> Raden Ayu Resosentono [Hb.3.4.2] [Hamengku Buwono III]
30397/8 <157+112> Raden Ayu Adipati Danurejo [Hb.3.4.3] [Hamengku Buwono III] 30498/8 <157+112> Raden Ayu Reksonegoro [Hb.3.4.4] [Hamengku Buwono III]
30599/8 <157+112> Raden Mas Mertowijoyo [Hb.3.4.5] [Hamengku Buwono III]
306100/8 <157+112> Raden Mas Hakekat [Hb.3.4.6] [Hamengku Buwono III]
307101/8 <158+113> Raden Lurah Ronowinoto [Hb.3.5.1] [Hamengku Buwono III]
308102/8 <158+113> Raden Ayu Somonegoro [Hb.3.5.2] [Hamengku Buwono III]
309103/8 <158+113> Raden Ayu Joyoprayitno [Hb.3.5.3] [Hamengku Buwono III]
310104/8 <158+113> Raden Ayu Pekih Brahum [Hb.3.5.5] [Hamengku Buwono III]
311105/8 <158+113> Raden Ayu Prawirodilogo [Hb.3.5.6] [Hamengku Buwono III]
312106/8 <161> Raden Lurah Mangkudiprojo [Hb.3.8.1] [Hamengku Buwono III]
313107/8 <151+104> Raden Ayu Cokrodiwiryo [Hb.3.10.1] [Hamengku Buwono III]
314108/8 <151+104> Raden Ayu Atmokusumo [Hb.3.10.3] [Hamengku Buwono III]
315109/8 <151+104> Raden Mas Mangunnegoro [Hb.3.10.4] [Hamengku Buwono III]
316110/8 <162+115> Raden Ayu Riyokusumo [Hb.3.12.1] [Hamengku Buwono III]
317111/8 <162+115> Raden Ayu Rio Prawiroatmojo [Hb.3.12.2] [Hamengku Buwono III]
318112/8 <164> Raden Ayu Sosrokusumo [Hb.3.13.1] [Hamengku Buwono III]
319113/8 <164> Raden Mas Puspohadisosro [Hb.3.13.2] [Hamengku Buwono III]
320114/8 <165> Raden Ayu Sindunegoro [Hb.3.14.1] [Hamengku Buwono III]
321115/8 <165> Raden Ayu Mangkuwinoto [Hb.3.14.2] [Hamengku Buwono III]
322116/8 <165> Kanjeng Raden Tumenggung Sosromenduro [Hb.3.14.4] [Hamengku Buwono III]
323117/8 <165> Raden Bagus Mangkurejo [Hb.3.14.5] [Hamengku Buwono III]
324118/8 <165> Raden Ayu Danudimejo [Hb.3.14.6] [Hamengku Buwono III]
325119/8 <165> Raden Lurah Kertoatmojo [Hb.3.14.7] [Hamengku Buwono III]
326120/8 <166+116> Raden Ayu Sindudiprojo [Hb.3.15.1] [Hamengku Buwono III]
327121/8 <166+116> Raden Mas Notowijoyo [Hb.3.15.2] [Hamengku Buwono III]
328122/8 <168> Raden Ayu Gondowedoyo [Hb.3.17.1] [Hamengku Buwono III]
329123/8 <168> Raden Rio Notoatmojo [Hb.3.17.2] [Hamengku Buwono III]
330124/8 <168> Raden Ayu Manyar [Hb.3.17.3] [Hamengku Buwono III]
331125/8 <171+120> Raden Ayu Suryonegoro [Hb.3.20.1] [Hamengku Buwono III]
332126/8 <171+120> Raden Rio Joyowinoto [Hb.3.20.2] [Hamengku Buwono III]
333127/8 <171+120> Raden Mas Atmowinoto [Hb.3.20.3] [Hamengku Buwono III]
334128/8 <171+120> Raden Mas Yudowinoto [Hb.3.20.4] [Hamengku Buwono III]
335129/8 <173> Raden Lurah Sumodipuro [Hb.3.22.1] [Hamengku Buwono III]
336130/8 <173+121> Raden Bagus Sumoatmojo [Hb.3.22.2] [Hamengku Buwono III]
337131/8 <203+124> Raden Mas Ambiyo [Hb.3.29.1] [Hamengku Buwono III]
338132/8 <203+124> Raden Mas Koci [Hb.3.29.2] [Hamengku Buwono III]
339133/8 <204+125> Raden Lurah Mangkupermadi [Hb.3.30.1] [Hamengku Buwono III]
340134/8 <205+126> Raden Ayu Tirtoatmojo [Hb.3.31.1] [Hamengku Buwono III]
341135/8 <205+126> Raden Ayu Somodimejo [Hb.3.31.2] [Hamengku Buwono III]
342136/8 <205+126> Raden Ayu Joyowirono [Hb.3.31.3] [Hamengku Buwono III]
343137/8 <205+126> Raden Mas Kadiran [Hb.3.31.4] [Hamengku Buwono III]
344138/8 <206+127> Kanjeng Raden Tumenggung Wiryokusumo [Hb.3.32.1] [Hamengku Buwono III]
345139/8 <206+127> Raden Ayu Brojoatmojo [Hb.3.32.2] [Hamengku Buwono III]
346140/8 <206+127> Raden Ngabehi Dipowedono [Hb.3.32.3] [Hamengku Buwono III]
347141/8 <206+127> Raden Panji Sutomenggolo [Hb.3.32.4] [Hamengku Buwono III]
348142/8 <206+127> Raden Bagus Prawiroatmojo [Hb.3.32.5] [Hamengku Buwono III]
349143/8 <170+119> Raden Ayu Sosrowinoto [Hb.3.19.1] [Hamengku Buwono III]
350144/8 <170+119> Raden Bagus Mangunsuro Wibowo [Hb.3.19.2] [Hamengku Buwono III]
351145/8 <170+119> Bendoro Raden Ayu Susilowaty [Hb.3.19.3] [Hamengku Buwono III]
352146/8 <146+101> Bendoro Raden Mas Sunadi [Hb.4.7] [Hamengku Buwono IV]
353147/8 <146+97> Bendoro Raden Ayu Nitinegoro [Hb.4.9] [Hamengku Buwono IV] 354148/8 <146+92> Bendoro Pangeran Haryo Suryodinigrat [Hb.4.10] / Bendoro Pangeran Hangabehi [Hamengku Buwono IV]
355149/8 <146+96> Bendoro Raden Ayu Mutoinah [Hb.4.15] [Hamengku Buwono IV]
356150/8 <146+98> Bendoro Raden Mas Samadikun [Hb.4.18] [Hamengku Buwono IV]
357151/8 <146+94> Bendoro Pangeran Haryo Maloyokusumo [Hb.4.17] [Hamengku Buwono IV]
358152/8 <146+94> Bendoro Raden Mas Pringadi [Hb.4.16] [Hamengku Buwono IV]
359153/8 <146+96> Bendoro Raden Ayu Jayaningrat [Hb.4.11] [Hamengku Buwono IV] 360154/8 <146+99> Bendoro Raden Ayu Gusti Maduretno [Hb.4.5] [Hamengku Buwono IV] 361155/8 <146+100> Gusti Kanjeng Ratu Sekar Kedhaton [Hb.4.14] [Hamengku Buwono IV]
362156/8 <172> Raden Ayu Mangun Broto [Hb.3.25.1] [Hamengku Buwono III]
363157/8 <172> Raden Ayu Joyopertomo [Hb.3.25.2] [Hamengku Buwono III]
364158/8 <172> Raden Rio Prawirodiningrat [Hb.3.25.3] [Hamengku Buwono III]
365159/8 <172> Raden Mas Ngusman [Hb.3.25.4] [Hamengku Buwono III]
366160/8 <172> Raden Ayu Brotoprawiro [Hb.3.25.5] [Hamengku Buwono III]
367161/8 <172> Raden Ayu Brotoatmojo [Hb.3.25.6] [Hamengku Buwono III]
368162/8 <172> Raden Ayu Riyokusumo [Hb.3.25.7] [Hamengku Buwono III]
369163/8 <172> Raden Mas Salim [[Hb.3.25.8] [Hamengku Buwono III]
370164/8 <172> Raden Ayu Suratinah [Hb.3.25.9] [Hamengku Buwono III]
371165/8 <172> Raden Mas Surojo [Hb.3.25.10] [Hamengku Buwono III]
372166/8 <172> Raden Ajeng Surati [Hb.3.25.11] [Hamengku Buwono III]
373167/8 <172> Raden Ajeng Satinah [Hb.3.25.12] [Hamengku Buwono III]
374168/8 <172> Raden Mas Salikin [Hb.3.25.13] [Hamengku Buwono III]
375169/8 <172> Raden Ajeng Asiyah [Hb.3.25.14] [Hamengku Buwono III]
376170/8 <172> Raden Ajeng Satijah [Hb.3.25.15] [Hamengku Buwono III]
377171/8 <201> Raden Rio Purwodipuro [Hb.3.26.1] [Hamengku Buwono III]
378172/8 <201> Raden Ayu Mangkudilogo [Hb.3.26.2] [Hamengku Buwono III]
379173/8 <201> Raden Mas Setap [Hb.3.26.3] [Hamengku Buwono III]
380174/8 <201> Raden Mas Karjan [Hb.3.26.4] [Hamengku Buwono III]
381175/8 <201> Raden Ayu Murtejaningrum [Hb.3.26.5] [Hamengku Buwono III]
382176/8 <201> Raden Mas Agung [Hb.3.26.6] [Hamengku Buwono III]
383177/8 <202> Raden Rio Suryadi [Hb.3.27.1] [Hamengku Buwono III]
384178/8 <202> Raden Ayu Prawiroatmojo [Hb.3.27.2] [Hamengku Buwono III]
385179/8 <202> Raden Ayu Suronegoro [Hb.3.27.3] [Hamengku Buwono III]
386180/8 <202> Raden Ayu Honggowongso [Hb.3.27.4] [Hamengku Buwono III]
387181/8 <202> Raden Ayu Kusumowinoto [Hb.3.27.5] [Hamengku Buwono III]
388182/8 <202> Raden Ayu Sastrowijoyo [Hb.3.27.6] [Hamengku Buwono III]
389183/8 <202> Raden Ayu Notohamiprojo [Hb.3.27.7] [Hamengku Buwono III]
390184/8 <202> Raden Ajeng Saparinah [Hb.3.27.8] [Hamengku Buwono III]
391185/8 <175> Raden Ayu Danupernoto [Hb.3.28.1] [Hamengku Buwono III]
392186/8 <175> Raden Ayu Puspodirojo [Hb.3.28.2] [Hamengku Buwono III]
393187/8 <175> Raden Ayu Pusposenjoyo [Hb.3.28.3] [Hamengku Buwono III]
394188/8 <175> Raden Ayu Tirtodimejo [Hb.3.28.4] [Hamengku Buwono III]
395189/8 <175> Raden Ayu Joyowinoto [Hb.3.28.5] [Hamengku Buwono III]
396190/8 <175> Raden Ayu Prawirowecono [Hb.3.28.6] [Hamengku Buwono III]
397191/8 <175> Raden Mas Pusporejuno [Hb.3.28.7] / Raden Rio Notobroto [Hamengku Buwono III]
398192/8 <175> Raden Ayu Mangunprawiro [Hb.3.28.8] [Hamengku Buwono III]
399193/8 <175> Raden Mas Notodilogo [Hb.3.28.9] [Hamengku Buwono III]
400194/8 <175> Raden Ayu Resowirono [Hb.3.28.10] [Hamengku Buwono III]
401195/8 <175> Raden Mas Kusumodilogo [Hb.3.28.12] [Hamengku Buwono III]
402196/8 <175> Raden Mas Sumarjo [Hb.3.28.13] / Raden Bagus Mangundigdo [Hamengku Buwono III]
403197/8 <175> Raden Ajeng Saparinah [Hb.3.28.14] [Hamengku Buwono III]
404198/8 <175> Raden Mas Murtijan [Hb.3.28.15] / Raden Mas Mukri [Hamengku Buwono III]
405199/8 <175> Raden Ajeng Soblem [Hb.3.28.16] [Hamengku Buwono III]
406200/8 <175> Raden Ajeng Katijah [Hb.3.28.17] [Hamengku Buwono III]
407201/8 <146+93> Bendoron Raden Ayu Suryoatmojo [Hb.4.13] [Hamengku Buwono IV]