Kyai Resoyuda - Индекс потомака

Из пројекта Родовид

Особа:762907
Generation of a large tree takes a lot of resources of our web server. Anonymous users can only see 7 generations of ancestors and 7 - of descendants on the full tree to decrease server loading by search engines. If you wish to see a full tree without registration, add text ?showfulltree=yes directly to the end of URL of this page. Please, don't use direct link to a full tree anywhere else.
11/1 <?> Kyai Resoyuda [Brawijaya]

2

21/2 <1> Ngabehi Hondoroko [Brawijaya]

3

31/3 <2> Mas Ayu Tejawati [Brawijaya]

4

41/4 <3+?> # 15. Pangeran Hario Mangkubumi Hamengku Buwono I [Hamengku Buwono]
Рођење: 6 август 1717
Свадба: <1> Bendoro Mas Ayu Gandasari [?]
Свадба: <2> Bendoro Raden Ayu Srenggono / Bendoro Raden Ayu Srenggorowati [Hamengku Buwono]
Свадба: <3> Bendoro Radin Ayu Daya Asmara [?]
Свадба: <4> Bandara Raden Ayu Ratna Puryawati [?]
Свадба: <5> Bendoro Mas Ayu Turunsi [?]
Свадба: <6> Bendoro Mas Ayu Karnakawati [?]
Свадба: <7> Bendoro Mas Ayu Setiawati [?]
Свадба: <8> Bendoro Mas Ayu Citrakusumo [?]
Свадба:
Свадба: <9> Bendoro Mas Ayu Pakuwati [?]
Свадба: <10> Bendoro Mas Ayu Sari [?]
Свадба: <11> Bendoro Mas Ayu Padmasari [?]
Свадба: <12> Bendoro Mas Ayu Tisnawati [?]
Свадба: <13> Bendoro Mas Ayu Cindoko [?]
Свадба: <14> GKR Kencono [Mataram]
Свадба: <15> GKR Kadipaten / GKR Ageng [Drepayuda]
Свадба: <16> Bendoro Mas Ayu Asmorowati [Hamengku Buwono]
Свадба: <14!> GKR Kencono [Mataram] , <17> BR Tiarso [Mataram] , <18> BMAy Sawerdi [Mataram] , <2!> Bendoro Raden Ayu Srenggono / Bendoro Raden Ayu Srenggorowati [Hamengku Buwono] , <19> Bendoro Raden Ayu Rongga Mangundirjo [Hamengku Buwono]
Свадба: <20> Bendoro Mas Ayu Tandawati [?]
Свадба: <17!> BR Tiarso [Mataram]
Свадба: <21> Bendoro Mas Ayu Ratnawati [?]
Свадба: <18!> BMAy Sawerdi [Mataram]
Свадба: <22> Bendoro Mas Ayu Wilopo [?]
Свадба: <23> Bendoro Raden Ayu Jumanten [?]
Свадба: <24> Bendoro Mas Ayu Mindoko [?]
Титуле : април 1755, Yogyakarta
Смрт: 24 март 1792
Official Link Adm: Hilal Achmar.

Silsilah Sri Sultan Hamengku Buwono I

Babad Raja-Raja Jawa (Tumapel) Tunggul Ametung Maesa Wong Ateleng Maesa Cempaka / Ratu Angabhaya / Batara Narasinga Kertarajasa Jayawardana / Raden Wijaya Tri Buwana Tungga Dewi / Bhre Kahuripan II Bhre Pajang I Wikramawardana / Hyang Wisesa / R Cagaksali Kertawijaya / Bhre Tumapel III Rajasawardana / Brawijaya II Lembu Amisani / R. Putro / R. Purwawisesa Bhre Tunjung / Pandanalas / R. Siwoyo Kertabumi / Brawijaya V / R Alit / Angkawijaya R Bondhan Kejawan / Lembupeteng Tarub R Depok / Ki Ageng Getas Pandowo Bagus Sunggam / Ki Ageng Selo Silsilah Hamengku Buwono I Ki Ageng Anis (Ngenis) Ki Ageng Pemanahan / Mataram R Sutowijoyo / Panembahan Senopati Panembahan Hadi Prabu Hanyokrowati Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo Sunan Prabu Amangkurat Agung Kanjeng Susuhunan Pakubuwono I - Kartasura Sinuwun Prabu Mangkurat IV - Kartasura Pangeran Hadipati Mangkunagoro - Kartasura Kanjeng Susuhunan Paku Buwono II Pangeran Hadipati Hadiwijoyo Pangeran Hario Mangkubumi - Hamengku Buwono I Kanjeng Sultan Hamengku Buwono II K G P Adipati Ario Paku Alam I

Beliau memerintah di Yogyakarta, tahun 1755. Terlahir dengan nama Raden Mas Sujono yang merupakan adik Kanjeng Susuhunan Paku Buwono II di Surakarta. Pada tahun 1746 ia memberontak karena Paku Buwono II mengingkari janji memberikan daerah Sukawati (sekarang Sragen) atas kemenangan Mangkubumi melawan Raden Mas Said. Pemberontakan tersebut berakhir dengan tercapainya Perjanjian Gianti (13 Februari 1755) yang menyatakan bahwa separuh Mataram menjadi milik Mangkubumi. Dalam perjanjian itu pula Mangkubumi diakui sebagai Sultan Hamengku Buwono I yang bergelar Senopati Ing Ngalogo Sayidin Panotogomo Khalifatullah dengan karatonnya di Yogyakarta. (http://www.babadbali.com/babad/babadpage.php?id=550988)

Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat merupakan sedikit dari peninggalan sejarah kerajaan-kerajaan di Nusantara yang masih hidup hingga kini, dan masih mempunyai pengaruh luas di kalangan rakyatnya.

Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat didirikan oleh Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1755. Pemerintah Hindia Belanda mengakui Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai kerajaan dengan hak mengatur rumah tangga sendiri. Semua itu dinyatakan di dalam kontrak politik. Kontrak politik terakhir Kasultanan tercantum dalam Staatsblad 1941, No. 47.

Berikut ini merupakan Sultan-sultan yang memerintah di Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat sejak awal didirikan hingga sekarang adalah :

1. Sultan Hamengku Buwono I Sultan Hamengku Buwono I (6 Agustus 1717 – 24 Maret 1792) terlahir dengan nama Raden Mas Sujana yang merupakan adik Susuhunan Mataram II Surakarta. Sultan Hamengkubuwana I dalam sejarah terkenal sebagai Pangeran Mangkubumi pada waktu sebelum naik tahta kerajaan Ngayogyakarta, beliau adalah putra Sunan Prabu dan saudara muda Susuhunan Pakubuwana II. Karena berselisih dengan Pakubuwana II, masalah suksesi, ia mulai menentang Pakubuwana II (1747) yang mendapat dukungan Vereenigde Oost Indische Compagnie atau lebih terkenal sebagai Kompeni Belanda (perang Perebutan Mahkota III di Mataram).

Dalam pertempurannya melawan kakaknya, Pangeran Mangkubumi dengan bantuan panglimanya Raden Mas Said, terbukti sebagai ahli siasat perang yang ulung, seperti ternyata dalam pertempuran-pertempuran di Grobogan, Demak dan pada puncak kemenangannya dalam pertempuran di tepi Sungai Bagawanta. Disana Panglima Belanda De Clerck bersama pasukannya dihancurkan (1751). peristiwa lain yang penting menyebabkan Pangeran Mangkubumi tidak suka berkompromi dengan Kompeni Belanda.

Pada tahun 1749 Susuhunan Pakubuwana II sebelum mangkat menyerahkan kerajaan Mataram kepada Kompeni Belanda; Putra Mahkota dinobatkan oleh Kompeni Belanda menjadi Susuhunan Pakubuwana III. Kemudian hari Raden Mas Said bercekcok dengan Pangeran Mangkubumi dan akhirnya diberi kekuasaan tanah dan mendapat gelar pangeran Mangkunegara.

Pangeran Mangkubumi tidak mengakui penyerahan Mataram kepada Kompeni Belanda. Setelah pihak Belanda beberapa kali gagal mengajak Pangeran Mangkubumi berunding menghentikan perang dikirimkan seorang Arab dari Batavia yang mengaku ulama yang datang dari Tanah Suci. Berkat pembujuk ini akhirnya diadakan perjanjian di Giyanti (sebelah timur kota Surakarta) antara Pangeran Mangkubumi dan Kompeni Belanda serta Susuhunan Pakubuwana III (1755).

Menurut Perjanjian Giyanti itu kerajaan Mataram dipecah menjadi dua, ialah kerajaan Surakarta yang tetap dipimpin oleh Susuhunan Pakubuwana III dan kerajaan Ngayogyakarta dibawah Pangeran Mangkubumi diakui sebagai Sultan Hamengkubuwana I yang bergelar Senopati Ing Ngalaga Sayidin Panatagama Khalifatullah dengan karatonnya di Yogyakarta. Atas kehendak Sultan Hamengkubuwana I kota Ngayogyakarta (Jogja menurut ucapan sekarang) dijadikan ibukota kerajaan. Kecuali mendirikan istana baru, Hamengkubuwana I yang berdarah seni mendirikan bangunan tempat bercengrama Taman Sari yang terletak di sebelah barat istananya.

Kisah pembagian kerajaan Mataram II ini dan peperangan antara pangeran-pangerannya merebut kekuasaan digubah oleh Yasadipura menjadi karya sastra yang disebut Babad Giyanti. Sultan Hamengkubuwana I dikenal oleh rakyatnya sebagai panglima, negarawan dan pemimpin rakyat yang cakap. Beliau meninggal pada tahun 1792 Masehi dalam usia tinggi dan dimakamkan Astana Kasuwargan di Imogiri. Putra Mahkota menggantikannya dengan gelar Sultan Hamengkubuwono II. Hamengkubuwana I dianugerahi gelar pahlawan nasional Indonesia pada peringatan Hari Pahlawan pada 10 November 2006. (http://www.beritaunik.net/unik-aneh/silsilah-lengkap-raja-raja-ngayogyakarta-hadiningrat.html)

Sri Sultan Hamengkubuwana I (lahir di Kartasura, 6 Agustus 1717 – meninggal di Yogyakarta, 24 Maret 1792 pada umur 74 tahun) merupakan pendiri sekaligus raja pertama Kesultanan Yogyakarta yang memerintah tahun 1755 - 1792

Asal-Usul

Nama aslinya adalah Raden Mas Sujana yang setelah dewasa bergelar Pangeran Mangkubumi. Ia merupakan putra Amangkurat IV raja Kasunanan Kartasura yang lahir dari selir bernama Mas Ayu Tejawati pada tanggal 6 Agustus 1717.

Pada tahun 1740 terjadi pemberontakan orang-orang Cina di Batavia yang menyebar sampai ke seluruh Jawa. Pada mulanya, Pakubuwana II (kakak Mangkubumi) mendukung pemberontakan tersebut. Namun, ketika menyaksikan pihak VOC unggul, Pakubuwana II pun berubah pikiran.

Pada tahun 1742 istana Kartasura diserbu kaum pemberontak . Pakubuwana II terpaksa membangun istana baru di Surakarta, sedangkan pemberontakan tersebut akhirnya dapat ditumpas oleh VOC dan Cakraningrat IV dari Madura.

Sisa-sisa pemberontak yang dipimpin oleh Raden Mas Said (keponakan Pakubuwana II dan Mangkubumi) berhasil merebut tanah Sukowati. Pakubuwana II mengumumkan sayembara berhadiah tanah seluas 3.000 cacah untuk siapa saja yang berhasil merebut kembali Sukowati. Mangkubumi dengan berhasil mengusir Mas Said pada tahun 1746, namun ia dihalang-halangi Patih Pringgalaya yang menghasut raja supaya membatalkan perjanjian sayembara.

Datang pula Baron van Imhoff gubernur jenderal VOC yang makin memperkeruh suasana. Ia mendesak Pakubuwana II supaya menyewakan daerah pesisir kepada VOC seharga 20.000 real untuk melunasi hutang keraton terhadap Belanda. Hal ini ditentang Mangkubumi. Akibatnya, terjadilah pertengkaran di mana Baron van Imhoff menghina Mangkubumi di depan umum.

Mangkubumi yang sakit hati meninggalkan Surakarta pada bulan Mei 1746 dan menggabungkan diri dengan Mas Said sebagai pemberontak.Sebagai ikatan gabungan Mangkubumi mengawinkan Mas Said dengan puterinya yaitu Rara Inten atau Gusti Ratu Bendoro.

Geneologis Hamengku Buwana I

Hamengku Buwana I secara geneologis adalah keturunan Brawijaya V baik dari ayahandanya Amangkurat IV maupun dari ibundanya Mas Ayu Tejawati. Dari garis ayahandanya silsilah keatas yang menyambung sampai Brawijaya V secara umum sudah pada diketahui namun dari pihak ibundanya masih sedikit yang mengungkapkannya. Dari Brawijaya V seorang dari puteranya bernama Jaka Dhalak yang kemudian menurunkan Wasisrowo atau Pangeran Panggung. Pangeran Panggung selanjutnya berputera Pangeran Alas yang memiliki anak bernama Tumenggung Perampilan. Tumenggung Perampilan mengabdikan diri di pajang pada Sultan Hadiwijaya dan beliau berputera Kyai Cibkakak di Kepundung jawa Tengah.Selanjutnya Ktai Cibkakak ini menurunkan putra bernama Kyai Resoyuda. dari Resoyuda ini menurunkan putra bernama Ngabehi Hondoroko yang selanjutnya punya anak putri bernama Mas Ayu Tejawati, ibunda Hamengku Buwana I. [sunting] Perang Tahta Jawa Ketiga

Perang antara Mangkubumi melawan Pakubuwana II yang didukung VOC disebut para sejarawan sebagai Perang Suksesi Jawa III. Pada tahun 1747 diperkirakan kekuatan Mangkubumi mencapai 13.000 orang prajurit.

Pertempuran demi pertempuran dimenangkan oleh Mangkubumi, misalnya pertempuran di Demak dan Grobogan. Pada akhir tahun 1749, Pakubuwana II sakit parah dan merasa kematiannya sudah dekat. Ia pun menyerahkan kedaulatan negara secara penuh kepada VOC sebagai pelindung Surakarta tanggal 11 Desember.

Sementara itu Mangkubumi telah mengangkat diri sebagai raja bergelar Pakubuwana III tanggal 12 Desember di markasnya, sedangkan VOC mengangkat putra Pakubuwana II sebagai Pakubuwana III tanggal 15. Dengan demikian terdapat dua orang Pakubuwana III. Yang satu disebut Susuhunan Surakarta, sedangkan Mangkubumi disebut Susuhunan Kebanaran, karena bermarkas di desa Kebanaran di daerah Mataram.

Perang kembali berlanjut. Pertempuran besar terjadi di tepi Sungai Bogowonto tahun 1751 di mana Mangkubumi menghancurkan pasukan VOC yang dipimpin Kapten de Clerck. Orang Jawa menyebutnya Kapten Klerek. [sunting] Berbagi Wilayah Kekuasaan

Pada tahun 1752 Mangkubumi dengan Raden Mas Said terjadi perselisihan.Perselisihan ini berfokus pada keunggulan supremasi Tunggal atas Mataram yang tidak terbagi.Dalam jajak pendapat dan pemungutan suara dukungan kepada Raden Mas Said oleh kalangan elite Jawa dan tokoh tokoh Mataram mencapai suara yang bulat mengalahkan dukungan dan pilihan kepada Mangkubumi.Dalam dukungan elite Jawa menemui fakta kalah dengan Raden Mas Said maka Mangkubumi menggunakan kekuatan bersenjata untuk mengalahkan Raden Mas Said tetapi Mangkubumi menemui kegagalan.Raden Mas Said kuat dalam dukungan-pilihan oleh elite Jawa dan juga kuat dalam kekuatan bersenjata.Mangkubumi bahkan menerima kekalahan yang sangat telak dari menantunya yaitu Raden Mas Said.Akibat kekalahan yang telak Mangkubumi kemudian menemui VOC menawarkan untuk bergabung dan bertiga dengan Paku Buwono III sepakat menghadapi Raden Mas Said.

Tawaran Mangkubumi untuk bergabung mengalahkan Raden Mas Said akhirnya diterima VOC tahun 1754. Pihak VOC diwakili Nicolaas Hartingh, yang menjabat gubernur wilayah pesisir utara Jawa. Sebagai perantara adalah Syaikh Ibrahim, seorang Turki. Perudingan-perundingan dengan Mangkubumi mencapai kesepakatan, Mangkubumi bertemu Hartingh secara langsung pada bulan September 1754.

Perundingan dengan Hartingh mencapai kesepakatan. Mangkubumi mendapatkan setengah wilayah kerajaan Pakubuwana III, sedangkan ia merelakan daerah pesisir disewa VOC seharga 20.000 real dengan kesepakatan 20.000 real dibagi dua;10.000 real untuk dirinya Mangkubumi dan 10.000 real untuk Pakubuwono III.

Akhirnya pada tanggal 13 Februari 1755 dilakukan penandatanganan naskah Perjanjian Giyanti yang mengakui Mangkubumi sebagai Sultan Hamengkubuwana I. Wilayah kerajaan yang dipimpin Pakubuwana III dibelah menjadi dua. Hamengkubuwana I mendapat setengah bagian.Perjanjian Giyanti ini juga merupakan perjanjian persekutuan baru antara pemberontak kelompok Mangkubumi bergabung dengan Pakubuwono III dan VOC menjadi persekutuan untuk melenyapkan pemberontak kelompok Raden Mas Said.

Bergabungnya Mangkubumi dengan VOC dan Paku Buwono III adalah permulaan menuju kesepakatan pembagian Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta. Dari persekutuan ini dapat dipertanyakan; Mengapa Mangkubumi bersedia membagi Kerajaan Mataram sedangkan persellisihan dengan menantunya Raden Mas Said berpangkal pada supremasi kedaulatan Mataram yang tunggal dan tidak terbagi? Dari pihak VOC langsung dapat dibaca bahwa dengan pembagian Mataram menjadikan VOC keberadaannya di wilayah Mataram tetap dapat dipertahankan. VOC mendapat keuntungan dengan pembagian Mataram. [sunting] Mendirikan Yogyakarta

Sejak Perjanjian Giyanti wilayah kerajaan Mataram dibagi menjadi dua. Pakubuwana III tetap menjadi raja di Surakarta, Mangkubumi dengan gelar Sultan Hamengkubuwana I menjadi raja di Yogyakarta.Mangkubumi sekarang sudah memiliki kekuasaan dan menjadi Raja maka tinggal kerajaan tempat untuk memerintah belum dimilikinya.Untuk mendirikan Keraton/Istana Mangkubumi kepada VOC mengajukan uang persekot sewa pantai utara Jawa tetapi VOC saat itu belum memiliki yang diminta oleh Mangkubumi.

Pada bulan April 1755 Hamengkubuwana I memutuskan untuk membuka Hutan Pabringan sebagai ibu kota Kerajaan yang menjadi bagian kekuasaannya . Sebelumnya, di hutan tersebut pernah terdapat pesanggrahan bernama Ngayogya sebagai tempat peristirahatan saat mengantar jenazah dari Surakarta menuju Imogiri. Oleh karena itu, ibu kota baru dari Kerajaan yang menjadi bagiannya tersebut pun diberi nama Ngayogyakarta Hadiningrat, atau disingkat Yogyakarta.

Sejak tanggal 7 Oktober 1756 Hamengkubuwana I pindah dari Kebanaran menuju Yogyakarta. Seiring berjalannya waktu nama Yogyakarta sebagai ibu kota kerajaannya menjadi lebih populer. Kerajaan yang dipimpin oleh Hamengkubuwana I kemudian lebih terkenal dengan nama Kesultanan Yogyakarta. [sunting] Usaha Menaklukkan Surakarta

Hamengkubuwana I meskipun telah berjanji damai namun tetap saja berusaha ingin mengembalikan kerajaan warisan Sultan Agung menjadi utuh kembali. Surakarta memang dipimpin Pakubuwana III yang lemah namun mendapat perlindungan Belanda sehingga niat Hamengkubuwana I sulit diwujudkan, apalagi masih ada kekuatan ketiga yaitu Mangkunegoro I yang juga tidak senang dengan Kerajaan yang terpecah, sehingga cita cita menyatukan kembali Mataram yang utuh bukan monopoli seorang saja.

Pada tahun 1788 Pakubuwana IV naik takhta. Ia merupakan raja yang jauh lebih cakap daripada ayahnya. Paku Buwono IV sebagai penguasa memiliki kesamaan dengan Hamengku Buwono I.Paku Buwono IV juga ingin mengembalikan keutuhan Mataram.Dalam langkah politiknya Paku Buwono IV mengabaikan Yogyakarta dengan mengangkat saudaranya menjadi Pangeran Mangkubumi, hal yang menyebabkan ketegangan dengan Hamengku Buwono I.Setelah pengangkatan saudaranya menjadi Pangeran, Paku Buwono IV juga tidak mengakui hak waris tahta putra Mahkota di Yogyakarta. Pihak VOC resah menghadapi raja baru tersebut karena ancaman perang terbuka bisa menyebabkan keuangan VOC terkuras kembali.

Paku Buwono IV mengambil langkah konfrontatif dengan Yogyakarta dengan tidak mau mencabut nama "Mangkubumi" untuk saudaranya.Memang dalam Perjanjian Giyanti tidak diatur secara permanen soal suksesi Kasultanan Yogyakarta, sehingga sikap konfrontatif Paku Buwono IV ini dapat dimengerti bahwa penguasa Surakarta memahami tanggung Jawab Kerajaan.

Sikap konfrontatif Paku Buwono IV ini beriring dengan munculnya penasehat penasehat spiritual yang beraliran keagamaan dan ini yang meresahkan VOC dan dua penguasa lainnya, karena ancaman perang yang meluluh lantahkan Jawa bisa terulang kembali.

Pada tahun 1790 Hamengkubuwana I dan Mangkunegara I (alias Mas Said) kembali bekerja sama untuk pertama kalinya sejak zaman pemberontakan dulu. Mereka bersama VOC bergerak mengepung Pakubuwana IV di Surakarta karena Paku Buwono IV memiliki penasehat penasehat Spiritual yang membuat khawatir VOC. Pakubuwana IV akhirnya menyerah untuk membiarkan penasehat penasehat spiritualnya dibubarkan oleh VOC.Ini adalah kerja sama dalam kepentingan yang sama yaitu mencegah bersatunya penasehat spiritual dengan golongan Ningrat yang merupakan ancaman potensial pemberontakan kembali.

Hamengkubuwana I pernah berupaya agar putranya dikawinkan dengan putri Paku Buwono III raja Surakarta dengan tujuan untuk bersatunya kembali Mataram namun gagal. Pakubuwana IV yang merupakan waris dari Paku Buwono III lahir untuk menggantikan ayahnya. [sunting] Sebagai Pahlawan Nasional

Hamengkubuwana I meninggal dunia tanggal 24 Maret 1792. Kedudukannya sebagai raja Yogyakarta digantikan putranya yang bergelar Hamengkubuwana II.

Hamengkubuwana I adalah peletak dasar-dasar Kesultanan Yogyakarta. Ia dianggap sebagai raja terbesar dari keluarga Mataram sejak Sultan Agung. Yogyakarta memang negeri baru namun kebesarannya waktu itu telah berhasil mengungguli Surakarta. Angkatan perangnya bahkan lebih besar daripada jumlah tentara VOC di Jawa.

Hamengkubuwana I tidak hanya seorang raja bijaksana yang ahli dalam strategi berperang, namun juga seorang pecinta keindahan. Karya arsitektur pada jamannya yang monumental adalah Taman Sari Keraton Yogyakarta.Taman Sari di rancang oleh orang berkebangsaan Portugis yang terdampar di laut selatan dan menjadi ahli bangunan Kasultanan dengan nama Jawa Demang Tegis.

Meskipun permusuhannya dengan Belanda berakhir damai namun bukan berarti ia berhenti membenci bangsa asing tersebut. Hamengkubuwana I pernah mencoba memperlambat keinginan Belanda untuk mendirikan sebuah benteng di lingkungan keraton Yogyakarta. Ia juga berusaha keras menghalangi pihak VOC untuk ikut campur dalam urusan pemerintahannya. Pihak Belanda sendiri mengakui bahwa perang melawan pemberontakan Pangeran Mangkubumi adalah perang terberat yang pernah dihadapi VOC di Jawa (sejak 1619 - 1799).

Rasa benci Hamengkubuwana I terhadap penjajah asing ini kemudian diwariskan kepada Hamengkubuwana II, raja selanjutnya. Maka, tidaklah berlebihan jika pemerintah Republik Indonesia menetapkan Sultan Hamengkubuwana I sebagai pahlawan nasional pada tanggal 10 November 2006 beberapa bulan sesudah gempa melanda wilayah Yogyakarta.
52/4 <3+?> # 16. Sultan Dandunmatengsari [Mataram]
Melakukan pemberontakan dan tidak berhasil
63/4 <3+?> 17. Gusti Raden Ayu Megatsari. [Mataram]
74/4 <3+?> 18. Gusti Raden Ayu Purubaya. [Mataram]
85/4 <3+?> 19. Gusti Raden Ayu Pakuningrat. di Sampang [Mataram]
96/4 <3+?> 20. Gusti Pangeran Hario Cokronegoro. [Mataram]
107/4 <3+?> 21. Gusti Pangeran Hario Silarong. [Mataram]
118/4 <3+?> 22. Gusti Pangeran Hario Prangwadono. [Mataram]
129/4 <3+?> 23. Gusti Raden Ayu Suryawinata. di Demak [Mataram]
1310/4 <3+?> 24. Gusti Pangeran Hario Panular. [Mataram]
1411/4 <3+?> 25. Gusti Pangeran Hario Mangkukusumo. [Mataram]
1512/4 <3+?> # 26. Gusti Raden Mas Jaka [Mataram]
Wafat usia muda
1613/4 <3+?> 27. Gusti Raden Ayu Sujonopuro. [Mataram]
1714/4 <3+?> 28. Gusti Pangeran Hario Dipawinoto. [Mataram]
1815/4 <3+?> 29. Gusti Raden Ayu Adipati Danureja I. [Mataram]

5

201/5 <4+15> # Kanjeng Sultan Hamengku Buwono II [Hamengku Buwono]
Official Link Adm: Ir. H. Hilal Aachmar Lineage Study

Kanjeng Sultan Hamengku Buwono II mempuyai 80 anak. Hamengkubuwono II (7 Maret 1750 – 2 Januari 1828) atau terkenal pula dengan nama lainnya Sultan Sepuh. Dikenal sebagai penentang kekuasaan Belanda, antara lain menentang gubernur jendral Daendels dan Raffles, sultan menentang aturan protokoler baru ciptaan Daendels mengenai alat kebesaran Residen Belanda, pada saat menghadap sultan misalnya hanya menggunakan payung dan tak perlu membuka topi, perselisihan antara Hamengkubuwana II dengan susuhunan surakarta tentang batas daerah kekuasaan juga mengakibatkan Daendels memaksa Hamengkubuwono II turun takhta pada tahun 1810 dan untuk selanjutnya bertahta secara terputus-putus hingga tahun 1828 yaitu akhir 1811 ketika Inggris menginjakkan kaki di jawa (Indonesia) sampai pertengahan 1812 ketika tentara Inggris menyerbu keraton Yogyakarta dan 1826 untuk meredam perlawanan Diponegoro sampai 1828. Hamengkubuwono III, Hamengkubuwono IV dan Hamengkubuwono V sempat bertahta saat masa hidupnya Sri Sultan Hamengku Buwono II.

Saat menjdi putra mahota beliau mengusulkan untuk dibangun benteng ktraton untuk menahan seragan tentara inggris. Tahun 1812 Raffles menyerbu Yogyakarta dan menangkap Sultan Sepuh yang kemudian diasingkan di Pulau Pinang kemudian dipindah ke Ambon. (nug: dari berbagai sumber. Referensi: www.wikipedia.com).

Dari HB II ini, keturunannya sekarang banyak tersebar di kota-kota besar di Jawa, seperti Yogyakarta, sebagai tanah leluhur, Jakarta, Semarang, Bandung, Surabaya, Malang dan juga sampai di Banyuwangi yang dapat ditelusuri.

A. Pengantar Sultan Hamengku Buwono (HB) II adalah raja di Kesultanan Yogyakarta yang memerintah antara tahun 1792 dan 1828. Ada dua fenomena menarik dari pribadi sultan pada saat berkuasa. Pertama adalah masa pemerintahannya yang ditandai dengan pergolakan politik yang belum pernah terjadi di Jawa pada periode sebelumnya. Pada periode tersebut, Jawa menjadi bagian dari perubahan besar yang berlangsung sebagaikonsekuensi konstelasi politik di Eropa. Hal ini ditandai dengan terjadinya perubahan empat kali rezim kolonial dalam kurun waktu kurang dari setengah abad, yaitu dari VOC, Prancis, Inggris dan Belanda. Perubahan rezim yang juga menimbulkan pergantian kebijakan kolonial ini mengakibatkan terjadinya instabilitas politik dari penguasa kolonial khususnya tindakan pemerintah kolonial terhadap raja-raja pribumi. Kondisi ini meningkatkan eskalasi konflik yang cukup tajam antara penguasa kolonial dan penguasa Jawa. Fenomena kedua adalah pribadi Sultan Hamengku Buwono II yang cukup kontroversial. Sejauh ini berbagai sumber data yang ditinggalkan oleh para penguasa kolonial memuat laporan dan gambaran negatif terhadap raja Jawa ini. Sultan HB II digambarkan sebagai seorang raja yang keras kepala, tidak mengenal kompromi, kejam termasuk terhadap kerabatnya sendiri, dan tidak bisa dipercaya. Informasi yang terkandung di dalam data kolonial tersebut masih mendominasi historiografi baik yang ditulis oleh sejarawan asing maupun sejarawan lokal. Hal ini menimbulkan daya tarik tersendiri sebagai bahan kajian dalam penelitian sejarah khususnya yang menempatkan para tokoh atau penguasa pribumi sebagai fokusnya. Kredibilitas informasi yang dimuat dalam data kolonial tentang Sultan HB II perlu dikritisi terutama lewat studi komparasi dengan sumber-sumber yang diperoleh dari naskah lokal yang sezaman (Jawa). Dari hasil perbandingan tersebut dapat diketahui bagaimana pribadi Sultan HB II yang sebenarnya dan peristiwa penting apa yang terjadi selama masa pemerintahannya. Di samping itu juga bisa diungkapkan karya apa yang diwariskannya dan motivasi apa yang mendasarinya B. Sebelum Menjadi Raja Sultan HB II dilahirkan pada hari Sabtu Legi tanggal 7 Maret 1750 di lereng gunung Sindoro, daerah Kedu Utara. Ketika lahir, Sultan HB II diberi nama Raden Mas (RM) Sundoro. Nama ini diberikan sesuai dengan nama tempat kelahirannya yang berada di lereng gunung Sindoro. RM Sundoro adalah putra Pangeran Mangkubumi, yang kemudian menjadi raja pertama di Kesultanan yogyakarta pada tahun 1755 dengan gelar Sultan Hamengku Buwono I.1 Meskipun berstatus sebagai putra raja, masa kecil RM Sundoro tidak dialaminya dengan penuh fasilitas dan kebahagiaan layaknya seorang pangeran. Pada saat dilahirkan, ayahnya sedang bergerilya untuk melawan VOC dan Kerajaan Mataram, di bawah Sunan Paku Buwono III. Medan perang Mangkubumi yang terbentang dari Kedu di utara sampai pesisir selatan dan dari Banyumas di barat hingga Madiun di timur membuat RM Sundoro hampir tidak pernah bertemu dengan ayahnya. Sejak lahir hingga usia lima tahun, RM Sundoro diasuh oleh ibunya, Kanjeng Ratu Kadipaten,permaisuri kedua Pangeran Mangkubumi. Ketika perjuangan Mangkubumi berakhir dengan ditandatanganinya Perjanjian Giyanti tanggal 13 Pebruari 1755, Kerajaan Mataram dibagi menjadi dua (palihan nagari). Sebagian kerajaan ini tetap dikuasai oleh Sunan Paku Buwono III yang bertahta di Surakarta, dan sebagian lagi diperintah oleh Mangkubumi yang menjadi raja baru. Kerajaan yang baru diberi nama Kesultanan Yogyakarta dan Pangeran Mangkubumi diangkat sebagai raja pertama yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I.2 Setelah peristiwa palihan nagari ini, Sultan HB I membangun kompleks kraton baru di Yogyakarta dan membawa seluruh keluarganya ke kraton, termasuk GKR Kadipaten bersama putranya RM Sundoro. Sejak saat itu, RM Sundoro mulai tinggal di kraton dengan status sebagai seorang putra raja. Kecintaan dan kepercayaan Sultan HB I terhadap RM Sundoro mulai tampak sejak mereka tinggal bersama. Ini terbukti dengan keinginan Sultan HB I menunjuk RM Sundoro sebagai putra mahkota pada saat ia dikhitan pada tahun 1758. Sultan HB I mengetahui sifat putranya yang memiliki kekerasan jiwa sebagai akibat dari pengalaman hidupnya di wilayah pengungsian. Pengalaman hidup inilah yang membentuk watak RM Sundoro yang kelak dianggap sebagai pribadi yang keras dan tegas dalam pengambilan keputusan. Meskipun ada beberapa orang calon lain, khususnya dari permaisuri pertama GKR Kencono yang berputra dua orang, Sultan HB I tetap memilih RM Sundoro sebagai putra mahkota. Keyakinan ini semakin kuat ketika dua putra dari GKR Kencono dianggap tidak memenuhi syarat sebagai putra mahkota.3 Setelah Sundoro mulai tumbuh dewasa, Sultan HB I mulai berpikir tentang calon pendamping hidup RM Sundoro khususnya yang akan memperoleh status sebagai permaisuri. Sebagai seorang putra raja, RM Sundoro hendaknya berdampingan dengan seorang wanita yang juga keturunan raja. Untuk itu Sultan HB I berniat menjodohkan putranya dengan putri Sunan PB III. Ketika RM Sundoro berkunjung ke kraton Surakarta, tahun 1763 dan 1765, Sundoro disambut langsung oleh Sunan PB III. Harapan yang ada dari kedua orang raja Jawa itu adalah bahwa dengan ikatan perkawinan ini, ketegangan politik yang selama ini terjadi antara Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta akan berkurang. Akan tetapi, usaha tersebut gagal akibat adanya campur tangan Pangeran Adipati Mangkunegoro I yang juga menginginkan putri yang sama. Akibatnya RM Sundoro tidak berhasil mempersunting putri PB III. Kejadian ini membuat hubungan kedua raja Jawa ini menjadi renggang. Faktor lain yang memicu ketegangan antara Kesultanan Yogyakarta dan Kesunanan Surakarta adalah sengketa perbatasan daerah. Sesuai kesepakatan dalam Perjanjian Giyanti, pembagian daerah antarkedua kerajaan itu tidak didasarkan pada batas-batas alam melainkan didasarkan atas elit setempat yang berkuasa. Pembagian wilayah ditentukan oleh adanya ikatan kekerabatan dan hubungan darat antara setiap penguasa daerah dan masing-masing raja. Akibatnya, pembagian wilayah milik Kesultanan Yogyakarta dan Kesunanan Surakarta tidak ditentukan oleh batas yang jelas tetapi letaknya tumpang tindih. Hal ini sering mengakibatkan terjadinya konflik horizontal di kalangan masyarakat bawah yang memicu konflik vertikal antarsesama penguasa daerah. Proses ini berlangsung hampir dua puluh tahun lamanya dan baru berakhir dengan perjanjian yang difasilitasi oleh Gubernur VOC van den Burgh tanggal 26 April 1774 di Semarang. Dalam perjanjian ini batas wilayah masing-masing raja Jawa dipertegas dan diatur kembali dengan tujuan agar konflik tersebut tidak terjadi lagi.4 RM Sundoro mulai menyadari bahwa baik dalam Perjanjian Giyanti tahun 1755 maupun Perjanjian Semarang tahun 1774, kekuasaan dan wilayah raja-raja Jawa semakin sempit. Sebaliknya, wilayah VOC menjadi semakin luas. Perluasan wilayah dan kekuasaan VOC ini berlangsung seiring dengan meningkatnya intervensi VOC dalam kehidupan kraton raja-raja Jawa. Dengan adanya pembagian wilayah baru, VOC memperoleh kesempatan semakin besar untuk melakukan eksploitasi ekonomi yang berbentuk pemborongan sumber-sumber pendapatan raja-raja Jawa seperti tol, pasar, sarang burung, penambangan perahu, pelabuhan laut dan penjualan candu.5 Tekanan ekonomi dan politik VOC semakin intensif ketika kondisi fisik raja-raja Jawa baik Sultan HB I maupun Sunan PB III semakin merosot setelah tahun 1780. Hal tersebut menumbuhkan kebencian RM Sundoro kepada VOC khususnya dan orang asing pada umumnya. Sultan HB I menyadari hal ini dan mengetahui bahwa RM Sundoro adalah putra yang diharapkan mampu mempertahankan kewibawaan dan menjaga keutuhan wilayah Kesultanan Yogyakarta dari ancaman dan rongrongan pihak asing. Pandangan ini memperkuat tekad Sultan HB I untuk mengukuhkan status Sundoro

(4 John F. Snelleman, Encyclopaedie van Nederlandsch Indie, vierde deel (‘s Gravenhage, 1905, Martinus Nijhoff), hal.584.)

(5 Yang dimaksudkan sebagai tol adalah sejumlah uang yang harus dibayar oleh orang yang akan melewati wilayah atau jembatan tertentu. Tol ini biasanya diborongkan kepada pihak ketiga.

sebagai putra mahkota. Meskipun ada penentangan dari para pejabat VOC yang sudah menyadari sikapnya, Sultan HB I tetap menjadikan RM Sundoro sebagai calon pewaris tahta pada tahun 1785. Dengan statusnya yang baru, RM Sundoro memiliki wewenang yang lebih besar. Hampir semua tindakan yang berhubungan dengan Kesultanan Yogyakarta disetujui oleh ayahnya. Setelah diangkat menjadi putra mahkota, langkah pertama yang diambilnya adalah melindungi kraton Yogyakarta terhadap ancaman VOC. Ia menyadari bahwa ancaman VOC semakin besar dengan pembangunan benteng Rustenburg oleh Komisaris Nicolaas Harstink pada tahun 1765, yang sebagian materialnya dibebankan kepada Sultan HB I. Ia berusaha mencegah agar benteng Rustenburg tidak terwujud. Dengan segala upaya ia berhasil menghambat pembangunan benteng itu. Akibatnya, hingga tahun 1785, bangunan benteng itu belum juga selesai.6 Ketika Johannes Siberg datang ke kraton Yogyakarta dalam acara pelantikan RM Sundoro sebagai putra mahkota, Siberg mengingatkan kepada Sultan HB I tentang kewajibannya membantu pembangunan benteng itu. Desakan Siberg membuat RM Sundoro menghentikan aktivitasnya. Meskipun setelah peristiwa itu pembangunan benteng dapat diselesaikan, RM Sundoro tidak menghentikan aktivitasnya melawan VOC. Ia meminta izin ayahnya untuk memperkuat pertahanan kraton Yogyakarta sebagai perimbangan kekuatan menghadapi benteng VOC yang berada di depan kraton. Setelah memperoleh izin dari ayahnya, RM Sundoro memerintahkan pembangunan tembok baluwarti yang mengelilingi alun-alun baik utara maupun selatan kraton Yogyakarta. Di bagian depan bangunan ini diperkuat dengan pemasangan 13 buah meriam. Senjata ini diarahkan ke depan menghadap benteng Rustenburg. Pembangunan yang dimulai pada tahun 1785 itu terus berlangsung hingga RM Sundoro naik tahta menjadi Sultan HB II. C. Kebijakan Politik dan Konflik Pada saat yang hampir bersamaan dengan memuncaknya ketegangan antara Kesultanan Yogyakarta dan VOC pada akhir tahun 1780-an, di Surakarta terjadi pergantian tahta. Sunan PB III wafat pada tanggal 26 September 1788. Tiga hari kemudian putra mahkota RM. Subadyo diangkat menjadi Sunan PB IV. Sifat-sifat Sunan PB IV yang juga diketahui anti-Belanda telah mengalihkan perhatian Jan Greeve sebagai Gubernur Pantai Timur Laut Jawa (Noord-ootkust) dan Andries Hartsink sebagai Komisaris Kraton Jawa dari Yogyakarta ke Surakarta. Hal ini dilakukan setelah terbongkarnya rencana konspirasi Sunan PB IV (6 ANRI, surat Siberg kepada Sultan HB I tanggal 10 Pebruari 1785, bundel Semarang )

dengan para penasehat santrinya untuk membunuh orang-orang Belanda di Kesunanan Surakarta pada bulan September 1790. Peristiwa tersebut tidak hanya mengakibatkan pengawasan yang semakin ketat terhadap Kesunanan Surakarta, tetapi juga memulihkan hubungan baik antara Kesultanan Yogyakarta dan Mangkunegaran. Membaiknya hubungan antara Kesultanan Yogyakarta dan Mangkunegaran ini disebabkan oleh permintaan bantuan VOC kepada mereka untuk menghadapi Sunan PB IV. Bersama-sama dengan VOC keduanya menemukan kesempatan untuk saling bekerja sama.7 Kondisi seperti ini tidak berlangsung lama. Sunan PB IV bersedia menghentikan rencananya dan menyerahkan tujuh orang santri penasehatnya kepada Hartsink bulan Oktober 1790. Ketenangan di kraton Jawa kembali terusik, ketika Sultan HB I wafat pada tanggal 24 Maret 1792. Perhatian para pejabat VOC kembali beralih ke Yogyakarta. Sesuai tradisi dan kesepakatan yang dibuat dengan VOC, Gubernur Pantai Timur Laut Jawa Pieter Gerard van Overstraten 8 mengukuhkan RM Sundoro dan melantiknya sebagai Sultan Hamengku Buwono II pada tanggal 2 April 1792. Sejak itu masa pemerintahan Sultan HB II dimulai. Selama masa pemerintahannya, sifatnya yang antikolonial semakin jelas. Sultan HB II menyadari bahwa orang-orang Belanda merupakan ancaman utama terhadap keutuhan wilayah dan kewibawaan raja-raja Jawa khususnya di Kesultanan Yogyakarta. Berbeda dengan Sunan PB IV yang berambisi untuk memulihkan kekuasaan ayahnya sebagai raja Mataram, Sultan HB II tidak berpikir untuk mengembalikan wilayah Kerajaan Mataram lama di bawah satu pemerintahan. Sebaliknya, tujuan utama Sultan HB II adalah menjadikan Kesultanan Yogyakarta sebagai suatu kerajaan Jawa yang besar, berwibawa dan disegani oleh para penguasa lain termasuk oleh orang-orang Eropa. Harapan Sultan HB II adalah Kesultanan Yogyakarta menjadi penegak dan pendukung utama tradisi budaya dan kekuasaan Jawa. Bertolak dari konsep ini, Sultan HB II bertekad untuk menolak semua intervensi Belanda yang mengakibatkan merosotnya kewibawaan raja Jawa dan berkurangnya wilayah kekuasaan raja-raja Jawa.9 Konflik terbuka pertama terjadi antara Sultan HB II dan VOC. Peristiwa ini berlangsung tidak lama setelah pelantikannya. Gubernur van Overstraten meminta kepada Sultan HB II agar dalam setiap acara pertemuan dengan sultan, kursinya disejajarkan dan diletakkan di sebelah kanan kursi sultan. HB II beranggapan bahwa ia harus menghormati orang yang duduk di samping kanannya pada forum resmi di depan semua kerabat dan rakyatnya. Sultan HB II dengan tegas menolak tuntutan Overstraten itu. Karena tidak berhasil memaksakan kehendaknya, Overstraten melaporkan hal itu ke Batavia. Sebaliknya pemerintah VOC di Batavia yang sedang berada dalam kondisi kesulitan keuangan dan menghadapi blokade Inggris bermaksud mencegah insiden yang bisa menimbulkan konflik dengan raja-raja Jawa. Gubernur Jenderal Arnold Alting melarang Van Overstraten bertindak lebih jauh. Sampai ia diganti oleh J.R. Baron van Reede tot de Parkeler pada tanggal 31 Oktober 1796, tuntutan itu tidak pernah dikabulkan oleh Sultan HB II. Utusan Belanda tetap diperlakukan seperti seorang utusan para penguasa taklukan di depan Sultan HB II.10 Parkeler yang mengetahui diri Sultan HB II dari van Overstraten bertindak hati-hati. Pertemuan politik pertama dengan sultan ini terjadi pada bulan Agustus 1799 ketika Parkeler menghadiri acara pemakaman Patih Danurejo I. Menurut perjanjian tahun 1743, raja Mataram wajib meminta pertimbangan VOC sebelum menunjuk seseorang menjadi patih. Sultan HB II berusaha menghindari hal itu dengan alasan bahwa Kesultanan Yogyakarta bukan Kerajaan Mataram dan (http://id.rodovid.org/skins/common/images/button_media.png)Sultan berhak mengangkat patihnya sendiri.11 Parkeler bertindak hati-hati dan lebih banyak menggunakan jalur diplomatik untuk mencegah ketegangan dengan Sultan. Melalui perundingan dan pembicaraan yang dilakukan, akhirnya Parkeler berhasil membujuk Sultan HB II untuk memperbaharui perjanjian itu. Pada bulan September 1799 Sultan HB II bersedia menandatangani perjanjian baru dengan Parkeler yang memuat pengangkatan patih baru. Setelah perjanjian ini disahkan, Sultan HB II mengangkat Tumenggung Mangkunegoro, cucu Patih Danurejo I, yang bergelar Patih Danurejo II. Pada saat yang bersamaan Sunan PB IV juga menandatangani perjanjian yang intinya menghindari konflik terbuka ketika terjadi ketegangan dengan Kesultanan Yogyakarta dan meminta VOC untuk menengahinya.

12 7 ANRI, surat Sultan HB I kepada Mangkunegoro tanggal 24 September 1790, bundel Solo. 8 Gubernur Pantai Timur Laut Jawa (Noord-Oost-Kust)diserahterimakan dari Jan Greeve kepada penggantinya P.Gerard van Overstraten pada tanggal 1 September 1791 (lihat GP. Rouffaer.”Vorstenlanden” dalam John F Snelleman. 1905. Encyclopaedie van Nederlandsch Indie,vierde deel, ’s Gravenhage, hal. 587—653. 9 ANRI, Memorie van Residen J.G. van den Berg in Jogjacarta 1799-1803, bundel Yogyakarta. 10 Anonim, “Overzicht van de voornaamste gebeurtenissen in het Djocjocartasche-Rijk, sedert deszelf stichting (1755) tot aan Het einde van het Engelsche tusschen-bestuur in 1815”, dalam TNI, III deel, 1844, hal. 129 11 Perjanjian tanggal 11-13 November 1743, pasal 3 dan 4, yang dibuat antara G.W. Baron van Imhoff dan Sunan Paku Buwono II di Mataram, dimuat dalam “Corpus Diplomaticum Neerlando Indicum’, BKI jilid 96, tahun 1938, hal. 361-362 12 ANRI, contract met Sultanaat Jogjakarta over het jaar 1799, dalam bundel Hooge Regeerings.

1. Sri Paduka Kanjeng Sultan Hamengku Buwono II (Sultan Sepoeh)

Sultan Sepoeh adalah putra ke 3 dari Sultan Hamengku Buwono I (lahir tahun 1750), dalam sejarah perjuangan Bangsa memang terkenal sebagai salah seorang Sultan yang berani melawan Belanda. Beliau memerintah Kasultanan Yogyakarta mulai tahun 1792 dan kemudian ditangkap oleh Daendels pada tahun 1810. Pada 1811 dikembalikan ke tahta Ngayogyakarta, tetapi baru satu tahun, 1812 Sri Sultan Sepoeh ditangkap dan dibuang ke Pulau Pinang oleh Raffles, bahkan kemudian dipindahkan ke Ternate selama 14 tahun. Pada tahun 1826 dikembalikan ke Jawa dan diangkat lagi dengan suatu upacara besar – besaran di Istana Bogor, namun hal ini sebenarnya hanya siasat Belanda agar Sultan Sepoeh mau menghentikan pemberontakan Pangeran Diponegoro (kemenakannya = Putra SPKS HB III), namun beliau tidak bersedia. Sri paduka kanjeng Sultan Hamengku Buwono akhirnya wafat pada tahun 1828 dalam usia 78 tahun dan disemayamkan di Makam Agung Pasargede (Kota Gede)

2. Kanjeng Pangeran Ario Moerdaningrat

Beliau adalah putra ke 9 dari Eyang Sultan Sepoeh (SPKS HB II). Pada waktu SPKS HB IV seda tahun 1822, putra mahkota beliau Sultan menol masih berusia 3 tahun; oleh karena itu dibentuk DEWAN MANGKUBUMI, yang terdiri dari : Neneknya : Kanjeng Ratu Ageng Ibundanya : Kanjeng Ratu Kencana K.P.A Mangkubumi (putra ke 8 Sultan Sepoeh) K.P.A Diponegoro (putra dari SPKS HB III) Pada waktu itu Kumpeni Belanda kurang menghormati pada tata cara adat Kasultanan dan bertindak kejam kepada Rakyat, sehingga membuat marah Pangeran Diponegoro dan menyatakan perang melawan Belanda. Setelah Pangeran Diponegoro mengangkat senjata melawan Belanda KPA MAngkubumi juga ikut dan menjadi Penasehat Agung K.P.A Diponegoro, kemudian Dewan Mangkubumi (pada bulan Oktober 1825) diserahkan kepada : K.P.A Moerdaningrat (putra ke 9 Sultan Sepoeh), dan K.P.A Panular. Dalam sejarah diceritakan bahwa Belanda sangat kewalahan melawan Pasukan Pangeran Diponegoro yang didukung oleh Rakyat yang gagah berani dan melakukan perang gerilya secara cerdik. Beliau juga dibantu oleh Pangeran Ngabei Jayakusuma, Kiyai Mojo dan Alibasah Sentot Prawirodirjo. Suatu ketika Jendral Van Geen membawa Pasukan 1000 orang kemudian menyandera K.P.A Moerdaningrat dan K.P.A Panular digunakan sebagai tameng waktu menyerbu Markas Besar (MB) Pangeran Diponegoro. Namun hal ini sudah diketahui oleh Beliau sehingga usaha Kumpeni gagal. Naas bagi pasukan Belanda karena waktu kembali ke Yogyakarta disanggong oleh Pasukan Diponegoro di sebuah jurang dekat sungai Krasak (Lengkong) dan mengalami kekalahan yang sangat memalukan bagi pihak Belanda. Di pertempuran Lengkong ini K.P.A Moeredaningrat (dan K.P.A Panular) gugur di medan bhakti (Juli 1826), kemudian disarekan di Pesarean Lengkong.

3. R.M.A.A Djojodiningrat

Beliau adalah putra ke 4 dari Eyang K.P.A Moerdaningrat, dengan nama kecil : R.M Abdoel Djalil. Semasa kecilnya diajak menemani kakeknya Sultan Sepoeh (HB II) waktu dibuang ke Ternate selama 14 tahun. Pada jaman perang Diponegoro R.M Abdoel Djalil turut secara aktif berjuang, bahkan dijadikan ajudan pribadi Pangeran Diponegoro (Liaison Officer); sering diutus sebagai penghubung antara MB dan Para Komandan Operasional di Lapangan (menyampaikan perintah atau laporan). Pada waktu Pangeran Diponegoro kemudian ditipu dan ditangkap Belanda, R.M Abdoel Djalil langsung menghilang dan masuk ke Pesantren Brangkal (Gombong) mengaku sebagai Santri Ngabdoeldjalil. Namun akhirnya diketahui oleh mata – mata Belanda dan diambil kembalikan ke Kasultanan untuk diberi pendidikan indoktrinasi mengenai Loyalitas ala Barat. Selesai p[endidikan ditipkan kepada Raden Adipati Tjokronegoro (Bupati Poerworejo) agar tidak berhubungan langsung dengan rakyat. Selang beberapa waktu R.M Abdoel Djalil diberi pekerjaan mengikat, sebagai anggota Landraad di Poerworejo dan berganti nama : R.M Djojoprono. Setelah berapa lama diangkat menjadi Fiscaal (Jaksa), kemudian karena kecakapannya diangkat menjadi Bupati Ngroma Jatinegara pada tahun 1844, dengan gelar : Raden Mas Ario Adipati (R.M.A.A Djojodiningrat). Pada waktu diangkat beliau minta agar menguasai juga daerah Bagelen Selatan sehingga seperti berpangkat Residen; Belanda terpaksa mengabulkannya karena memang daerah Bagelen belum terkonsolidasi (Residen Belanda hanya sebagai penasehat saja). Dari Kraton Yogyakarta beliau mendapat anugerah tertinggi berupa Songsong Gilap (menurut hierarki Kraton seharusnya Songsong Gilap hanya dimiliki oleh seorang Pangeran dengan sebutan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati). Berhubung alam sekitar Ngroma tidak memenuhi selera estetika, maka beliau membangun ibukota Kabupaten baru yang ditanganinya sendiri selama 4 tahun dan diberi nama KarangAnyar, yang di-inaugurasi tahun 1848. Sewaktu pensiun tahun 1864 beliau ikut putra sulungnya R.M.T.A Tjokrohadisoeryo yang mengikuti jejak ayahnya sebagai Bupati Ledok dengan ibukota Wonosobo. R.M.A.A Djojodiningrat menetap di Sepoeran kurang lebih 10 km dari ibukota; setelah wafat beliau dimakamkan di makan keluarga “Candi Wulan” Wonosobo. (http://ikdonline.wordpress.com/history/) Foto Kanjeng Sultan Hamengku Buwono II (Sumber: http://jogjakini.wordpress.com/2007/11/30/sri-sultan-hb-ii/)

BERSAMBUNG
242/5 <4+18> Bendoro Pangeran Haryo Demang Tanpo Nangkil [Hamengku Buwono]
Рођење: 1760
Свадба: <55> Raden Ayu Demang [Danurejo I]
Смрт: 1820
303/5 <4+16> Bendoro Pangeran Haryo Diposonto [Hamengku Buwono]
Рођење: 1762
194/5 <4+2> Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam I / Kanjeng Pangeran Haryo Notokusumo [p.I.11] [Hamengku Buwono I]
Рођење: 21 март 1764, Yogyakarta
Титуле : 28 јануар 1812, Gusti Pangeran Adipati Paku Alam I [1812-1829]
535/5 <4+24> Bendoro Pangeran Haryo Dipowiyono I / Bendoro Pangeran Haryo Silarang [Hamengku Buwono I]
Рођење: 1765
Смрт: 1826
346/5 <4+20> Bendoro Pangeran Haryo Panular / Bendoro Raden Mas Hadiwijaya [Hamengku Buwono]
Рођење: 1771
Смрт: 30 јул 1826
417/5 <4+5> Bendoro Pangeran Haryo Mangkukusumo [Hamengku Buwono]
Рођење: 1772
398/5 <4+3> Bendoro Pangeran Haryo Hadikusumo II [Hamengku Buwono]
Рођење: 1774
Свадба: <56> Raden Ayu Hadikusumo [Notowijoyo]
279/5 <4+2> Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam I / Bendoro Pangeran Haryo Notokusuma (http://en.rodovid.org/wk/Person:26189) [Hamengku Buwono]
Титуле : 29 јун 1812, Dinobatkan menjadi KGPA Pakualam I, oleh Raffles
2110/5 <4+14> Kangeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Hamengkunegoro [Hamengku Buwono]
2211/5 <4+17> Bendoro Pangeran Hangabehi [Hamengku Buwono] 2312/5 <4+17> Bendoro Raden Ayu Jayaningrat [Hamengku Buwono]
2513/5 <4> Bendoro Raden Ayu Danukusumo [Hamengku Buwono]
2614/5 <4> Bendoro Raden Ayu Rongga Mangundirjo [Hamengku Buwono]
2815/5 <4> Bendoro Raden Ayu Notoyudo [Hamengku Buwono]
2916/5 <4> Bendoro Raden Ayu Sosrodiningrat [Hamengku Buwono]
3117/5 <4> Bendoro Raden Ayu Yudokusumo / http://en.rodovid.org/wk/Person:660066 [Hamengku Buwono]
3218/5 <4> Bendoro Raden Ayu Yudokusumo [Hamengku Buwono]
3319/5 <4> Bendoro Pangeran Haryo Hadikusumo I [Hamengku Buwono]
3520/5 <4> Bendoro Raden Ayu Yudokusumo II [Hamengku Buwono]
3621/5 <4> Bendoro Pangeran Haryo Mangunkusumo [Hamengku Buwono]
3722/5 <4> Bendoro Raden Ayu Danunegoro [Hamengku Buwono]
3823/5 <4> Bendoro Raden Ayu Joyowiryo [Hamengku Buwono]
4024/5 <4+14> Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Haryo Hamengkunegoro / Gusti Raden Mas Intu [Hamengku Buwono]
4225/5 <4> Bendoro Raden Ayu Pringgoloyo [Hamengku Buwono]
4326/5 <4> Bendoro Pangeran Haryo Balitar [Hamengku Buwono]
4427/5 <4> Bendoro Pangeran Haryo Diposono [Hamengku Buwono]
4528/5 <4> Bendoro Pangeran Haryo Danupoyo [Hamengku Buwono]
4629/5 <4> Bendoro Pangeran Haryo Sontokusumo [Hamengku Buwono]
4730/5 <4> Bendoro Pangeran Haryo Dipowiyono II [Hamengku Buwono]
4831/5 <4> Bendoro Raden Mas Suwardi [Hamengku Buwono]
4932/5 <4> Bendoro Raden Ayu Mangundirjo [Hamengku Buwono]
5033/5 <4> Bendoro Raden Ayu Purwodipuro [Hamengku Buwono]
5134/5 <4> Bendoro Raden Ayu Ronodiningrat [Hamengku Buwono]
5235/5 <4> Kanjeng Ratu Bandoro / Raden Ayu Inten [Hamengku Buwono I] 5436/5 <4> BRAy. Hayati/bojati Cakraatmaja [Cakraatmaja]

6

1351/6 <27> Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam II [Pakualaman]
Рођење: Pakualan II 1829 - 1858
572/6 <20+25> # 5. Kanjeng Sultan Hamengku Buwono III [Hamengku Buwono]
Рођење: 20 фебруар 1769, Yogyakarta
Свадба: <148!> # Bendoro Raden Ayu Mangunnegoro [Hamengku Buwono]
Свадба: <139!> Bendoro Raden Ayu Hadiningdya / Bendoro Raden Ajeng Ratnadimurti [Hamengku Buwono I]
Свадба: <59> Bendoro Raden Ayu Murtiningrum [?]
Титуле : од 28 јун 1812, Sultan of Yogyakarta, 3rd
Смрт: 3 новембар 1814
Official Link Adm :Ir. H. Hilal Achmar

Nama aslinya adalah Raden Mas Surojo, putra Hamengkubuwana II yang lahir pada tanggal 20 Februari 1769. Pada bulan Desember 1810 terjadi serbuan tentara Belanda terhadap Keraton Yogyakarta sebagai kelanjutan dari permusuhan antara Hamengkubuwana II melawan Herman Daendels.

Hamengkubuwana II diturunkan secara paksa dari takhta. Herman Daendels kemudian mengangkat Raden Mas Surojo sebagai Hamengkubuwana III berpangkat regent, atau wakil raja. Ia juga menangkap dan menahan Pangeran Notokusumo saudara Hamengkubuwana II di Cirebon.

Pada tahun 1811 Inggris berhasil merebut jajahan Belanda terutama Jawa. Kesempatan ini dipergunakan oleh Hamengkubuwana II untuk naik takhta kembali dan menurunkan Hamengkubuwana III sebagai putra mahkota. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 28 Desember 1811.

Kemudian terjadi permusuhan antara Hamengkubuwana II melawan Thomas Raffles, yaitu kepala pemerintahan Inggris di Jawa. Pertempuran terjadi di Keraton Yogyakarta, di mana Thomas Raffles membuang Hamengkubuwana II ke Pulau Penang, dan mengangkat kembali Hamengkubuwana III sebagai raja.

Akibat pertempuran tersebut, Kesultanan Yogyakarta harus menerima konsekuensi, antara lain:

Yogyakarta harus melepaskan daerah Kedu, separuh Pacitan, Japan, Jipang dan Grobogan kepada Inggris dan diganti kerugian sebesar 100.000 real setiap tahunnya. Angkatan perang Yogyakarta diperkecil dan hanya beberapa tentara keamanan keraton saja. Sebagian daerah kekuasaan keraton diserahkan kepada Pangeran Notokusumo yang berjasa mendukung Thomas Raffles, dan diangkat menjadi Paku Alam I.

Pemerintahan Hamengkubuwana III berakhir pada saat meninggalnya, yaitu tanggal 3 November 1814. Ia digantikan putranya yang masih anak-anak sebagai Hamengkubuwana IV. Sementara itu putra tertuanya yang lahir dari selir bernama Pangeran Diponegoro kelak melancarkan perang terhadap Belanda pada tahun 1825 – 1830.

Sri Sultan Hamengkubuwana III (lahir di Yogyakarta, 20 Februari 1769 – meninggal di Yogyakarta, 3 November 1814 pada umur 45 tahun) adalah raja Kesultanan Yogyakarta yang memerintah dalam dua periode, yaitu tahun 1810 – 1811 dan 1812 – 1814.

Kepustakaan

M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu

Pada 1814, Hamengku Buwono III meninggal. Pangeran Djarot, yang baru berusia 13 tahun, diangkat menjadi Hamengku Buwono IV. Praktis kendali kekuasaan dikuasai Patih Danurejo IV -seorang pro Belanda dan bahkan bergaya hidup Belanda. Perlahan kehidupan kraton makin menjauhi suasana yang diharapkan Diponegoro. Apalagi setelah adiknya, Hamengku Buwono IV meninggal pada 1822. Atas inisiatif Danurejo pula, Pangeran Menol yang baru berusia 3 tahun dinobatkan menjadi raja. Makin berkuasalah Danurejo. Saran-saran Diponegoro tak digubris. Danurejo dan Residen Yogya A.H. Smissaert malah berencana membuat jalan raya melewati tanah Diponegoro di Tegalrejo. Tanpa pemberitahuan, mereka mematok-matok tanah tersebut. Para pengikut Diponegoro mencabutinya. Diponegoro minta Belanda untuk mengubah rencananya tersebut. Juga untuk memecat Patih Danurejo. Namun, pada 20 Juli 1825, pasukan Belanda dan Danurejo IV mengepung Tegalrejo. Diponegoro telah mengungsikan warga setempat ke bukit-bukit Selarong. Di sana, ia juga mengorganisasikan pasukan. Pertempuran pun pecah. Upaya damai dicoba dirintis. Belanda dan Danurejo mengutus Pangeran Mangkubumi -keluarga kraton yang masih dihormati Diponegoro. Namun, setelah berdialog, Mangkubumi justru memutuskan bergabung dengan Diponegoro. Gubernur Jenderal van der Capellen memperkuat pasukannya di Yogya. Namun 200 orang tentara itu, termasuk komandannya Kapten Kumsius, tewas di Logorok, Utara Yogya, atas terjangan pasukan Diponegoro di bawah komando Mulyosentiko. Dalam pertikaian ini, dua kraton Surakarta -Paku Buwono dan Mangkunegoro- berpihak pada Belanda. Pasukan pimpinan Tumenggung Surorejo dapat menghancurkan pasukan bantuan Mangkunegoro. Di Magelang, pasukan Haji Usman, Haji Abdul Kadir mengalahkan tentara Belanda dan Tumenggung Danuningrat. Danuningrat tewas di pertempuran itu. Di Menoreh, Diponegoro sendiri memimpin pertempuran yang menewaskan banyak tentara Belanda dan Bupati Ario Sumodilogo. Markas Prambanan diduduki. Meriam-meriam Belanda berhasil dirampas. Di daerah Bojonegoro-Pati-Rembang, pihak Belanda ditaklukkan pasukan rakyat Sukowati pimpinan Kartodirjo. Pertahanan Belanda di Madiun dihancurkan pasukan Pangerang Serang dan Pangeran Syukur. Belanda kemudian mendatangkan pasukan Jenderal van Geen yang terkenal kejam di Sulawesi Selatan. Dalam pertempuran di Dekso, Sentot Alibasyah menewaskan hampir semua pasukan itu. Van Geen, Kolonel Cochius serta Pangeran Murdoningrat dan Pangeran Panular lolos. Murdoningrat dan Panular kembali menyerang Diponegoro. Kali ini bersama Letnan Habert. Di Lengkong, mereka bentrok. Habert tewas di tangan Diponegoro sendiri. Pasukan Surakarta yang sepakat melawan Diponegoro dihancurkan di Delanggu. Benteng Gowok yang dipimpin Kolonel Le Baron, jatuh dalam serbuan 15-16 Oktober 1826. Diponegoro tertembak di kaki dan dada dalam pertempuran itu. Pasukan Sentot Alibasyah yang tinggal selangkah merebut kraton Surakarta dimintanya mundur. Tujuan perang, kata Diponegoro, adalah melawan Belanda dan bukan bertempur sesama warga. Belanda mengerahkan seluruh kekuatannya. Pemberontakan Paderi di Sumatera Barat, untuk sementara dibiarkan. Sekitar 200 benteng telah dibangun untuk mengurangi mobilitas pasukan Diponegoro. Perlahan langkah tersebut membawa hasil. Dua orang panglima penting Diponegoro tertangkap. Kyai Mojo tertangkap di Klaten pada 5 Nopember 1828. Sentot Alibasyah, dalam posisi terkepung, menyerah di Yogya Selatan pada 24 Oktober 1829. Diponegoro lalu menyetujui tawaran damai Belanda. Tanggal 28 Maret 1830, Diponegoro disertai lima orang lainnya (Raden Mas Jonet, Diponegoro Anom, Raden Basah Martonegoro, Raden Mas Roub dan Kyai Badaruddin) datang ke kantor Residen Kedu di Magelang untuk berunding dengan Jenderal De Kock. Mereka disambut dengan upacara militer Belanda. Dalam perundingan itu, Diponegoro menuntut agar mendapat "kebebasan untuk mendirikan negara sendiri yang merdeka bersendikan agama Islam."

De Kock melaksanakan tipu muslihatnya. Sesaat setelah perundingan itu, Diponegoro dan pengikutnya dibawa ke Semarang dan terus ke Betawi. Pada 3 Mei 1830, ia diasingkan ke Manado, dan kemudian dipindahkan lagi ke Ujungpandang (tahun 1834) sampai meninggal. Di tahanannya, di Benteng Ujungpandang, Diponegoro menulis "Babad Diponegoro" sebanyak 4 jilid dengan tebal 1357 halaman.
1083/6 <20+36> # 53. B.R.Ay. Samparwadi /B.R.Ay. Kasan Al-Munadi [Hamengku Buwono II]
Рођење: 1775
Свадба: <60> Kasan (hasan) AL Munadi [Ba'abud] b. 1764 d. 1830
Смрт: 1797
Perkwinan : Tahun 1789
654/6 <20+26> # 11. K G P Ap Mangkudiningrat [Hamengku Buwono II]
Рођење: 1778
Смрт: ~13 март 1824, Ambon
Edited by : RE. Suhendar Indonesia http://www.royalark.net/Indonesia/yogya5.htm

Bandara Pangeran Arya Mangkudiningrat/Kanjeng Gusti Pangeran Adipati I b. 1778 (s/o Ratu Mas). Exiled to Penang 1812-1815, Batavis 1815-1817 and Ambon 1817-1824. Became an ascetic and assumed the name of Panji Angon Asmara. m. (first) Radin Ayu Jaya Kusuma, daughter of Pangeran Serang, by his wife, Radin Ayu Serang. m. (second) a selir or junior wife. He d. at Ambon, 13th March 1824 (bur. Imagiri), having had issue:

  1. Colonel Radin Temenggong Mangku Vijaya/Pangeran Adipati Mangku di-ning Rat II, Prince of Kalibawang (s/o the second wife). Granted the principality of Kalibawang in fief 28th April 1831. Exiled to Ambon in December 1831. m. (div. 1817) Bandara Radin Ayu Mangku Vijaya (m. second, Colonel Gusti Pangeran Adipati Prabhu ning Rat), daughter of H.H. Sampeyan Dalam ingkang Sinuhun Kanjeng Sri Sultan Amangku Buwana III Senapati ing Alaga Ngah 'Abdu'l-Rahman Saiyid ud-din Panatagama Khalifatu'llah ingkang Yumeneng Kaping, Sultan of Yogyakarta, by his wife, Ratu Kinchana/Ratu Ibu, daughter of Radin Temenggong Pangeran Sasra di-ning Rat I, Bupati of Jipang-Rajegwesi.
  2. Pangeran Arya Chakra ning Rat. b. 1801 (s/o a junior wife).
  3. Radem Mangku Wilaya/Radin Marta Atmaya/Pangeran Arya Suriya Mataram (cre. 1825). b. 1802 (s/o a junior wife).
  4. Radin Sasra Atmaya/Pangeran Arya Paku ning Rat. b. 1803 (s/o a junior wife). Cdr. of Ferryboats during the Java War 1825-1830.
  5. Colonel Radin Mas Papaki/Radin Temenggong Mangkundirja (cre. 1814)/Pangeran Adipati Natapraya (cre. 1825), Prince of Kalibawang. b. 1804 (s/o Radin Ayu Jaya Kusuma). Succeeded his brother as prince of Kalibawang 1831. He d. at Kalibawang, November 1853.
  6. Pangeran Arya Papak. b. 1804 (s/o a junior wife).
  7. Pangeran Arya Paku ning Prang. b. 1805 (s/o a junior wife).
  8. Major Radin Jaya di-ning Rat/Pangeran Arya Jaya di-ning Rat. b. 1806 (s/o a junior wife).
  9. Radin Arya Jayang Kusuma. He had issue:
    1. Radin Adipati Dhanu Praya.
  10. Pangeran Arya Malaya Kusuma. b. 1808 (s/o a junior wife).
  11. Gusti Kanjeng. m. Lieutenant-Colonel Pangeran Arya Nata ning Prang, third son of Colonel Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Raja Raja Paku Alam II, by his principal consort, Bandara Radin Ajeng Ratna Supira/Gusti Kanjeng Ratu Anum/Gusti Kanjeng Ratu Anum, twenty-fourth daughter of H.H. Sampeyan Dalam ingkang Sinuhun Kanjeng Sri Sultan Hamengku Buwana II Senapati ing Alaga Ngah 'Abdu'l Rahman Saiyid ud-din Panatagama Khalifatu'llah ingkang Yumeneng Kaping, Sultan of Yogyakarta. She had issue - see Indonesia (Pakualaman).
  12. Radin Ajeng Sukina (d/o Jaya Kusuma).
  13. Radin Ayu Wirya di-Pura.
  14. Radin Ayu Padma di-Pura.
  • Atas permintaan Keluarga Diputus
1. KG.P.Ap Mangkudiningrat 
2. Putranya : 850052

BABAD MANGKUDININGRATAN

Teks diawali dengan cerita tentang Pangeran Mangkudiningrat yang mendampingi Hamengku Buwana II, ayahnya yang diasingkan ke Pulau Pinang. Pangeran Mangkudiningrat selalu memohon kepada Tuhan agar ibu,istri, dan anak-anaknya dalam keadaan selamat. Di bagian akhir diceritakan keberhasilan Pangeran Mangkudiningrat (= Panji Asmara) sebagai orang yang dipercaya penduduk Ambon karena kemanjurannya dalam mengobati orang-orang sakit. Bagian akhir teks terputus karena kertas sobek/ lembaran-lembarannya hilang. Di beberapa halaman (h. 142—145, 161—163) terdapat

banyak tulisan yang dicoret sehingga tidak dapat dibaca
555/6 <19> Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Paku Alam II / Raden Tumenggung Notodiningrat [Paku Alam I]
Рођење: 25 јун 1786, Yogyakarta
Свадба: <61> Gusti Kanjeng Ratu Ayu [Pakualaman]
Титуле : 1814, Yogyakarta, Pangeran Suryaningrat
Титуле : 1829, Yogyakarta, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Suryaningrat
Смрт: 23 јул 1858, Yogyakarta
1406/6 <39+56> Raden Panji Prawirokusumo [Hamengku Buwono I]
Свадба: <110!> # 55. B.R.Ay. Prawirokusumo [Hamengku Buwono II]
Број брака: 29 јун 1813, Yogyakarta
1377/6 <22> Ψ Raden Mas Wangsakusumo / Raden Panji Wangsakusumo [Raden Panji Wangsakusumo]
Смрт: 30 јул 1826
568/6 <20+28> # 6. BPH Dipawiyana [Hamengku Buwono]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study

BPH Dipawiyana adalah anak dari Seri Sultan Hamengku Buwono. Sejarah Hamengku Buwono II: Sri Sultan Hamengkubuwana II (lahir 7 Maret 1750 – meninggal 3 Januari 1828 pada umur 77 tahun) adalah raja Kesultanan Yogyakarta yang memerintah selama tiga periode, yaitu 1792 - 1810, 1811 - 1812, dan 1826 - 1828.[1] Pada pemerintahan yang kedua dan ketiga ia dikenal dengan julukan Sultan Sepuh.

Riwayat Masa Muda

Nama aslinya adalah Raden Mas Sundoro, putra Hamengkubuwana I, Ia dilahirkan tanggal 7 Maret 1750 saat ayahnya masih menjadi Pangeran Mangkubumi dan melakukan pemberontakan terhadap Surakarta dan VOC. Ketika kedaulatan Hamengkubuwana I mendapat pengakuan dalam perjanjian Giyanti 1755, Mas Sundoro juga ikut diakui sebagai Adipati Anom.

Pada tahun 1774 (atau tahun Jawa 1700) terjadi kegelisahan di kalangan Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta akibat mitos akhir abad, bahwa akan ada sebuah kerajaan yang runtuh. Dalam kesempatan itu, Mas Sundoro menulis kitab Serat Suryaraja yang berisi ramalan bahwa mitos akhir abad akan gugur karena Surakarta dan Yogyakarta akan bersatu di bawah pemerintahannya. Naskah tersebut sampai saat ini dikeramatkan sebagai salah satu pusaka Keraton Yogyakarta.

Pemerintahan Periode Pertama

Mas Sundoro naik takhta Yogyakarta sebagai Hamengkubuwana II pada bulan Maret 1792. Ia merupakan raja yang penuh dengan cita-cita. Para pejabat senior yang tidak sesuai dengan kebijakan politiknya segera dipensiunkan dan diganti pejabat baru. Misalnya, Patih Danureja I diganti dengan cucunya, yang bergelar Danureja II. Keputusan ini kelak justru merugikannya, karena Danureja II setia kepada Belanda, berbeda dengan rajanya.

Hamengkubuwana II sendiri bersikap anti terhadap Belanda. Ia bahkan mengetahui kalau VOC sedang dalam keadaan bangkrut dan bobrok. Organisasi ini akhirnya dibubarkan oleh pemerintah negeri Belanda akhir tahun 1799.

Sejak tahun 1808 yang menjadi gubernur jenderal Hindia Belanda (pengganti gubernur jenderal VOC adalah Herman Daendels yang anti feodalisme. Ia menerapkan aturan baru tentang sikap yang seharusnya dilakukan raja-raja Jawa terhadap minister (istilah baru untuk residen). Hamengkubuwana II menolak mentah-mentah peraturan ini karena dianggap merendahkan derajatnya, sedangkan Pakubuwana IV menerima dengan taktik tersembunyi, yaitu harapan bahwa Belanda akan membantu Surakarta menaklukkan Yogyakarta.

Hamengkubuwana II juga bersitegang dengan Patih Danureja II yang dekat dengan Belanda. Ia memecat Danureja II dan menggantinya dengan Pangeran Natadiningrat putra Pangeran Natakusuma (saudara Hamengkubuwana II). Kemudian Hamengkubuwana II juga merestui pemberontakan besanya, yaitu Raden Rangga Prawiradirjo I bupati Madiun yang menentang penjajahan Belanda. Putera KPR Prawirodirjo I, Raden Ronggo Prawirosentiko Bupati Toenggoel menikah dengan puteri Hamengku Buwono II dari isteri ampeyannya BMA Yati.Raden Rangga Prawirodirjo I adalah juga paman Hamengku Buwono II. Ibu Hamengku Buwono II Kanjeng Ratu Tegalraya adalah adik KPR Prawirodirjo bapak mereka adalah Kyai Ageng Derpayuda.(Genealogy Keraton Yogya).

Belanda berhasil menumpas Raden Rangga dan melimpahkan beban tanggung jawab, misalnya biaya perang, kepada Hamengkubuwana II. Hal ini menyebabkan keributan antara kedua pihak. Pada bulan Desember 1810 Herman Daendels menyerbu Yogyakarta, menurunkan Hamengkubuwana II, dan menggantinya dengan Hamengkubuwana III, menangkap Natakusuma dan Natadiningrat, serta mengembalikan kedudukan Patih Danureja II. [sunting] Pemerintahan Periode Kedua

Pada tahun 1811 pemerintahan Belanda atas Jawa dan Nusantara direbut oleh Inggris. Hal ini dimanfaatkan Hamengkubuwana II untuk kembali menjadi raja, dan menurunkan Hamengkubuwana III sebagai putra mahkota kembali.

Sikap Hamengkubuwana II terhadap Inggris sama buruknya dengan terhadap Belanda. Bahkan, ia berani bertengkar dengan Thomas Raffles sewaktu letnan gubernur Inggris tersebut mengunjungi Yogyakarta bulan Desember 1811.

Pakubuwana IV di Surakarta pura-pura mendukung Hamengkubuwana II agar berani memerangi Inggris. Surat-menyurat antara kedua raja ini terbongkar oleh Inggris. Maka, pada bulan Juni 1812 pasukan Inggris yang dibantu Mangkunegaran menyerbu Yogyakarta. Hamengkubuwana II dibuang ke pulau Penang, sedangkan Pakubuwana IV dirampas sebagian wilayahnya.

Hamengkubuwana III kembali diangkat sebagai raja Yogyakarta. Pangeran Natakusuma yang mendukung Inggris, oleh Thomas Raffles diangkat sebagai Pakualam I dan mendapat wilayah berdaulat bernama Pakualaman. [sunting] Pemerintahan Periode Ketiga

Pada tahun 1825 terjadi pemberontakan Pangeran Diponegoro (putra Hamengkubuwana III) terhadap Belanda (yang kembali berkuasa sejak tahun 1816). Saat itu raja yang bertakhta di Yogyakarta adalah Hamengkubuwana V.

Pemberontakan Pangeran Diponegoro sangat mendapat dukungan dari rakyat. Pemerintah Hindia Belanda mencoba mengambil simpati rakyat dengan mendatangkan Hamengkubuwana II yang dulu dibuang Inggris. Hamengkubuwana II kembali bertakhta tahun 1826, sedangkan Hamengkubuwana V diturunkan oleh Belanda. Namun usaha ini tidak membuahkan hasil. Rakyat tetap saja menganggap Pangeran Diponegoro sebagai raja mereka.

Hamengkubuwana II yang sudah tua (dan dipanggil sebagai Sultan Sepuh) akhirnya meninggal dunia pada tanggal 3 Januari 1828. Pemerintahan kembali dipegang oleh cicitnya, yaitu Hamengkubuwana V.
589/6 <20+35> # 1. B.R.Ay. Gusti Wiryonegoro [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
5910/6 <20+33> # 2. B.R.Ay. Sindurejo [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
6011/6 <20+35> # 3. B.R.Ay. Pringgodiningrat [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
6112/6 <20+28> # 4. B.R.Ay. Jayaningrat [Hamengku Buwono]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
6213/6 <20+37> # 7. Bendoro Raden Ayu Wiryowinoto [Hamengku Buwono]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
6314/6 <20+25> # 8. GKR Bendara [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
6415/6 <20+35> # 9. BPH Kertosono ( BPH Murdaningrat ) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
6616/6 <20+33> # 12. B.R.Ay. Jayengrono [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
6717/6 <20+28> # 13. BPH Wiromenggolo [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
6818/6 <20+25> # 14. GKR Hangger Krama [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
6919/6 <20+37> 15. B.R.Ay. Kartodipuro [Hamengku Buwono II]
7020/6 <20+39> # 16. Bendoro Pangeran Haryo Singasari [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
7121/6 <20+37> # 17. B.R.Ay. Yudoprawiro [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
7222/6 <20+25> # 18. GPH Mangkubumi / GK. Panembahan Mangkurat [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
7323/6 <20+40> # 19. Bendoro Raden Ayu Ronggo Prawirosantiko [p.II.19] [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
7424/6 <20+28> # 20. B.R.Ay. Prawirodiningrat I [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
7525/6 <20+25> # 22. GKR Maduretno (gkr. Prawiradirdja Iii) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
7626/6 <20+39> # 21. G.R.Ay. Prawirodiningrat II [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
7727/6 <20+29> # 23. B.R.Ay. Sosrowijoyo [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
7828/6 <20+40> # 24. B.R.Ay. Bahusentono [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
7929/6 <20+40> # 25. B.R.Ay. Prawiroyudo [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
8030/6 <20+38> # 10. Bendoro Pangeran Haryo Pamot [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
8131/6 <20+30> # 26. BPH Hadiwinoto [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
8232/6 <20+29> # 27. BPH Silarong [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
8333/6 <20+30> # 28. BPH Sutowijoyo (bph Hadiwinoto WI H.r.v) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
8434/6 <20+29> # 29. B.R.Ay. Murtodiningrat I [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
8535/6 <20+31> # 30. BPH Joyokusumo I ( BP Hangabehi ) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
8636/6 <20+32> # 31. B.R.Ay. Ngabdani Ing Bayat [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
8737/6 <20+32> # 32. B.R.Ay. Nitinegoro [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
8838/6 <20+33> # 33. B.R.Ay. Cokrodiwiryo/Condrodiwiryo (Kromodiwiryo) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
8939/6 <20+29> # 34. BPH Senokusumo (Notopuro) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
9040/6 <20+30> # 35. B.R.Ay. Sosronegoro I [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
9141/6 <20+34> # 36. B.R.Ay. Sosrowinoto I (Sindunegoro) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
9242/6 <20+27> # 37. GKR Ayu Krama [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
9343/6 <20+27> # 38. GRM Sudaryo [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
9444/6 <20+34> # 39. B.R.Ay. Prawiriwinoto (Yudodipuro/Kartodiwiryo) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
9545/6 <20+35> # 40. B.R.Ay. Prawirodiningrat II (Yudipuro) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
9646/6 <20+30> # 41. B.R.Ay. Sosronegoro II [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
9747/6 <20+34> # 42. BPH Dipowijoyo [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
9848/6 <20+41> # 43. Bendoro Raden Ayu Mangkuyudo [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
9949/6 <20+36> # 44. BPH Hadiwijoyo [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
10050/6 <20+31> # 45. BAy. Tomoprawiro [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
10151/6 <20+30> # 46. B.R.Ay. Notoyudo (Notowijoyo) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
10252/6 <20+30> # 47. BPH Notoboyo [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
10353/6 <20+42> # 48. BRAy. Yudowijayo (Notoyudo) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
10454/6 <20+43> # 49. BPH Teposono (bph Juminah) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
10555/6 <20+44> # 50. BRAy / BPH Singosekar (Riyakusumo) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
10656/6 <20+27> # 51. GKR Anom [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
10757/6 <20+27> # 52. GRM Sumadi [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
10958/6 <20+43> 54. B.R.Ay. Secadirja ( BRAy. Wirjawilaga / BRAy. Jayadilaga ) [Hamengku Buwono II]
11059/6 <20+38> # 55. B.R.Ay. Prawirokusumo [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
11160/6 <20+30> # 56. BPH Notodipuro (Purbowinoto) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
11261/6 <20+27> # 57. GKR Timur [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
11362/6 <20+27> # 58. G.R.Aj. Sudarminah [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
11463/6 <20+36> # 59. B.R.Ay. Notorejo [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
11564/6 <20+45> # 60. BPH Purwokusumo (gph Sosroatmojo) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
11665/6 <20+46> # 61. B.R.Ay. Jayengsantro (BRAy Sosrohatmojo) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
11766/6 <20+45> # 62. B.R.Ay. Reksokusumo [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study Menikah dengan Bupati Imogiri(?)
11867/6 <20+45> # 63. B.R.Ay. Prawiroloyo (BRAy. Mangunprawoto) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
11968/6 <20+46> # 64. B.R.Ay. Sosrodipuro I [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
12069/6 <20+47> # 65. BRAy . Martosono (bph Puger) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
12170/6 <20+46> # 66. B.R.Ay. Sosrodipuro II [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
12271/6 <20+47> # 67. B.R.Ay. Puspadiningrat (BRAy. Mulyodiwiryo) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
12372/6 <20+48> # 68. B.R.Ay. Projodiningrat [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
12473/6 <20+49> # 69. B.R.Ay. Notonegoro (BRAy. Martodiningrat II) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
12574/6 <20+50> # 70. B.R.Ay. Jojodirjo (BRAy. Pringgodirjo) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
12675/6 <20+51> # 71. BPH Mangjudipuro (bph Purwodipuro/BPH Joyokusumo II) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
12776/6 <20+52> # 72. BPH Wijil ( BPH Hadiwijoyo II ) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
12877/6 <20+49> # 73. B.R.Ay. Notonegoro ( BRAy. Sawunggaling ) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
12978/6 <20+27> # 74. GKR Sasi [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
13079/6 <20+53> # 75. BPH Tejokusumo ( BPH Hadinegoro ) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
13180/6 <20+51> # 76. B.R.Ay. Martokusumo ( BRAy. Poncodiryo / BRAy. Padmowinoto ) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
13281/6 <20+54> # 77. BPH Timur ( BPH Pujokusumo ) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
13382/6 <20+54> # 78. B.R.Ay. Dewi ( BRAy. Martonegoro ) [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
13483/6 <20+54> # 79. BPH Timur [Hamengku Buwono II]
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
13684/6 <27> Kanjeng Pangeran Adipati Danurejo III / Pangeran Natadiningrat [Hamengku Buwono]
13885/6 <24+55> Kanjeng Raden Tumenggung Martonegoro [Hamengku Buwono I] 13986/6 <34> Bendoro Raden Ayu Hadiningdya / Bendoro Raden Ajeng Ratnadimurti [Hamengku Buwono I]
Свадба: <57!> # 5. Kanjeng Sultan Hamengku Buwono III [Hamengku Buwono] b. 20 фебруар 1769 d. 3 новембар 1814
14187/6 <54+?> Raden Mas Sutawijaya [Cakraatmaja]

7

1571/7 <57+?> # BRAy Mangkuwijoyo [Hamengku Buwono]
Hilal Achmar Official Link
1602/7 <57+?+?> # BRAy Sosrodiningrat [Hamengku Buwono]
Official From Hilal Achmar.
1733/7 <135> Kgpaa Paku Alam III [Pakualam]
Рођење: 3. Paku Alam III (1858 - 1864)
1884/7 <141> 1. RM. Dayun Sentradrana/Ky Abdurrahim [Cakraatmaja]
Рођење: di Banjarnegara
1895/7 <141> 2. RM. Mentradana [Cakraatmaja]
Рођење: di Merden
1906/7 <141> 3. RM. Jiwa Yuda [Cakraatmaja]
Рођење: di Merden
1917/7 <141> 4. RAy. Nyai Jiwa Menggala [Cakraatmaja]
Рођење: di Gumelem
1928/7 <141> 5. Nyai RAy. Angga Menggala [Cakraatmaja]
Рођење: di Gumelem
1939/7 <141+?> 6. RM. Wira Seca [Cakraatmaja]
Рођење: di Batur
14210/7 <57+?> # Pangeran Diponegoro [Hamengku Buwono]


( KELUARGA KERATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT )


Садржај

Sejarah Perjuangan Pangeran Diponegoro

Patung Pangeran Diponegoro Sumber : [1]
Patung Pangeran Diponegoro Sumber : [1]

Latar Belakang

Sebagai putra sulung Sultan Hamengkubuwono (HB) III, raja kasultanan Jogyakarta Hadiningrat, Pangeran Diponegoro memiliki

hubungan kekerabatan formal dengan kraton. Meskipun dia dibesarkan di luar tembok kraton, namun sebagai seorang pangeran dia tetap mendapat didikan ksatria Jawa, mengikuti tradisi kejawen, dan menghayati berbagai ritual kraton, tata cara, perilaku dan tutur bahasa yang sangat hierarkhis. Selain itu dia juga mendapat pendidikan perang seperti ulah kanuragan, olah senjata, menunggang kuda, dan juga ilmu pemerintahan.

Figur Diponegoro

Diponegoro adalah putra sulung Sultan Jogya, Sultan HB III atau Sultan Raja dari seorang selir. Dengan demikian dia adalah cucu Sultan HB II (Sultan Sepuh) dan cicit Sultan HB I (Sultan Swargi). Ibunya disebut-sebut bernama R.A. Mangkarawati yang menurut Peter Carey asal-usulnya masih kabur. Dikatakan putri itu berasal dari Majasta di daerah Pajang, dekat makam keramat Tembayat (Carey, 1991:2). Dalam naskah lain Carrey mengatakan dia adalah keturunan Ki Ageng Prampelan dari Pajang (Carey, 1974:74).

Sagimun MD. memberitakan bahwa dia berasal dari Pacitan, putri seorang Bupati yang konon masih berdarah Madura (Sagimun, 1986:36). R. Tanojo dalam Sadjarah Pangeran Dipanagara Darah Madura mengatakan bahwa darah Madura yang mengalir pada Diponegoro bukan berasal dari pihak ibu tetapi justeru dari pihak ayah. Menurut silsilah, nenek Diponegoro, yakni Ratu Kedaton (permaisuri HB II) adalah generasi ke enam keturunan Pangeran Cakraningrat dari Tunjung Madura (Tanojo, t.t:4). Nama asli Diponegoro adalah Raden Mas Mustahar. Dia lahir di keraton Jogyakarta pada hari Jum'at Wage, tanggal 7 Muharram Tahun Be atau 11 Nopember 1785 Masehi sebagai putera sulung Sultan HB III (Carey, 1991:1). 1) Pada tahun 1805 Sultan HB II mengganti namanya menjadi Raden Mas Ontowiryo. Adapun nama Diponegoro dan gelar pangeran baru disandangnya sejak tahun 1812 ketika ayahnya naik takhta.

Sepanjang hidupnya, tercatat ada delapan wanita yang pernah dinikahi oleh Pangeran Diponegoro. Pernikahan pertama, terjadi tahun 1803 dengan Raden Ayu (RA) Retna Madubrongto, putri Kyahi Gedhe Dadapan, dari desa Dadapan, sub distrik Tempel, dekat perbatasan Kedu dan Jogyakarta. Kedua, tanggal 27 Pebruari 1807 dengan Raden Ajeng Supadmi (R.A. Retnakusuma), putri Raden Tumenggung Natawijaya III, Bupati Panolan, Jipang. Ketiga, tahun 1808 dengan R.A. Retnodewati. Baik Madubrongto maupun Retnodewati wafat sewaktu Diponegoro masih berada di Tegalrejo. Dua tahun kemudian di awal tahun 1810 Pangeran Diponegoro melakukan perjalanan ke wilayah timur dan menikah untuk yang keempat dengan Raden Ayu Citrowati, puteri Raden Tumenggung Ronggo Parwirosentiko dengan salah satu isteri selir. Tidak lama setelah melahirkan anaknya Raden Ayu Citrowati meninggal dalam kerusuhan di Madiun. Bayi yang baru saja dilahirkan kemudian dibawa oleh Ki Tembi seorang sahabat Pangeran Diponegoro. Oleh Pangeran Diponegoro bayi tersebut diserahkan kepada Ki Tembi untuk diasuh. Dan diberi nama singlon yang artinya adalah nama samaran sehingga bayi tersebut terkenal dengan nama Raden Mas Singlon.

Isteri Keelima, dinikahi pada tanggal 28 September 1814, yakni R.A. Maduretno, putri Raden Rangga Prawiradirjo III dengan Ratu Maduretno (putri HB II), jadi saudara seayah dengan Sentot Prawirodirjo, tetapi lain ibu. Ketika Diponegoro dinobatkan sebagai Sultan Abdulhamid, dia diangkat sebagai permaisuri bergelar Kanjeng Ratu Kedaton.l 18 Pebruari 1828. Keenam, bulan Januari 1828 Diponegoro menikahi R.A. Retnaningrum, putri Pangeran Penengah atau Dipawiyana II. Ketujuh, R.A. Retnaningsih, putri Raden Tumenggung Sumoprawiro, bupati Jipang Kepadhangan, dan kedelapan, R.A. Retnakumala, putri Kyahi Guru Kasongan (Babad, P. XIX, b. 21-26; Lihat juga Carey, 2007:767-769). 6)


Silsilah Pangeran Diponegoro versi Babad Mangkunegaran

Babad Mangkunegaraan



Silsilah Keturunan Pangeran Diponegoro

klik Nama untuk membuka Silsilah
No. Nama Lahir Ibu Kandung
1. RM. ABDUL MADJID / DIPONEGORO ANOM 1803 RA. RETNA MADUBRONGTO
2. RM. DIPOATMAJA / DIPOKUSUMA/PANGERAN ABDUL AZIS 1805 RA. RETNA MADUBRONGTO
3. RM. SURYAATMAJA / DIPONINGRAT 1807 RA. SUPADMI / RA. RETNAKUSUMA
4. RM. SODEWO / SINGLON / PANGERAN ALIP 1810 RA. CITROWATI
5. RM. DJONET DIPOMENGGOLO 1815 RA. MADURETNO / RA. ONTOWIRYO
6. RM. ROUB/RM. RAAB 1816 RA. MADURETNO / RA. ONTOWIRYO
7. RA. IMPUN / RA. BASAH ---- RA. RETNODEWATI
8. RA. JOYOKUSUMO ---- RA. SUPADMI / RA. RETNA KUSUMA
9. RA. MUNTENG / RA. SITI FADILAH / RA. GUSTI ---- RA. RETNODEWATI
10. RA. HERJUMINTEN ---- RA. RETNAKUMALA
11. RA. HERJUMEROT ---- RA. RETNAKUMALA
12. RA. HANGRENI MANGUNJAYA ---- RA. RETNAKUMALA
13. RM. KINDAR 1832) RA. RETNANINGSIH
14. RM. SARKUMA 1834) RA. RETNANINGSIH
15. RM. MUNTAWARIDIN 1835 RA. RETNANINGSIH
16. RA. PUTRI MUNADIMA 1836 RA. RETNANINGSIH
17. RA. DULKABI 1836 RA. RETNANINGSIH
18. RM. RAJAB 1837 RA. RETNANINGSIH
19. RM. RAMAJI 1838 RA. RETNANINGSIH
20. RA. MANGKUKUSUMO ---- RA. RETNANINGRUM
21. RA. PADMODIPURO ---- RA. RETNANINGRUM
22. RA. PONCOKUSUMO ---- RA. RETNANINGRUM

Penangkapan dan Pengasingan

16 Februari 1830 Pangeran Diponegoro dan Kolonel Cleerens bertemu di Remo Kamal, Bagelen (sekarang masuk wilayah Purworejo). Cleerens mengusulkan agar Kanjeng Pangeran dan pengikutnya berdiam dulu di Menoreh sambil menunggu kedatangan Letnan Gubernur Jenderal Markus de Kock dari Batavia.

Lukisan karya Nicolaas Pieneman, "Penyerahan diri Pangeran Diponegero kepada Jenderal De Kock".28 Maret 1830 Diponegoro menemui Jenderal de Kock di Magelang. De Kock memaksa mengadakan perundingan dan mendesak Diponegoro agar menghentikan perang. Permintaan itu ditolak Diponegoro. Tetapi Belanda telah menyiapkan penyergapan dengan teliti. Hari itu juga Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Ungaran, kemudian dibawa ke Gedung Karesidenan Semarang, dan langsung ke Batavia menggunakan kapal Pollux pada 5 April.

Penyerahan Pangeran Diponegoro kepada Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock, 28 Maret 1830 akhir dari Perang Diponegoro (1825-1830). Lukisan Tahun 1835 Nicolaas_Pieneman (1809-1860), Sumber :[[2]]
Penyerahan Pangeran Diponegoro kepada Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock, 28 Maret 1830 akhir dari Perang Diponegoro (1825-1830). Lukisan Tahun 1835 Nicolaas_Pieneman (1809-1860), Sumber :[[2]]
Lukisan cat minyak Raden_Saleh tahun 1857 tentang Penangkapan Pangeran Diponegoro. Diceritakan bahwa Pangeran Diponegoro beserta pasukannya ditangkap dalam keadaan tidak bersenjata. Sumber : [[3]]
Lukisan cat minyak Raden_Saleh tahun 1857 tentang Penangkapan Pangeran Diponegoro. Diceritakan bahwa Pangeran Diponegoro beserta pasukannya ditangkap dalam keadaan tidak bersenjata. Sumber : [[3]]
3 Mei 1830 Diponegoro dan rombongan diberangkatkan dengan kapal Pollux ke Manado dan ditawan di benteng Amsterdam. Tidak kurang dari 19 orang yang terdiri dari keluarga dan stafnya ikut dalam pembuangan di Menado
3 Mei 1830 Diponegoro dan rombongan diberangkatkan dengan kapal Pollux ke Manado dan ditawan di benteng Amsterdam. Tidak kurang dari 19 orang yang terdiri dari keluarga dan stafnya ikut dalam pembuangan di Menado

11 April 1830 sampai di Batavia dan ditawan di Stadhuis (sekarang gedung Museum Fatahillah). Sambil menunggu keputusan penyelesaian dari Gubernur Jenderal Van den Bosch. 30 April 1830 keputusan pun keluar. Pangeran Diponegoro, Raden Ayu Retnaningsih, Tumenggung Diposono dan istri, serta para pengikut lainnya seperti Mertoleksono, Banteng Wereng, dan Nyai Sotaruno akan dibuang ke Manado. 3 Mei 1830 Diponegoro dan rombongan diberangkatkan dengan kapal Pollux ke Manado dan ditawan di benteng Amsterdam. 1834 dipindahkan ke benteng Rotterdam di Makassar, Sulawesi Selatan. 8 Januari 1855 Diponegoro wafat dan dimakamkan di kampung Jawa Makassar.

Benteng Rotterdam Makasar
Benteng Rotterdam Makasar
Patung P. Diponegoro Berkuda Makasar
Patung P. Diponegoro Berkuda Makasar
Makam P. Diponegoro & Anak-Cucunya
Makam P. Diponegoro & Anak-Cucunya

Lokasi makam Pangeran Diponegoro di Makassar, Sulawesi Selatan.Dalam perjuangannya, Pangeran Diponegoro dibantu oleh puteranya bernama Bagus Singlon atau Ki Sodewo. Ki Sodewo melakukan peperangan di wilayah Kulon Progo dan Bagelen.

Bagus Singlon atau Ki Sodewo adalah Putera Pangeran Diponegoro dengan Raden Ayu Citrowati Puteri Bupati Madiun Raden Ronggo. Raden Ayu Citrowati adalah saudara satu ayah lain ibu dengan Sentot Prawiro Dirjo. Nama Raden Mas Singlon atau Bagus Singlon atau Ki Sodewo sendiri telah masuk dalam daftar silsilah yang dikeluarkan oleh Tepas Darah Dalem Keraton Yogyakarta.

Perjuangan Ki Sodewo untuk mendampingi ayahnya dilandasi rasa dendam pada kematian eyangnya (Ronggo) dan ibundanya ketika Raden Ronggo dipaksa menyerah karena memberontak kepada Belanda. Melalui tangan-tangan pangeran Mataram yang sudah dikendalikan oleh Patih Danurejo, maka Raden Ronggo dapat ditaklukkan. Ki Sodewo kecil dan Sentot bersama keluarga bupati Madiun lalu diserahkan ke Keraton sebagai barang bukti suksesnya penyerbuan.

Ki Sodewo yang masih bayi lalu diambil oleh Pangeran Diponegoro lalu dititipkan pada sahabatnya bernama Ki Tembi. Ki Tembi lalu membawanya pergi dan selalu berpindah-pindah tempat agar keberadaannya tidak tercium oleh Belanda. Belanda sendiri pada saat itu sangat membenci anak turun Raden Ronggo yang sejak dulu terkenal sebagai penentang Belanda. Atas kehendak Pangeran Diponegoro, bayi tersebut diberi nama Singlon yang artinya penyamaran.

Keturunan Ki Sodewo saat ini banyak tinggal di bekas kantung-kantung perjuangan Ki Sodewo pada saat itu dengan bermacam macam profesi. Dengan restu para sesepuh dan dimotori oleh keturunan ke 7 Pangeran Diponegoro yang bernama Raden Roni Muryanto, Keturunan Ki Sodewo membentuk sebuah paguyuban dengan nama Paguyuban Trah Sodewo.

Setidaknya Pangeran Diponegoro mempunyai 17 putra dan 5 orang putri, yang semuanya kini hidup tersebar di seluruh Indonesia, termasuk Jawa, Sulawesi & Maluku.

Perang Jawa-3 ; 1825 – 1830 Perjuangan Islam Melawan Penjajah

Pangeran Diponegoro waktu muda (Lukisan H.M Lange tahun 1847), Sumber : [4]
Pangeran Diponegoro waktu muda (Lukisan H.M Lange tahun 1847), Sumber : [4]
Kyai Mojo (Lukisan Raden Saleh), Sumber : [5]
Kyai Mojo (Lukisan Raden Saleh), Sumber : [5]

Langkah pertama yang ditempuh oleh Diponegoro adalah mengeluarkan seruan kepada seluruh rakyat Mataram untuk sama-sama berjuang menentang penguasa kolonial Belanda dan para tiran, yang senantiasa menindas rakyat. Seruan itu antara lain berbunyi: “Saudarasaudara di tanah dataran! Apabila saudura-¬saudara mencintai saya, datanglah dan bersama-sama saya dan paman saya ke Selarong. Siapa saja yang mencintai saya datangdah segera dan bersiap-siap untuk bertempur.” Seruan ini disebar-luaskan di seluruh tanah Mataram, khusuanya di Jawa Tengah dan mendapat sambutan hampir sebagian besar lapisan masyarakat. Dan daerah Selarong penuh sesak, dipenuhi oleh pasukan rakyat!

Seruan ini disambut baik oleh Kiai Mojo, seorang ulama besar dari daerah Mojo-Solo; yang datang bersama barisan santrinya menggabungkan diri dengan pasukan Diponegoro; ia menyerukan ‘perang sabil’ terhadap pihak penguasa kolonial Belanda. Jejak Kiai Mojo dengan santrinya, diikuti oleh para ulama dan santri-santri dari Kedu dibawah pimpinan Pangeran Abubakar; juga Muhamad Bahri, penghulu Tegalrejo. Perang sabil menentang penguasa kolonial Belanda-Kristen meledak membakar hampir seluruh tanah Mataram, bahkan sampai ke Jawa Timur dan Jawa Barat. Tampilnya Alibasah Abdul Mustafa Prawiradirja (Sentot) dan sebagian para bangsawan di kalangan penguasa kolonial Belanda dan kraton Yogyakarta. Akhimya diutuslah Pangeran Mangkubumi (paman Diponegoro) ke Tegakejo untuk memanggil Diponegoro ke kraton. Semula Diponegoro bersedia datang ke kraton, apabila ada jaminan dari Paugeran Mangkubumi bahwa ia tidak akan ditangkap. Tetapi karena Mangkubumi sendiri tidak berani menjamin dan bahkan ia sendiri tidak akan kembali lagi ke Yogyakarta, maka Diponegoro memperkuat diri dengan pasukan rakyat yang telah melakukan bai’ah (janji setia perjuangan). Melihat kegagalan Pangeran Mangkubumi ini untuk memanggil Diponegoro, Residen A.H. Smisaert mengutus kembali dua orang bupati yang dikawal dengan sepasukan militer. Sebelum utusan Belanda ini sampai, Diponegoro dan Pangeran Mangkubumi yang sedang berunding menjadi terhenti, karena mendengar letusan senjata dan tembakan meriam yang ditujukan ke arah rumah Diponegoro. Serangan Belanda terhadap tempat kediaman Diponegoro, mengakibatkan Diponegoro dan Pangeran Mangkubumi yang disertai kawalan pasukan rakyat mengungsi ke daerah selarong, guna selanjutnya melancarkan peperangan untuk mengusir penguasa kolonial Belanda dari daerah kekuasaan kesultanan yogyakarta, khususnya dan Jawa umumnya. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 20 Juli 1825 dan disebut sebagai permulaan “Perang Jawa”.

Nyi Ageng Serang, selaku Penasehat Strategi Perang Jawa, Sumber : [6]
Nyi Ageng Serang, selaku Penasehat Strategi Perang Jawa, Sumber : [6]
Sentot Alibasyah Prawiradirja, komandan pasukan Pangeran Diponegoro (lukisan G. Kepper Tahun 1900), Sumber : [7]
Sentot Alibasyah Prawiradirja, komandan pasukan Pangeran Diponegoro (lukisan G. Kepper Tahun 1900), Sumber : [7]

Yogyakarta seperti antara lain Pangeran Ngabehi Jayakusuma, putera Sultan Hamengku Buwono II dan pangeran Mangkubumi melengkapi “Perang Jawa” yang dahsyat. Strategi perang gerilya yang dipergunakan oleh Diponegoro dengan taktik “serang dengan tiba-tiba pasukan musuh kemudian menghilang-bersembunyi”, merupakan strategi dan taktik yang dapat melumpuhkan pasukan kolonial Belanda; setidak-tidaknya pada awal perang Jawa.

Berita pecahnya perang Jawa sangat mengejutkan pihak Gubernur Jenderal Van der Capellen di Batavia. Karenanya pada tanggal 26 Juli 1825, ia telah memutus¬kan untuk mengirimkan pasukan dari Batavia langsung di bawah pimpinan Letnan Jenderal Hendrik Marcus De Kock, pimpinan tertinggi militer Hindia Belanda. Pada tanggal 29 Juli 1825 Let. Jend. De Kock telah tiba di Semarang untuk memimpin langsung operasi militer terhadap pasukan Diponegoro. Pasukan kolonial Belanda yang dipimpin oleh Kapten Kumsius dengan kekuatan 200 prajurit, yang dikirim dari Semarang, di daerah pisangan dekat Magelang disergap oleh pasukan Diponegoro di bawah pimpinan Mulya Sentika. Hampir seluruh pasukan Belanda berhasil dimusnahkan dan seluruh perlengkapan dan persenjataannya dirampas. Kekalahan pertama, menyebabkan Belanda me¬ngirimkan pasukan yang lebih besar dari Semarang dan dipimpin oleh Kolonel Von Jett untuk langsung me¬nyerang Selarong, markas besar pasukan Diponegoro. Tetapi serangan ini gagal, karena pasukan Diponegoro telah mengosongkan Selarong. Tatkala pasukan Belanda meninggalkan Selarong, di perjalanan, di tempat-tempat yang atrategis, pasukan Belanda diserang; sehingga menimbulkan kerugian yang cukup besar

Ilustrasi Perang, Sumber : [8]
Ilustrasi Perang, Sumber : [8]

Ibukota Yogyakarta di kepung oleh pasukan Diponegoro, sehingga pasukan kesultanan Yogyakarta dan Belanda terjepit, bahkan Sultan Hamengku Buwono V bersembunyi di benteng Beianda untuk menyelamatkan diri. Pada tanggal 28 Juli 1825, Belanda mengirimkan pasukan komando gabungan antara pasukan Belanda dan Mangkunegara dari Surakarta untuk menembus barikade pasukan Diponegoro di Yogyakarta, guna menyelamatkan pasukan Belanda dan Sultan Hamengku Buwono V yang terkurung. Tetapi pasukan komando gabungan Belanda Mangkunegara di bawah pimpinan Raden Mas Suwangsa di Randu Gunting dekat Kalasan disergap oleh pasukan Diponegoro dibawah pimpinan Tumenggung Surareja. Sergapan ini berhasil dengan baik dan Raden Mas Suwangsa, pimpinan komando gabungan itu sendiri tertangkap dan dibawa ke Selarong, markas besar pasukan Diponegoro.

Operasi militer Belanda yang senantiasa mengalami kekalahan, maka Let. Jend. De Kock menempuh jalan diplomasi, dengan jalan mengirim surat kepada Diponegoro; surat pertama tertanggal 7 Agustus 1825 dan surat kedua tertanggal 14 Agustus 1825. Isi surat-surat itu menyatakan keinginan Belanda untuk berunding dan bersedia memenuhi tuntutan-tuntutan Diponegoro dan Pangeran Mangkubumi, dengan syarat: pertempuran dihentikan. Surat Let. Jend. De Kock diperkuat oleh surat Susuhunan Surakarta, tertanggal 14 Agustus 1825. Surat-surat baik dari De Kock maupun dari Susuhunan Surakarta, semuanya dijawab oleh Diponegoro, dengan menekankan bahwa Perang Jawa ini terjadi karena kesalahan Belanda yang bertindak otoriter dan zalim, yang dibantu oleh pasukan militer Susuhunan Surakarta. Perdamaian yang diajukan oleh Belanda dan Susuhunan Surakarta ditolak; kecuali pasukan kolonial Belanda angkat kaki dari bumi Mataram. Jalan diplomasi gagal. Karena tidak ada jalan lain, De Kock sebagai panglima tertinggi pasukan Hindia Belanda, mengerahkan pasukannya dari berbagai daerah Batavia: Bone, Madura, Bali, Ambon dan lain-lain untuk dipusatkan di sekitar Yogyakarta; guna menembus barikade pasukan Diponegoro. Baru pada tanggal 25 September 1825, De Kock dengan pasukan komando gabungan yang besar sekali berhasil memasuki Yogyakarta menyelamatkan pasukan Belanda yang terkepung dan Sultan Hamengku Buwono V. Pertempuran antara pasukan Belanda dengan pasukan Diponegoro tidak hanya terjadi di sekitar Yogyakarta, tetapi juga menjalar dan terjadi di Magelang, Semarang, Pekalongan, Banyumas, Bagelen dan daerah Kedu seluruhnya. Pertempuran makin hari makin meluas, menjalar ke daerah Jawa Timur seperti Madiun, Ngawi dan Pacitan. Pertempuran yang luas itu memang melumpuhkan dan melelahkan pasukan kolonial Belanda dan para kolaborator; bahkan serangan kedua ke markas besar Selarong; tidak berhasil menangkap dan me¬lumpuhkan pasukan Diponegoro.

Penangkapan Pangeran Diponegoro di Magelang (dilukis oleh G. Kepper pada tahun 1900),  Sumber : [9]
Penangkapan Pangeran Diponegoro di Magelang (dilukis oleh G. Kepper pada tahun 1900), Sumber : [9]

Pada tahun-tahun pertama (1825 -1826) pasukan Diponegoro memperoleh banyak kemenangan. Dengan pasukan-pasukan berkuda, mereka dapat bergerak capat dan mobile dari satu daerah ke daerah lain, dari satu pertempuran ke pertempuran lain dan selalu lolos dari kepungan pasukan musuh yang jauh lebih besar jumlahnya. Tetapi sejak tahun 1827 pasukan kolonial Belanda mulai unggul, selain karena besarnya bala-bantuan yang didatangkan dari daerah-daerah, tetapi juga merubah strategi pertempuran yang selama ini ditempuh. Let. Jend. De Kock, selaku panglima tertinggi Hindia melaksanakan “sistem benteng” dalam operasi militernya. Pasukan Belanda mendirikan benteng-benteng di wilayah yang telah dikuasai kembali. Antara benteng yang satu dengan benteng yang lain dibuat jalan se¬hingga pasukan dapat bergerak dengan cepat. Dengan sistem benteng itu, pasukan Diponegoro tidak lagi dapat bergerak dengan leluasa; hubungan antar pasukan menjadi sukar. Tiap pasukan terpaku pada daerah operasinya masing-masing. Gerakan mobile dan cepat yang selama ini menjadi ciri pasukan Diponegoro menjadi lumpuh. Daerah-daerah yang dikuasai kembali oleh Belanda didirikanlah benteng-benteng seperti di Minggir, Groyak, Bantul, Brosot; Puluwatu, Kejiwan, Telagapinian, Danalaya, Pasar Gede, Kemulaka, Trayema, Jatianom, Delanggu, Pijenan. Di daerah-daerah pertempuran sebelah timur, benteng-benteng itu terdapat di Rembang, Bancar, Jatiraga, Tuban, Rajegwesi, Blantunan, Blora, Pamotan, Babat, Kopas dan lain-lain.

Di daerah-daerah pertempuran sebelah barat, benteng-benteng didirikan di Pakeongan, Kemit, Panjer, Merden dan lain lain. Sistim benteng ini memang dapat melumpuhkan pasukan Diponegoro, apalagi setelah Sultan Sepuh yang telah berusia 70 tahun diangkat kembali menjadi Sultan Yogyakarta, yang secara psikologi sangat mempengaruhi pasukan Diponegoro. Oleh karena itu, berkat usaha Van Lawick von Pabst, Residen Yogyakarta, maka pada tanggal 21 Juni 1827, Pangeran Natapraja dan Pangeran Serang Sutawijaya beserta para pengikutnya lebih kurang 850 orang menyerah kepada Belanda dan diperlakukan dengan baik. Penyerahan Pangeran Natapraja dan Pangeran Serang adalah pukulan yang besar sekali bagi perang Jawa. Sebab dengan menyerahnya kedua orang pemimpin ini, maka daerah rawan dan daerah pertempuran di sebelah timur kehilangan pimpinan. Seperti telah dimaklumi bahwa kedua orang inilah yang memimpin pasukan Diponegoro di medan pertempuran sebelah timur, mengancam Semarang dan Demak.

Walau demikian, pukulan hebat ini tidak menyebabkan pasukan Diponegoro berputus asa. Di kota Gede Yogyakarta telah terjadi pertempuran yang seru antara pasukan Diponegoro di bawah pimpinan Mas Tumenggung Reksasentana melawan pasukan kolonial Belanda. Pertempuran ini terjadi karena usaha Belanda untuk menggiring pasukan Diponegoro untuk berada di daerah antara Sungai Progo dan Sungai Begowonto. Pertempuran terus berlangsung, tetapi usaha diplomasi juga dijalankan oleh Belanda, apalagi setelah kedua Pangeran tersebut menyerah.Usaha diplomasi menunjukkan hasil yang menggembirakan, dengan diselenggarakannya perundingan antara pasukan Diponegoro di bawah pimpinan Kiai Mojo dan Pangeran Ngabehi Abdul Rahman dengan pasukan Belanda di bawah pimpinan Stavers pada tanggal 29 Agustus 1827 di Cirian-Klaten. Perundingan ini tidak membuahkan suatu hasil apapun bagi kedua belah pihak. Tuntutan-tuntutan yang diajukan oleh Kiai Mojo dianggap terlalu berat oleh pihak Belanda, sebaliknya syarat-syarat yang diajukan oleh Belanda, termasuk janji-janji untuk memberikan kekuasaan yang luas kepada Diponegoro, tidak dapat diterima oleh Kiai Mojo. Perundingan yang gagal pada bulan Agustus 1827, mengakibatkan pada bulan September 1827 berkobar lagi pertempuran antara pasukan Diponegoro dengan pasukan kolonial Belanda di daerah-daerah Klaten, Puluwatu, Kemulaka dan Yogyakarta. Operasi militer Belanda yang besar ini langsung dipimpin oleh Jenderal Van Geen.

Pertempuran antara pasukan Kolonel Le Bron de Vexela dengan pasukan Pangeran Diponegoro  di Gawok (dilukis oleh G. Kepper pada tahun 1900), Sumber : [10]
Pertempuran antara pasukan Kolonel Le Bron de Vexela dengan pasukan Pangeran Diponegoro di Gawok (dilukis oleh G. Kepper pada tahun 1900), Sumber : [10]

Pada tanggal 10 Oktober 1827 diadakan kembali gencatan senjata untuk mengadakan perundingan perdamaian antara kedua belah pihak, bertempat di Gamping. Pihak Belanda di pimpin oleh Letnan Roeps, seorang opsir Belanda yang pandai berbahasa Jawa, sedangkan dipihak Diponegoro di pimpin oieh Tumeng¬gung Mangun Prawira. Tetapi perundingan inipun gagal, sebab tuntutan mengenai pelaksanaan syari’at Islam, seperti pernah diajukan pada perundingan pertama, sangat ditentang delegasi Belanda. Kegagalan perundingan kedua ini, diikuti oleh operasi militer Belanda secara besar-besaran di bawah pimpinan Kolonel Cochius dan Sollewijn menyerang daerah-daerah sebelah selatan Yogyakarta, Plered, Tegalsari, Semen dan-lain. Pada tanggal 25 Oktober 1827 pasukan Belanda di bawah Mayor Sollewijn menyerbu markas perjuangan Diponegoro di Banyumeneng, tetapi Diponegoro dengan pasukan-pasukannya berhasil menghindar. Tetapi dalam perjalanan pulang pasukan Sollewijn berhasil dijebak dan diserang oleh pasukan Diponegoro, sehingga memporak-porandakan pasukan Belanda; dan hanya dengan susah payah pasukan Sollewijn dapat menyeberangi sungai Progo, terus masuk ke kota Yogyakarta.

Pertempuran yang terjadi setelah kegagalan perundingan kedua ini, bukan hanya terjadi di sekitar Yogyakarta saja, tetapi juga terjadi dan berkecamuk di daerah-daerah Kedu, Banyumas, Bagelen, Bojonegoro, Rembang, Tuban. Hanya dengan susah payah, pasukan Belanda bisa bertahan dan menyelamatkan diri. Pertempuran yang timbul berkecamuk lagi ini, mendorong Jenderal De Kock untuk mengerahkan bala ¬bantuan, termasuk dari negeri Belanda sendiri. Dan memusatkan markas besarnya di kota Magelang pada tanggal 13 Maret 1828; dengan menempatkan markas besarnya di Magelang, maka pasukan Belanda dapat beroperasi lebih mobile, karena tempat itu sangat strategis untuk menjangkau daerah-daerah Semarang di utara, Surakarta di timur, Yogyakarta di selatan dan Banyumas di barat. Strategi ini cukup berhasil, karena daerah Kedu hampir seluruhnya dapat diamankan oleh pasukan Belanda.

Keunggulan Belanda di bidang militer, diikuti dengan kemenangan di bidang.diplomasi, di mana pada tanggal 28 April 1828, Pangeran Natadiningrat beserta isteri, ibu dan kira-kira 20 orang pasukannya menyerah kepada Letnan Kolonel Sollewijn. Penyerahan Natadiningrat ini sangat menggembirakan Belanda, karena sampai waktu itu; bolehlah dikatakan tidak ada keluarga terdekat Diponegoro dan Pangeran Mangkubumi yang menyerah kepada Belanda. Pangeran Natadiningrat adalah putera kesayangan Pangeran Mangkubumi yang diharapkan oleh Belanda dapat membujuk ayahnya sendiri untuk menyerah kepada Belanda dan meninggalkan Diponegoro.

Selain itu, pasukan Diponegoro di daerah Rembang di bawah pimpinan Tumenggung Sasradilaga, yang semula berhasil memukul mundur pasukan Belanda, lambat-laun mulai terjepit dan akhirnya pada tanggal 3 oktober 1828 menyerah pula kepada Belanda. Kemudian operasi militer Belanda berhasil mempersempit daerah operasi pasukan Diponegoro dengan jalan menggiringnya ke daerah antara sungai Progo dan sungai Bogowonto. Usaha berhasil, setelah pertempuran sengit dengan pasukan Diponegoro di daerah Belige di bawah pimpinan Pangeran Bei pada tanggal 31 Maret 1828. Dengan daerah gerak yang makin sempit, sangat memungkinkan pasukan Belanda yang besar itu dapat mengurung pasukan Diponegoro. Apalagi banyak pasukan bekas anak buah Diponegoro yang menyerah kepada Belanda diikut-sertakan dalam operasi militer ini. Dalam posisi terus terdesak dan terjepit, pasukan Diponegoro bukan hanya kekurangan persenjataan, tetapi juga kekurangan suplai bahan makanan. Tambah ironis, dalam situasi semacam itu di kalangan pimpinan pasukan Diponegoro terjadi perpecahan; sehingga dengan tiba-tiba pada tanggal 25 Oktober 1828 Kiai Mojo dengan pasukannya menyatakan keinginannya untuk berunding dan mengadakan gencatan senjata dengan Belanda.

1886: Rakyat Jawa Tengah bertahan di Candi Parikesit (Dataran Tinggi Dieng)  dalam Perang Jawa], Sumber : [11]
1886: Rakyat Jawa Tengah bertahan di Candi Parikesit (Dataran Tinggi Dieng) dalam Perang Jawa], Sumber : [11]

Pada tanggal 31 oktober 1828 perundingan berlangsung di Mlangi antara Kiai Mojo dengan delegasi Belanda di bawah pimpinan Letnan Kolonel Wiranegara, komandan pasukan kraton Yogyakarta. Perundingan dengan pengawalan yang ketat oleh pasukan Betanda, berakhir gagal. Perundingan kedua dilanjutkan lagi pada tanggal 5 Nopember 1828, dengan pengawalan ketat oleh pasukan Belanda di bawah pimpinan Letnan Kolonel Le Bron de Vexela; juga berakhir dengan kegagalan. Ketika perundingan gagal, Kiai Mojo beserta pasukannya kembali ke tempat semula, tetapi senantissa diikuti oleh pasukan Letnan Kolonel Le Bron de Vexela. Dengan tiba-tiba pasukan Le Bron menyerang pasukan Kiai Mojo, tetapi gagal karena semua prajurit Kiai Mojo telah siap mati syahid. Letnan Kolonel Le Pron tak kehabisan akal untuk dapat menangkap Kiai Mojo. Tipu muslihat yang licik dan keji dipergunakan oleh Le Bron dengan mengajak berpura-pura untuk melanjutkan perundingan di Klaten. Kiai Mojo dengan pasukannya menyetujui tawaran ini. Kiai Mojo dengan pasukannya memasuki kota Klaten dengan nyanyian-nyanyian agama seolah-olah sebuah pasukan yang menang perang dari medan pertempuran.

Setelah sampai Klaten, Kiai Mojo diajak oleh Letnan Kolonel Le Bron de Vexela masuk ke sebuah gedung, sedangkan pssukannya beristirahat di luar. Dengan serta-merta Kiai Mojo ditangkap dan pasukannya yang sedang lengah disergap oleh pasukan Belanda yang lebih besar dan kuat persenjataannya. Dalam kondisi tak berdaya, Kiai Mojo beserta pasukannya tertangkap dan tertawan; tidak kurang dari 50 pucuk senapan dan 300 buah tombak yang dapat dilucuti dari pasukan Kiai Mojo. Bersamanya tertangkap pula para ulama yang turut menjadi pimpinan pasukan di medan per¬tempuran, seperti antara lain Kiai Tuku Mojo, Kiai Badren, Kiai Kasan Basari. Kiai Mojo beserta stafnya dibawa ke Surakarta; dari sana terus ke Salatiga tempat kediaman Jenderal De Kock. Dari Salatiga Kiai Mojo dengan teman-temannya dibawa ke Semarang untuk kemudian dikirim ke Batavia. Tertangkapnya Kiai Mojo dan stafnya diper¬gunakan sebaik-baiknya untuk bisa membujuk pasukan Diponegoro yang lainnya, yang masih melakukan perang gerilya. Pada awal Januari 1829, Komisaris Jenderal Du Bus telah mengirimkan Kapten Roeps dan seorang staf Kiai Mojo untuk mengadakan perundingan dengan Diponegoro di markas besarnya di Pengasih. Pada akhir Januari 1829 mereka dapat di terima di markas per¬juangan Diponegoro dan pembicaraan dimulai antara delegasi Belanda dengan delegasi Diponegoro. Tetapi di saat pembicaraan sedang berlangsung, tiba-tiba ter¬dengar suara dentuman meriam dari pasukan Belanda yang dipimpin oleh Mayor Bauer. Mendengar letusan meriam, serentak pasukan Diponegoro mau membunuh delegasi Belanda yang sedang berada di tengah-tengah meja perundingan. Berkat kebijaksanaan Alibasah (Sentot) delegasi Belanda itu dapat selamat dan me¬merintahkan agar pasukan Belanda mengundurkan diri, jika jiwa para delegasi Belanda ingin selamat.

Pada bulan Februari 1829 Belanda mengadakan gencatan senjata secara sepihak. Sebab Jenderal De Kock mencoba membujuk Alibasah, panglima muda remaja yang sangat ditakuti oleh Belanda. Jenderal De Kock mengirimkan surat kepada Alibasah, yang isinya antara lain menjamin kebebasan bepergian bagi Ali basah dengan pasukannya di daerah kekuasaan Belanda tanpa ada gangguan. Bahkan De Kock mengirimkan beberapa pucuk pistol kepada Alibasah sebagai tanda kenang-kenangan dan keinginan mau berdamai. Taktik licik Belanda ini mempengaruhi pimpinan pasukan Diponegoro, apalagi setelah beberapa tokoh pasukan Diponegoro seperti Tumenggung Padmanegara, Pangeran Pakuningrat diberikan kebebasan bepergian di daerah kekuasaan Belanda pada bulan Ramadhan. Dalam kesempatan gencatan senjata ini Jenderal De Kock menggunakan waktu untuk terus mengirim surat kepada beberapa tokoh pasukan Diponegoro seperti Alibasah dan Pangeran Pakuningrat, yang isinya tidak lain menyanjung-nyanjung tokoh-tokoh tersebut dan keinginan Belanda untuk bekerjasama dengan mereka. Setelah gencatan senjata berjalan tiga bulan tanpa mendapat hasil yang memuaskan bagi Belanda, maka pertempuran dan operasi militer dilanjutkan. Terjadilah pertempuran sengit di antara kedua belah pihak, sampai Komisaris Jenderal Du Bus diganti oleh Johannes Van Den Bosch sebagai penguasa tertinggi Hindia Belanda di Indonesia, dan Jenderal Mercus De Kock diganti oleh Jenderal Mayor Benyamin Bischop sebagai pimpinan tertinggi militer Hindia Belanda, pada bulan Mei 1829. Tetapi karena Jenderal Benyamin Bischop sakit-sakitan pada tanggal 7 Juli 1829 meninggal dunia, maka praktis pimpinan tertinggi militer Hindia Belanda masih tetap berada ditangan Jenderal De Kock.

Pada akhir bulan Mei 1829 pasukan kolonial Belanda mencari dengan seksama tempat pangeran Mangkubumi yang menjadi kepala urusan rumahtangga pasukan Diponegoro. Maksudnya tidak lain agar dapat menangkap para anggota keluarga tokoh-tokoh pasukan Diponegoro, untuk dapat memancing tokoh-tokoh itu supaya bisa menyerah. Pada tanggal 21 Mei 1829 tempat persembunyian Pangeran Mangkubumi dengan para keluarga tokoh-tokoh pasukan Diponegoro di desa Kulur diserbu oleh pasukan Belanda di bawah pimpinan Mayor Bauer dan Kapten Ten Have. Hasilnya nihil, karena rombongan Pangeran Mangkubumi telah pergi bersembunyi ke tempat lain. Usaha pengejaran akan dilakukan, tetapi dengan tiba-tiba pasukan Di ponegoro di bawah pimpinan Alibasah menyerang pasukan Belanda tersebut, sehingga terpaksa menghadapinya dan dengan demikian rombongan Pangeran Mangkubumi lepas dari kejaran Belanda. Operasi militer untuk menangkap Pangeran Mangkubumi tidak berhasil; diikuti dengan diplomasi untuk mengajak berunding. Belanda menggunakan putera Pangeran Mangkubumi yang telah menyerah yaitu Pangeran Natadiningrat untuk bisa membujuk Pangeran Mangkubumi agar menghentikan pertempuran dengan Belanda, dengan alasan usia telah lanjut dan Belanda berjanji untuk memberikan jabatan yang terhormat dengan tempat dan gaji yang besar. Usaha ini tampak akan berhasil, sebagaimana dilaporkan oleh Residen Van Nes pada tanggal 28 Juni 1829; tetapi hasilnya ternyata gagal.

Peta Mataram Baru setelah Perang Diponegoro pada tahun 1830, Peta ini digambar oleh Meursault2004 alias Revo Arka Giri S. berdasarkan Robert Cribb, 2000, Historical Atlas of Indonesia halaman 114, Sumber : [12]
Peta Mataram Baru setelah Perang Diponegoro pada tahun 1830, Peta ini digambar oleh Meursault2004 alias Revo Arka Giri S. berdasarkan Robert Cribb, 2000, Historical Atlas of Indonesia halaman 114, Sumber : [12]

Kegagalan ini mendorong untuk melakukan operasi militer besar-besaran ke pusat pertahanan pasukan Diponegoro di desa Geger. Pada tanggal 17 Juli 1829 pasukan kolonial Belanda di bawah pimpinan Kolonel Cochius; Letnan Kolonel Sollewijn dan Mayor Cox van Spengler dibantu dengan pasukan Mangkunegara menyerang desa Geger. Dengan kekuatan yang tidak seimbang, markas Geger dapat direbut oleh pasukan Belanda dan beberapa pimpinan pasukan Diponegoro gugur sebagai syuhada, antara lain Sheikh Haji Ahmad dan Tunenggung Banuja. Operasi militer terus ditingkatkan oleh Belanda terhadap “kantong kantong” persembunyian pasukan Diponegoro, sehingga pada akhir Juli 1829 putera Diponegoro yakni Diponegoro Anom dan Raden Hasan Mahmud tertangkap oleh pasukan Letnan Kolonel Sollewijn. Tertangkapnya putera Diponegoro ini diper¬gunakan untuk melemahkan semangat perjuangan Diponegoro dengan cara mengancam akan membunuh Diponegoro Anom oleh Belanda. Jiwa puteranya akan selamat jika Diponegoro menghentikan pertempuran. Hal ini terlihat dari surat Jenderal De Kock tertanggal 6 Agustus 1829. Tetapi usaha ini tidak berhasil melemahkan semangat tempur Diponegoro. Dalam usaha konsolidasi, karena Alibasah dan Pangeran Bei sakit keras, maka Diponegoro telah mengangkat pimpinan pasukan infantri kepada Syeikh Muhammad dan Baisah Usman, sedangkan pasukan kavaleri dipimpin oleh Pangeran Sumanegara. Selesai konsolidasi, pasukan Diponegoro melakukan serangan terhadap pasukan Belanda di bawah pimpinan Mayor Bauer dan Kapten Ten Have di Serma pada tanggal 3 Agustus 1829. Dalam pertempuran sengit ini, banyak korban yang jatuh di kedua belah pihak, antara lain Syekh Muhammad dan Hasan Usman.

Untuk meningkatkan efektifitas operasi militer, Jenderal De Kock telah memindahkan markas besarnya dari Magelang ke Sentolo. Dengan demikian pasukan Belanda akan lebih dekat dengan pusat-pusat pertempuran yang dilakukan oleh pasukan Diponegoro. Bersamaan dengan operasi militer Belanda yang ditingkatkan, Panglima Alibasah dan Pangeran Bei telah sembuh, sehingga dapat aktif kembali memimpin pasukan Diponegoro yang telah kehilangan dua orang panglimanya yaitu Syeikh Muhammad dan Basah Usman. Pertempuran sengit tidak dapat dihindarkan lagi, disaat pasukan Diponegoro melintasi sungai Brogo menuju Pajang diserang oleh pasukan Belanda. Kedua belah pihak yang bertempur mati-matian, mengakibatkan banyak jatuh korban, diantaranya seorang perwira Belanda mati terbunuh yaitu Letnan Arnold. Seiring dengan operasi militer yang ditingkatkan, usaha diplomasi licik juga dilakukan. Pada tanggal 7 Agustus 1829 Letnan Kolonel Sollewijn datang ke Kreteg untuk membujuk keluarga Pangeran Mangku¬bumi untuk menyerah dengan janji jaminan dari Belanda. Akhirnya Raden Ayu Anom (isteri kedua Pangeran Mangkubumi) beserta anak-anaknya dan pengawalnya sebanyak 50 orang menyerah kepada Belanda.

Dengan posisi pasukan Diponegoro yang makin terjepit karena daerah operasinya makin diperkecil oleh Belanda, kelelahan dan kekurangan bahan makanan dengan perang yang telah berjalan lima tahun, akhirnya satu demi satu pasukan Diponegoro menyerah kepada Belanda. Pada tanggal 5 September 1829 Tunenggung Wanareja dan Tumenggung Wanadirja bersama dengan 44 orang pasukannya menyerah. Pada tanggal 6 September 1829, atas bujukan Tumenggung Surianegara yang sengaja ditugaskan oleh Jenderal De Kock, menyerah pulalah Tumenggung Suradeksana dan Sumanegara kepada Belanda di Kalibawang. Pada tanggal 9 September 1829, Pangeran Pakuningrat bersama dengan pasukannya sebanyak 40 orang menyerah lagi kepada Belanda. Pada tanggal 21 September 1829 atas nama pemerintah Hindia Belanda, Jenderal De Kock mengeluarkan pengumuman tentang ‘hadiah besar’ bagi setiap orang yang dapat menangkap hidup atau mati Diponegoro. Pengumuman itu antara lain berisi: “Barangsiapa yang berani menyerahkan Diponegoro hidup atau mati kepada penguasa Hindia Belanda, akan dinilai oleh Gubernur Jenderal Htndia Belanda sebagai seorang yang sangat besar jasanya. Kepada orang itu akan diberikan hadiah berupa uang kontan sebesar £ 50.000,- (lima puluh ribu pounds) dan diberikan gelar kehormatan dengan gaji dan tanah yang cukup luas”. Pengumuman yang menyayat hati ini belum lagi kering, pada akhir September 1829 telah gugur Pangeran Bei bersama dua orang puteranya yaitu Pangeran Jayakusuma dan Raden Mas Atmakusuma.

Bulan September 1829 benar-benar bulan yang menyedihkan bagi Diponegoro, sebagai pemimpin tertinggi Perang Jawa. Pada tanggal 25 September 1829 Mayor Bauer bersama Raden Mas Atmadiwirja (putera Pangeran Mangkubumi), Tumenggung Reksapraja beserta rombongan mencari Pangeran Mangkubumi, tetapi hasilnya nihil. Tetapi Belanda tidak berputus asa. Jenderal De Kock mengutus Pangeran Natadiningrat, putera Pangeran Mangkubumi yang telah menyerah, untuk membujuk ayahnya. Maka pada tanggal 27 September 1829 Pangeran Natadiningrat berhasil membujuk ayahnya untuk menyerah kepada Belanda. Keesokan harinya, tanggal 28 September 1829 Pangeran Mangkubumi dibawa oleh puteranya ke Yogyakarta. Di pertengahan jalan (di Mangir) rombongan Pangeran Mangkubumi telah dijemput oleh Residen Van Nes dan pejabat-pejabat kesultanan Yogyakarta. Pengaruh dari menyerahnya Pangerang Mangkubumi sangat besar bagi pasukan Diponegoro, karena secara berturut-turut telah menyerah pula pangeran Adinegara, Kanjeng Pangeran Aria Suryabrangta, Pangeran Suryadipura, Pangeran Suryakusuma, Kanjeng Pangeran Dipasana, semuanya adalah mempunyai hubungan famiIi dengan Diponegoro sendiri. Menyerah¬nya secara berturut-turut orang-orang di sekitar Diponegoro, benar-benar dapat melumpuhkan pasukan Diponegoro. Apalagi usaha untuk menarik Alibasah, panglima pasukan Diponegoro yang disegani masih terus dilanjutkan. Melalui Pangeran Prawiradiningrat, yang menjadi bupati Madiun dan saudara Alibasah sendiri, Belanda telah berusaha untuk menaklukkannya. Sejak tanggal 23 Juli 1829 usaha ini telah dilakukan walaupun pada permulaannya gagal, karena syarat-syarat yang diajukan oleh Alibasah cukup berat; yaitu:

  • 1. Memberikan uang jaminan sebesar £ I0.000.-
  • 2. Menyetujui pembentukan sebuah pasukan di bawah Pimpinan Alibasah sendiri yang berkekuatan seribu orang dan dilengkapi dengan persenjataan dan pakai¬an seragam;
  • 3. Memberikan 400 – 500 pucuk senjata api;
  • 4. Pasukan Alibasah ini langsung dibawah komando pemerintah Hindia Belanda, dan bebas dari kekuasaan sultan atau pembesar bangsa Indonesia; ¬
  • 5. Mereka bebas menjalankan agamanya,
  • 6. Tidak ada paksaan minum Jenever atau arak;
  • 7. Diizinkan pasukannya memakai surban.

Tawar-inenawar syarat-syarat ini dilakukan pada tanggal 17 oktober 1829 di Imogiri, antara delegasi Ali basah dengan delegasi Belanda, yang hasilnya masih memerlukan waktu untuk diputuskan oleh penguasa tertinggi Hindia Belanda di Batavia. Dalam surat yang ditulis Jenderal De Kock kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia, tertanggal 20 Oktober 1829, antara lain berisi: “…saya telah menulis surat kepada Residen dan Kolonel Cochius bahwa mereka harus sedapat mungkin berusaha me¬nyenangkan hati Alibasah, karena adalah hal yang penting sekali apabila orang seperti Alibasah dapat kita tarik ke pihak kita dan turut membela kepentingan kita ….. seperti yang hendak saya nyatakan dengan hormat, bahwa karena sebab-sebab itulah saya berpendapat bahwa adalah sangat penting apabila Alibasah sudah berada di pihak kita, makin lama makin mengikat dia pada kepentingan kita. Sungguhpun hal ini harus disertai beberapa pengorbanan dari pada kita.” Surat Jenderal De Kock ini mendapat jawaban dari pemerintah Hindia Belanda di Batavia tertanggal 25 Oktbber 1829, antara lain berbunyi: “Pemerintah pada dasarnya setuju dengan keinginan Jenderal (Jenderal De Kock) bahwa dari pihak kita harus dipergunakan segala apa yang mungkin dapat dipakai, selama hal itu dapat sesuai dengan kebesaran pemerintah dan berusaha sedapat mungkin mencegah kembalinya Alibasah ke pihak pemberontak. Melihat isi surat-surat pemerintah Bindia Belanda ini dapat disimpulkan bahwa Belanda bersedia memenuhi syarat-syarat yang diajukan oleh Alibasah. Oleh karena itu kepada Residen Yogyakarta diperintahkan untuk segera menyerahkan uang sebanyak £ 5.000,- dan 200 pucuk senjata untuk dipergunakan pasukan Alibasah serta pasukannya itu langsung dibawah komando Jenderal De Kock, walau secara yuridis masih berada dibawah wewenang sultan. Syarat-syarat lain¬nya seluruhnya dipenuhi. Untuk pelaksanaan penyerahan Alibasah dengan pasukannya, pada tanggal 23 Oktober 1829 Jenderal De Kock datang ke kota Yogyakarta untuk menyambutnya; dan pada tanggal 24 Oktober 1829 Alibasah dengan pasukannya memasuki kota Yogyakarta dan diterima oleh Jenderal De Kock dengan upacara militer yang meriah.

Dengan menyerahnya Pangeran Mangkubumi, Ali basah dan puluhan Pangeran dan Tumenggung serta tertangkapnya Kiai Mojo dan gugurnya ratusan tokoh-tokoh Perang Jawa, maka secara praktis Diponegoro tinggal sendirian. Pengalaman pahit dan getir yang di alami oleh Diponegoro sebagai pimpinan tertinggi perang Jawa, karena banyaknya sababat-sahabat meninggalkannya atau meninggal dunia. Dalam kondisi yang demikian, ia harus menentukan pilihan: meneruskan pertempuran sampai mati syahid di medan laga atau menyerah kepada musuh sampai mati di dalam penjara. Kedua alternatif itu sama-sama tidak menyenangkan! Setelah menyerahnya Alibasah dengan pasukannya, operasi militer Belanda terus ditingkatkan guna memberikan pukulan terakhir terhadap pasukan Diponegoro yang tinggal sedikit lagi itu. Tekanan-tekanan pasukan Belanda kepada posisi pasukan Diponegoro yang terus-menerus ditingkatkan, banyak pula tokoh-tokoh Perang Jawa yang menyerah, antara lain pada bulan Desember 1829; salah seorang komandan pasukan Diponegoro yang masih ada yaitu Jayasendirga; Tumenggung Jayaprawira dan beberapa tumenggung lainnya beserta pasukannya bertekuk lutut kepada Belanda. Adapula yang karena kondisi kesehatan, akhirnya wafat di puncak gunung Sirnabaya Banyumas seperti Pangeran Abdul Rahim (saudara Diponegoro sendiri). Memasuki tahun 1830, musibah yang menimpa pasukan Diponegoro masih terus saja bertambah. Pada tanggal 8 Januari 1830, putera Diponegoro yaitu Pangeran Dipakusuma tertangkap oleh pasukan Belanda; pada tanggal 18 Januari 1830 berikutnya Patih Diponegoro menyerah kepada Belanda.

Usaha untak menghentikan Perang Jawa dengan damai yang licik terus dilakukan. Dengan menggunakan bekas tokoh-tokoh Perang Jawa seperti Alibasah dan Patih Danureja dalam usaha perdamaian licik membawa hasil yang menggembirakan bagi Belanda. Sebab pada tanggal 16 Februari 1830 telah terjadi pertemuan pertama antara Diponegoro dengan Kolonel Cleerens, wakil pemerintah Hindia Belanda dalam rangka perdamaian di Kamal, sebelah utara Rama Jatinegara daerah Bagelen. Pertemuan perdamaian tidak dapat dilangsungkan, karena Diponegoro menuntut perundingan itu harus dilakukan oleh seorang yang mempunyai posisi yang sama dengan dia; setidak-tidaknya seperti Jenderal De Kock. Padahal Jenderal De Kock pada saat itu sedang berada di Batavia. Untuk menunggu kedatangan Jenderal De Kock, maka Diponegoro dengan pasukannya terpaksa harus menginap di Kecawang sebelah utara desa Saka. Selama tenggang waktu perundingan, gencatan senjata dilakukan oleh kedua belah pihak. Desa Kecawang masih terlalu jauh, apabila perundingan akan dilangsungkan di sana. Oleh karena itu; untuk memudahkan jalan perundingan Diponegoro dengan pasukannya harus pindah ke Menoreh yang tidak begitu jauh dari Magelang, markas besar pasukan Belanda. Pada tanggal 21 Februari 1830 rombongan Diponegoro telah tiba di Menoreh. Tetapi sampai 5 Maret 1830 Jenderal De Kock belum juga datang ke Magelang padahal bulan Ramadhan telah tiba. Berkenaan dengan bulan suci ini; Diponegoro tidak mau mengadakan perundingan dengan Belanda karena ia akan memusatkan dirinya untuk melakukan ibadah puasa selama sebulan. Kontak pertama antara Diponegoro dengan Jenderal De Kock terjadi pada tanggai 8 Maret 1830, sebagai perkenalan dan selanjutnya jadwal perundingan akan dilangsungkan sesudah bulan Ramadhan. Menjelang hari raya Idul Fithri, Diponegoro telah menerima hadiah dalam bentuk seekor kuda tunggang yang sangat baik dan uang sebesar f 10.000.- Kemudian diikuti dengan pembebasan putera dan isteri Diponegoro yang ditahan di Semarang dan membolehkan mereka berkumpul dengan Diponegoro di tempat penginapan perundingan di Magelang. Pada tanggal 25 Maret 1830, Jenderal De Kock telah memberikan perintah rahasia kepada Letnan Kolonel Du Perron dan pasukannya untuk memperketat pengawalan dan penjagaan kota Magelang dengan mengerahkan pasukan Belanda dari beberapa daerah di Jawa Tengah. Instruksinya, apabila perundingan gagal, Diponegoro dan delegasinya harus ditangkap! Pada tanggal 28 Maret 1830 perundingan akan dilangsungkan di gedung Keresidenan Kedu di Magelang. Sebelum jam 07.00 pagi Tumenggung Mangunkusuma datang kepada Residen Kedu untuk memberitahukan bahwa sebentar lagi Diponegoro dengan staf nya akan tiba. Pemberitahuan ini menyebabkan Letnan Kolonel Du Perron menyiap-siagakan pasukannya, sesuai dengan perintah Jenderal De Kock. Jam 07.30. pagi Diponegoro dengan stafnya dikawal oleh seratus orang pasukannya memasuki gedung keresidenan. Delegasi Diponegoro diterima langsung oleh Jenderal De Kock dengan staf nya. Perundingan dilakukan di tempat kerja Jenderal De Kock. Pihak Diponegoro disertai dengan tiga orang puteranya yaitu Diponegoro Anom, Raden Mas Joned, Raden Mas Roub, ditambah dengan Basah Martanegara dan Kiai Badaruddin. Sedangkan di pihak Jenderal De Kock disertai oleh Residen Valk, Letnan Kolonel Roest, Mayor Ajudan De Stuers dan Kapten Roeps sebagai juru bicara. Letnan Kolonel De Kock van Leeuwen, Mayor Perie dan opsir-opsir Belanda lainnya ditugaskan untuk melayani dan mengawasi pemimpin-pemimpin pasukan Diponegoro yang berada di kamar yang lain. Sedangkan letnan Kolonel Du Peron tetap berada di luar gedung keresidenan untuk setiap saat dapat melakukan penyergapan, sebagaimana telah diperintahkan oleh Jenderal De Kock. Kolonel Cleerens yang mula-mula sekali berhasil melakukan kontak dengan Diponegoro dan berhasil merencanakan pertemuan perdamaian serta telah memberikan jaminan diplomasi penuh kepada Diponegoro dan stafnya tidak diikutsertakan bahkan tidak berada di kota Magelang tempat perundingan dilaksanakan. Dengan demikian jika terjadi pengkhianatan maka secara moral Cleerens tidak terlibat langsung, karena memang tidak hadir.

Baron H. Merkus de Kock (dilukis oleh F.V.A. Ridder de Stuers pada tahun 1849)  Sumber:[13]
Baron H. Merkus de Kock (dilukis oleh F.V.A. Ridder de Stuers pada tahun 1849) Sumber:[13]

Babak pertama Jadwal perundingan, menurut Diponegoro sebagai pendahuluan untuk menjajagi materi perundingan pada babak selanjutnya; tetapi menurut Jenderal De Kock harus langsung memasuki materi Perundingan. Pembicaraan materi perundingan menjadi tegang, karena De Kock bersikeras untuk langsung membicarakan materi perundingan. Suasana tegang dan panas itu, sampai-sampai Diponegoro terlontar ucapan: “Jika tuan menghendaki persahabatan, maka seharusnya tidak perlu adanya ketegangan di dalam perundingan ini. Segalanya tentu dapat diselesaikan dengan baik. Jikalau kami tahu bahwa, tuan begitu jahat, maka pasti lebih baik kami tinggal terus saja berperang di daerah Bagelen dan apa perlunya kami datang kemari.” Ketika pihak Jenderal De Kock terus mendesak tentang tujuan penerangan yang telah dilakukan oleh Diponegoro selama lebih lima tahun ini, maka akhirnya ia memberi jawaban dengan tegas dan gamblang, yaitu antara lain: “Mendirikan negara merdeka di bawah pimpinan seorang pemimpin dan mengatur agama Islam di pulau Jawa”. Mendengar jawaban ini Jenderal De Kock terperanjat, karena ia tidak mengira bahwa Diponegoro akan mengajukan tuntutan semacam itu. Sewaktu De Kock memberi jawaban bahwa tuntutan semacam itu adalah terlalu berat dan tak mungkin dapat dipenuhi, Diponegoro tetap teguh pada tuntutannya. Tanda-tanda perundingan babak pertama akan menemui jalan buntu, dan Belanda khawatir jika pe¬rundingan ditunda sampai besok, berarti kesempatan buat Diponegoro dan pasukannya untuk mengadakan konsolidasi guna menghadapi segala kemungkinan. Sesuai dengan rencana Belanda bahwa perundingan adalah semata-mata methoda untuk menangkap Diponegoro dan stafnya, maka dengan angkuhnya Jenderal De Kock berkata: “Kalau begitu, tuan tidak boleh lagi kembali dengan bebas.” Mendengar ucapan ini, Diponegoro dengan marah menjawab : “Jika demikian, maka tuan penipu dan pengkhianat, karena kepada saya telah dijanjikan kebebasan dan boleh kembali ke tempat perjuangan saya semula, apabila perundingan ini gagal.” Jenderal De Kock berkata lagi: “Jika tuan kembali, maka peperangan akan berkobar lagi.” Diponegoro menjawab: “Apabila tuan perwira dan jantan, mengapa tuan takut berperang?” Tiba-tiba Jenderal De Kock menginstruksikan kepada Letnan Kolonel Du Perron dan pasukannya untuk menyergap Diponegoro dan stafnya serta seluruh pengawalnya dilucuti. Dalam posisi tidak siap tempur, Diponegoro dan pasukannya dengan mudah ditangkap dan dilucuti.

Dengan cepat Diponegoro dimasukkan ke dalam kendaraan residen yang telah disiapkan oleh Belanda dengan pengawalan ketat oleh Mayor Ajudan De Stuers dan Kapten Roeps berangkat menuju Ungaran. Dari sana kemudian Diponegoro dibawa ke Semarang untuk selanjutnya dibawa ke Batavia. Pada tanggal 3 Mei 1830 Diponegoro beserta stafnya dibawa ketempat pembuangannya di Menado. Tidak kurang dari 19 orang yang terdiri dari keluarga dan stafnya ikut dalam pembuangan di Menado. Pada tahun 1834 Diponegoro beserta keluarga dan stafnya dipindahkan ke kota Makasar. Dan pada tanggal 8 Januari 1855 Diponegoro wafat dalam usia kira-kira 70 tahun, setelah menjalani masa tawanan selama duapuluh lima tahun. Perang Jawa yang dahsyat dan penuh patriotisme telah digerakkan dan dipimpin oleh tokoh-tokoh pejuang Islam, yang hampir sebagian terbesar berideologi Islam dan bertujuan berdirinya negara merdeka yang berdasarkan Islam. Fakta-fakta sejarah yang terungkap, baik latar belakang yang mewarnai para tokoh Perang Jawa, masa peperangan yang memakan waktu lima tahun lebih, yang diisi dengan menegakkan syari’at Islam di dalam kehidupan pasukan Diponegoro sampai pada saat perundingan dengan Belanda serta tujuan yang akan dicapai, semuanya adalah bukti yang kuat bahwa Diponegoro dan pasukannya telah melakukan perjuangan politik Islam untuk mendirikan negara Islam di tanah Jawa. Kegagalan yang diderita oleh Diponegoro dan pasukannya, bukan karena tujuan dan methodanya yang salah, tetapi karena kekuatan yang tak seimbang, baik manpower, persenjataan, perlengkapan dan pengkianatan bangsa sendiri yang sebagian besar membantu Belanda yang kafir; disamping tipu muslihat yang licik dan keji yang dilakukan oleh penguasa kolonial Belanda. Tipu muslihat yang licik dan keji, yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang bermoral rendah dan jahat, ternyata telah menjadi watak kepribadian penguasa kolonial di Indonesia, baik Portugis maupun Belanda.

Sumber : Perjuangan Islam Melawan Penjajah [[14]]


Gallery Aktifitas Keluarga Pangeran Diponegoro


I. LAUNCHING BUKU KUASA RAMALAN KE I (Yogyakarta, 2010)




II. DEKLARASI KEISTIMEWAAN YOGYAKARTA (Yogya, 11-12 Desember 2011)---> Klik Video :Yogya Istimewa


Dalam sebuah pertemuan antara Ki Roni Sodewo dengan Adik kandung Sultan HB-X yaitu GBPH. Joyokusumo yang juga dihadiri oleh bapak Hasyim Djoyohadikusumo, Gusti Joyokusumo berkata : "Saya mengharapkan Keturunan Pangeran Diponegoro harusnya berada di barisan depan mendukung Keistimewaan Yogyarta". Maka atas permintaan KBPH Joyokusumo itulah kami Keturunan Pangeran Diponegoro bersama-sama Laskar Diponegoro berjumlah lebih dari 1000 orang melakukan pernyataan sikap menentang kepada Pemerintah RI dengan cara berorasi sambil long-march dari Tegalrejo (Sasana Wiratama) menuju Keraton Yogyakarta. Di Keraton Yogyakarta Ki Roni Sodewo mewakili semua Trah menyampaikan Deklarasi kepada Sultan HB-X atas nama Gubernur DIY dan Sultan. Trah Pangeran Diponegoro berdatangan dari berbagai daerah seperti : Kulon Progo, Purworejo, Banyumas, Bogor, Jakarta, Ambon, Sulawesi, Padang dll.


Yogya Istimewa
Yogya Istimewa
Deklarasi Yogya-02
Deklarasi Yogya-02
Deklarasi Yogya-03
Deklarasi Yogya-03
Deklarasi Yogya-04
Deklarasi Yogya-04
Deklarasi Yogya-05
Deklarasi Yogya-05
Deklarasi Yogya-06
Deklarasi Yogya-06
Deklarasi Yogya-07
Deklarasi Yogya-07
Deklarasi Yogya-08
Deklarasi Yogya-08
Deklarasi Yogya-09
Deklarasi Yogya-09
Deklarasi Yogya-10
Deklarasi Yogya-10
Deklarasi Yogya-11
Deklarasi Yogya-11
Deklarasi Yogya-12
Deklarasi Yogya-12
Deklarasi Yogya-13
Deklarasi Yogya-13
Deklarasi Yogya-14
Deklarasi Yogya-14
Deklarasi Yogya-15
Deklarasi Yogya-15
Deklarasi Yogya-16
Deklarasi Yogya-16


III. KUNJUNGAN KE KERATON YOGYAKARTA (Yogya, 20 Oktober 2012)


Atas undangan Adik kandung Sultan HB-X yaitu GBPH. Joyokusumo, pada Oktober 2012 kami yang berjumlah kurang lebih 20 orang melakukan kunjungan ke Keraton Yogyakarta. Agenda utama kunjungan antara lain :

  • Silaturahmi Keluarga Pangeran Diponegoro dengan Pihak Keraton Yogyakarta;
  • Membahas Kekancingan Keluarga (Semacam Sertifikat / Surat Pengukuhan Hak) yg dikeluarkan oleh Tepas Darah Dalem;
  • Pembentukan Nama Organisasi Keturunan Pangeran Diponegoro;
  • Masalah-masalah lain keluarga.

Dalam acara kunjungan ini Gusti Joyokusumo didampingi BRAy. Hj. Nuraida/BRAy. Joyokusumo bercerita banyak tentang kondisi Keraton, kondisi kesehatan Gusti Joyo dan sekilas tentang tatakrama Keraton. Dalam kesempatan ini juga kami semua diajak berkeliling oleh BRAy. Joyokusumo mengenai isi Keraton serta sejarahnya, juga berkunjung ke Museum Kereta Kencana Keraton. Pada jamuan makan siang, kami diperkenankan mencicipi kue hidangan pembuka kesukaan dan tradisi Sultan-sultan Yogyakarta yang bernama "Kue Rondo Mendem" semacam "Pancake" juga dihidangkan minuman "Stuff Jambu Merah" khas Keraton Yogyakarta.

Keraton Yogya-1
Keraton Yogya-1
Keraton Yogya-2
Keraton Yogya-2
Keraton Yogya-3
Keraton Yogya-3
Keraton Yogya-4
Keraton Yogya-4
Keraton Yogya-5
Keraton Yogya-5
Keraton Yogya-6
Keraton Yogya-6
Keraton Yogya-7
Keraton Yogya-7
Keraton Yogya-8
Keraton Yogya-8
Keraton Yogya-9
Keraton Yogya-9
Keraton Yogya-10
Keraton Yogya-10
Keraton Yogya-11
Keraton Yogya-11
Keraton Yogya-12
Keraton Yogya-12
Keraton Yogya-13
Keraton Yogya-13
Keraton Yogya-14
Keraton Yogya-14
Keraton Yogya-15
Keraton Yogya-15
Keraton Yogya-16
Keraton Yogya-16
Keraton Yogya-17
Keraton Yogya-17
Keraton Yogya-18
Keraton Yogya-18
Keraton Yogya-19
Keraton Yogya-19
Keraton Yogya-20
Keraton Yogya-20
Keraton Yogya-21
Keraton Yogya-21
Keraton Yogya-22
Keraton Yogya-22
Keraton Yogya-23
Keraton Yogya-23
Keraton Yogya-24
Keraton Yogya-24
Keraton Yogya-25
Keraton Yogya-25
Keraton Yogya-26
Keraton Yogya-26
Keraton Yogya-27
Keraton Yogya-27
Keraton Yogya-28
Keraton Yogya-28
Keraton Yogya-29
Keraton Yogya-29
Keraton Yogya-30
Keraton Yogya-30
Keraton Yogya-31
Keraton Yogya-31
Keraton Yogya-32
Keraton Yogya-32


IV. PENTAS PENGASINGAN SANG PANGERAN Ke 1 (Magelang, 8 Januari 2014)


Magelang-1
Magelang-1
Magelang-2
Magelang-2
Magelang-3
Magelang-3
Magelang-4
Magelang-4
Magelang-5
Magelang-5
Magelang-6
Magelang-6
Magelang-7
Magelang-7
Magelang-8
Magelang-8
Magelang-9
Magelang-9
Magelang-10
Magelang-10
Magelang-11
Magelang-11
Magelang-12
Magelang-12
Magelang-13
Magelang-13
Magelang-14
Magelang-14
Magelang-15
Magelang-15
Magelang-16
Magelang-16


V. UNDANGAN IKA UNDIP (Senayan City, 27 Januari 2014)


Ika-Undip-1
Ika-Undip-1
Ika-Undip-2
Ika-Undip-2
Ika-Undip-3
Ika-Undip-3
Ika-Undip-4
Ika-Undip-4
Ika-Undip-5
Ika-Undip-5
Ika-Undip-6
Ika-Undip-6
Ika-Undip-7
Ika-Undip-7
Ika-Undip-8
Ika-Undip-8
Ika-Undip-9
Ika-Undip-9
Ika-Undip-10
Ika-Undip-10
Ika-Undip-11
Ika-Undip-11
Ika-Undip-12
Ika-Undip-12


  • VI. PENTAS PENGASINGAN SANG PANGERAN KE 2 (Bentara Budaya Jakarta, 6 Maret 2014)

BBJ-1
BBJ-1
BBJ-2
BBJ-2
BBJ-3
BBJ-3
BBJ-4
BBJ-4
BBJ-5
BBJ-5
BBJ-6
BBJ-6
BBJ-7
BBJ-7
BBJ-8
BBJ-8
BBJ-9
BBJ-9
BBJ-10
BBJ-10
BBJ-11
BBJ-11
BBJ-12
BBJ-12
BBJ-13
BBJ-13
BBJ-14
BBJ-14
BBJ-15
BBJ-15
BBJ-16
BBJ-16

14911/7 <75+?> # 5. RA. Maduretno / RA. Diponegoro (BRA Ontowiryo) [Hamengku Buwono]
Рођење: 1798проц, Yogyakarta
Свадба: <142!> # Pangeran Diponegoro [Hamengku Buwono] b. 11 новембар 1785 d. 8 јануар 1855
Титуле : 18 фебруар 1828, Tegalrejo
Смрт: 28 фебруар 1828, Yogyakarta
== 5. RA. Maduretno / RA. Diponegoro / BRA. Ontowiryo ==

Setelah geger Madiun reda di tahun 1814 untuk yang ke lima kalinya Pangeran Diponegoro menikah dengan R.A. Maduretno, putri Raden Rangga Prawiradirjo III dengan Ratu Maduretno (putri HB II), jadi R.A Maduretno saudara seayah dengan Sentot Prawirodirjo, tetapi lain ibu. Tahun 1826 ketika Pangeran Diponegoro diangkat menjadi Sultan di Dekso, R.A Maduretno diangkat menjadi permaisuri. Namun karena sakit beliau meninggal pada tahun 1828. Dari pernikahan ini lahirlah Raden Mas Joned pada tahun 1815 Dan Raden Mas Roub tahun 1816 . Raden Ayu Maduretno juga dikenal dengan Raden Ayu Ontowiryo atau Raden Ayu Diponegoro. Ketika menikah dengan R. A Maduretno, isteri pertama dan keempat sudah meninggal, sedangkan isteri kedua lebih senang tinggal diistana sehingga terjadilah hubungan yang tidak harmonis antara P. Diponegoro dengan RA. Retnokusumo.

Hubungan Pangeran Diponegoro dengan keluarga besar Raden Ronggo semakin ditingkatkan untuk menambah kekuatan dan kedudukan kasultanan Jogja di mata penjajah.
17812/7 <65+?> # 1. Kanjeng Raden Tumenggung Mangkuwijoyo / Pangeran Adipati Mangkudiningrat II [Hamengku Buwono]
Edited by : R.E. Suhendar Diponegoro[1]
  • Granted the principality of Kalibawang in fief 28th April 1831. Exiled to Ambon in December 1831. m. (div. 1817) Bandara Radin Ayu Mangku Vijaya (m. second, Colonel Gusti Pangeran Adipati Prabhu ning Rat), daughter of H.H. Sampeyan Dalam ingkang Sinuhun Kanjeng Sri Sultan Amangku Buwana III Senapati ing Alaga Ngah 'Abdu'l-Rahman Saiyid ud-din Panatagama Khalifatu'llah ingkang Yumeneng Kaping, Sultan of Yogyakarta, by his wife, Ratu Kinchana/Ratu Ibu, daughter of Radin Temenggong Pangeran Sasra di-ning Rat I, Bupati of Jipang-Rajegwesi.
18013/7 <65> # 2. Pangeran Arya Tjakraningrat [Hamengku Buwono]
Рођење: 1801
Edited by : R.E. Suhendar Diponegoro[1]
  • Lahir dari Ibu selir (Junior Wife), turut dibuang ke Ambon dan wafat di Ambon pada tanggal 13 Maret 1824 dimakamkan di Pemakaman Raja2 Imogiri, Bantul, Yogyakarta
18114/7 <65> # 3. Raden Mangku Wilaya / Radin Marta Atmaya / Pangeran Arya Suriya Mataram [Hamengku Buwono]
Рођење: 1802
Смрт: 1825
Edited by : R.E. Suhendar Diponegoro[1]
  • Lahir dari Ibu selir (Junior Wife), turut dibuang ke Ambon dan wafat di Ambon pada tanggal 13 Maret 1824 dimakamkan di Pemakaman Raja2 Imogiri, Bantul, Yogyakarta
18215/7 <65> # 4. Radin Sasra Atmaja / Pangeran Arya Pakuningrat [Hamengku Buwono]
Рођење: 1803
Смрт: од 1825

Edited by : Edited by : R.E. Suhendar Diponegoro[1]

  • Lahir dari Ibu Selir (Junior Wife), meninggal di Kapal Laut pada saat Perang Jawa 1825-1830.
18316/7 <65+?> # 5. Colonel Radin Mas Papak /Radin Temenggong Mangkundirja [Hamengku Buwono]
Рођење: 1804
Титуле : 1831, Prins Kalibawang
Смрт: 1853, Kalibawang
Edited by : Edited by : R.E. Suhendar Diponegoro[1]
  • Colonel Radin Mas Papak/Radin Temenggong Mangkundirja (cre. 1814)/Pangeran Adipati Natapraya (cre. 1825), Prince of Kalibawang. b. 1804 (s/o Radin Ayu Jaya Kusuma). Succeeded his brother as prince of Kalibawang 1831. He d. at Kalibawang, November 1853.
18417/7 <65+?> # 6. Pangeran Arya Papak [Hamengku Buwono]
Рођење: 1804
Edited by :


  • Lahir dari Ibu Selir (Junior Wife), (Bandara Pangeran Arya Mangku di-ning Rat/Kanjeng Gusti Pangeran Adipati I. b. 1778 (s/o Ratu Mas). Exiled to Penang 1812-1815, Batavis 1815-1817 and Ambon 1817-1824. Became an ascetic and assumed the name of Panji Angon Asmara. m. (first) Radin Ayu Jaya Kusuma, daughter of Pangeran Serang, by his wife, Radin Ayu Serang. m. (second) a selir or junior wife. He d. at Ambon, 13th March 1824 (bur. Imagiri)
14318/7 <57> # Raden Mas Ibnu Jarot ? (Sri Sultan Hamengkubuwono IV) [Hamengkubuwono]
Рођење: 3 април 1804, Surakarta
Свадба: <70> Bendoro Raden Ayu Turunsi [?]
Свадба: <71> Bendoro Raden Ayu Dora Asmara [?]
Свадба: <59!> Bendoro Raden Ayu Murtiningrum [?]
Свадба: <72> Bendoro Raden Ayu Widyawati [Jiwatenaya]
Свадба: <73> Bendoro Raden Ayu Ratnaningrum [?]
Свадба: <74> Bendoro Raden Ayu Ratna Adiningrum [?]
Свадба: <75> Bendoro Raden Ayu Devaningrum [?]
Свадба: <76> # Gusti Kanjeng Ratu Kencono / Gusti Kanjeng Ratu Agung [Danurejo II]
Свадба: <77> Bendoro Raden Ayu Murcitraningrum [?]
Титуле : од 10 новембар 1814, Sultan of Yogyakarta, 4th
Број брака: 12 мај 1816
Титуле : од 17 август 1826, Sultan of Yogyakarta, 4th
Смрт: 26 јануар 1828
18519/7 <65+?> # 7. Pangeran Arya Pakuningprang [Hamengku Buwono]
Рођење: 1805
Edited by :
  • Lahir dari Ibu Selir RA. Mangkudiningrat pada tahun 1805. (Bandara Pangeran Arya Mangku di-ning Rat/Kanjeng Gusti Pangeran Adipati I. b. 1778 (s/o Ratu Mas). Exiled to Penang 1812-1815, Batavis 1815-1817 and Ambon 1817-1824. Became an ascetic and assumed the name of Panji Angon Asmara. m. (first) Radin Ayu Jaya Kusuma, daughter of Pangeran Serang, by his wife, Radin Ayu Serang. m. (second) a selir or junior wife. He d. at Ambon, 13th March 1824 (bur. Imagiri).
14520/7 <55+61> Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Paku Alam III / Gusti Pangeran Haryo Sastraningrat (Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Surya Sasraningrat) [Pakualaman]
Рођење: 20 децембар 1827, Yogyakarta
Титуле : 19 децембар 1858, Yogyakarta
Смрт: 17 октобар 1864, Yogyakarta
14621/7 <55> Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam V / Kanjeng Pangeran Haryo Suryodilogo [Pakualaman]
Рођење: 23 јун 1833, Yogyakarta
Титуле : 1878, Yogyakarta, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario (KGPAA) Prabu Suryodilogo
Смрт: 6 новембар 1900, Kulon Progo
17622/7 <55+61> # Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam IV / Raden Mas Nataningrat [Pakualaman]
Рођење: 25 октобар 1840, Yogyakarta
Свадба: <78> # Gusti Kanjeng Ratu Ayu / [p.VI.10] [Hamengku Buwono VI]
Титуле : 1864, Yogyakarta, Prabu Paku Alam IV [1864-1878]
Смрт: 24 децембар 1878, Yogyakarta
14423/7 <55> Gusti Pangeran Haryo Nataningprang [Pakualaman]
Смрт: 1857
14724/7 <56> # R. Ay. Pangulu Kamaludiningrat [Hamengku Buwono]
Official Link. Adm: Hilal Achmar.

SILSILAH KETURUNAN (1&2) SISILAH PANCER KEDIRI (1) Sisilah uri-uri leluhur puniko kaserat/revisi dening :

1. R. Fatah Sultan Akbar I Bintoro Demak 2. R. Trenggono Sultan Akbar III Bintoro Demak 3. Sultan Mu'min (Sultan Prawoto) Demak 4. Panembahan Wirasmoro (Pangeran Sumende)Sumare ing Setono Gedong Kediri (Jl. Raya Dhoho Kediri kilen stasiun Kediri Kota) 5. R. Djalu Pangeran Demang Kediri I 6. Pangeran Demang Kediri II. Sumare ing Badal Nambangan / Ngrembang - Ngadiluwih - Kediri Peputro : 1. Kyai Ageng Abd. Djabar Tjorekan (Sumare ing Ngelam Suroboyo) 2. Kyai Ageng abd. Adim (Sumare ing Brodat/Kertosono) 3. Kyai Ageng Abd. Mursad (Sumare ing Tukun) 4. Kyai Ageng Abd. Rochim Ngliman 5. Kyai Ageng Abd. Salim / Adipati Kemten Sedo ing Pasuruan (Sumare ing Kundjonmanis)

Kyai Abd. Djabar Tjorekan dipun labuh dening Goverment walandi, wonten pelabuhan Kediri mentas ing dukuh Ngelam, dedukuh wonten ngriku kasebat Kyai Ageng Ngelam Suroboyo.Peputro : 1. Kyai Supanjeng Suroboyo 2. Kyai bagong Suroboyo

Kyai Ageng Abd. Brodat Kagungan putro ing Tapan Maduro : 1. R. Ayu Pangeran Tjokroningrat Madura 2. Kyai Tambak Agung Lemah Putro Suroboyo : Peputro : 1. Kanjeng Penghulu Kamaludiningrat (ing Godong Mataram) 2. Kyai Ag. Abd. Djabar (Kamludin) ing Kediri I 3. Kyai Im Sapingi ing Kediri II 4. Kyai Moh. Sapingi / Kamaludin ing Kediri III : Kagungan putro garwo Sepuh (RA. SEDAH MERAH) : (Sumare ing Kilen Pasar Paing Kediri / Ngajengipun Pondok Pesantren Assidiqiayh Jamsaren Kediri). Peputro : 1. R Ng. Bukori / kyai Bendungan Brebeg. 2. R. Ng. Abd. Basar Penghulu Sragen. 3. R. Rekso Ngulomo Penghulu Kediri. 4. R. Rekso Prodjo Djakso Kediri. 5. R. Rekso Seputro Naib Papar. 6. R. Nganten Kustiyah (Garwo Abd. Djalal) Naib Djambean. 7. R. Soemoredjo Mantri Negoro Kediri. 8. R. Ng. Burnadi Djuru Serat Srambi Kediri (masjid alun-alun / Kodya Kediri ). Kagungan putro saking garwo Keter  : 9. R. Kyai Mustaman Blitar. 10. R. Im. Sapingi Naib Papar. Kagungan putro saking garwo Enem : 11. R. Ng. Sumahun / Moh. Edris, Penghulu Kediri. 12. R. Ng. Djemblung / R. Ng. Djoko, Naib Kediri I. 13. R.Eoro Bonyok / R. Ng. Burnadi, Naib Kediri II. Kagungan putro saking garwo Klagenan : 14. R. Ismangil Ketib/Kotib Senoman Kediri 15. R. Ng. Adpar Ketib/Kotib Djojar Kediri

SISILAH PANCER KEDIRI (2) 1. R. Fatah Sulatan Akbar Bintoro Demak I 2. R. Trenggono Sultan Akbar Bintoro Demak III 3. Sultan Mu'min (sultan Prawoto) Demak 4. Panembahan Wirasmoro / Pangeran Sumense (sumare ing Setono Gedong Kediri) 5. R. Djalu Pangeran Demang Kediri I 6. Pangeran Demang Kediri II, ing Ngrembang sumare ing Badal Nambangan. 7. Kyai Ag. Abd. Adim Brodat

Silsilah Pancer 1 : Silsilah Pancer 2 : 1. Kyai Ag Kabul 1. Kyai Ag. Tambak Agung 2. Kyai Ag. Muslim 2. Kyai Ag. Kamaludiningrat ing Godong 3. Kyai Sarkum 3. Kyai Abd. Djabar Kamludin ing Kediri 4. Kyai Alwi 4. Kyai Imam Sapingi 5. Kyai Abd Rosid 5. Kyai Djojo Ngulomo 6. Kyai Abd. Djoned 6. Kyai Im Mustaram 7. Ag. Sribanun 7. Kyai Moh. Mansur 8. H. Abd. Fakih 8. H. Abd. Fakih Naib Kras

SISILAH PANCER Syech Maulono Magribi. 1. Syech Maulono Magribi 2. Kyai Ag. Tarub II 3. Sripah Asijah kagarwo >< R. Bondan Kejawan (putro Brawidjojo Darmarwulan Modjopahit) 4. Kyai Ag. Getas Pandowo (Kahuripan Purwodadi) 5. Kyai Ag. Selo, Purwodadi 6. Kyai Tani (sumare ing kilen Masdjid Nglawean Solo) 7. Kyai Ag. Penembahan 8. Panembahan Senopati Sutowidjojo Ratu Mataram I / Danang 9. Sultan Agung Tjakrakusumo(Prabu Mangkurat Agung Kertosuro, sumare ing Tegalarum) 10. R. Aj. Klenting Wungu kagarwo >< Ki. Djogosworo 11. R. Aj. Tumenggung Hodjowongso 12. R. Aj. Djosodipuro Koliwon Banyak 13. R. Aj. Tumenggung SEDAH MERAH kagarwo >< Penghulu Kediri 14. R. Aj. Djembluk (Kustijah kagarwo >< R P. Abd Djalal / Im. Subroto, Naib Ngadiluwih) 15. R. Ng. Abd Djoned Penghulu Kediri 16. R. Ng. Sribanun kagarwo >< Moh Mansur, Naib Kras 17. H. Abd. Fakih Naib Kras.

SILSILAH KETURUNAN (2) 1. R. Patah

2. R. Trenggono III

3. Sultan Muknin (Sunan Prawoto)

4. Penembahan Wirasmoro (Pangeran Sumende)

5. R. Djalu Pangeran Demang Kediri I

6. Pangeran Demang Kediri II (Sumare ing Badal Kediri)

7. Kyai Ageng Abd. Adim (Sumare ing Brodat Kertosono)

8. Kyai Tambak Agung Lemah Putro Suroboyo

9. Kanjeng Penghulu Kamaludiningrat (Penghulu Godong Mataram)

10.Kyai Ageng bd. Djabar (Kamaludin), Penghulu Kediri I

11.Kyai Imam Sapingi Penghulu Kediri II

12.Kyai Moh. Supingi (Kamludin), Penghulu Kediri III >< Nyai SEDAH MERAH (Sumare ing Kediri Ngajengipun Pondok Assidiqqiah Jamsaren Kediri, kilen pasar Paing Kediri)

13.R. Aj. Kustiah >< Abd. Jalal, Naib Jambean

14.R. Hadiwidjojo (Sumare ing Ngadiluwih)

15.R. Kodrat Samadikoen (Sumare ing Bendo Pare Kediri)

16.R. Tri Priyo Nugroho

17.R. Syehha Agem Manumayasya....

Sayyidah RA. Nyai Imanadi Kebumen ( Garwa II ), ibni

Sayyidah RA. Kamaludiningrat ( Pengulu Kraton Jogjakarta ), ibni

Sayyid BPA Dipowiyono, ibni

Sayyid RM. Sundoro / Hamengku Buwana II, ibni

Sayyid RM. Sujono / Pangeran Mangkubumi / Hamengku Buwana I...

Nyi jawahir peputra ; 1.Ali Mustafa peputra ; 1. Sastra 2. H. Muhson 3. Imam Pura 4. Sarbini 5. Dalail 6. Munirah 7. Nyai Madmarja

2.SanMunawar ( Lurah Pesucen ) 3.Nyi Basar Kahfi 4.Nyi Sanmustafa 5.Ali Muntaha peputra ; 1. Muhsin 2. Muhson 3. Muhsonah 4. Munsarip 5. Munisah 6. Mutnginah

6.Mustahal 7.Abdul Anwar ( Siwedi Kutowinangun ) 8.Marjuned ( Banjarnegara ) 9.Nyi Madmurja ( Kenteng Karangsari Kutowinangun ) 10.Nyi Badariyah ( Nyi H. Nawawi ) peputra ; 1. Nyai Carik jetis 2. Nyai Ahmad 3. Nyai Badriyah 4. Haji Masyhud 5. Nyai Trafas 6. Maklum

11.Nyi Ramadipura ( Buluspesantren ) 12.Nyi Satirah 13.Badarudin peputra ; 1. Nyi Ali Tsani Kauman ( Garwa I ) peputra ; 1. Siti Khalimah Kauman peputra ; 1. Mutoharoh

2. Chafsoh Pekalongan peputra ; 1. Arifin Pekalongan

2. Makmun Kauman peputra ; 1. Rokhimah Tasikmalaya peputra ;

2. Kharisoh Rantewringin peputra ; 1. Nurul Kauman 2. Retno Rantewringin 3. Beni 3. Khotmah Tasikmalaya peputra ;

4. Halimah Tasikmalaya peputra ;

5. Honimah Kebumen peputra ; 1. R. Muh. Rafi Ananda / Tuti Khusniati Al Maki 2. Aila Rezannia / Poedjo Raharjo 6. Soimah Kauman peputra ; 1. Arif Hidayat 2. Titin Rahayuningsih 3. Teguh Priyatno 4. Nur Fatmawati 5. Diyah Kurniasari

3. Nyi Maklum Kauman

H. Ahmad peputra ; 1.Ibunipun Nyi. H. Ali 2.Nyi Mangku 3.Madnur 4.Toyib

KH. Ali Awal bin Moh. Alwi kaliyan Garwa I peputra ;

1.Nyi Abdul Manan I ( Sepuh )Kemangguan Alian 2.Kyai Ismail Karanganyar Kebumen 3.Nyi Abdul manan II Kemangguan Alian 4.Nyi Zaenudin Pekeyongan 5.Nyi Hanan Plumbon peputra ; 1. Pengulu Ridwan/ Rilwan peputra ; 1. Rughoyah / Makmun Kauman 2. Rofqoniyah / Kyai Matori Jatisari peputra ; 1. KH. Sayyid R. Salim Al Mator peputra ; 1. Tobagus Muslihudin Aziz 2. Hikmatul Hasanah 3. Maksumah Kurniawati 4. Musyafa Firman Iswahyudi 5. Retno Auliyatussangadah 6. Eta Fatmawati Auliyatul Ummah

2. Songidah peputra ;

3. Sangadatun Diniyah peputra ;

4. Kyai Khumsosi Al Matori peputra ; 1. Siti Khulasoh 2. Siti Fatimah 3. Lukman Zein 4. Anis Siti Karimah 5. Siti Khomsiati 6. Anas Mufadhol

5. H. Makmuri peputra ;

6. Muslim peputra ;

3. Sanusi Prembun peputra ; 1. Sol 2. Salamah Balingasal Prembun

4. Sugeng peputra ;

5. Dulkodir peputra ;

6.Kyai Tohir Kedungtawon Kutowinangun peputra ;

Kyai Kosim Kedungtawon Kutowinangun peputra ;

KH. Ali Awal kaliyan Garwa II peputra ; 1.KH. Abdullah Ibrahim Kauman ( Pengulu Landrat terakhir ) peputra ; 1. Siti Khotijah / Zaenal Kauman 2. Siti hajatiyah / Mbah Jamaksari Somalangu 3. Ashariyah / Mustofa Banjarnegara 4. Umi Kulsum / Sumbono 5. Maimunah / Ali Siroj ( Purworejo ) 6. Mariyah / Sumbono 7. Hasim 8. Maryatini / Masngudin 9. Johariyah / kagarwa Sururudin, lajeng kagarwa dening Kyai Jamaksari Somalangu 10. Sri Kartini

2.Moh. Soleh peputra ; 1. Yusuf Soleh 2. Taslimah / Daqir Pekeyongan 3. Slamet Soleh 4. Musngidah / Masngud Prembun peputra ; 1. Dalail 5. Makmunah / Tahrir 6.Asyiah / Ngalimun Prembun

3.Siti Khalimah Wanasara / Abdullah sepuh peputra ; 1. Aminah Wanasara peputra ; 1. Muhtar

2. Mutiah Krakal peputra ; 1. Roh

4.H. Ali Tsani Kauman peputra ; Garwa I 1. Siti Khalimah Kauman peputra ; 1. Mutoharoh 2. Chafsoh Pekalongan peputra ; 1. Arifin Pekalongan

Garwa II ( Sayyidah Isti Sangadah binti Sayyid Muh. Fadil bin Sayyid Muh. Zein Solotiang bin Sayyid Muh. Alim Bulus Purworejo ) 1.Mahmud Ali Kauman peputra ; 1. Arif Mustofa

2.Isti Chamidah peputra ; 1. M. Sudjangi 2. Sugeng Assyamsi 3. Abdul Rozak 4. Lukman Hakim 5. Abdus Somad 6. M. Mahfud 7. M. Murtadlo

5.Abdul Wahab peputra ; 1. Moh Alwi Tejasari Kawedusan peputra ; 1. Ikhsan Alwi

2. Syamsi / Isti Chamidah

Khoul KH. Imanadi dipun wontenaken saben tanggal 14 Ruwah wonten ing serambi Masjid Pesucen Wonosari.

Wasana sinigeg semanten kemawon riwayat saha silsilahipun KH. Imanadi. Mugi – mugi handadosaken pepenget saha tuladhanipun khusus dhateng pra dharahipun, dhateng pra kathah umumipun. Amin

Kebumen, 06 Februari 2009

Sayyid R. Muh. Rafi Ananda

Wasana sinigeg samanten kemawon riwayat saha silsilahipun KH. Imanadi. Mugi – mugi handadosaken pepenget saha tuladhanipun khusus dhateng pra dharahipun, dhateng pra kathah umumipun. Amin

Pustaka Perdhikan Buku alit punika kaparingan asma PUStaka perdhikan. Dipun anggit dinten Jumat Kliwon, 11 Safar 1430 H/ taun JE 1942 utawi 06 Februari 2009 dening Sayyid R. Muh. Rafi Ananda kanti ngempalaken riwayat saha silsilah saking pra turunipun Suwargi KH. Imanadi ugi kanti penyelidikan awujud sumber – sumber kawontenan ing sejarah. Riwayat kakempalaken saking panjenenganipun ; 1.KH. Sayyid R. Salim Al Mator Jatisari 2.R. Sudjangi Kauman

Buku kacetak kanti sederhana supados saged dipun waos dening pra putra wayahipun KH. Imanadi ingkang mbetahaken. Kagem Pra putra wayang ingkang dereng kaserat wonteng ing mriki kersaha nyerat piyambak – piyambak lan kahaturaken dhateng Sayyid R. Muh. Rafi Ananda wonten alamat Jalan Garuda 13 Kebumen Jawa – Tengah. Wasan buku pustaka Perdhikan punika sageda manfangati kagem kita sami. Amin. Kebumen, jumat kliwon, 06 Februari 2009

Sayyid R. Muh. Rafi Ananda Basaiban

Kebumen, Jumat Kliwon, 06 Februari 2009

Sayyid R. Muh. Rafi Ananda ,,,
14825/7 <57+?> # Bendoro Raden Ayu Mangunnegoro [Hamengku Buwono]
Свадба: <57!> # 5. Kanjeng Sultan Hamengku Buwono III [Hamengku Buwono] b. 20 фебруар 1769 d. 3 новембар 1814
Ir. H. Hilal Achmar Lineage Study
15026/7 <64> R. M. T. A. A. Djojodiningrat / Raden Mas Djojoprono [Raden Mas Djojoprono] 15127/7 <57+?+?> # Bendoro Raden Ayu Sosrowinoto [Hamengku Buwono]
Hilal Achmar Official Link
15228/7 <57+?> # Bendoro Pangeran Haryo Hadinegoro [Hamengku Buwono]
Official Link
15329/7 <57+?> Bendoro Pangeran Haryo Purwodiningrat [Hamengku Buwono]
15430/7 <57+?> Bendoro Raden Ayu Danukusumo [Hamengku Buwono]
15531/7 <57+?> # Bendoro Raden Ayu Wiryokusumo [Hamengku Buwono]
Hilal Achmar Official Link
15632/7 <57+?> # BRAy Kartonadi [Hamengku Buwono]
Hilal Achmar Official Link
15833/7 <57+?> # Bendoro Pangeran Haryo Hadisuryo [Hamengku Buwono]
Hilal Achmar Official Link
15934/7 <57+?> # BRAy Prawirohatmojo [Hamengku Buwono]
Official From Hilal Achmar.
16135/7 <57+?> # Bendoro Pangeran Haryo Hadi Suryo [Hamengku Buwono]
Official Link Adm: Hilal Achmar.
16236/7 <57+?> Bendoro Pangeran Haryo Suryowijoyo [Hamengku Buwono]
16337/7 <57+?> # Bendoro Raden Ayu Sosronegoro [Hamengku Buwono]
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
16438/7 <57> # Bendoro Raden Ayu Mangundrono [Hamengku Buwono]
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
16539/7 <57> # Bendoro Pangeran Haryo Suryodipuro [Hamengku Buwono]
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
16640/7 <57+?> # Bendoro Raden Ayu Bahusentono [Hamengku Buwono]
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
16741/7 <57+?> # Bendoro Raden Ayu Mangundirjo [Hamengku Buwono]
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
16842/7 <57> # Bendoro Raden Ayu Notodiningrat [Hamengku Buwono]
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
16943/7 <57+?> # Bendoro Pangeran Haryo Hadinegoro [Hamengku Buwono]
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
17044/7 <57+?> # Bendoro Raden Ayu Sumodipuro [Hamengku Buwono]
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
17145/7 <57> # Bendoro Raden Ayu Joyosundargo [Hamengku Buwono]
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
17246/7 <57+?> # Bendoro Pangeran Haryo Teposono [Hamengku Buwono]
Official Lineage Adm: Hilal Achmar.
17447/7 <55> Gusti Pangeran Haryo Suryoputro [Pakualaman]
17548/7 <55> Gusti Pangeran Haryo Suryaningrat [Pakualaman]
17749/7 <136> Kanjeng Pangeran Adipati Danurejo IV / Kanjeng Pangeran Joko Hadiyosodiningrat [Danurejo III]
17950/7 <107+62> Kanjeng Ratu Kencana / Bandara Radin Ajeng Suradina [Purwonegoro] 18651/7 <108> 1. RM. Ibrahim Ba'abud Madiokusumo / RM. Haryo Madiokusumo [Ba'abud]
18752/7 <108> 2. RM. Puspodipuro [Ba'abud]

8

2121/8 <142+66> # 12. RA. Hangreni Mangunjaya [Hamengku Buwono]
Рођење: Sementara menunggu persetujuan putranya diputus : 848551
== R.A Hangreni Mangunjaya ==


Untuk menghindari lahirnya pemberontak-pemberontak baru keturunan Pangeran Diponegoro, pihak keraton menikahkan puteri-puteri Pangeran Diponegoro dengan pejabat-pejabat yang netral atau dengan pejabat yang pro Belanda. Untuk itu mereka dinikahkan dengan pejabat-pejabat di wilayah kekuasaan trah Danurejan yaitu di tanah kedu dan Bagelen. Trah Danurejan adalah trah yang terbukti setia kepada Belanda walaupun ada juga beberapa yang justru menjadi tulang punggung perjuangan Pangeran Diponegoro.

Radeng Ngabehi Mangunjaya suami R.A Hangreni adalah seorang wedono di wilayah Bagelen Barat yang dikuasai oleh Bupati Cokronegoro. Strategi Belanda dan kraton seolah berhasil dengan cara ini, tetapi kelak generasi-generasi penerus R.A Hangreni berjuang melawan penjajah melalui perjuangan agama setelah era perang Diponegoro berakhir.
2232/8 <173> Kgpaa Pakua Alam IV [Pakualam]
Рођење: 4. Paku Alam IV (1864 - 1878)
2323/8 <186> 5. RA. Said Husein [Ba'abud]
Рођење: Anak Kembar Pertama
2334/8 <186> 6. RA. Sosrokusumo [Ba'abud]
Рођење: Anak Kembar Ke 2
2355/8 <188> 1. RM. Kyai Gede Gumelem Kaliajir [Cakraatmaja]
Рођење: di Gumelem - Kaliajir
1996/8 <142+69> # 1. RM. Muhammad Ngarip (Diponegoro Anom) (Pangeran Abdul Majid) [Hamengku Buwono]
Рођење: 1803
== Raden Mas Muhammad Ngarip/Raden Antawirya II / Diponegoro Anom/Diponegoro II/Kanjeng Pangeran Haryo Diponegoro II /Pangeran Abdul Majid. ==


Lahir pada tahun 1803. Dilihat dari tahun kelahirannya maka dapat dipastikan sebagai anak dari ibu Raden Ayu Madubrongto. Ketika perang Diponegoro dimulai dia telah berusia 22 tahun dan selalu setia menjadi pembela ayahnya. Sebagai putera tertua dan memiliki kesamaan pandangan dengan ayahnya maka dia dengan ikhlas mengangkat senjata mendampingi ayahnya. Nama bayinya adalah Raden Mas Muhammad Ngarip, dan kelak nama itu dia gunakan lagi ketika berada di wilayah sumenep dengan sedikit perubahan yaitu Raden Mas Mantri Muhammad Ngarip. Nama ini dia gunakan selama dalam pembuangan di Sumenep Madura. Dialah yang menulis buku Babad Diponegoro Suryongalam. Ketika menginjak dewasa dan ayahnya telah menggunakan nama Diponegoro, dia mendapatkan gelar nama yang sama yaitu Ontowiryo II dan selanjutnya menggunakan nama Diponegoro II atau Diponegoro Anom ketika ayahnya diangkat oleh rakyat menjadi Sultan Abdul Hamid. Nama tersebut diberikan sendiri oleh Pangeran Diponegoro sebagai tanda bahwa putera kesangannya inilah kelak yang akan melanjutkan cita-citanya. Memang dia hanya dari isteri samping, tetapi keindahan budi pekerti ibunya membuat Pangeran Diponegoro sangat menyayangi anak sulungnya ini. Melihat usianya yang sudah mencapai 22 tahun pada saat perang Diponegoro dimulai, maka dapat dipastikan bahwa pada saat itu beliau sudah memiliki isteri dan memiliki beberapa anak. Kelak keturunan beliau yang lahir dan besar di tanah Jawa inilah yang akan menjadi generasi penerusnya sebagai pengganggu ketenteraman penjajah. Sejak awal peperangan, Diponegoro Anom diserahi untuk menjaga dan melawan penjajah di wilayah Bagelen ke Barat bersama beberapa orang pilihan Pangeran Diponegoro di antaranya Tumenggung Danupoyo. Taktik perang yang digunakan sama dengan ayahnya yaitu bergerilya dan berpindah-pindah. Area perjuangan Pangeran Diponegoro Anom ini mencapai wilayah Barat Banyumas, Temanggung dan Parakan. Di medan perang Diponegoro Anom ini sering bekerja sama dengan Pamannya Sentot Prawirodirjo dan adik tirinya Raden Mas Singlon atau Raden Mas Sodewo. Setelah menjalani pembuangan di Sumenep tahun 1834 lalu dibuang ke Ambon 1853.

Sebenarnya Pangeran Diponegoro berharap agar ibu dan anak-anaknya bisa bergabung dengannya di pembuangan, tetapi hal itu secara halus ditolak oleh Belanda dan sebagai gantinya Van den Bosch menijinkan anak-anaknya kembali ke Tegalrejo. Bahkan anak Pangeran Dipokusumo dan Pangeran Diponingrat diijinkan tinggal di dalam kraton. Selanjutnya Belanda melalui Kapten Roeps juga memenuhi permintaan Pangeran Diponegoro untuk membagikan pusaka warisan pada anak-anaknya yang terdiri dari keris dan tombak.
2007/8 <142+69> # 2. RM. Dipoatmaja RM. Dipokusuma (Pangeran Abdul Azis) [Hamengku Buwono]
Рођење: 1805
== R.M Dipoatmaja /R.M Dipokusumo /Pangeran Abdul Aziz (1805) ==


Adalah putera ke dua Pangeran Diponegoro yang lahir dari ibu Retno Madubrongto. Dia sudah cukup dewasa ketika perang dimulai, sehingga tidak menutup kemungkinan, dia meninggalkan anak dan isteri ketika menjalani pembuangan di Ambon. Semasa perang, RM. Dipoatmojo banyak bergerak di wilayah Pacitan dan Madiun. Peperangan dipimpin oleh Bupati Mas Tumenggung Joyokariyo, Mas Tumenggung Jimat dan Ahmad Aris, akan tetapi akhir Agustus 1825 daerah Pacitan berhasil dikuasai Belanda. Bupati Joyokariyo di pecat, sedang Tumenggung Jimat dan Ahmad Aris ditangkap yang nasibnya tidak diketahui. Sebagai bupati baru, diangkatlah oleh Belanda Mas Tumenggung Somodiwiryo, akan tetapi tidak lama bertahta sebab 9 Oktober 1825 diserbu oleh pasukan Madiun yang dipimpin oleh Raden Mas Dipoatmojo dan berhasil membunuh bupati baru tersebut. Namun akhirnya awal Desember 1825 seluruh pasukan Madiun di Pacitan berhasil dipecah belah oleh Belanda, hingga Pacitan sepenuhnya di kuasai Belanda.

Pada akhir perang Diponegoro, Raden Mas Dipoatmojo berada di Surakarta bersama keluarga kakek buyutnya dari garis ibu setelah pada tanggal 8 Januari 1830 tertangkap oleh pasukan Belanda lalu dibuang ke Ambon 1840.
2018/8 <142+68> # 3. Raden Suryaatmaja/Diponingrat ? [Hamengku Buwono]
Рођење: 1807проц
Raden Suryaatmaja / Diponingrat/ Pangeran Adipati Anom/Raden Mas Sudiro Kromo/Kanjeng Pangeran Adipati Diponegoro (1807).

Dilihat dari gelar yang digunakan yaitu Pangeran Adipati Anom bisa dipastikan bahwa dia adalah anak dari ibu Raden Ayu Retnokusumo yang sebelumnya bernama Raden Ajeng Supadmi (Diperkuat dengan adanya catatan dari Peter F Carey dam The Power Of Prophecy) . Pangeran Diponegoro menikah untuk yang kedua kalinya atas perintah dari ayahnya. Perintah ini secara langsung mempunyai arti bahwa Raden Ayu Retnokusumo adalah isteri utama atau isteri permaisuri yang direstui oleh kerajaan. Kemudian Raden Ayu Retnokusumolah yang mendampingi Pangeran Diponegoro dalam menghadiri acara-acara resmi di kerajaan. Ketika mengikuti jejak ayahnya di medan perang Suryaatmaja diangkat menjadi putra mahkota dengan gelar Pangeran Adipati Anom. Namun karena Belanda tidak mengakui keabsahan gelar Sultan yang disandang Pangeran Diponegoro maka nama itu dirubah oleh penjajah dengan nama Diponingrat. Menjalani pembuangan ke Ambon 1840.

Dalam catatan sejarah, Pangeran Adipati Anom Diponingrat pernah menikah dengan anak perempuan Raden Tumenggung Mertawijaya atau Raden Tumenggung Danukusumo II salah seorang senopati Pangeran Diponegoro di wilayah Remo Banyumas. Telah disebutkan sebelumnya bahwa Danukusumo II adalah dari trah Danurejan yang ikut bergabung dalam barisan perjuangan Pangeran Diponegoro
2049/8 <142+63> # 4. R.M Sodewo/ R.M.Singlon/ /KI Sodewo/Pangeran Alip ? (Demang Notodirjo) [Hamengku Buwono]
Рођење: 1810
== Pangeran Alip / R.M.Singlon/ R.M Sodewo / Ki Sodewo/Demang Notodirjo ==

Awal tahun 1810 Pangeran Diponegoro melakukan perjalanan ke wilayah Madiun atas pesan almarhum nenek buyutnya yaitu Ratu Ageng untuk selalu menjalin hubungan tali silaturahim. Di sanalah Pangeran Diponegoro menikah dengan Raden Ayu Citrowati. Belum sempat diperkenalkan dengan keluarga di Jogja, Raden Ayu Citrowati meninggal dalam kerusuhan di Madiun setelah dia melahirkan putera Pangeran Diponegoro. Bayi tersebut kemudian dibawa oleh sahabat Pangeran Diponegoro yang bernama Tembi menyusul ke tempat Pangeran Diponegoro bertapa di gua Cerme sekitar Bantul. Menurut Ki Tembi bayi tersebut telah diberi nama Alip. Pada saat itu tidak mungkin Pangeran Diponegoro membawa bayi tersebut pulang ke Tegalrejo karena tidak ada pengasuh di sana karena isteri tertuanya juga tengah mengasuh bayi, begitu juga dengan isteri ketiganya. Sedangakn isteri keduanya yang dari trah ningrat memiliki tabiat yang kurang berkenan di hati Pengeran Diponegoro dan lebih banyak tinggal di istana. Atas permintaan Pangeran Diponegoro anak tersebut dititipkan kepada Ki Tembi untuk diasuh dan dibesarkan. Agar tidak diketahui oleh siapa-siapa Ki Tembi disuruh memberi nama singlon. Singlon artinya samaran atau sembunyi (hiden). Bayi yang baru beberapa minggu lahir dan ditinggal mati oleh ibunya ini perlu disembuyikan karena Pangeran Diponegoro mempunyai firasat bahwa anak tersebut kelak akan menjadi musuh besar Belanda, maka perlu disembuyikan. Perintah kepada Ki Tembi adalah : ”Jenengono singlon ben ora konangan Londo (berilah nama samaran agar tidak ketahuan Belanda)” sehingga dia disebut Raden Mas Singlon. Jadi nama Singlon sendiri sebenarnya bukan nama resmi, tetapi nama panggilan. Bisa jadi ini karena kesalahpahaman Ki Tembi ketika diberi perintah oleh Pangeran Diponegoro agar memberi nama singlon yang maksudnya adalah nama samaran tetapi singlon malah dijadikan nama panggilan sehingga jadilah nama Raden Mas Singlon atau Bagus Singlon. Sebutan Sodewo diberikan oleh Pangeran Diponegoro karena Raden Mas Singlon berperang laksono dewo atau bagaikan dewa. Jadi Sodewo adalah singkatan dari kata laksono dewo. Gelar Raden Mas ditanggalkan oleh Ki Sodewo dalam penyamaran dan lebih banyak dipanggil Ki (panggilan untuk laki-laki yang dihormati), agar gerak-geriknya tidak diawasi oleh Belanda. Di wilayah Banyumas nama R.M Singlon atau Ki Sodewo juga tidak dikenal masyarakat, tetapi di sana lebih dikenal dengan sebutan Notodirjo. Nama Notodirjo pernah dipakai oleh Raden Abdul Kamil Alibasah yaitu kakak Sentot Prawirodirjo. Raden Abdul Kamil Alibasah atau Tumenggung Notodirjo adalah suami pertama Raden Ayu Impun puteri Pangeran Diponegoro. Setelah Raden Basah Abdul Kamil gugur dalam pertempuran, Raden Ayu Basah dinikahi oleh Tumenggung Mertonegoro yang kemudian bergelar Raden Basah Abdul Kamil II dan biasa disebut dengan Basah Mertonegoro, sehingga nama puteri Pangeran Diponegoro ini sering dikenal dengan nama Raden Ayu Basah Mertonegoro. Nama Notodirjo sendiri lalu digunakan oleh R.M Singlon sekaligus menggantikan Notodirjo sebelumnya dalam peperangan.

Raden Mas Singlon meninggal dalam peperangan sekitar tahun 1860, setelah dijebak oleh saudara seperguruannya Ki Wrekso Sosrobahu. Kepala Ki Sodewo di penggal dan dibawa ke sebuah bukit di Kaliagung sedangkan tubuhnya di hanyutkan di sungai Serang. Sehari kemudian tubuhnya di temukan oleh seorang pedagang dan di makamkan di sebelah barat pasar Wates. Kini kepala dan jasad tubuh Ki Sodewo telah disatukan dan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum di Sideman, Wates Kulon Progo. Tubuhnya menyatu dalam kedamaian dengan bumi yang dibelanya sampai mati. Tubuhnya menyatu dengan bumi menoreh, sebuah tempat di mana ayahnya pernah dilantik sebagai seorang sultan oleh pengikutnya. Tubuhnya larut dan di bumi para pahlawan di Bumi Menoreh, Kulon Progo.
RM. JONET DIPOMENGGOLO putra Pangeran Diponegoro, foto: Ilustrasi
RM. JONET DIPOMENGGOLO putra Pangeran Diponegoro, foto: Ilustrasi
20510/8 <142+149!> # 5. RM. Djonet Dipomenggolo [Hamengku Buwono]
Рођење: 1815, Solo
Смрт: 1837, Yogyakarta, dimakamkan di Bogor (Versi 'Peter Carey')
Смрт: 1885, Bogor, dimakamkan di Bogor (Versi Keluarga)
== RIWAYAT HIDUP ==

PANGERAN DJONET / RM. JUNAT / RM. JEMET (Oleh : Ki Roni Sodewo)

Pangeran Djonet Dipomenggolo

Ketika ayahnya menyatakan diri sebagai penentang penjajah dan terusir dari Puri Tegalrejo, Raden Mas Joned baru berumur sepuluh tahun. Dia ikut rombongan pengungsi bersama keluarga besarnya ke Goa Selarong setelah Puri Tegalrejo digempur oleh pasukan Belanda. Dia sudah bisa merasakan bagaimana susahnya hidup dalam pengungsian dan hanya tinggal di dalam Goa bersama ibu dan saudara-saudaranya. Usianya masih terhitung anak-anak ketika dia lari mengikuti rombongan para penghuni Puri Tegalrejo dan para penghuni kampung sekitar puri. Terkadang sebuah tangan kokoh menyambarnya dan meletakkannya dalam gendongan sambil berlari mendorong gerobak dimana ibu dan bibinya menumpang menyatu dengan perbekalan seadanya. Orang itu tak lain adalah Sentot Prawiro Dirjo pamannya sendiri. Umur Raden Mas Joned sekitar 15 tahun ketika melihat ayahnya ditangkap oleh Belanda. Dia menyaksikan sendiri bagaimana ayahnya tetap tegar menghadapi semuanya. Raden Mas Joned tidak kuasa menitikkan air mata ketika melihat ayahnya digiring dimasukkan ke dalam kereta yang membawanya ke pengasingan. Marah dan dendam, itulah yang ada di dalam benak Raden Mas Joned. Jiwa mudanya sangat terguncang dan itulah yang membuat Raden Mas Joned selalu melakukan perlawanan dimanapun dia melihat orang Belanda. Raden Mas Joned berusaha membebaskan ayahnya dengan cara mengejar ke Ungaran, lalu ke Semarang. Dia berhasil menyusup ke dalam kapal pembawa Pangeran Diponegoro tetapi ketahuan dan Raden Mas Joned menceburkan diri ke laut. Dia tidak putus asa karenanya. Raden Mas joned lalu mengejar Pangeran Diponegoro melalui darat bersama beberapa orang pengikutnya menuju Batavia. Sesampainya di Batavia, Pangeran Joned berusaha mendekati tempat penyekapan Pangeran Diponegoro, tetapi sayang, mata-mata mengatakan bahwa Pangeran Diponegoro telah dipindahkan menggunakan kapal ke arah Timur. Dengan perbekalan seadanya disertai dengan pengikut-pengikut setianya, Raden Mas Joned berangkat ke arah Timur melewati jalan darat sambil menebarkan petaka bagi siapapun yang mencoba menghalanginya. Tahun 1837 Raden Mas Joned terbunuh dalam sebuah kerusuhan yang dibuatnya di Jogja. Atas kehendak keluarga, jenasah beliau disembunyikan dan dimakamkan di Bogor. Ibu Raden Mas Joned yaitu Raden Ayu Maduretno adalah kakak Sentot Prawirodirjo yang ikut bergabung dalam barisan Pangeran Diponegoro. Ketika Pangeran Diponegoro diangkat menjadi sultan di Dekso, Raden Ayu Maduretno diangkat menjadi permaisuri. Pada tahun 1828 beliau wafat karena sakit dan dimakamkan di Imogiri.


Садржај

PANGERAN DJONET DIPOMENGGOLO / RM. JUNAT / RM. JEMET

Oleh :R. Endang Suhendar Diponegoro

PANGERAN DJONET atau Raden Mas Djonet Dipomenggolo, adalah putera pertama Pangeran Diponegoro yang lahir pada tahun 1815 1) di Yogyakarta dari Ibu kandung yang bernama R.A. Maduretno alias R.A. Ontowiryo alias R.A. Diponegoro yakni isteri kelima Pangeran Diponegoro putri ketiga Raden Rangga Prawiradirjo III dengan Kanjeng Ratu Kedaton Maduretno Krama (putri HB II), jadi saudara seayah dengan Sentot Prawirodirjo, tetapi lain ibu. Pangeran Djonet memiliki adik kandung bernama Pangeran Roub/Pangeran Raab/Pangeran Raib, yang pada tahun 1840 berhasil dibuang Belanda ke Ambon dan meninggal disana. Ketika Pangeran Diponegoro dinobatkan sebagai Sultan Abdulhamid, RA. Maduretno diangkat sebagai permaisuri bergelar Kanjeng Ratu Kedaton l pada 18 Pebruari 1828 (walaupun saat itu Belanda berikut Kerajaan yang lain tidak mengakuinya). Pada saat itu Raden Mas Djonet Dipomenggolo masih berumur 13 tahun.


Image:Kraton3.jpg  SILSILAH KELUARGA (Dari Pancer Bapak)
0. KANJENG SUNAN PRABU AMANGKURAT AGUNG  
1. KANJENG SUSUHUNAN PAKUBUANA I    
2. KANJENG PRABU AMANGKURAT IV    
3. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING I ING NGAYOGYAKARTA   
4. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING II ING NGAYOGYAKARTA    
5. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING III ING NGAYOGYAKARTA    
6. BPH. DIPANEGARA    
7. RM. DJONET DIPAMENGGALA
  
 - Tercatat Di Tepas Darah Dalem -
Image:Kraton3.jpg  SILSILAH KELUARGA (Dari Pancer Ibu)

#0. KANJENG SULTAN HAMENGKU BUWANA KAPING II ING NGAYOGYAKARTA
#1. KRK. MADURETNO KRAMA (Putri ke 22 HB-II <menikah dengan> RADEN RANGGA PRAWIRADIRDJA III 
#2. BRAy. MADURETNO/RA. Ontowiryo/RA. Diponegoro
#3. RM. DJONET DIPAMENGGALA
 
 - Tercatat Di Tepas Darah Dalem -

PANGERAN DJONET PADA MASA PERJUANGAN PANGERAN DIPONEGORO (Tahun 1825-1830)

Sejak usia 10 tahun Pangeran Djonet bersama 2 saudaranya yaitu Pangeran Roub dan Pangeran Diponegoro Anom selalu mendampingi/selalu diajak ayahnya dalam setiap perundingan penting dengan Belanda. Mengingat usianya yang relatif muda tidak banyak yang dilakukan Pangeran Djonet muda, akan tetapi selama 5 tahun Pangeran Djonet berada, melihat dan menyaksikan langsung (veni, vedi veci) sejarah yang sedang terjadi di tanah air melalui perjuangan orang tuanya yaitu Pangeran Diponegoro beserta panglima Sentot Prawiradirja dan Pangeran-pangeran juga para Kyai. Di medan perang Pangeran Djoned menyaksikan bagaimana prajuritnya terbunuh...bagaimana mendapatkan kemenangan...bagaimana mengatur siasat perang, semua ini merupakan pengalaman dan pembelajaran yang berharga bagi pembentukan kepribadian Pangeran Djoned yang notabene calon penerus ayahnya.

Belanda mengerahkan seluruh kekuatannya. Pemberontakan Paderi di Sumatera Barat, untuk sementara dibiarkan. Sekitar 200 benteng telah dibangun untuk mengurangi mobilitas pasukan Diponegoro. Perlahan langkah tersebut membawa hasil. Dua orang panglima penting Diponegoro tertangkap. Kyai Mojo tertangkap di Klaten pada 5 Nopember 1828. Sentot Alibasyah, dalam posisi terkepung, menyerah di Yogya Selatan pada 24 Oktober 1829.

Diponegoro lalu menyetujui tawaran damai Belanda. Tanggal 28 Maret 1830, Diponegoro disertai lima orang lainnya ( Raden Mas Jonet, Diponegoro Anom, Raden Basah Martonegoro, Raden Mas Roub dan Kyai Badaruddin) datang ke kantor Residen Kedu di Magelang untuk berunding dengan Jenderal De Kock. Mereka disambut dengan upacara militer Belanda. Dalam perundingan itu, Diponegoro menuntut agar mendapat "kebebasan untuk mendirikan negara sendiri yang merdeka bersendikan agama Islam." De Kock melaksanakan tipu muslihatnya. Sesaat setelah perundingan itu, Diponegoro dan pengikutnya dibawa ke Semarang dan terus ke Betawi. Pada 3 Mei 1830, ia diasingkan ke Manado, dan kemudian dipindahkan lagi ke Ujungpandang (tahun 1834) sampai meninggal. Di tahanannya, di Benteng Ujungpandang, Diponegoro menulis "Babad Diponegoro" sebanyak 4 jilid dengan tebal 1357 halaman.


PANGERAN DJONED PADA SAAT PENGASINGAN AYAHNYA KE SULAWESI (Tahun 1830)

Menurut cerita salah satu keturunan ke 6 Pangeran Djonet yang tinggal di sekitar makam yaitu R. Ustad ABDUL WAFA (keturunan dari Raden Mas SAHID ANKRIH, anak ke 5 Pangeran Djonet) adalah sebagai berikut : Sewaktu beliau dibuang ke Makassar, beliau ikut namun sewaktu Kapal/Perahu di lautan beliau menceburkan diri bersama pengikutnya melarikan diri ke Batavia. Setelah beberapa lama menetap di Batavia, lalu beliau pindah ke Bogor, berjuang bersama pasukannya yang akhirnya menetap di Kebon Kelapa Cibeureum sampai akhir hayatnya.” (sesuai yang tertera dalam Papan Wisata Ziarah dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bogor).

Situs Pangeran Djonet Dipomenggolo

Situs Makam Pangeran Djonet Dipomenggolo, Alamat : Pesantren Dipamenggala Al-Khasanan, Jl. Raden Kosasih, Kp. Kebon Kelapa-Kelurahan Cikaret-Bogor Selatan

Cerita lain, versi keturunan yang tinggal di sekitar makam : “ Pangeran Djonet tinggal dan menetap pertama kali di pinggiran kota Bogor (± 4 s.d 7 km dari Istana Belanda) di kampung Jabaru (Jawa Baru), setelah mempunyai 5 orang putra dan 2 orang putri semakin banyaklah keturunan Pangeran Djonet di kampong Jabaru tersebut, akhirnya membuka kampong baru lagi dengan nama kampong Dukuh Jawa, sampai akhirnya wafat pada usia 70 tahunan dan dimakamkan di kampong Kebon Kelapa (sekarang Jalan Raden Kosasih), Cikaret, Bogor Selatan tidak jauh dari kampong tempat beliau menetap ”.


Sedangkan cerita dari salah satu anggota IKPD (Ikatan Keluarga Pangeran Diponegoro) yaitu Ki Roni Sodewo (keturunan dari Trah RM. SODEWO / Bagus SINGLON) adalah sebagai berikut :

"Pangeran Diponegoro menikah setidaknya dengan 2 orang Trah Raden Ronggo. 1. Citrowati adalah Anak Tumenggung Ronggoprawirosentiko (Anak Ronggo I) yang melahirkan RM. Singlon 2. R.A. Maduretno Puteri Ronggo III dengan isteri Kanjeng Ratu Kedathon Maduretno Krama Anak HB II. R.A Maduretno dikenal juga dengan sebutan RA ontowiryo atau RA. Diponegoro. Dari pernikahan ini lahirlah RM. Joned thn 1815 yang meninggal tahun 1837 dalam peperangan melawan Belanda.”


PANGERAN DJONET DI BATAVIA (Tahun 1830-1831)

Setelah lolos dari proses pengasingan ke Pulau Sulawesi sesuai cerita sebelumnya, Pangeran Djonet muda yang baru berusia 15 tahun (1815-1830) dibantu pengikutnya yang berjumlah lebih dari 1 orang untuk mencari tempat persembunyian sementara di daerah Batavia. Sebagai kelompok asing yang berkeliaran di Batavia yang notabene sebagai pusat kegiatan colonial pada masa itu tentunya baik Pangeran Djonet maupun pengikutnya yang asli Yogyakarta mencari sanak saudara, kerabat maupun tetangga yang sedaerah. Akhirnya dengan wawasan sejarah yang dimiliki sang Pangeran Muda diputuskan untuk mencari daerah Matraman (saat itu umur daerah Matraman sudah mencapai 208 tahun sejak penyerbuan Kerajaan Mataram ke Batavia).

Di Matraman, pengikut Pangeran Djonet terlebih dahulu mencari tokoh-tokoh setempat yang dianggap mengetahui asal-usul Matraman dan akhirnya memperkenalkan diri kepada mereka tentang keberadaan Pangeran Mataram (tidak menyebutkan nama/menggunakan nama alias) dan menceriterakan secara umum kondisi kejadian saat itu. Diluar perkiraan sang Pangeran, mereka menerima dengan amat terbuka sambil disertai perasaan haru, bangga dan rindu akan kampong halaman akhirnya berkat bantuan dan perlindungan masyarakat Matraman pada saat itu Pangeran Djonet beserta pengikutnya menetap di Batavia (Matraman) lebih kurang selama 2 tahun.

Selama menetap di Matraman dalam rangka mempertahankan diri dari kejaran tentara Belanda, Pangeran Djonet membentuk pasukan (semacam pengawal Raja) dengan merekrut pemuda-pemuda yang mayoritas keturunan prajurit Kerajaan Mataram walaupun ada juga dari etnis lain yang juga bergabung dengan suka rela (di komplek pemakaman Pangeran Djonet di Bogor dimakamkan juga komandan pasukan pengawal yang berasal dari Banten). Komunikasi keberadaan Pangeran Djonet di Batavia dengan pihak Keraton Yogyakarta (lebih kurang 19 orang Pangeran/turunan Sultan yang mendukung Pangeran Diponegoro) dilakukan melalui media kurir/mata-mata/telik sandi yang masing-masing bergerak menuju titik yang ditentukan (rendesvouz), dari Keratonlah Pangeran Djonet mendapatkan bantuan logistik yang diperlukan dalam membentuk pasukan pengawal.

Tahun 1832 Pangeran Djonet genap berusia 17 tahun, usia yang cukup dewasa bagi seorang keturunan Sultan untuk segera memulai hidup berumah tangga. Maka pada tahun 1832 Pangeran Djonet mempersunting Putri Kapitein keturunan Tionghoa dari Marga Tan yang bernama BUN NIOH kemudian berganti nama menjadi NYI MAS AYU FATMAH (tidak ada literature yang menyebutkan dimana proses pertemuannya). Kalau mengacu kepada usia Nabi Muhammad SAW menikah, usia tersebut masih terlalu muda, akan tetapi karena kondisi saat itu sedang dalam proses bersembunyi ataupun penyamaran (incognito) ditambah lagi kebiasan Raja-raja Kasultanan Yogyakarta anak lelaki tertua menikah pada saat usia menginjak dewasa. Setelah berumah tangga Pangeran Djonet pindah ke pinggiran Kota Bogor, akan tetapi komunikasi dengan masyarakat Matraman tetap terjalin dengan sangat baik, dan sering mengahdiri acara-acara keagamaan yang diadakan di Masjid Jami Mataram.

Berdirinya Masjid Jami Matraman memang tak lepas dari aktivitas bekas pasukan Sultan Agung Mataram yang menetap di Batavia. Nama wilayah Matraman pun disinyalir karena dahulunya merupakan tempat perkumpulan bekas pasukan Mataram. Untuk menjalankan aktivitas keagamaan bekas pasukan Mataram mendirikan sebuah Masjid di kawasan tersebut. Masjid yang didirikan pada tahun 1837 diberi nama Masjid Jami Mataram yang artinya Masjid yang digunakan para abdi dalem Keraton Mataram. Selain itu, pemberian nama tersebut dimaksudkan untuk menandakan bahwa masjid itu didirikan oleh para bekas pasukan Mataram. Keaslian Masjid Jami Matraman masih terlihat dari bagian depan gedung masjid yang belum pernah direnovasi. Pada jaman dahulu masjid itu merupakan masjid paling bagus di kawasan tersebut, dengan perpaduan gaya arsitektur masjid dari Timur Tengah dan India. Jika dilihat dari depan akan nampak bangunan seperti benteng dan pada dinding tembok mimbarnya dipenuhi dengan tulisan kaligrafi serta terlihat pula bentuk kubah bundar. Pada tahun 1837, masjid itu diresmikan oleh Pangeran Jonet (ahli waris Pangeran Diponegoro).


PANGERAN DJONET DI BOGOR (Tahun 1832 - 1885)

Tempat Tinggal Di Bogor

Pangeran Djonet pindah dari pelariannya di Batavia ke daerah pinggiran kota Bogor sekitar tahun 1832. Bersama pengikutnya keturunan bekas tentara kerajaan Mataram di Batavia (Daerah Matraman – Jakarta Timur), Pangeran Djonet membuka perkampungan baru yang akhirnya dikenal dengan nama Kampung JABARU, kependekan dari Jawa Baru.

Sarana transportasi darat yang umum pada masa itu kebanyakan menggunakan Kuda tunggang, kereta kuda, sepeda, sedikit kereta api dan mobil. Pangeran Djonet seperti halnya bangsawan di Keraton Yogyakarta tentunya sangat terlatih menggunakan kuda tunggang, oleh karenanya di sekitar kampong Jabaru, disuatu tempat yang berbentuk Pasir (nama lain dari Bukit) Pangeran Djonet dan para pengikutnya biasa menambatkan kuda-kudanya (kemungkinan besar, dipasir inilah dibangun Istal).


Melihat cerita di atas, dan mempelajari Silsilah yang ada serta mencermati keberadaan RM. Djonet pada masa perjuangan Pangeran Diponegoro setelah saya lakukan analisis dengan seksama dengan mengacu kepada artikel dan buku-buku diperoleh berbagai macam kemungkinan sebagai berikut :

1. Sri Sultan Hamengkubuwono II atau Raden Mas Sundoro diangkat menjadi Sultan pada bulan 24 Maret 1792 pada usia 42 tahun
   menggantikan ayahnya Sri Sultan Hamengkubuwono I yang wafat pada tanggal yang sama. Pada bulan Desember 1810 Herman Daendels
   menyerbu Yogyakarta, dan menurunkan Hamengkubuwana II, kemudian menggantinya dengan Hamengkubuwana III. Pada tahun 1811
   pemerintahan Belanda atas Jawa dan Nusantara direbut oleh Inggris, hal ini dimanfaatkan Hamengkubuwana II untuk kembali
   menjadi raja, dan menurunkan Hamengkubuwana III sebagai putra mahkota kembali. Pada bulan Juni 1812 pasukan Inggris yang
   dibantu Mangkunegaran menyerbu Yogyakarta, Hamengkubuwana II dibuang ke pulau Penang, sedangkan Pakubuwana IV dirampas
   sebagian wilayahnya. Hamengkubuwana III kembali diangkat sebagai raja Yogyakarta. Pada tahun 1825 terjadi pemberontakan
   Pangeran Diponegoro (putra Hamengkubuwana III) terhadap Belanda (yang kembali berkuasa sejak tahun 1816). Saat itu raja yang
   bertakhta di Yogyakarta adalah Hamengkubuwana V. Pemberontakan Pangeran Diponegoro sangat mendapat dukungan dari rakyat.
   Pemerintah Hindia Belanda mencoba mengambil simpati rakyat dengan mendatangkan Hamengkubuwana II yang dulu dibuang Inggris.
   Hamengkubuwana II kembali bertakhta tahun 1826, sedangkan Hamengkubuwana V diturunkan oleh Belanda. Namun usaha ini tidak
   membuahkan hasil. Rakyat tetap saja menganggap Pangeran Diponegoro sebagai raja mereka. 
   Hamengkubuwana II yang sudah tua (dan dipanggil sebagai Sultan Sepuh) akhirnya meninggal dunia pada tanggal 3 Januari 1828.
   Pemerintahan kembali dipegang oleh cicitnya, yaitu Hamengkubuwana V. 
2. Pada tahun 1823, Hamengkubuwono  IV dibunuh oleh seorang agen Belanda. Putra mahkota yang masih berusia 3(4) tahun diangkat
   menjadi Hamengkubuwono V. Sebuah dewan perwalian yang terdiri atas Ibu Suri, Nenek Suri, P. Mangkubumi, P. Diponegoro dan
   Danurejo IV dibentuk, dimana Patih Danurejo IV sepenuhnya mengendalikan Pemerintahan Kasultanan Yoyakarta dibawah pengaruh
   Belanda. Pangeran Diponegoro tidak menyetujui sistim perwalian bentukan Belanda tersebut karena hanya akan menguntungkan
   pihak Belanda. Dampak dari ketidak-harmonisan tersebut pada tahun 1825 Pangeran Diponegoro dibantu sebagian besar Pangeran
   mengadakan Perlawanan terhadap Belanda, yang pada akhirnya pada tahun 1826 Hamengkobowono II bertahta kembali untuk yang
   ke 3 kalinya, serta menurunkan Hamengkubuwono V.
3. Pada saat Hamengkubuwono II wafat pada tanggal 3 Januari 1828, tahta kerajaan diteruskan kembali oleh Hamengkubuwono V
   tentunya masih dengan model perwalian yang sama, akhirnya pada 18 Pebruari 1828 atas dukungan mayoritas rakyat dan para
   Pangeran yang lain Pangeran Diponegoro diangkat  sebagai Hamengkubuwono V dengan gelar “Pangeran Abdulhamid” menggantikan
   tahta kakeknya yang direbut kembali oleh Hamengkubuwono V, yang mana sistim perwalian bentukan Belanda tersebut dianggap
   menyalahi aturan, akan tetapi pengangkatan Pangeran Diponegoro sebagai Sultan tidak diakui oleh Pemerintah Belanda dan
   Kerajaan-kerajaan yang lain, akhirnya Kesultanan Yogyakarta tetap diteruskan oleh Hamengkubuwono V. 
4. RM. Djonet adalah putra sulung dari pasangan Pangeran Diponegoro dengan RA. Maduretno yang lahir pada tahun 1815 M. Ketika
   Diponegoro berusia 42 tahun, beliau dinobatkan sebagai Sultan Abdulhamid, RA. Maduretno diangkat sebagai permaisuri bergelar
   Kanjeng Ratu Kedaton l  pada tanggal 18 Pebruari 1828, pada saat itu RM. Djonet berumur 13 tahun.
5. Sejarah Pangeran Djonet menurut cerita kutipan dari buku karangan Peter Carey menyebutkan bahwa Pangeran Djonet dibunuh oleh
   Belanda dalam sebuah peperangan pada tahun 1837. Cerita tersebut dapat beralasan :
   1. Dalam artikel : “Jejak Sultan Agung Mataram di Masjid Jami Matraman”  disebutkan bahwa Masjid Jami Mataram dibangun dan
      diresmikan pada tahun 1837 oleh Pangeran Jonet (ahli waris Pangeran Diponegoro). Pada tahun 1837 Masjid Jami tersebut
      tergolong bangunan mewah arsitktur bangunannya menyerupai Taj Mahal, sehingga menjadi pusat perhatian Belanda. Informasi
      peresmian Masjid tersebut oleh keturunan langsung Pangeran Diponegoro sampai melalui mata-mata Belanda yang pada akhirnya
      Belanda melakukan penyergapan (kemungkinan dikediaman Pangeran Djonet di kampung Jabaru (Jawa Baru), di daerah Selatan
      Bogor. Dalam penyergapan tersebut akhirnya terjadi peperangan antara tentara Belanda dengan Pangeran Djonet dan
      pengikutnya. Di lain pihak, pada tahun yang sama 1837 Pangeran Djonet sudah berumah tangga dan mempunyai anak 7 ( 5 laki
      -laki dan 2 perempuan ).
   2. Mungkin saja data yang diperoleh Peter Carey sumbernya berasal dari pihak Belanda atau referensi lain yang ada di Inggris,
      dimana baik Belanda maupun Inggris membukukan sejarah pemberontakan Pangeran Diponegoro dan pengikutnya lebih mengutamakan
      keberhasilannya semata, sehingga Pangeran Diponegoro dan keluarganya berikut pengikutnya dianggap “BAD GUY” yang sudah
      dikalahkan (dibunuh) sedangkan pihak Belanda maupun Inggris sebagai “GOOD GUY” yang patut mendapatkan penghargaan.
6. Pangeran Djonet menetap di Batavia mulai tahun 1830, pada saat beliau berumur 15 tahun. Kalau mengacu kepada cerita versi
   “makam” (di Cikaret, Bogor), Pangeran Djonet termasuk dalam kelompok yang akan dibuang ke Makassar yang akhirnya dapat
   melarikan diri dan menetap di Batavia. Dimana pangeran Djonet tinggal di Batavia?, sampai tahun berapa tinggal di Batavia?,
   kapan pindah ke Bogor? Tahun berapa menikah?, Siapa isterinya? Berapa orang istrinya? Berapa orang putra-putrinya? dimana
   tinggalnya di Bogor? Jawabannya adalah :
   1. Di Batavia pangeran Djonet tinggal di perkampungan mantan prajurit Mataram  (Sultan Agung Mataram menyerang VOC di
      Batavia pada April 1628 - Mei 1629). Pada tahun 1837 perkampungan tersebut sudah berubah nama menjadi kampung MATRAMAN
      karena sudah  berusia 218 tahun. Di Matraman inilah Pangeran Djonet menetap dan mendapatkan perlindungan dari keterunan
      tentara Mataram, sampai usia beliau mencapai 17-22 tahun.
   2. Pangeran Djonet pindah ke Bogor antara tahun 1832-1837, dimana pada usia tersebutlah menikah dengan puteri Kapitein
      keturunan Tionghoa dari Marga TAN yang bernama BOEN NIOH kemudin bermualaf dengan nama NYI MAS AYU FATMAH. Mengenai jumlah
      isterinya dapat diperkirakan sebagai berikut : apabila mengacu kepada buku Peter Carey pangeran Djonet terbunuh pada saat
      usia perkawinan 5 tahun (1837) dengan jumlah putra-putri 7 orang, berarti pangeran Djonet beristri minimal 2 orang,
      sedangkan kalau mengacu versi makam, Pangeran Djonet meninggal di usia 70 tahunan meninggalkan seorang isteri, 7 orang
      anak.
   3. Di Bogor Pangeran Djonet tinggal di pinggiran Kota ± 5 km dari Istana Belanda. Disana beliau dibantu para pengikutnya
      keturunan Mataram yang ada di Batavia membuka perkampungan baru yang pada akhirnya dikenal dengan sebutan Kampung JABARU
      kepanjangan dari Kampung Jawa Baru. Di kampung Jabaru inilah pangeran Djonet membentuk pasukan dan beranak-pinak. Kuda-kuda
      pangeran Djonet dan pasukannya ditambatkan di Istal Kuda didaerah pasir (bukit) yang pada akhirnya daerah tersebut dikenal
      dengan nama Kampung Pasir Kuda (kampung diatas bukit yang banyak Kuda). Dari Kampung Jabaru keturunan Pangeran Djonet
      meluas dan membuka perkampungan baru di sebelah Timurnya yang juga dikenal dengan nama Kampung Dukuh Jawa.
   4. Menurut kesaksian keturunan Pangeran Djonet generasi ke 5 Rd.Hj. SITI MARIAM (IIH) &
      Rd.Hj. SITI JUARIAH (UWE), pada saat ayahnya RM.H. RANA MENGGALA 
      (generasi 4) meninggal sekitar tahun 1970an, ada prajurit utusan Kraton Yogyakarta membawa peti berukir yang berisi
      antara lain uang. Pada saat itu keturunan Pangeran Djonet sampai generasi ke 5 belum banyak yang mengetahui asal-
      usul yang mengarah kepada Pangeran Diponegoro. Hal ini dapat diartikan bahwa, pihak Kraton Yogyakarta mengetahui
      keberadaan Pangeran Djonet di Bogor dan ada kemungkinan sebetulnya pada saat Pangeran Djonet tinggal pertama di 
      Bogor pun sudah ada komunikasi rahasia antara telik sandi kraton Yogyakarta dengan pasukan Pangeran Djonet di Bogor
      (mengapa masih rahasia, mengingat di kalangan kerabat Pangeran Diponegoro di Yogyakarta pada saat itu disinyalir masih
      banyak yang pro-kolonial) . Sejauh ini diantara keturunan 7 anak Pangeran Djonet, sampai dengan generasi kelima (lahir
      1930an-1950an) silsilah keluarga yang lebih rinci tentang keturunan Pangeran Djonet masih memerlukan verifikasi dan
      penyempurnaan,wallahu alam bi sawab.  

http://peanutnute.multiply.com/reviews/item/27?&show_interstitial=1&u=%2Freviews%2Fitem


SILSILAH KELUARGA BESAR KETURUNAN RM. DJONET DIPAMENGGALA

Putra-putri

No. Nama Tempat/Lahir
1. RM. NGABEHI DIPAMENGGALA Jabaru, C-1833
2. RM. HARJO DIPOMENGGOLO Jabaru, C-1834
3. RM. HARJO DIPOTJOKRO / PANGERAN GRINGSING I Jabaru, C-1835
4. RM. HARJO ABDUL MANAP Jabaru, C-1836
5. RM. KH. SAHID ANGKRIH Jabaru, C-1835
6. NYI MAS RAy. UKIN Jabaru, C-1836
7. NYI MAS RAy. OKAH Jabaru, C-1837

Cucu

  1. 1.1. RM.KH. USMAN BAKHSAN (Lebak pasar, C-1854)
  2. 2.1. RM.H. BRODJOMENGGOLO
  3. 2.2. RAy.Hj. GONDOMIRAH
  4. 2.3. RM.H. ABAS
  5. 2.4. RM.H. ABDULRACHMAN ADIMENGGOLO
  6. 2.5. RM.H. MUHAMMAD HASAN
  7. 3.1. RM. HARJO DIPOTJOKRO HADIMENGGOLO / P.GRINGSING II
  8. 4.1. RM.H. EDOJ
  9. 4.2. RM.H. SAYYID YUDOMENGGOLO
  10. 4.3. NYI RAy.Hj. SARODJA
  11. 4.4. NYI RAy.Hj. AMANUNG
  12. 5.1. RM. ASMINI
  13. 5.2. RM. IDRIS
  14. 5.3. RM. ONDUNG

Buyut / Cicit

  1. 1.1.1. RM.H. RANA MENGGALA (Lebakpasar, C-1877)
  2. 1.1.2. RM.H. ABDULGHANI MENGGALA (Lebakpasar, C-1878)
  3. 1.1.3. RM.H. MUHAMMAD HASYIR (AHMAD, C-1879)
  4. 1.1.4. RAy.Hj. ITI (Gg Wahir-Empang, C-1880
  5. 2.1.1. RM.H. WONGSOMENGGOLO (Ciomas)
  6. 2.1.2. RM.H. SOEROMENGGOLO (Ciomas)
  7. 2.1.3. RM.H. ADIMENGGOLO (Ciomas)
  8. 2.1.4. RAy.Hj.UNAN (Loji)
  9. 2.2.1. RM.H. IBRAHIM\RM. ABD.ROCHMAN WIRADIMENGGOLO\RM. WIRADINEGARA
  10. 2.2.2. NYI RAy.Hj. ASMAYA
  11. 2.2.3. NYI RAy.Hj. ENTING AISYAH
  12. 2.2.4. NYI RAy.Hj. SITI FATIMAH
  13. 2.2.5. NYI RAy.Hj. ANTAMIRAH
  14. 2.2.6. RM. TJANDRANINGRAT\RM. ARIO MAD SURODHININGRAT
  15. 2.2.7. RM. YAHYA GONDONINGRAT
  16. 2.2.8. RM. INDRIS TIRTODIRDJO/RM. IDRUS TIRTODIRDJO
  17. 2.2.9. NYI RAy.Hj. RAJAMIRAH/RAy.Hj. MIRAH
  18. 2.3.1. RM.H. ARDJA
  19. 2.3.2. RM.H. SUMINTA (MALIK)
  20. 2.3.3. RAy.Hj. PATIMAH <menikah dgn> DJUARSA (Ayahnya Mayjen. ISHAK DJUARSA)
  21. 2.3.4. RAy.Hj. FATMAH <menikah dgn> 1.1.1. RM.H. RANA MENGGALA Cucu RM. NGABEHI DIPOMENGGOLO
  22. 2.3.5. RM.H. YACUB
  23. 2.3.6. RAy.Hj. SITI MARIJAM (Loji)
  24. 2.4.1. RAy.Hj. SUKIYAMAH
  25. 3.1.1. RM. HARJO DIPOHADIKUSUMO / P. GRINGSING III
  26. 4.1.1. RM.H. SINTOMENGGOLO
  27. 4.2.1. RM.H. SADIRI GONDOMENGGOLO
  28. 4.3.1. RM.H. SUMAWIDJAJA
  29. 4.3.2. NYI RAy.Hj. DANANG
  30. 4.3.3. NYI RAy.Hj. ANOK
  31. 4.3.4. NYI RAy.Hj. ENGKO
  32. 4.3.5. NYI RAy.Hj. TOJO (Ibu Bandung)
  33. 5.1.1. RM.H. ASMININ
  34. 5.1.2. RM.H. MALI
  35. 5.1.3. RM.H. MINAU
  36. 5.1.4. RM.H. IKING
  37. 5.1.5. RAy.Hj. UMI

Canggah
  1. 1.1.1.1. R.H. RAIS
  2. 1.1.1.2. R.Hj. ECIN
  3. 1.1.1.3. R.Hj. HALIMAH
  4. 1.1.1.4. R.Hj. SITI KHODIJAH
  5. 1.1.1.5. R.Hj. SITI MUKMINAH
  6. 1.1.1.6. R.Hj. SITI JUARIAH (Uwa UWE, Sempur)
  7. 1.1.1.7. R.H. MAHBUB
  8. 1.1.1.8. R.Hj. SITI MAEMUNAH
  9. 1.1.1.9. R.Hj. SITI MARIAM (Ibu KARIM/Uwa IIH, Gg. Menteng)
  10. 1.1.1.10. R.IYAN RIDWAN
  11. 1.1.2.1. R.H. YASIN (C-1910
  12. 1.1.2.2. R.MASDIR. JAYAKUSUMAH (Jaya, C-1911)
  13. 1.1.2.3. R.H. ALI
  14. 1.1.2.4. R.H. ABDUL MANAN (Adung)
  15. 1.1.2.5. R.Hj. SUPIAH (Siti)
  16. 1.1.2.6. R.Hj. ENCUNG
  17. 1.1.2.7. R.MASDIR KARTANINGRAT (Tata)
  18. 1.1.2.8. R.MASDIR KURNAEN (Aeng)
  19. 1.1.2.9. R.MASDIR MOCHAMAD ARIEF
  20. 1.1.2.10. R.MASDIR SUMANTRI (Ati)
  21. 1.1.2.11. R.MASDIR EMAN SULAEMAN
  22. 2.1.1.1. R.H. SOLEH SURODIMENGGOLO (Ciomas)
  23. 2.1.1.2. R.H. UMAR SURIODIRDJO (Ciomas)
  24. 2.1.1.3. R.H. MUSA SUMODIRDJO Ciomas)
  25. 2.1.1.4. R.H. EMBIH SASTRODIRDJO
  26. 2.1.2.1. R.H. ICAN SUROMENGGOLO (Ciomas)
  27. 2.1.2.2. NYI. R. AMOE (Ciomas)
  28. 2.1.2.3. R.H. ARJOMENGGOLO (Ciomas)
  29. 2.1.3.1. R.H. MOH. SYAFEI (Ciomas)
  30. 2.1.3.2. R.H. JAMSARI ADIMENGGOLO (Ciomas)
  31. 2.1.4.1. NYI Rd.Hj. ENUNG (Loji)
  32. 2.2.1.1. R.H. KURAESIN
  33. 2.2.1.2. R.H. ADJID MANGKUWIJAYA
  34. 2.2.1.3. R.H. MUH. ISA (Ciomas)
  35. 2.2.6.1. R.H. PANJI
  36. 2.2.6.2. R.H. PANDU
  37. 2.2.6.3. R.H. HASAN
  38. 2.2.6.4. R.H. KURAESIN
  39. 2.2.7.1. NYI Rd. Hj. RATNA KANCANA (Ciomas) <menikah dengan> Ir. H. MARAH ROESLI (Pujangga Nasional
  40. 2.2.8.1. R.H. ACO UMAR
  41. 2.2.9.1. Rd.H. YASIN WINATADIREDJA (Enceng)
  42. 2.2.9.2. NYI Rd.Hj. SITI RAHMAT (Titi)
  43. 2.2.9.3. Rd.H. TATANG MUCHTAR (Ciluar)
  44. 2.2.9.4. NYI Rd. ICHA AISYAH (Di Belanda sejak 1935)
  45. 2.3.6.1. Drs.H.R. MANSYUR
  46. 2.3.6.2. H.R. SANUSI (Gunung Batu)
  47. 2.3.6.3. Drs.H.R. ENTJEP WAHAB (Jakarta)
  48. 3.1.1.1. R. DR. HARTO PURWOWASONO DIPONEGORO / P. GRINGSING IV (Magetan)
  49. 4.1.1.1. NYI Rd. HJ. S. AISYAH
  50. 4.1.1.2. NYI Rd. HJ. INA
  51. 4.1.1.3. NYI Rd. HJ. SITI
  52. 4.1.1.4. Rd. H. MARANA
  53. 4.1.1.5. NYI Rd. HJ. ARISAH
  54. 4.1.1.6. Rd. H. BARNAS SINTOMENGGOLO
  55. 4.1.1.7. NYI Rd. HJ. UTI
  56. 4.1.1.8. NYI Rd. HJ. UTA
  57. 4.1.1.9. NYI Rd. HJ. HATIMAH
  58. 4.1.1.10.Rd. H. SIDIQ SINTOMENGGOLO
  59. 4.2.1.1. Rd. H. KARTA
  60. 4.2.1.2. NYI Rd. HJ. JUHA
  61. 4.2.1.3. Rd. H. DARMA
  62. 4.2.1.4. Rd. H. DARNA
  63. 4.3.1.1. R.H. ENTUNA PARTAWIJAYA
  64. 4.3.2.1. R.H. PRAWIRA SOMANTRI
  65. 5.1.1.1. R. ABDUL LATIF
  66. 5.1.1.2. R. ARMANI
  67. 5.1.1.3. NYI Rd. JENAB
  68. 5.1.1.4. R. MURNAS
  69. 5.1.1.5. R. ABDURROHIM
  70. 5.1.1.6. R. ABDURROHMAN

SILSILAH RINCI

#1. RM. NGABEHI DIPAMENGGALA (C-1833)   
    1.1. RM.KH. USMAN BAKHSAN (Lebakpasar, C-1854)
         1.1.1. RM.H. RANA MENGGALA (Lebakpasar, C-1877)
                1.1.1.1.  R.H. RAIS
                1.1.1.2.  R.Hj. ECIN
                1.1.1.3.  R.Hj. HALIMAH
                1.1.1.4.  R.Hj. SITI KHODIJAH
                1.1.1.5.  R.Hj. SITI MUKMINAH
                1.1.1.6.  R.Hj. SITI JUARIAH (Uwa UWE, Sempur)
                1.1.1.7.  R.H. MAHBUB
                1.1.1.8.  R.Hj. SITI MAEMUNAH
                1.1.1.9.  R.Hj. SITI MARIAM (Ibu KARIM/Uwa IIH, Gg. Menteng)
                1.1.1.10. R.IYAN RIDWAN
         1.1.2. RM.H. ABDULGHANI MENGGALA (Lebakpasar, C-1878)
                1.1.2.1.  R.H. YASIN (C-1910
                          1.1.2.1.1. R. ENDUS
                          1.1.2.1.2. R. SALMAH (Encal)
                                     1.1.2.1.2.1.  R. HARUN AL-RASYID
                          1.1.2.1.3. R. SUHANDA (Kang AA)
                          1.1.2.1.4. R. ARSYAD (Kang OO)
                          1.1.2.1.5. R. SUKARNA (Kang UU)
                                     1.1.2.1.5.1.  R. ENEN
                                     1.1.2.1.5.2.  R. DIDING
                                     1.1.2.1.5.3.  R. ENTIN
                          1.1.2.1.6. R. SUKARNI (Kang Ani)
                                     1.1.2.1.6.1.  R. SUKANTA
                          1.1.2.1.7. R. MUTHOLIB (Toto)
                                     1.1.2.1.7.1.  R. DEDI NURTHOLIB (Nunuy)  
                                     1.1.2.1.7.1.  R. IIS  
                                     1.1.2.1.7.1.  R. DEDE  
                1.1.2.2.  R.MASDIR. JAYAKUSUMAH (Jaya, C-1911)
                          1.1.2.2.1.  R. JATNIKA JAYAKUSUMAH (Enjat)
                                      1.1.2.2.1.1. R. EDI WAHYUDI
                                                   1.1.2.2.1.1.1.  R. YUDHA
                                                   1.1.2.2.1.1.2.  R. ENENG
                                                   1.1.2.2.1.1.3.  R. TATI
                                                   1.1.2.2.1.1.4.  Rb. MOCH HAPI 
                          1.1.2.2.2.  R. LUKMAN JAYAKUSUMAH (Maman)
                          1.1.2.2.3.  R. NYIMAS TUTI TRISNAWATI JAYAKUSUMAH (Enis)
                                      1.1.2.2.3.1. R. PEPEN RUSPENDI DIPONEGORO
                                                   1.1.2.2.2.1.1.  Rb. YANA RUBIYANA DIPONEGORO
                                                   1.1.2.2.2.1.2.  Rb. AGUSTANJAYA DIPONEGORO
                                                   1.1.2.2.2.1.3.  Rr. NURWINA SEPTI DIPONEGORO
                                                   1.1.2.2.2.1.4.  Rr. RIZKI MELINA DIPONEGORO
                                      1.1.2.2.3.2. R. ENDANG SUHENDAR DIPONEGORO
                                                   1.1.2.2.2.2.1.  Rr. INESIA VIOLINA DIPONEGORO
                                                   1.1.2.2.2.2.2.  Rb. M. HARPA RAMADHAN DIPONEGORO
                                                   1.1.2.2.2.2.3.  Rb. M. GITAR RAMADHAN DIPONEGORO
                                      1.1.2.2.3.3. R. SUPRIATINI DIPONEGORO (Tintin)
                                                   1.1.2.2.2.3.1.  R. EKA SANDRA DIPONEGORO
                                                   1.1.2.2.2.3.2.  R. AIDA NANDARA DIPONEGORO
                                      1.1.2.2.3.4. R. LILIH SURYYA DIPONEGORO
                                                   1.1.2.2.2.4.1.  Rb. RANDY ADITYANA DIPONEGORO
                                                   1.1.2.2.2.4.2.  Rr. ALIN NURGIANTY DIPONEGORO
                                                   1.1.2.2.2.4.3.  Rr. DITA TRIJAYANTI DIPONEGORO
                                                   1.1.2.2.2.4.4.  Rb. IVAN WIRANATA DIPONEGORO
                                      1.1.2.2.3.5. R. MARYATI DIPONEGORO
                                                   1.1.2.2.2.5.1.  Rb. NIKI ADRIAN PURNAMA DIPONEGORO
                                                   1.1.2.2.2.5.2.  Rr. RANTI DWILESTARI DIPONEGORO
                                                   1.1.2.2.2.5.3.  Rb. JODI TRIADI DIPONEGORO
                                                   1.1.2.2.2.5.4.  Rr. GITA SEPTIA PERMATA DIPONEGORO
                                                   1.1.2.2.2.5.5.  Rr. VERDA FAUZIYAH RACHMAN DIPONEGORO
                                      1.1.2.2.3.6. R. DENI SUPRAMANA DIPONEGORO(Wafat 2012)
                          1.1.2.2.4.  R.H. SURYA KUSUMAH (Cecep)
                                      1.1.2.2.4.1. R. Hedi Hadiwinata 
                                                   1.1.2.2.4.1.1.  Rr. Anisa Nurditasari  
                                                   1.1.2.2.4.1.2.  Rb. Muhammad Arditya Hadiwinata
                                      1.1.2.2.4.2. R. Henny Handayani
                                                   1.1.2.2.4.1.1.  Rr. Afifah Rachmalia
                                                   1.1.2.2.4.1.2.  Rr. Nabila RAchmani
                                                   1.1.2.2.4.1.3.  Rb. M. Rizki Asidiq
                                      1.1.2.2.4.3. R. Adi Karyadi
                                                   1.1.2.2.4.1.1.  Rb. Moh. Raghit Putra Karyadi
                                                   1.1.2.2.4.1.2.  Rb. Moh. Rehan Putra Karyadi
                          1.1.2.2.5.  R. HARJA SUTISNA JAYAKUSUMAH (Entis)
                                      1.1.2.2.5.1. R. Toto
                                                   1.1.2.2.5.1.1.  Putra Toto ke 1
                                                   1.1.2.2.5.1.2.  Putra Toto ke 2
                                      1.1.2.2.5.2. R. Yayat
                                                   1.1.2.2.5.2.1.  Putra Yayat ke 1
                                                   1.1.2.2.5.2.2.  Putra Yayat ke 2
                                      1.1.2.2.5.3. R. Tina herlina (Nina)
                                                   1.1.2.2.5.3.1.  Putra Nina ke 1
                                                   1.1.2.2.5.3.2.  Putra Nina ke 2
                                      1.1.2.2.5.4. R. Kurnia
                                                   1.1.2.2.5.4.1.  Putra Kurnia ke 1
                                                   1.1.2.2.5.4.2.  Putra kurnia ke 2
                                      1.1.2.2.5.5. R. Hira
                          1.1.2.2.6.  R. MUSLIHAT JAYAKUSUMAH (Emung)
                                      1.1.2.2.6.1. R. Bambang Meirano
                                                   1.1.2.2.6.1.1.  Rb. M. Arul 
                                                   1.1.2.2.6.1.2.  Rr. Luthfiah (Lulut)
                                      1.1.2.2.6.2. R. Irwan Junarsa
                                      1.1.2.2.6.3. R. Nur Endah Noviani (Nuri)
                                                   1.1.2.2.6.3.1.  Rb. Sihabuddin
                                                   1.1.2.2.6.3.2.  Rb. Fachri
                          1.1.2.2.7.  R. MULYADI JAYAKUSUMAH (Yadi)
                                      1.1.2.2.7.1. R. Dian Mardiana
                                                   1.1.2.2.7.1.1.  Rr. Sifa
                                                   1.1.2.2.7.1.2.  Rb. Defa
                                      1.1.2.2.7.2. R. Fitria Yulianti
                                                   1.1.2.2.7.2.1.  Rr. Dea
                                                   1.1.2.2.7.2.2.  Rb. Yofa
                                                   1.1.2.2.7.2.3.  Rr. Deean Coco
                                      1.1.2.2.7.3. R. Mulya Saputra
                                                   1.1.2.2.7.3.1.  Rb. Axel Alvito Meola
                          1.1.2.2.8.  R. DODY SUYATNA JAYAKUSUMAH (Dodot/Dody)
                                      1.1.2.2.8.1. R. Irene Anggraeni
                                                   1.1.2.2.8.1.1.  Rb. Daffa Adillah
                                                   1.1.2.2.8.1.2.  Rr. Syahla Dheandra Zahran
                                                   1.1.2.2.8.1.3.  Rr. Alma Hiraku Pramuditha
                                      1.1.2.2.8.2. R. Rangga Permana Kusumah (Angga)
                                                   1.1.2.2.8.2.1.  Putra Angga Ke 1
                          1.1.2.2.9.  R. RIDWAN JAYAKUSUMAH (Wawang)
                                      1.1.2.2.9.1. R. Bahraini Riza
                                                   1.1.2.2.9.1.1. Rr. Bahraini Putri
                                                   1.1.2.2.9.1.2. Rb. Bahraini putra
                                      1.1.2.2.9.2. R. Budhi Nusantara
                                                   1.1.2.2.9.2.1. Rb. Budhi Putra
                                                   1.1.2.2.9.2.2. Budhi Putra ke 2
                                      1.1.2.2.9.3. R. Bella Kusnandar
                                                   1.1.2.2.9.3.1. Rb. Nizar Maulana
                                                   1.1.2.2.9.3.2. Rb. Aqeela
                                                   1.1.2.2.9.3.3. Rr. Bella Putri
                                      1.1.2.2.9.4. R. Rina Kusmawati
                                                   1.1.2.2.9.4.1. Putra ke 1 Rina
                                                   1.1.2.2.9.4.2. Putra ke 2 Rina
                          1.1.2.2.10. R. RAFIUDIN JAYAKUSUMAH (Dingding, tidak berputra)
                          1.1.2.2.11. R. SUDRAJAT JAYAKUSUMAH (Jajat)
                                      1.1.2.2.11.1. Rr. Rina Oktaviani
                                      1.1.2.2.11.2. Rr. Debi Aprianti
                                      1.1.2.2.11.3. Rb. Heri (tidak berputra)
                                      1.1.2.2.11.4. R. Hari Sephandri (AO)    
                                                    1.1.2.2.11.3.1. Putra Ari ke 1
                1.1.2.3.  R.H. ALI
                          1.1.2.3.1.  R.H. JUMENA
                1.1.2.4.  R.H. ABDUL MANAN (Adung)
                          1.1.2.4.1.  R. SASTRA (Caca)
                          1.1.2.4.2.  R. ENOH
                          1.1.2.4.3.  R.H DIDIH
                          1.1.2.4.4.  R. CICIH
                          1.1.2.4.5.  R. SUPARTI
                                      1.1.2.4.5.1. Kang Eddy
                                      1.1.2.4.5.2. R.Pepen Supendi
                                      1.1.2.4.5.3. R.Neni
                                      1.1.2.4.5.4. R.Yeti 
                1.1.2.5.  R.Hj. SUPIAH (Siti)
                          1.1.2.5.1.  R. DJAKA
                                      1.1.2.5.1.1. R. Abdul Kadir (Oding)
                          1.1.2.5.2.  R. ANONG KRAMAATMAJA <menikah dengan> MA. SALMUN RAKYADIKARIA (Pujangga Sunda, asal Banten)
                                      1.1.2.5.2.1. R. Jatayu Wiyati Salmun (Uyu)
                                                   1.1.2.5.2.1.1. R. Riefa Sayyidina
                                                   1.1.2.5.2.1.2. R. Yutimma Dewiaty
                                      1.1.2.5.2.2. R. Yeti
                                      1.1.2.5.2.3. R. Parti
                                      1.1.2.5.2.4. R. Iwan
                                      1.1.2.5.2.5. R. Aas
                                      1.1.2.5.2.6. R. Neni
                                      1.1.2.5.2.7. R. Hedi
                                      1.1.2.5.2.8. R. Ented
                          1.1.2.5.3.  R.Hj. HALIMAH (Emah)
                          1.1.2.5.4.  R.Hj. EMPIN (Rapi'ah)
                          1.1.2.5.5.  R.H. DJAJUSMAN (Jayus)
                          1.1.2.5.6.  R. SOLEH
                1.1.2.6.  R.Hj. ENCUNG
                          1.1.2.6.1.  R. NANI (Eneng)
                1.1.2.7.  R.MASDIR KARTANINGRAT (Tata)
                          1.1.2.7.1.  R.Hj. NUNUNG NURJUARIAH
                          1.1.2.7.2.  R.Hj. NINIH NURJANAH
                          1.1.2.7.3.  R. YAYAH
                          1.1.2.7.4.  R. ENDANG
                          1.1.2.7.5.  R. ODIN
                1.1.2.8.  R.MASDIR KURNAEN (Aeng)
                          1.1.2.8.1.  R.Hj. KURNIATI (Iis) <menikah dengan> DR.Ir.H. FACHRUDDIN (Rektor UNHAS)
                          1.1.2.8.2.  R. KASWATI (Kotih)
                1.1.2.9.  R.MASDIR MOCHAMAD ARIEF
                          1.1.2.9.1.  R. MEMET SAPUTRA (Ahmad)
                          1.1.2.9.2.  R. YEYET RUSMIATI
                1.1.2.10. R.MASDIR SUMANTRI (Ati)
                          1.1.2.10.1. R. HEDI SUMARDI
                          1.1.2.10.2. R. EMBED SUHARLI
                          1.1.2.10.3. R. SOPIAH (Iyong)
                1.1.2.11. R.MASDIR EMAN SULAEMAN
                          1.1.2.11.1. R. HAYATI (Titi)
         1.1.3. RM.H. MUHAMMAD HASYIR (AHMAD, C-1879)
         1.1.4. RAy.Hj. ITI (Gg Wahir-Empang, C-1880
#2. RM. HARJO DIPOMENGGOLO (C-1834)   
    2.1. RM.H. BRODJOMENGGOLO
         2.1.1. RM.H. WONGSOMENGGOLO (Ciomas)
                2.1.1.1. R.H. SOLEH SURODIMENGGOLO (Ciomas) 
                2.1.1.2. R.H. UMAR SURIODIRDJO (Ciomas) 
                2.1.1.3. R.H. MUSA SUMODIRDJO Ciomas) 
                2.1.1.4. R.H. EMBIH SASTRODIRDJO 
         2.1.2. RM.H. SOEROMENGGOLO (Ciomas)
                2.1.2.1. R.H. ICAN SUROMENGGOLO (Ciomas) 
                2.1.2.2. NYI. R. AMOE (Ciomas) 
                2.1.2.3. R.H. ARJOMENGGOLO (Ciomas) 
         2.1.3. RM.H. ADIMENGGOLO (Ciomas)
                2.1.3.1. R.H. MOH. SYAFEI (Ciomas) 
                2.1.3.2. R.H. JAMSARI ADIMENGGOLO (Ciomas) 
         2.1.4. RAy.Hj.UNAN (Loji)
                2.1.4.1. NYI Rd.Hj. ENUNG (Loji) 
    2.2. RAy.Hj. GONDOMIRAH <menikah dgn> Rd. SURYADIMENGGALA (Tumenggung Ket. Sumedang)
         2.2.1. RM.H. IBRAHIM\RM. ABD.ROCHMAN WIRADIMENGGOLO\RM. WIRADINEGARA 
                2.2.1.1. R.H. KURAESIN 
                2.2.1.2. R.H. ADJID MANGKUWIJAYA 
                2.2.1.3. R.H. MUH. ISA (Ciomas) 
         2.2.2. NYI RAy.Hj. ASMAYA
         2.2.3. NYI RAy.Hj. ENTING AISYAH
         2.2.4. NYI RAy.Hj. SITI FATIMAH
         2.2.5. NYI RAy.Hj. ANTAMIRAH
         2.2.6. RM. TJANDRANINGRAT\RM. ARIO MAD SURODHININGRAT
                2.2.6.1. R.H. PANJI 
                2.2.6.2. R.H. PANDU 
                2.2.6.3. R.H. HASAN 
                2.2.6.4. R.H. KURAESIN 
         2.2.7. RM. YAHYA GONDONINGRAT
                2.2.7.1. NYI Rd. Hj. RATNA KANCANA (Ciomas) <menikah dengan> Dr. H. MARAH ROESLI (Pujangga Nasional 
         2.2.8. RM. INDRIS TIRTODIRDJO/RM. IDRUS TIRTODIRDJO
                2.2.8.1. R.H. ACO UMAR 
         2.2.9. NYI RAy.Hj. RAJAMIRAH/RAy.Hj. MIRAH
                2.2.9.1. Rd.H. YASIN WINATADIREDJA (Enceng) 
                2.2.9.2. NYI Rd.Hj. SITI RAHMAT (Titi) 
                2.2.9.3. Rd.H. TATANG MUCHTAR (Ciluar) 
                2.2.9.4. NYI Rd. ICHA AISYAH (Di Belanda sejak 1935) 
    2.3. RM.H. ABAS(Penghulu Ciomas) <menikah dgn> PUTRI PERTAMA DAENG DJARBI (Putra ke 2 Raja Gowa)
         2.3.1. RM.H. ARDJA
         2.3.2. RM.H. SUMINTA (MALIK)
         2.3.3. RAy.Hj. PATIMAH <menikah dgn> DJUARSA (Ayahnya Mayjen. ISHAK DJUARSA)
         2.3.4. RAy.Hj. FATMAH <menikah dgn> 1.1.1. RM.H. RANA MENGGALA Cucu RM. NGABEHI DIPOMENGGOLO 
         2.3.5. RM.H. YACUB
         2.3.6. RAy.Hj. SITI MARIJAM (Loji)
                2.3.6.1. Drs.H.R. MANSYUR
                2.3.6.2. H.R. SANUSI (Gunung Batu)
                2.3.6.3. Drs.H.R. ENTJEP WAHAB (Jakarta) 
    2.4. RM.H. ABDULRACHMAN ADIMENGGOLO (Camat Ciomas)
         2.4.1. RAy.Hj. SUKIYAMAH
    2.5. RM.H. MUHAMMAD HASAN     
#3. RM. HARJO DIPOTJOKRO / PANGERAN GRINGSING I
    3.1. RM. HARJO DIPOTJOKRO HADIMENGGOLO / P.GRINGSING II
         3.1.1. RM. HARJO DIPOHADIKUSUMO / P. GRINGSING III
                3.1.1.1. R. DR. HARTO PURWOWASONO DIPONEGORO / P. GRINGSING IV
#4. RM. HARJO ABDUL MANAP
    4.1. RM.H. EDOJ
         4.1.1. RM.H. SINTOMENGGOLO
                4.1.1.1. NYI Rd. HJ. S. AISYAH
                4.1.1.2. NYI Rd. HJ. INA
                4.1.1.3. NYI Rd. HJ. SITI
                4.1.1.4. Rd. H. MARANA                 
                4.1.1.5. NYI Rd. HJ. ARISAH
                4.1.1.6. Rd. H. BARNAS SINTOMENGGOLO
                4.1.1.7. NYI Rd. HJ. UTI
                4.1.1.8. NYI Rd. HJ. UTA
                4.1.1.9. NYI Rd. HJ. HATIMAH
                4.1.1.10. Rd. H. SIDIQ SINTOMENGGOLO
    4.2. RM.H. SAYYID YUDOMENGGOLO
                4.2.1.1. Rd. H. KARTA 
                4.2.1.2. NYI Rd. HJ. JUHA 
                4.2.1.3. Rd. H. DARMA 
                4.2.1.4. Rd. H. DARNA 
         4.2.1. RM.H. SADIRI GONDOMENGGOLO
    4.3. NYI RAy.Hj. SARODJA 
         4.3.1. RM.H. SUMAWIDJAJA
                4.3.1.1. R.H. ENTUNA PARTAWIJAYA
         4.3.2. NYI RAy.Hj. DANANG
                4.3.2.1. R.H. PRAWIRA SOMANTRI
         4.3.3. NYI RAy.Hj. ANOK
         4.3.4. NYI RAy.Hj. ENGKO
         4.3.5. NYI RAy.Hj. TOJO (Ibu Bandung)
    4.4. NYI RAy.Hj. AMANUNG
#5. RM. KH. SAHID ANGKRIH
    5.1. RM. ASMINI
         5.1.1. RM.H. ASMININ
                5.1.1.1. R. ABDUL LATIF
                         5.1.1.1.1. R. KOMARUDIN
                5.1.1.2. R. ARMANI
                         5.1.1.2.1. R. AL. KH. DARMA
                5.1.1.3. NYI Rd. JENAB
                5.1.1.4. R. MURNAS
                5.1.1.5. R. ABDURROHIM
                5.1.1.6. R. ABDURROHMAN
         5.1.2. RM.H. MALI
         5.1.3. RM.H. MINAU
         5.1.4. RM.H. IKING
         5.1.5. RAy.Hj. UMI
    5.2. RM. IDRIS
    5.3. RM. ONDUNG 
#6. NYI MAS RAy. UKIN 
#7. NYI MAS RAy. OKAH 

- Tercatat Di Tepas Darah Dalem -
20611/8 <149+142!> # 6. RM. Roub /rm. Raab (Pangeran Hasan) [Hamengku Buwono]
Рођење: 1816, Solo
== Raden Mas Roub/Raib/Raab/Pangeran Hasan 1816 ==


Adalah adik kandung Raden Mas Joned. Usianya sekitar sembilan tahun ketika mengikuti ayahnya dalam medan perang. Bersama kakaknya dia ikut merasakan bagaimana kehidupan dalam pengungsian. Raden Mas Roub selalu mengikuti perjalanan ayahnya dalam medan perang. Selain karena putera dari isteri permaisuri kedua, Pangeran Diponegoro menyiapkan Raden Mas Roub agar kelak sebagai seorang pemimpin agama.

Sampai di sini dapat dijelaskan bahwa ada 4 (empat) putera Pangeran Diponegoro yang dibuang ke Ambon. Pada buku The Power of Prophecy tulisan Peter F Carey halaman 746 dijelaskan bahwa pada akhir tahun 1848 Pangeran Diponegoro menanyakan kepada gubernur jenderal di Makassar perihal tiga anaknya yaitu Pangeran Dipokusumo, Raden Mas Raib serta Pangeran Diponingrat yang diberitakan mengalami sakit tekanan jiwa. Pangeran Diponegoro juga menanyakan anaknya yang tertua yang mengalami pembuangan di Sumenep pada tahun 1834 setelah memberontak di Kedu, dan belum pernah berkirim kabar.
19512/8 <143+76> # Raden Mas Mustojo ? (Sri Sultan Hamengkubuwono VI) [Hamengkubuwono]
Рођење: 10 август 1821, Yogyakarta
Свадба: <80> Bendoro Raden Ayu Puspitoningrum [?]
Свадба: <81> Bendoro Raden Ayu Dewiningrum [?]
Свадба: <82> Bendoro Raden Ayu Retnoningdiah [?]
Свадба: <83> Bendoro Raden Ayu Sasmitaningrum [?]
Свадба: <84> Bendoro Raden Ayu Gusti Gondokusumo / Bendoro Raden Ayu Gusti Hangebehi [Hamengku Buwono V]
Свадба: <85> # Gusti Kanjeng Ratu Sultan / Gusti Kanjeng Ratu Hageng (Roromunting) [Prawirorejoso]
Свадба: <86> Bendoro Raden Ayu Tedjaningsih [Hamengku Buwono VI]
Свадба: <87> # Gusti Kanjeng Ratu Kencono / Gusti Kanjeng Ratu Hamengku Buwono [Pakubuwono VIII]
Свадба: <88> Bendoro Raden Ayu Murtiningrum / Bendoro Raden Ayu Adipati Mangkubumi Enem [Bendoro Raden Ayu Adipati Mangkubumi Enem]
Свадба:
Свадба: <89> Bendoro Raden Ayu Retnodiningrum [?] , <81!> Bendoro Raden Ayu Dewiningrum [?] , <80!> Bendoro Raden Ayu Puspitoningrum [?] , <82!> Bendoro Raden Ayu Retnoningdiah [?] , <83!> Bendoro Raden Ayu Sasmitaningrum [?] , <86!> Bendoro Raden Ayu Tedjaningsih [Hamengku Buwono VI] , <87!> # Gusti Kanjeng Ratu Kencono / Gusti Kanjeng Ratu Hamengku Buwono [Pakubuwono VIII]
Свадба: <90> Bendoro Raden Ayu Pujoretno [Hamengku Buwono VI]
Свадба: <194!> # Raden Mas Gathot Menol ? (Sri Sultan Hamengkubuwono V) [Hamengkubuwono] b. 20 август 1821 d. 1855, <85!> # Gusti Kanjeng Ratu Sultan / Gusti Kanjeng Ratu Hageng (Roromunting) [Prawirorejoso]
Свадба: <91> Putri Kerajaan Brunei [?]
Свадба: <89!> Bendoro Raden Ayu Retnodiningrum [?]
Титуле : од 5 јул 1855, Sultan of Yogyakarta, 6th
Смрт: 20 јул 1877, Yogyakarta
19413/8 <143+76> # Raden Mas Gathot Menol ? (Sri Sultan Hamengkubuwono V) [Hamengkubuwono]
Nama asli Sri Sultan Hamengkubuwana V adalah Raden Mas Gathot Menol, putra Hamengkubuwana IV yang lahir pada tanggal 24 januari 1820. Sewaktu dewasa ia bergelar Pangeran Mangkubumi. Ia juga pernah mendapat pangkat Letnan Kolonel tahun 1839 dan Kolonel tahun 1847 dari pemerintah Hindia Belanda. Melihat tahun pemerintahannya dimulai tahun 1823 sedang lahirnya adalah tahun 1820 maka Sultan Hamengku Buwono V waktu permulaan bertahta berumur 3 (dua) tahun.

Hamengkubuwana V sendiri mendekatkan hubungan Keraton Yogyakarta dengan pemerintahan Hindia-Belanda yang berada di bawah Kerajaan Belanda, untuk melakukan taktik perang pasif, dimana ia menginginkan perlawanan tanpa pertumpahan darah. Sri Sultan Hamengkubuwana V mengharapkan dengan dekatnya pihak keraton Yogyakarta dengan pemerintahan Belanda akan ada kerjasama yang saling menguntungkan antara pihak keraton dan Belanda, sehingga kesejahteraan dan keamanan rakyat Yogyakarta dapat terpelihara.

Kebijakan Hamengkubuwana V tersebut ditanggapi dengan tentangan oleh beberapa kanjeng abdi dalem dan adik Sultan HB V sendiri, yaitu Raden Mas mustojo (nantinya Hamengkubuwana VI). Mereka menganggap tindakan Sultan HB V adalah tindakan yang mempermalukan Keraton Yogyakarta sebagai pengecut, sehingga dukungan terhadap Sultan Hamengkubuwana V pun berkurang dan banyak yang memihak adik sultan untuk menggantikan Sultan dengan Raden mas mustojo Keadaan semakin menguntungkan Raden Mas mustojo setelah ia berhasil mempersunting putri Kesultanan Brunai dan menjalin ikatan persaudaraan dengan Kesultanan Brunai. Kekuasaan Sultan Hamengkubuwana V semakin terpojok setelah timbul konflik di dalam tubuh keraton yang melibatkan istri ke-5 Sultan sendiri, Kanjeng Mas Hemawati. Sri Sultan Hamengkubuwana V hanya mendapatkan dukungan dari rakyat yang merasakan pemerintahan yang aman dan tenteram selama masa pemerintahannya.

Sri Sultan Hamengkubuwana V wafat pada tahun 1855 dalam sebuah peristiwa yang hanya sedikit diketahui orang, peristiwa itu dikenal dengan wereng saketi tresno ("wafat oleh yang dicinta"), Sri Sultan meninggal setelah ditikam oleh istri ke-5-nya, yaitu Kanjeng Mas Hemawati, yang sampai sekarang tidak diketahui apa penyebab istrinya berani membunuh Sri Sultan suaminya.

Tidak lama setelah Sultan Hamengkubuwana V meninggal, tiga bulan kemudian permaisuri Sri Sultan Hamengkubuwana V pun meninggal setelah jatuh sakit semenjak suaminya meninggal dan sultan digantikan oleh adiknya raden mas Mustojo.
23114/8 <186> 4. RM. Haryo Madyowijoyo / Muhammad Irfan Ba'abud Madyowijoyo [Ba'abud]
Рођење: 1827
Смрт: 1902
21315/8 <142+64> # 13. RM. Kindar/Pangeran Abdurrahman [Hamengku Buwono]
Рођење: 1832
21416/8 <142+64> # 14. RM. Sarkuma [Hamengku Buwono]
Рођење: 1834
Смрт: 1849
21517/8 <142+64> # 15. R.M Mutawaridin/Pangeran Abdurrahim [Hamengku Buwono]
Рођење: 1835
21618/8 <142+64> # 16. R.A Putri Munadima/R.A Setiokusumo [Hamengku Buwono]
Рођење: 1836
21719/8 <142+64> # 17. R.M Dulkabli/Pangeran Abdulgani [Hamengku Buwono]
Рођење: 1836
21820/8 <142+64> # 18. R.M Rajab/Abdulrajab/Pangeran Abdulrajak [Hamengku Buwono]
Рођење: > 1836
21921/8 <142+64> # 19. R.M Ramaji/Pangeran Abdulgafur [Hamengku Buwono]
Рођење: > 1836
19622/8 <146> Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario Paku Alam VI / Kanjeng Gusti Pangeran Notokusumo [Pakualaman]
Рођење: 9 април 1856
Титуле : 11 април 1901, Yogyakarta
Смрт: 9 јун 1902, Kulon Progo
19723/8 <147> # R. Pangulu Kamaludiningrat [Hamengku Buwono]
Official Link. Adm: Ir H Hilal Achmar.

Sebagai pecahan kerajaan Islam Mataram, Keraton Yogyakarta mempunyai abdi dalem (pegawai) yang khusus mengurusi soal keagamaan. Pegawai khusus keagamaan ini disebut pegawai kepenguluan. Oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I, para pegawai kepenguluan diberi tempat khusus, yakni dekat Masjid Agung Kesultanan.

Kepenguluan berfungsi sebagai lembaga yang mengurusi keagamaan sekaligus berfungsi semacam Dewan Daerah. Kepenguluan dipimpin oleh seorang dengan jabatan penghulu. Semua petugas di bawah pimpinan penghulu ini sering disebut sebagai abdi dalem putihan, yakni orang-orang yang ahli dalam agama. Khusus masalah kemasjidan, tetap dibawah koordinasi penghulu dengan dibantu oleh ketib (khatib) yang terdiri dari sembilan. Semua khatib berfungsi sederajat, sebagai imam shalat dan pengajar agama kecuali khatib anom, jabatan wakil penghulu yang berfungsi menggantikan jabatan penghulu suatu saat bila penghulu wafat.

Oleh pihak Kraton, para abdi dalem Kepenguluan ini diberi tanah `gaduhan'. Semacam tanah tinggal dinas yang berlokasi di dekat Masjid Agung. Oleh Kraton, tanah perkampungan para abdi dalem putihan dan para pegawai keagamaan didekat masjid inilah yang kemudian dijuluki dengan sebutan pakauman, diambil dari kata Qoimuddin (orang yang menjalankan agama). Belakangan, nama pakauman lebih dikenal dengan sebutan Kauman.

Para khatib itu kemudian mendirikan pusat kegiatan pendidikan keagamaan bernama langgar (mushola). Setiap khatib memiliki satu langgar. Langgar para khatib inilah yang menyelenggarakan berbagai bentuk keagamaan seperti pengajian.
19824/8 <148> Raden Ayu Gondokusumo [?]
20225/8 <150+79> R. M. T. A. Tjokroadisoerjo [?]
20326/8 <147> # R. Ay. Imanadi [Hamengku Buwono]
Official Link. Adm: Ir H Hilal Achmar Suaminya bernama KH Imanadi
20727/8 <142+67> # 7. RA. Impun/R.A. Basah Mertonegoro [Hamengku Buwono]
== R.A Impun/R.A. Basah Mertonegoro ==

Raden Ayu Impun adalah puteri Pangeran Diponegoro dengan Raden Ayu Retnodewati. Ketika perang Diponegoro mulai pecah, Raden Ayu Impun dinikahkan dengan kakak Sentot Prawiro Dirjo yang bernama Raden Abdul Kamil Alibasyah yang juga merupakan pejuang Pangeran Diponegoro yang bertugas bergerilya di wilayah Barat Sungai Progo. Raden Abdul Kamil Alibasyah kemudian diberikan gelar Notodirjo dan diberikan kedudukan setingkat tumenggung dan biasa dipanggil raden Basah.

Setelah Raden Abdul Kamil tewas dalam peperangan, kemudian dinikahi oleh Tumenggung Mertonegoro atau Jayapermadi anak laki-laki tertua Patih Danurejo II sehingga terkenal dengan nama Raden Ayu Basah Mertonegoro.
20828/8 <142+68> # 8. R.A Joyokusumo [Hamengku Buwono]
== R.A. Joyokusumo ==


Nama sebenarnya tidak diketahui dan tidak pernah tersurat dalam Babad Diponegoro. R.M.Joyokusumo adalah anak Raden Ngabehi Joyokusumo, paman Pangeran Diponegoro. Raden Ngabehi Joyokusumo adalah salah satu pengatur strategi perang. Baik Raden Ngabehi Joyokusumo maupun Raden Mas Joyokusumo tewas di tangan Belanda pada pertempuran di tepi sungai Bogowonto di dusun Sengir.

Atas permintaan Pangeran Diponegoro melalui surat yang ditulis bulan Mei 1830 di Batavia, R.A Joyokusumo dinikahkan dengan Basah Gondokusumo, adik Basah Mertonegoro. Surat tersebut ditujukan kepada Diponegoro Anom. Dalam surat tersebut Pangeran Diponegoro menyarankan apabila ada masalah agar mengadu pada Kapten Johan Jacob Roeps. Dalam surat tersebut Pangeran Diponegoro menuliskan bahwa dia menaruh kepercayaan besar pada kapten Roeps berkaitan dengan nasib anak-anaknya.
20929/8 <142+67> # 9. RA. Munteng/R.A Gusti/RA. Siti Fadilah/Nyai Musa [Hamengku Buwono]
== R.A Munteng/R.A Gusti/RA. Siti Fadilah/Nyai Musa ==


Dalam sebuah penyergapan Belanda di Kreteg daerah Kedu Utara Ibu Pangeran Diponegoro tertangkap bersama RA. Gusti. Mereka terpisah dari rombongan ketika perang di Bagelen. Kedunya lalu diserahkan ke Kasultanan Yogyakarta dan menjalani kehidupan di kraton. Dalam perjalanan terpisah dari rombongan itu mereka mendapat bantuan dari Kyai Setrodrono ayah Kyai Musa seorang ulama di wilayah Merden yang masih keturunan dari keluarga besar Danurejan.
21030/8 <142+66> # 10. RA. Herjuminten [Hamengku Buwono]
21131/8 <142+66> # 11. RA. Herjumerot [Hamengku Buwono]
22032/8 <142+65> # 20. RA. Mangkukusumo (tercatat di Tepas Darah Dalem) [Hamengku Buwono]
22133/8 <142+65> # 21. RA. Padmodipuro (tercatat di Tepas Darah Dalem) [Hamengku Buwono]
22234/8 <142+65> # 22. RA. Poncokusumo (tercatat di Tepas Darah Dalem) [Hamengku Buwono]
22435/8 <145> Kanjeng Pangeran Haryo Suryaningrat [Pakualaman]
22536/8 <146> Kanjeng Gusti Pangeran Notodirojo [Pakualaman]
22637/8 <146> Kanjeng Pangeran Adipati Anom Kusumoyudo [Pakualaman]
22738/8 <172> RM. Notodiksono [Hamengku Buwono]
22839/8 <186+?> 1. RM. Haryo Wongsodipuro [Ba'abud]
22940/8 <186> 2. RA. Ali Alatas [Ba'abud]
23041/8 <186> 3. RM. Haryo Kusumoatmojo [Ba'abud]
23442/8 <187+?> Mas Ayu Loano [Ba'abud]
23643/8 <188> 2. RM. Kyai Muh. Idris [Cakraatmaja]
23744/8 <188> 3. Nyi RAy. Abas [Cakraatmaja]
23845/8 <188> 4. RM. Kyai Muhammad Musa [Cakraatmaja]